وَمَا أَنْتُمْ بِمُعْجِزِينَ فِي الْأَرْضِ ۖ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

Dan kalian tidak dapat luput di bumi; dan tidak ada bagi kalian pelindung dan penolong selain Allah.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَمَا أَنْتُمْ بِمُعْجِزِينَ فِي الْأَرْضِwa-maa antum bi-mu'jiziina fii l-ardhidan kalian tidak dapat luput di bumi
  2. وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍwa-maa lakum min duuni llaahi min waliyyin wa-laa nashiirindan tidak ada bagi kalian pelindung dan penolong selain Allah

Terjemahan per kata (14 kata)

  1. وَمَاwa-maadan tidaklah
  2. أَنْتُمْantumkalian
  3. بِمُعْجِزِينَbi-mu'jiziinaorang-orang yang melemahkan
  4. فِيfiidi
  5. الْأَرْضِl-ardhibumi
  6. وَمَاwa-maadan tidaklah
  7. لَكُمْlakumbagi kalian
  8. مِنْmindari
  9. دُونِduuniselain
  10. اللَّهِllaahiAllah
  11. مِنْmindari
  12. وَلِيٍّwaliyyinpelindung
  13. وَلَاwa-laadan tidak pula
  14. نَصِيرٍnashiirinpenolong

Inti bacaan

Susunan (وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ, wa-maa lakum min duuni llaahi min waliyyin wa-laa nashiirin) muncul empat kali di Al-Qur'an: 2:107, 9:116, 29:22, dan 42:31.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (وَمَا أَنْتُمْ بِمُعْجِزِينَ, wa-maa antum bi-mu'jiziina) yang berarti "dan kalian tidak dapat luput". Bagian-bagiannya adalah (مَا, maa) yang berarti "tidak", (أَنْتُمْ, antum) yang berarti "kalian", dan (بِمُعْجِزِينَ, bi-mu'jiziina) yang berarti "orang-orang yang luput", dengan huruf bi yang menegaskan penyangkalan. Rangkaian wa-maa antum bi-mu'jiziina muncul lima kali di Al-Qur'an, yaitu di 6:134, 10:53, 11:33, 29:22, dan 42:31. Dua di antaranya disusul keterangan tempat, yaitu (بِمُعْجِزِينَ فِي الْأَرْضِ, bi-mu'jiziina fii l-ardhi) di 29:22 dan 42:31. Di 29:22 keterangan itu masih disusul (وَلَا فِي السَّمَاءِ, wa-laa fii s-samaa'i) yang berarti "dan tidak di langit", sedangkan 42:31 berhenti pada bumi.

Kata mu'jiziina berakar ع-ج-ز dan mempunyai kerabat yang memakai objek tertulis. Di 9:2, (غَيْرُ مُعْجِزِي اللَّهِ, ghayru mu'jizii llaahi) yang berarti "bukan pihak yang melemahkan Allah", objeknya adalah Allah. Di 35:44, (وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعْجِزَهُ مِنْ شَيْءٍ, wa-maa kaana llaahu li-yu'jizahu min syay'in) yang berarti "dan tidak ada sesuatu pun yang dapat melemahkan Allah", objeknya juga Allah. Di 72:12, (أَنْ لَنْ نُعْجِزَ اللَّهَ فِي الْأَرْضِ وَلَنْ نُعْجِزَهُ هَرَبًا, an lan nu'jiza llaaha fii l-ardhi wa-lan nu'jizahu haraban) yang berarti "bahwa kami tidak akan dapat melemahkan Allah di bumi dan tidak akan dapat melemahkan-Nya dengan lari", upaya itu dijelaskan sebagai lari. Di 42:31 objek itu tidak ditulis, dan yang tampak dari upaya itu hanya tempatnya, yaitu bumi. Karena itu terjemahan memilih "luput", yaitu sisi gerak dari kata yang sama, dan tidak memilih "melemahkan" yang menuntut objek. Rangkaian dengan keterangan tempat yang sama dan tanpa objek ada juga di 11:20, (مُعْجِزِينَ فِي الْأَرْضِ, mu'jiziina fii l-ardhi), 24:57, dan 29:22. Bentuk tunggalnya, (بِمُعْجِزٍ فِي الْأَرْضِ, bi-mu'jizin fii l-ardhi), ada di 46:32.

Bagian kedua adalah (وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ, wa-maa lakum min duuni llaahi min waliyyin wa-laa nashiirin) yang berarti "dan tidak ada bagi kalian pelindung dan penolong selain Allah". Susunan itu muncul empat kali di Al-Qur'an, yaitu di 2:107, 9:116, 29:22, dan 42:31. Pasangan (مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ, min waliyyin wa-laa nashiirin) muncul tujuh kali di empat surah, yaitu 2:107, 2:120, 9:74, 9:116, 29:22, 42:8, dan 42:31. Di 42:8 pasangan itu dikenakan kepada (الظَّالِمُونَ, zh-zhaalimuuna) yang berarti "orang-orang zalim" dengan kata ganti lahum, "bagi mereka", sedangkan di 42:31 dengan lakum, "bagi kalian".

Kata (وَلِيٍّ, waliyyin) berakar و-ل-ي dan diterjemahkan "pelindung", sedangkan (نَصِيرٍ, nashiirin) berakar ن-ص-ر dan diterjemahkan "penolong". Akar و-ل-ي dipakai dalam delapan bentuk di tujuh ayat surah ini, yaitu 42:6, 42:8, 42:9, 42:28, 42:31, 42:44, dan 42:46. Di 42:9 dan 42:28 kata itu menjadi nama Allah, (الْوَلِيُّ, l-waliyyu) di 42:9 dan (الْوَلِيُّ الْحَمِيدُ, l-waliyyu l-hamiidu) di 42:28. Di 42:31 kata yang sama disangkal bagi pihak lain, dengan (مِنْ دُونِ اللَّهِ, min duuni llaahi) yang berarti "selain Allah" di depannya. Penyangkalan di ayat ini diarahkan kepada pelindung yang berada di luar Dia. Kata wa-laa pada akhir ayat mengulang penyangkalan sekali lagi untuk penolong, sedangkan terjemahan menggabungkan keduanya dalam satu kalimat "pelindung dan penolong".

