إِنْ يَشَأْ يُسْكِنِ الرِّيحَ فَيَظْلَلْنَ رَوَاكِدَ عَلَىٰ ظَهْرِهِ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ

Jika Dia menghendaki, Dia akan menghentikan angin, maka, jadilah mereka terhenti di permukaannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi setiap orang yang sangat sabar lagi bersyukur.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. إِنْ يَشَأْ يُسْكِنِ الرِّيحَin yasya' yuskini r-riihajika Dia menghendaki, Dia akan menghentikan angin
  2. فَيَظْلَلْنَ رَوَاكِدَ عَلَىٰ ظَهْرِهِfa-yazhlalna rawaakida 'alaa zhahrihimaka, jadilah mereka terhenti di permukaannya
  3. إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍinna fii dzaalika la-aayaatin li-kulli shabbaarin syakuurinsesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi setiap orang yang sangat sabar lagi bersyukur

Terjemahan per kata (15 kata)

  1. إِنْinjika
  2. يَشَأْyasya'menghendaki
  3. يُسْكِنِyuskinimenghentikan
  4. الرِّيحَr-riihaangin
  5. فَيَظْلَلْنَfa-yazhlalnamaka jadilah mereka
  6. رَوَاكِدَrawaakidaterhenti
  7. عَلَىٰ'alaaatas
  8. ظَهْرِهِzhahrihipunggungnya
  9. إِنَّinnasesungguhnya
  10. فِيfiidi
  11. ذَٰلِكَdzaalikaitu
  12. لَآيَاتٍla-aayaatinbenar-benar tanda-tanda
  13. لِكُلِّli-kullibagi setiap
  14. صَبَّارٍshabbaarinyang sangat sabar
  15. شَكُورٍsyakuurinyang bersyukur

Inti bacaan

Kata (رَوَاكِدَ, rawaakida) hanya muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 42:33.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (إِنْ يَشَأْ, in yasya') yang berarti "jika Dia menghendaki". Rangkaian ini muncul di enam ayat dari enam surah, yaitu di 4:133, 6:133, 14:19, 17:54, 35:16, dan 42:33. Di lima ayat yang lain, kehendak itu dikenakan pada manusia, misalnya (إِنْ يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ, in yasya' yudzhibkum) yang berarti "jika Dia menghendaki, Dia memusnahkan kalian" di 4:133, dan (إِنْ يَشَأْ يَرْحَمْكُمْ, in yasya' yarhamkum) yang berarti "jika Dia menghendaki, Dia merahmati kalian" di 17:54. Di 42:33 kehendak itu dikenakan pada angin. Dengan "Kami" sebagai pelaku, bentuk (إِنْ نَشَأْ, in nasya') muncul tiga kali, di 26:4, 34:9, dan 36:43. Di 36:43 bunyinya (وَإِنْ نَشَأْ نُغْرِقْهُمْ, wa-in nasya' nughriqhum) yang berarti "dan jika Kami menghendaki, Kami tenggelamkan mereka".

Kata (يُسْكِنِ, yuskini) berakar س-ك-ن dan berbentuk menjadikan sesuatu berada dalam suatu keadaan. Bentuk itu dipakai lima kali di lima ayat, yaitu 14:14, 14:37, 23:18, 42:33, dan 65:6. Di ayat-ayat lain objeknya ditempatkan atau dibuat menetap, misalnya (فَأَسْكَنَّاهُ, fa-askannaahu) di 23:18 yang berarti "lalu Kami jadikan ia menetap", untuk air di bumi. Akar yang sama muncul di 25:45 dalam (لَجَعَلَهُ سَاكِنًا, la-ja'alahu saakinan) yang berarti "niscaya Dia menjadikannya diam", untuk bayang-bayang. Di 42:33 angin dibuat diam, yaitu angin yang berhenti berembus, sehingga terjemahan memakai "menghentikan".

