وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ
Dan musibah apa pun yang menimpa kalian adalah karena perbuatan tangan kalian, dan Dia memaafkan banyak.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْwa-maa ashaabakum min mushiibatin fa-bi-maa kasabat aydiikumdan musibah apa pun yang menimpa kalian adalah karena perbuatan tangan kalian
- وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍwa-ya'fuu 'an katsiirindan Dia memaafkan banyak
Terjemahan per kata (10 kata)
- وَمَاwa-maadan apa yang
- أَصَابَكُمْashaabakummenimpa kalian
- مِنْmindari
- مُصِيبَةٍmushiibatinmusibah
- فَبِمَاfa-bi-maamaka karena
- كَسَبَتْkasabatdiusahakan
- أَيْدِيكُمْaydiikumtangan kalian
- وَيَعْفُوwa-ya'fuudan Dia memaafkan
- عَنْ'andari
- كَثِيرٍkatsiirinbanyak
Inti bacaan
Susunan (بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي, bi-maa kasabat aydii) muncul dua kali di Al-Qur'an: 30:41 dan 42:30.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (وَمَا أَصَابَكُمْ, wa-maa ashaabakum) yang berarti "dan apa yang menimpa kalian". Kata kerja (أَصَابَ, ashaaba) berakar ص-و-ب dan di sini memakai akhiran -kum yang berarti "kalian". Rangkaian wa-maa ashaabakum muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 3:166 dan 42:30. Di 3:166 rangkaian itu disusul (فَبِإِذْنِ اللَّهِ, fa-bi-idzni llaahi) yang berarti "maka dengan izin Allah", dan di 42:30 disusul (فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ, fa-bi-maa kasabat aydiikum) yang berarti "maka karena perbuatan tangan kalian". Kedua ayat memakai huruf fa dan bi yang sama, tetapi yang menyusul berbeda. Susunan yang serupa ada di 4:79: (مَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ, maa ashaabaka min sayyi'atin fa-min nafsika) yang berarti "keburukan apa pun yang menimpamu, maka dari dirimu sendiri".
Musibahnya ditulis (مِنْ مُصِيبَةٍ, min mushiibatin) yang berarti "suatu musibah", dan huruf min di depan kata benda tak tentu membuat terjemahan memakai "musibah apa pun". Rangkaian min mushiibatin muncul tiga kali di Al-Qur'an, yaitu di 42:30, 57:22, dan 64:11. Di 57:22, (مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ, maa ashaaba min mushiibatin fii l-ardhi) yang berarti "tidak ada musibah yang menimpa di bumi", musibah itu disusul (إِلَّا فِي كِتَابٍ, illaa fii kitaabin) yang berarti "melainkan dalam suatu kitab". Di 64:11, (مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ, maa ashaaba min mushiibatin illaa bi-idzni llaahi) yang berarti "tidak ada suatu musibah pun yang menimpa, kecuali dengan izin Allah", musibah itu disusul izin. Dengan demikian tiga ayat yang memakai rangkaian yang sama menyebut tiga hal yang berbeda sesudahnya: perbuatan tangan, catatan dalam kitab, dan izin Allah. Bentuk tunggal kata musibah muncul sepuluh kali di sembilan surah, yaitu 2:156, 3:165, 4:62, 4:72, 5:106, 9:50, 28:47, 42:30, 57:22, dan 64:11.
Sebabnya ditulis (كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ, kasabat aydiikum) yang berarti "tangan-tangan kalian mengerjakan", dengan kata kerja berakar ك-س-ب dan kata benda (أَيْدِي, aydii) berakar ي-د-ي yang berarti "tangan-tangan". Rangkaian kasabat aydiikum muncul sekali. Rangkaian yang lebih pendek, (بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي, bi-maa kasabat aydii) yang berarti "karena apa yang dikerjakan tangan", muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 30:41 dan 42:30, dan di 30:41 tangan itu adalah (أَيْدِي النَّاسِ, aydii n-naasi) yang berarti "tangan manusia". Tangan juga dipasangkan dengan kata kerja lain dalam (بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ, bi-maa qaddamat aydiihim) yang berarti "karena apa yang didahulukan tangan mereka". Rangkaian itu muncul enam kali, yaitu di 2:95, 4:62, 28:47, 30:36, 42:48, dan 62:7. Di 4:62 dan 28:47 musibah mendahuluinya, dan di 30:36 dan 42:48 keburukan mendahuluinya, misalnya (وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ, wa-in tushibhum sayyi'atun bi-maa qaddamat aydiihim) di 42:48 yang berarti "dan jika keburukan menimpa mereka karena apa yang didahulukan tangan mereka". Dua ayat lainnya, 2:95 dan 62:7, tidak menyangkut musibah. Terjemahan 42:30 memakai "perbuatan tangan" sebagaimana 30:41.
