وَمِنْ آيَاتِهِ الْجَوَارِ فِي الْبَحْرِ كَالْأَعْلَامِ

Dan di antara tanda-tanda-Nya adalah kapal-kapal yang berlayar di laut laksana gunung-gunung.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَمِنْ آيَاتِهِ الْجَوَارِ فِي الْبَحْرِ كَالْأَعْلَامِwa-min aayaatihi l-jawaari fii l-bahri ka-l-a'laamidan di antara tanda-tanda-Nya adalah kapal-kapal yang berlayar di laut laksana gunung-gunung

Terjemahan per kata (6 kata)

  1. وَمِنْwa-mindan dari
  2. آيَاتِهِaayaatihitanda-tanda-Nya
  3. الْجَوَارِl-jawaarikapal-kapal
  4. فِيfiidi
  5. الْبَحْرِl-bahrilaut
  6. كَالْأَعْلَامِka-l-a'laamiseperti gunung

Inti bacaan

Rangkaian (فِي الْبَحْرِ كَالْأَعْلَامِ, fii l-bahri ka-l-a'laami) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 42:32 dan 55:24.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (وَمِنْ آيَاتِهِ, wa-min aayaatihi) yang berarti "dan di antara tanda-tanda-Nya". Kata (مِنْ, min) yang berarti "di antara" menandai bagian dari sesuatu yang lebih banyak, sehingga kapal-kapal disebut satu tanda dan daftar tanda itu tidak ditutup. Bentuk persis (وَمِنْ آيَاتِهِ, wa-min aayaatihi) muncul sebelas kali di tiga surah, yaitu di 30:20, 30:21, 30:22, 30:23, 30:24, 30:25, 30:46, 41:37, 41:39, 42:29, dan 42:32. Surah ini memakainya dua kali, di 42:29 untuk penciptaan langit dan bumi dan di ayat ini untuk kapal-kapal. Akhiran (هِ, -hi) yang berarti "-Nya" menunjuk Dia yang di 42:28 menurunkan hujan dan menyebarkan rahmat-Nya.

Kata (آيَاتِهِ, aayaatihi) memakai (آيَاتِ, aayaati) yang berarti "tanda-tanda". Kata yang sama kembali di 42:33 sebagai (لَآيَاتٍ, la-aayaatin) yang berarti "benar-benar terdapat tanda-tanda", dan di 42:35 sebagai (آيَاتِنَا, aayaatinaa) yang berarti "tanda-tanda Kami". Di ayat ini tanda-tanda itu disebut milik Dia, di 42:35 milik Kami, dan di antara keduanya 42:33 menyebut orang yang menerima tanda itu.

Kata (الْجَوَارِ, l-jawaari) berakar ج-ر-ي dan menyebut yang bergerak atau mengalir tanpa menyebut bendanya. Bentuk ini dipakai di 42:32, 55:24, dan 81:16. Di 81:16, (الْجَوَارِ الْكُنَّسِ, al-jawaari l-kunnasi), kata ini dipakai untuk benda-benda langit, sehingga bendanya ditentukan oleh kata di sekitarnya. Di ayat ini kata di sekitarnya adalah (فِي الْبَحْرِ, fii l-bahri) yang berarti "di laut", dan dari sana terjemahan menulis "kapal-kapal" tanpa kurung. Bentuk tunggalnya dipakai untuk kapal di 69:11, (فِي الْجَارِيَةِ, fii l-jaariyati) yang berarti "ke dalam yang berlayar", dan untuk mata air di 88:12, (عَيْنٌ جَارِيَةٌ, 'aynun jaariyatun) yang berarti "mata air yang mengalir".

Di ayat lain kapal disebut dengan namanya. Rangkaian (الْفُلْكَ تَجْرِي فِي الْبَحْرِ, l-fulka tajrii fii l-bahri) yang berarti "kapal berlayar di laut" muncul di 22:65 dan 31:31, dan 2:164 memuat susunan serupa dengan (الَّتِي, llatii) di antara kapal dan kata kerjanya. Di ketiga ayat itu kata (الْفُلْكَ, l-fulka) yang berarti "kapal" disebut lebih dahulu. Di 42:32 nama itu tidak ada, dan kapalnya dikenali dari kata (الْجَوَارِ, l-jawaari) bersama (فِي الْبَحْرِ, fii l-bahri).