Kata (الرِّيحَ, r-riiha) yang berarti "angin" berakar ر-و-ح. Bentuk persis ini muncul lima kali, di 21:81, 34:12, 38:36, 42:33, dan 51:41. Di tiga ayat pertama angin ditundukkan bagi Sulaiman, dan di 21:81 serta 38:36 angin itu digambarkan dengan (تَجْرِي بِأَمْرِهِ, tajrii bi-amrihi) yang berarti "berembus dengan perintahnya". Di 51:41 angin dikirim kepada Ad, (الرِّيحَ الْعَقِيمَ, ar-riiha l-'aqiima) yang berarti "angin yang membinasakan". Dari kelima ayat itu hanya 42:33 yang menyebut angin berhenti.

Kata (فَيَظْلَلْنَ, fa-yazhlalna) berakar ظ-ل-ل, dengan awalan (فَ, fa) yang berarti "maka" dan akhiran (نَ, -na) yang menandai pelaku jamak perempuan. Kata kerja ini muncul sembilan kali di sembilan ayat, yaitu 15:14, 16:58, 20:97, 26:4, 26:71, 30:51, 42:33, 43:17, dan 56:65, dan di setiap ayat itu kata sesudahnya menyebut keadaan yang berlanjut. Susunan terdekat ada di 26:4: (إِنْ نَشَأْ, in nasya') yang berarti "jika Kami menghendaki", lalu (فَظَلَّتْ أَعْنَاقُهُمْ لَهَا خَاضِعِينَ, fa-zhallat a'naaquhum lahaa khaadhi'iina) yang berarti "sehingga tengkuk mereka selalu tunduk kepadanya". Kehendak disusul keadaan yang bertahan, sama dengan susunan 42:33. Akhiran jamak perempuan itu cocok dengan (الْجَوَارِ, l-jawaari) di 42:32, sehingga "mereka" di terjemahan adalah kapal-kapal. Angin, yang disebut tunggal, tidak cocok dengan akhiran itu.

Kata (رَوَاكِدَ, rawaakida) yang berarti "terhenti" berakar ر-ك-د dan hanya muncul satu kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Karena tidak ada ayat lain yang memakai akarnya, maknanya tidak dapat diuji silang. Dari ayat ini sendiri terbaca bahwa kata itu menyebut keadaan kapal-kapal ketika angin telah dibuat diam, sehingga kata itu berpasangan dengan yuskini, dua kata dari dua akar berbeda yang sama-sama menyebut tak bergerak. Terjemahan memakai satu akar Indonesia untuk keduanya, "menghentikan" dan "terhenti", sehingga hubungan sebab dan akibatnya terbaca, sedangkan perbedaan akar Arabnya tidak terbawa.

Kata (عَلَىٰ ظَهْرِهِ, 'alaa zhahrihi) yang berarti "di permukaannya" tersusun dari (عَلَىٰ, 'alaa) yang berarti "di atas", (ظَهْرِ, zhahri) yang berarti "punggung", dan (هِ, -hi) yang berarti "-nya". Akhiran -hi menunjuk laki-laki tunggal. Di 42:32 benda yang cocok adalah (الْبَحْرِ, l-bahri) yang berarti "laut", sedangkan angin ditandai perempuan. Kata zhahr dipakai untuk bidang atas yang menopang sesuatu: (عَلَىٰ ظَهْرِهَا, 'alaa zhahrihaa) di 35:45 untuk bumi tempat makhluk bergerak, diterjemahkan "di bumi", dan (عَلَىٰ ظُهُورِهِ, 'alaa zhuhuurihi) di 43:13 untuk yang ditunggangi, diterjemahkan "di atas punggungnya". Terjemahan 42:33 memilih "permukaannya" untuk laut, selaras dengan "di bumi" di 35:45.

