وَالَّذِينَ إِذَا أَصَابَهُمُ الْبَغْيُ هُمْ يَنْتَصِرُونَ

dan orang-orang yang apabila aniaya menimpa mereka, mereka membela diri.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَالَّذِينَ إِذَا أَصَابَهُمُ الْبَغْيُ هُمْ يَنْتَصِرُونَwa-lladziina idzaa ashaabahumu l-baghyu hum yantashiruunadan orang-orang yang apabila aniaya menimpa mereka, mereka membela diri

Terjemahan per kata (6 kata)

  1. وَالَّذِينَwa-lladziinadan orang-orang yang
  2. إِذَاidzaaapabila
  3. أَصَابَهُمُashaabahumumenimpa mereka
  4. الْبَغْيُl-baghyuaniaya
  5. هُمْhummereka
  6. يَنْتَصِرُونَyantashiruunamereka membela diri

Inti bacaan

Bentuk (الْبَغْيُ, l-baghyu) muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 42:39.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini hanya satu bagian, (وَالَّذِينَ إِذَا أَصَابَهُمُ الْبَغْيُ هُمْ يَنْتَصِرُونَ, wa-lladziina idzaa ashaabahumu l-baghyu hum yantashiruuna), dan seluruhnya berarti "dan orang-orang yang apabila aniaya menimpa mereka, mereka membela diri". Bagian pertamanya, (إِذَا أَصَابَهُمُ الْبَغْيُ, idzaa ashaabahumu l-baghyu), memuat kata kerja (أَصَابَهُمُ, ashaabahumu) yang berakar ص-و-ب dan berarti "menimpa mereka". Bentuk persis ashaabahumu muncul dua kali, yaitu di 3:172 dan 42:39. Di 3:172, (أَصَابَهُمُ الْقَرْحُ, ashaabahumu l-qarhu) berarti "menimpa mereka luka", sehingga kata kerja yang sama dipakai untuk luka di sana dan untuk aniaya di sini, dan terjemahan memakai kata timpa di keduanya. Hal yang menimpa datang dari luar pelaku, dan ayat tidak menyebut dari siapa aniaya itu datang.

Bentuk persis (الْبَغْيُ, l-baghyu) yang berarti "aniaya" berakar ب-غ-ي dan hanya muncul di 42:39, dengan kata sandang al- dan sebagai yang menimpa. Kata benda dari akar yang sama muncul di sebelas ayat, yaitu 2:90, 2:213, 3:19, 6:146, 7:33, 10:23, 10:90, 16:90, 42:14, 42:39, dan 45:17. Bila satu pihak melanggar pihak lain, akar ini biasanya disusul huruf 'alaa: (فَبَغَىٰ عَلَيْهِمْ, fa-baghaa 'alayhim) di 28:76, (بَغَىٰ بَعْضُنَا عَلَىٰ بَعْضٍ, baghaa ba'dhunaa 'alaa ba'dhin) di 38:22, dan (بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَىٰ, baghat ihdaahumaa 'alaa l-ukhraa) di 49:9, semuanya diterjemahkan dengan kata "aniaya". Di 10:23, (بَغْيُكُمْ عَلَىٰ أَنْفُسِكُمْ, baghyukum 'alaa anfusikum) bagian pertamanya diterjemahkan "aniaya kalian". Sejajar dengan itu, 42:39 memakai "aniaya" untuk al-baghyu. Kata "zalim" disisakan bagi akar ظ-ل-م yang muncul di 42:40 sampai 42:42, supaya dua akar itu tetap terbaca sebagai dua kata di rangkaian yang sama.

Bagian terakhir, (هُمْ يَنْتَصِرُونَ, hum yantashiruuna) yang berarti "mereka membela diri", dibangun dari kata ganti (هُمْ, hum) yang berdiri sendiri di depan kata kerja. Susunan serupa ada di ayat sebelumnya, 42:37, yaitu (هُمْ يَغْفِرُونَ, hum yaghfiruuna) yang berarti "mereka memberi maaf", dan masing-masing susunan hanya muncul satu kali di Al-Qur'an. Kedua ayat itu sama-sama menaruh idzaa sebelum peristiwanya, yaitu (وَإِذَا مَا غَضِبُوا, wa-idzaa maa ghadhibuu) yang berarti "dan apabila mereka marah" di 42:37 dan idzaa ashaabahumu l-baghyu di 42:39. Terjemahan menulis "mereka" dua kali di 42:39 dan di 42:37 supaya kata ganti yang berdiri sendiri itu tidak hilang.