Kalimat ditutup dengan (وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ, wa-ya'fuu 'an katsiirin) yang berarti "dan memaafkan banyak", dari akar ع-ف-و dan ك-ث-ر. Susunan itu muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 5:15 dan 42:30. Di 5:15 pelakunya rasul, karena ayat itu menyebutnya sebelum kata kerja ini. Di 42:30 pelakunya tidak disebut dengan nama, dan terjemahan memakai "Dia" karena kata ganti huwa di 42:29 adalah pelaku terdekat. Kata katsiirin tidak diikuti kata benda, sehingga terjemahan memakai "banyak" saja, tanpa menambahkan "kesalahan" atau "musibah". Bentuk yang berbeda, (وَيَعْفُ عَنْ كَثِيرٍ, wa-ya'fu 'an katsiirin), ada di 42:34. Di sana kalimat sebelumnya, (بِمَا كَسَبُوا, bi-maa kasabuu) yang berarti "karena apa yang mereka kerjakan", memakai kata kerja yang sama dengan 42:30 tetapi untuk orang ketiga. Akar ع-ف-و dipakai di empat ayat surah ini, yaitu 42:25, 42:30, 42:34, dan 42:40.
Tafsiran
Ayat ini menyebut musibah yang menimpa pendengar di tengah rangkaian ayat yang membicarakan pemberian, yaitu tobat dan maaf di 42:25, tambahan karunia di 42:26, rezeki dengan ukuran di 42:27, hujan di 42:28, serta makhluk dan kapal di 42:29 dan 42:32. Di tengahnya, 42:30 menyebut sebab musibah, lalu 42:31 menyebut bahwa kalian tidak dapat luput di bumi. Ayat ini dapat terbaca lebih keras bila dilepas dari ayat-ayat di sekitarnya.
Ayat ini menyebut musibah apa pun sebagai akibat perbuatan tangan, dan karena itu bertemu dengan ayat-ayat lain tentang sumber musibah. Ayat 3:165 menjawab keluhan tentang musibah dengan "itu dari sisi diri kalian sendiri", 64:11 menyebut izin Allah, dan 57:22 menyebut catatan dalam kitab sebelum musibah itu diwujudkan. Ayat 2:155 dan 2:156 menyebut musibah yang menimpa orang-orang sabar, yang menjawabnya dengan "sungguh kami milik Allah" tanpa menyebut kesalahan mereka. Teks tidak menyatukan semua ini di satu tempat. Setiap ayat dapat dibaca sebagai sudut yang berbeda: sebab dari pihak manusia, izin dari pihak Dia, catatan yang mendahului, dan sikap orang yang ditimpa. Ayat 42:30 hanya menyebut sudut yang pertama.
Kalimat ini berbicara kepada kalian, yaitu pendengar, tentang musibah yang menimpa mereka sendiri, dan tidak berbunyi tentang orang lain yang ditimpa musibah. Ayat 42:34, yang susunannya mirip, memakai orang ketiga.
Penutup, dan Dia memaafkan banyak, memberi kalimat ini sisi kedua. Apa yang dimaafkan tidak ditulis, tetapi susunan 42:34 menunjukkan pola yang sama: perbuatan disebut, lalu maaf atas banyak disebut. Pola itu muncul dua kali dalam lima ayat, sehingga surah ini tidak menutup pembicaraan tentang akibat perbuatan tanpa menyebut maaf.