Penutup ayat ini, (إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ, inna fii dzaalika la-aayaatin li-kulli shabbaarin syakuurin), muncul empat kali di empat surah, yaitu di 14:5, 31:31, 34:19, dan 42:33. Kata (صَبَّارٍ, shabbaarin) yang berarti "sangat sabar" hanya muncul dalam rumus ini. Ayat 31:31 menaruh rumus itu sesudah kapal yang berlayar di laut, sama seperti ayat ini. Kata (شَكُورٍ, syakuurin) berakar ش-ك-ر dan dipakai untuk manusia di 14:5, 17:3, 31:31, 34:13, 34:19, dan 42:33, tetapi untuk Allah di 35:30, 35:34, 42:23, dan 64:17, misalnya (غَفُورٌ شَكُورٌ, ghafuurun syakuurun) di 35:30. Terjemahan memakai "pengganjar" bila pelakunya Allah dan "bersyukur" bila pelakunya manusia. Surah ini memuat kedua pemakaian itu, 42:23 untuk Allah dan ayat ini untuk manusia.

Tafsiran

Ayat ini memuat kemungkinan pertama bagi kapal-kapal di 42:32, yaitu angin dihentikan dan kapal-kapal berdiam di atas laut. Ayat ini tidak menyatakan bahwa hal itu terjadi atau akan terjadi. Seluruh gambarannya diletakkan di bawah (إِنْ يَشَأْ, in yasya') yang berarti "jika Dia menghendaki", dan pernyataan tanpa syarat di ayat ini hanya kalimat penutup tentang tanda-tanda.

Gambaran itu tidak memuat kerusakan. Kapal-kapal tidak tenggelam, tidak pecah, dan tidak dilemparkan ke mana pun. Ayat ini juga tidak menyebut orang yang berada di atasnya, rasa takut, atau doa. Hal itu berbeda dari ayat lain yang menggambarkan bahaya di laut. Di 10:22 angin yang dahsyat dan gelombang membuat orang mengira telah terkepung, lalu mereka berdoa kepada Allah. Di 17:67 kemudaratan menimpa di laut dan lenyaplah siapa yang diseru selain Dia. Di 31:32 ombak menutupi mereka dan mereka berdoa kepada Allah. Di 42:33 hanya ada kapal-kapal dan keadaan diam.

Ayat 42:34 menyusul dengan kemungkinan kedua yang dimulai (أَوْ, aw) yang berarti "atau", yaitu kapal-kapal dihancurkan, dan kemungkinan kedua itu diberi sebab, "karena perbuatan mereka". Kemungkinan pertama di ayat ini tidak diberi sebab. Apakah keadaan terhenti itu berkaitan dengan perbuatan siapa pun dibiarkan terbuka. Dua ayat itu bersama-sama menaruh dua keadaan di bawah satu kehendak: diam di atas air, atau binasa.

Kalimat penutup menaruh tanda pada (ذَٰلِكَ, dzaalika) yang berarti "yang demikian itu". Ayat ini tidak merinci apa yang ditunjuk, apakah kapal yang berlayar di 42:32, kapal yang terhenti di ayat ini, atau keduanya. Rumus yang sama di 31:31 ditaruh sesudah kapal yang berlayar, di 14:5 sesudah hari-hari Allah, dan di 34:19 sesudah kaum yang dihancurkan sehancur-hancurnya, jadi cakupan penunjuk itu mengikuti ayat di sebelumnya dan berubah dari satu tempat ke tempat lain.