Kata (كَالْأَعْلَامِ, ka-l-a'laami) tersusun dari (كَ, ka) yang berarti "laksana" dan (الْأَعْلَامِ, l-a'laami) yang berarti "gunung-gunung". Bentuk ini hanya muncul dua kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 42:32 dan 55:24, dan keduanya menyebut kapal di laut. Akar ع-ل-م membentuk juga (وَعَلَامَاتٍ, wa-'alaamaatin) di 16:16 yang berarti "dan tanda-tanda penunjuk jalan", yang disebut sesudah gunung-gunung kokoh, (رَوَاسِيَ, rawaasiya), di 16:15. Dari situ akar ini terbaca dekat dengan tanda yang tampak dari jauh, sedangkan kata untuk gunung yang tertancap di bumi pada 16:15 adalah kata lain. Terjemahan tetap memakai "gunung-gunung" untuk menyampaikan ukuran yang terlihat dari jauh. Kata ini tidak dipakai di ayat lain untuk gunung, sehingga pilihan itu bertumpu pada perbandingan ukuran, dan batasnya dinyatakan di sini.

Kalimat ini tidak memuat kata kerja. Kata "adalah" di terjemahan menyambung "tanda-tanda-Nya" dengan "kapal-kapal" karena bahasa Indonesia membutuhkan penghubung itu, dan tidak ada kata Arab yang melahirkannya. Ayat ini juga tidak menyebut pembuat kapal, muatannya, atau siapa yang berada di atasnya. Kata (الْمُنْشَآتُ, l-munsya'aatu) yang berarti "yang dibuat" ada di 55:24 dan tidak ada di sini, sehingga terjemahan tidak menambahkan kata "buatan".

Tafsiran

Ayat ini beralih dari manusia ke benda. Ayat 42:30 dan 42:31 berbicara kepada "kalian" tentang musibah, perbuatan tangan, tidak dapat luput, dan tidak adanya pelindung selain Allah. Ayat 42:32 tidak memuat kata "kalian" dan tidak menyebut pelaku manusia. Pokok kalimatnya kapal-kapal dan keterangannya laut, sehingga arah pandang berpindah dari diri sendiri ke sesuatu yang terletak di hadapan mata.

Surah ini sudah memakai pembuka yang sama di 42:29, dan ayat itu ditutup dengan (إِذَا يَشَاءُ, idzaa yasyaa'u) yang berarti "apabila Dia menghendaki". Ayat 42:33 yang menyusul kapal ini dibuka dengan (إِنْ يَشَأْ, in yasya') yang berarti "jika Dia menghendaki". Dua tanda dalam surah ini, penciptaan langit dan bumi serta kapal-kapal yang berlayar, masing-masing disambung dengan kehendak-Nya. Pada 42:29 kehendak itu menyangkut pengumpulan makhluk yang tersebar, dan pada 42:33 menyangkut angin yang menggerakkan kapal-kapal. Kapal yang kini terlihat berlayar karena itu terbaca bergantung pada sesuatu di luar kapal.

Ayat ini sendiri tidak menyatakan apa yang ditandai oleh kapal-kapal itu. Penunjukan di 42:32 baru memperoleh isi dari ayat sesudahnya: 42:33 menyebut orang yang menerima tanda ini, yaitu setiap orang yang sangat sabar lagi bersyukur, dan 42:35 menyebut maksudnya bagi mereka yang membantah tanda-tanda Kami. Sebagai bandingan, 31:31 membuka dengan pertanyaan tentang kapal yang berlayar di laut dengan nikmat Allah, lalu menyebut maksudnya dengan "agar Dia memperlihatkan kepada kalian sebagian dari tanda-tanda-Nya". Ayat 42:32 tidak memuat kata maksud sama sekali, dan maksud itu datang tiga ayat kemudian.