Renungan dan Hikmah
- Ayat ini menelusuri musibah sampai ke tangan orang yang ditimpa, dan tidak berhenti pada keadaan di luar dirinya. Pendengarnya disapa dengan kalian, jadi pembicaraan terarah kepada pembaca sendiri. Orang yang biasa mengurutkan sebab musibah dari yang paling jauh, yaitu cuaca, orang lain, atau nasib, dapat memperhatikan bahwa ayat ini menyebut tangan sebagai ujung rantai itu. Tidak ada kalimat di ayat ini yang mengatakan bahwa sebab-sebab lain tidak ada. Bila Dia menyebut tangan kalian, dari bagian mana rantai sebab dalam hidup seseorang biasanya dirinya mulai menghitung?
- Kalimat ini berakhir dengan Dia memaafkan banyak, tanpa menyebut apa yang dimaafkan. Pembaca yang memandang musibah sebagai tagihan atas setiap perbuatan dapat melihat bahwa ayat ini menaruh maaf di ujung kalimat, setelah sebab disebut. Kata banyak dibiarkan tanpa benda, sehingga pembaca tidak dapat memastikan apakah yang dimaafkan itu perbuatan, musibah, atau hal lain, dan ayat tidak memberi hitungan atau pembagiannya. Ayat menulis maaf atas banyak dalam kalimat yang sama dengan sebab. Bila maaf itu berada di kalimat yang sama, apa yang berubah pada cara seseorang menimbang musibah yang sedang dialaminya?
- Pelaku di ayat ini adalah tangan. Tangan menulis, menandatangani, memberi, mengambil, dan menahan, sehingga kata itu dapat dibaca menunjuk perbuatan yang terlihat dari luar. Orang yang menilai dirinya dari maksud baiknya dapat memperhatikan bahwa ayat ini memakai kata yang lebih konkret daripada maksud. Ayat 42:25 menyebut bahwa Dia mengetahui apa yang kalian kerjakan, dan ayat yang sedang dibaca menyebut perbuatan itu dengan nama tangan. Tangan mana dalam hidup seseorang yang paling jarang ikut dihitung ketika dirinya menjelaskan penyebab sesuatu?
- Ungkapan musibah apa pun tampil di tiga ayat dengan tiga lanjutan yang berbeda, yaitu tangan di 42:30, kitab di 57:22, dan izin Allah di 64:11. Orang yang dihadapkan pada musibah dapat memilih satu penjelasan dan berhenti di sana. Tiga ayat itu menyediakan tiga tempat untuk bertanya, dan masing-masing menyebut hal yang berbeda tentang musibah yang sama. Tidak satu pun dari ayat itu mengatakan bahwa dua yang lain keliru. Penjelasan mana yang mula-mula dipilih seseorang ketika musibah datang, dan apa yang membuatnya berhenti di sana?
- Ayat ini berbicara kepada kalian tentang musibah yang menimpa kalian. Pembaca yang menjelaskan musibah seorang tetangga memakai ayat ini berpindah dari kalimat tentang dirinya ke kalimat tentang orang lain, dan ayat tidak menyuruh perpindahan itu. Siapa yang sebenarnya diajak bicara oleh pembaca ketika membaca ayat ini, dirinya sendiri atau orang yang sedang ditimpa musibah?
- Ayat 42:28 menyebut Dia menurunkan hujan setelah orang berputus asa, dan 42:29 menyebut penciptaan serta makhluk yang disebarkan. Sesudah itu 42:30 berbicara tentang musibah, lalu 42:31 tentang tidak dapat luput, dan 42:32 kembali ke kapal di laut. Musibah di ayat ini berada di antara ayat-ayat tentang pemberian Dia, yaitu hujan dan penciptaan sebelumnya, dan kapal sesudahnya. Orang yang sedang dalam kesusahan dan hanya membaca satu ayat dapat melewatkan bahwa surah ini tidak menaruh musibah sendirian. Bila seseorang yang sedang kesusahan membaca ayat-ayat di kedua sisi 42:30, apa yang berubah pada cara dirinya membaca ayat ini?