Dua sifat penerima tanda itu dapat dibaca berpasangan dengan dua keadaan kapal. Kapal yang berlayar dan angin yang berembus menunjuk ke rasa syukur, sedangkan kapal yang berdiam menunjuk ke kemampuan menanti. Pembacaan ini bersifat kemungkinan, sebab ayat tidak menghubungkan sifat dengan keadaan secara terang. Ayat ini menulis dengan pasti bahwa tanda-tanda itu bagi orang yang memiliki keduanya sekaligus.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat 42:33 menyebut sesuatu yang menggerakkan kapal-kapal besar, dan sesuatu itu bukan bagian dari kapal: angin. Ketika angin dibuat diam, kapal yang sebesar gunung pun berdiam di atas air. Kapal bisa dibuat besar dan kokoh, tetapi angin tidak ikut dibuat bersamanya, dan menurut ayat ini Dia dapat menghentikannya bila Dia menghendaki. Pembaca dapat mendaftar apa yang menggerakkan hidupnya tetapi bukan buatannya dan bukan miliknya. Apa yang bagi pembaca seperti angin bagi kapal, tidak terlihat dan tidak dikuasai, namun menentukan apakah ia bergerak atau berdiam?
  • Kemungkinan pertama di ayat ini, kapal terhenti di permukaan laut, disebut tanpa sebab. Kemungkinan kedua di 42:34 diberi sebab, yaitu karena perbuatan mereka. Apakah keadaan terhenti berkaitan dengan perbuatan siapa pun tidak ditulis. Bagi pembaca yang sedang tertahan, entah dalam pekerjaan, rencana, atau perjalanan, ayat ini tidak menyediakan rumus untuk menjelaskan sebabnya, dan Dia yang memegang kehendak itu tidak diberi alasan di ayat ini. Apa yang berubah pada cara pembaca menilai waktu-waktunya yang terhenti bila sebabnya tidak langsung ditulis?
  • Kata (رَوَاكِدَ, rawaakida) menyebut kapal yang berdiam, dan kata untuk tenggelam atau hancur tidak dipakai di ayat ini. Kapal tetap berada di atas air, utuh, hanya tidak bergerak. Hancurnya baru disebut di ayat berikutnya sebagai kemungkinan yang lain. Dua keadaan itu dipisahkan oleh kata "atau", dan Dia menaruhnya sebagai dua kemungkinan yang berbeda. Pembaca yang sedang berhenti dapat memperhatikan bahwa kata untuk berhenti dan kata untuk binasa tidak diberikan oleh teks kepada keadaan yang sama. Dalam keadaannya sekarang, pembaca berada di keadaan yang mana dari dua itu, dan atas dasar apa ia memutuskannya?
  • Penutup ayat ini menyebut penerima tanda sebagai orang yang sangat sabar lagi bersyukur. Dua keadaan kapal yang digambarkan di 42:32 dan 42:33, berlayar dan berdiam, dapat dibaca berpasangan dengan dua sifat itu: rasa syukur ketika angin ada, kemampuan menanti ketika angin tiada. Pembacaan ini bersifat kemungkinan, sebab ayat tidak menyebut pasangannya dengan terang. Jika pasangan itu benar, tanda dari Dia tidak terbaca utuh oleh orang yang hanya pandai bersyukur saat bergerak, dan tidak pula oleh orang yang hanya tahan saat diam. Dari dua sifat itu, mana yang lebih sulit bagi pembaca ketika angin sedang tidak ada?
  • Penerima tanda di ayat ini disebut dengan kata (لِكُلِّ, li-kulli) yang berarti "bagi setiap", lalu dua sifat watak: sangat sabar dan bersyukur. Ayat tidak menyebut pelaut, pedagang, atau orang yang pernah menumpang kapal, dan tidak menyebut tingkat pengetahuan. Syaratnya menyangkut cara orang bersikap saat angin ada dan saat angin tiada. Pembaca yang tidak pernah melihat laut tetap berada dalam jangkauan kalimat ini, sebab tanda-Nya tidak dikunci pada pekerjaan tertentu. Apakah sifat sabar dan syukur itu pernah diuji pada pembaca dalam keadaan yang tidak ada hubungannya dengan laut?
  • Kata (شَكُورٍ, syakuurin) yang dikenakan pada penerima tanda di ayat ini dipakai juga untuk Allah di 42:23, dalam surah yang sama, dan di 35:30, 35:34, serta 64:17. Hubungan antara kedua pemakaian itu tidak diterangkan, dan terjemahan membedakan keduanya dengan "pengganjar" dan "bersyukur". Pembaca dapat mencatat bahwa satu kata Arab yang sama menaungi sikap manusia yang berterima kasih dan sifat Dia yang membalas. Apa artinya bagi pembaca bahwa kata yang melekat pada Dia di sebuah ayat dipakai pula untuk orang yang menerima tanda di ayat lain, padahal kaitannya tidak diterangkan?