Ayat 55:24 memuat kalimat yang hampir sama kata demi kata, tetapi membukanya dengan "milik-Nya" dan menambahkan "yang dibuat". Di sana kapal-kapal disebut sebagai kepunyaan, dan di sini sebagai tanda. Sebutan tanda mengandaikan pihak yang membaca tanda itu, dan 42:33 memang menyebut pihak tersebut. Sebutan milik di 55:24 tidak disusul penyebutan pihak semacam itu.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat 42:32 menunjuk benda yang bisa dilihat dari tepi laut dan menyebutnya tanda-tanda-Nya. Kapal besar tampak dari jauh sebagai bayangan yang bergerak pelan, dan pembaca yang pernah melihatnya dari pantai tahu betapa mudah benda sebesar itu menjadi pemandangan biasa. Ayat ini tidak menunggu kejadian yang jarang. Ayat ini memakai sebutan tanda untuk sesuatu yang bisa ditunjuk dengan tangan. Bagi pembaca, itu menggeser tempat mencari tanda dari peristiwa luar biasa ke benda yang sudah lama dilewati tanpa dipikirkan. Benda apa di sekitar pembaca yang terlalu akrab sehingga belum pernah ditanya dari mana asalnya dan apa yang menjaganya tetap berjalan?
  • Pembuka ayat ini menyebut kapal-kapal sebagai salah satu di antara tanda-tanda-Nya, dan jumlah seluruhnya tidak disebut. Daftar yang tidak ditutup memberi pembaca pekerjaan sendiri, yaitu menambah butirnya dari pengalaman yang ia kenal. Surah ini sudah menyebut langit dan bumi di 42:29 dengan pembuka yang sama, dan 30:20 sampai 30:25 menyebut tanah, pasangan, bahasa, tidur, kilat, serta langit dan bumi yang berdiri dengan pembuka itu pula. Butir-butir itu tidak semuanya megah, ada yang berupa tidur dan usaha mencari karunia. Apa saja yang akan tertulis di daftar itu bila pembaca menyusunnya sendiri, dan butir mana yang paling lama terlewat?
  • Ayat ini menaruh dua sifat dalam satu kalimat: ukuran yang disamakan dengan gunung-gunung, dan gerak yang dikandung kata (الْجَوَارِ, l-jawaari). Perbandingan dengan gunung-gunung menunjuk benda yang besar dan tampak dari jauh, sedangkan kata (الْجَوَارِ, l-jawaari) menunjuk benda yang berpindah. Bagi pembaca yang menghadapi urusan sebesar gunung dan menganggapnya tidak akan bergerak, ayat ini tidak menjanjikan bahwa urusan itu akan berpindah. Ayat ini hanya menunjukkan bahwa besar dan gerak bisa berada dalam kalimat yang sama, dan 42:33 segera menyebut bahwa gerak itu bergantung pada angin yang Dia hentikan bila Dia menghendaki. Apa yang bagi pembaca terasa sebesar gunung, dan siapa atau apa yang diandaikan menggerakkannya?
  • Kapal-kapal di 42:32 tidak berubah ketika ayat menyebutnya tanda. Yang bertambah adalah cara melihatnya. Orang yang melihat kapal itu dan orang yang menerimanya sebagai tanda belum tentu orang yang sama, sebab 42:33 menyebut penerima tanda secara khusus, yaitu setiap orang yang sangat sabar lagi bersyukur. Dua kata sifat itu diletakkan sesudah penunjukan. Pembaca dapat menimbang bahwa melihat adalah syarat yang mudah, sedangkan menerima tanda menurut ayat berikutnya menyangkut kesabaran dan rasa terima kasih. Ketika sebuah benda besar berlalu di hadapan pembaca, ia berada di posisi yang mana dari dua posisi itu?
  • Pembuka ayat ini menaruh kapal-kapal di bawah sebutan tanda-tanda-Nya, dan 55:24 menaruhnya di bawah sebutan milik-Nya. Dua sebutan itu mengarahkan pandangan dari benda kepada Dia yang disebut pemiliknya. Bagi pembaca yang ikut membuat atau mengelola benda besar, sebutan ini membuka soal nama siapa yang tercatat pada benda itu. Ayat ini tidak menyebut pembuat kapal, tidak memuji dan tidak mencelanya. Ayat ini hanya menulis bahwa kapal-kapal itu termasuk tanda-Nya. Dapatkah nama yang dikenal sebagai pembuat sebuah karya dan sebutan tanda-Nya berdampingan di hati pembaca tanpa saling menyingkirkan?
  • Isi ayat 42:32 adalah penunjukan saja. Tidak ada perintah, ancaman, atau janji di dalamnya, dan kata "kalian" yang mengisi ayat sebelumnya tidak muncul. Kemungkinan terhentinya angin baru muncul di 42:33 dengan kata "jika Dia menghendaki". Pembaca yang berhenti pada 42:32 menemukan sebuah pemandangan yang dibiarkan terbuka, dan artinya menunggu ayat berikutnya. Dorongan untuk segera menyimpulkan, entah sebagai peringatan atau sebagai pujian, tertahan sebentar oleh ayat ini bila dorongan itu ada. Bagaimana rasanya menerima sebuah pemandangan dari Tuhan tanpa langsung diminta menarik kesimpulan darinya?