Tafsiran

Ayat ini menutup kalimat tentang musibah di 42:30 dengan dua penyangkalan yang bekerja pada dua arah. Penyangkalan pertama menutup jalan keluar: kalian tidak dapat luput di bumi. Penyangkalan kedua menutup jalan bersandar: tidak ada pelindung dan penolong selain Allah. Dua hal yang dapat dicari seseorang ketika tertimpa kesulitan, yaitu menjauh dan meminta tolong, keduanya disebut, dan ayat tidak menyisakan arah ketiga.

Cakupan ayat ini lebih sempit daripada 29:22, yang memuat kalimat yang sama dan menambah langit. Di 42:31 yang disebut hanya bumi. Ayat 42:29 sebelumnya menyebut makhluk disebarkan di langit dan bumi dan Dia berkuasa mengumpulkan mereka, jadi 42:31 dapat dibaca sebagai penyempit: pembicaraan bergeser dari ruang yang luas ke tempat pendengar berada. Hubungan itu tidak dinyatakan teks; yang tampak hanya bahwa bumi disebut dalam kedua ayat dengan peran yang berbeda.

Penyangkalan pelindung di ayat ini berhadapan dengan 42:9 dan 42:28, yang menyebut Allah sebagai Sang Pelindung. Ketiganya sejalan, sebab 42:31 menyangkal pelindung yang berada di luar Dia.

Sesudah musibah dan penyangkalan itu, 42:32 kembali memakai pembuka wa-min aayaatihi untuk menyebut kapal-kapal di laut, tanpa kata penghubung yang menjelaskan perpindahannya.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat ini menyebut dua jalan yang dapat dicari seseorang ketika kesulitan datang, yaitu menjauh dan bersandar kepada pihak lain. Keduanya dinyatakan tertutup, dengan satu pengecualian untuk pelindung, yaitu Allah. Seseorang yang sedang memilih antara menghindar dan mencari orang yang bisa membelanya dapat memperhatikan bahwa ayat ini menyebut kedua pilihan itu secara berdampingan, tanpa menawarkan yang ketiga. Susunannya terdengar seperti pintu yang menutup. Bila kedua jalan itu sama-sama tertutup, ke mana seseorang menengok pertama kali ketika dirinya merasa terpojok?
  • Ayat ini menyebut bumi sebagai tempat yang tidak memberi jalan keluar, sedangkan 29:22 yang memuat kalimat serupa menambah langit. Pembaca disapa sebagai penghuni bumi, yang berada di tempat yang disebut itu. Orang yang membayangkan sebuah tempat yang cukup jauh sehingga tidak terjangkau dapat membaca bahwa ayat ini tidak menyebut tempat seperti itu. Bila bumi yang disebut, tempat mana yang paling sering dibayangkan seseorang sebagai tempat bersembunyi, dan apakah tempat itu berada di luar bumi?
  • Penyangkalan di ayat ini diarahkan kepada pelindung selain Allah. Ayat 42:28 menyebut Dia sebagai Sang Pelindung, dan 42:9 menyebutnya demikian juga. Orang yang merasa tidak punya siapa-siapa dan membaca ayat ini sebagai ancaman dapat menaruh 42:28 di sebelahnya dan melihat bahwa kata yang dinafikan di sini adalah kata yang disebut sebagai milik Dia di sana. Dalam keadaan yang paling tidak terlindungi, apakah seseorang membaca ayat ini sebagai pintu yang menutup atau sebagai arah ke pintu yang lain?
  • Ayat ini memakai dua kata, pelindung dan penolong, dan menyangkal keduanya bagi pihak selain Allah. Penyangkalan tidak berhenti pada satu kata, dan wa-laa di ujung ayat mengulangnya untuk kata yang kedua. Pembaca yang memiliki banyak sebutan untuk orang yang diandalkannya, seperti pelindung, penolong, dan pendukung, dapat memperhatikan bahwa ayat ini menutup dua sebutan sekaligus. Ayat tidak memuat daftar siapa saja yang tercakup di luar Allah. Kepada siapa seseorang selama ini mengarahkan harapan akan perlindungan dan pertolongan, dan apakah nama pihak itu pernah disebutnya di hadapan Dia?
  • Kata luput di ayat ini tidak diikuti sesuatu yang hendak dihindari. Pembaca mengisi sendiri kekosongan itu dengan ketakutannya masing-masing, mungkin musibah di ayat sebelumnya, mungkin hal lain. Ayat tidak menyebut apa yang dihindari, jadi isian itu berasal dari pembaca. Orang yang selama ini mengisinya dengan satu jawaban tetap bisa mencoba jawaban lain tanpa melanggar ayat. Dari apa seseorang paling ingin luput, dan apakah ayat ini menyebutnya?
  • Ayat ini tidak memuat kata kerja yang menyebut apa yang akan Dia lakukan. Isinya penyangkalan tentang keadaan pendengar: tidak dapat luput, tidak punya pelindung selain Allah. Pembaca yang mendengar nada ancaman di dalamnya dapat memperhatikan bahwa tidak ada pelaku yang digambarkan sedang bertindak. Keadaan itu disebut sebagai kenyataan yang sedang berlaku. Bila ayat ini tidak menggambarkan siapa pun sedang mengejar, dari mana datangnya perasaan terkejar itu?