Kata kerja (يَنْتَصِرُونَ, yantashiruuna) berakar ن-ص-ر dan memuat makna pelaku menolong dirinya sendiri. Bentuk persisnya muncul dua kali, yaitu di 26:93 dan 42:39. Di 26:93, (أَوْ يَنْتَصِرُونَ, aw yantashiruuna) berarti "atau menolong diri mereka sendiri", sedangkan kata kerja lampaunya, (وَانْتَصَرُوا, wa-ntasharuu), diterjemahkan "membela diri" di 26:227. Terjemahan 42:39 memilih "membela diri", sama dengan 26:227, karena ayat ini menyebut aniaya sebagai pemicunya. Akar ب-غ-ي dan ن-ص-ر juga bertemu di 22:60, ayat lain yang membicarakan aniaya. Di 22:60, (ثُمَّ بُغِيَ عَلَيْهِ لَيَنْصُرَنَّهُ اللَّهُ, tsumma bughiya 'alayhi la-yanshurannahu llaahu), akar ن-ص-ر dipakai dengan Allah sebagai pelaku, yang diterjemahkan "pasti akan ditolong oleh Allah", dan sebelumnya ayat itu menyebut orang yang membalas seimbang. Keduanya membicarakan keadaan yang berbeda, sehingga 22:60 tidak dipakai untuk menafsirkan 42:39.

Titik di ujung terjemahan menandai bahwa kalimat ini selesai di 42:39, sedangkan 42:40 memulai kalimat baru dengan (وَجَزَاءُ, wa-jazaa'u) yang berarti "dan balasan".

Tafsiran

Ayat ini menutup daftar yang dibuka di 42:36 dengan membela diri, dan menempatkannya di dalam gambaran orang beriman yang sama dengan memberi maaf di 42:37. Daftar itu berisi bertawakal kepada Tuhan, menjauhi dosa besar, memberi maaf ketika marah, menyambut seruan, menegakkan salat, bermusyawarah, menginfakkan rezeki, lalu membela diri ketika aniaya menimpa. Tidak ada tanda dalam rangkaian itu bahwa satu sifat membatalkan sifat yang lain.

Dua ayat yang berdekatan memuat dua jawaban terhadap dua peristiwa. Di 42:37 jawabannya memberi maaf dan peristiwanya kemarahan, yaitu keadaan yang tumbuh dari dalam pelaku. Di 42:39 jawabannya membela diri dan peristiwanya aniaya, yaitu keadaan yang menimpa dari luar. Kedua peristiwa itu memakai susunan hum di depan kata kerja, sehingga kedua jawaban terbaca sebagai milik kelompok yang sama, dan ayat tidak memerintahkan salah satunya. Ayat 42:39 juga tidak menyebut cara membela diri dan tidak menyebut sampai di mana batasnya; batas itu muncul di ayat sesudahnya.

Pada 42:36 sampai 42:38, kelompok itu hampir selalu menjadi pelaku kata kerja: menjauhi, memberi maaf, menyambut, menegakkan, dan menginfakkan. Di 42:39 kata kerja pertama mengenai mereka, yaitu ashaabahumu, dan sesuatu yang buruk datang dari pihak yang tidak diberi nama. Baru sesudah itu kata kerja kedua menjadikan mereka pelaku lagi, yaitu yantashiruuna. Urutan ini memperlihatkan bahwa membela diri dalam ayat ini adalah jawaban atas sesuatu yang lebih dulu terjadi, dan ayat tidak menggambarkannya sebagai tindakan yang dimulai sendiri.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat 42:37 menaruh memberi maaf di tempat kemarahan, dan 42:39 menaruh membela diri di tempat aniaya, dan keduanya dimasukkan ke dalam gambaran orang yang bertawakal kepada Tuhan mereka di 42:36. Pembaca yang mengenal salah satu jawaban dengan baik dan jarang memakai yang lain dapat bertanya mengapa begitu. Pembaca yang selalu memberi maaf bahkan ketika aniaya benar-benar menimpa, atau yang selalu membela diri bahkan ketika yang dihadapi adalah kemarahannya sendiri, sama-sama mengambil satu jawaban untuk dua peristiwa. Peristiwa yang sedang pembaca hadapi sekarang termasuk yang mana?
  • Kata kerja ashaabahumu menggambarkan sesuatu yang tiba kepada mereka, dan ayat tidak menyebut dari siapa aniaya itu datang. Berbeda dengan kemarahan di 42:37 yang timbul dari dalam, aniaya di 42:39 mendatangi seseorang dari luar. Ketika sesuatu yang buruk menimpa, pembaca bisa memilah dulu apakah itu berawal dari tindakannya sendiri atau datang menghampirinya. Pemilahan itu menentukan jawaban yang cocok, dan ayat ini menaruh jawabannya sesudah kata menimpa. Kapan terakhir pembaca menjawab sesuatu yang menimpanya tanpa lebih dulu menanyakan dari mana datangnya?
  • Membela diri disebut sejajar dengan menyambut seruan Tuhan, menegakkan salat, dan menginfakkan rezeki, dalam satu kalimat panjang yang dimulai dari tawakal kepada Tuhan di 42:36. Letak itu memperlihatkan bahwa ayat tidak menempatkan sifat ini di luar gambaran orang beriman. Pembaca yang merasa bahwa menjadi beriman berarti menelan segala aniaya tanpa bersuara akan menemukan bahwa daftar ini tidak mengatakan demikian. Pembaca yang merasa bahwa membela diri adalah kelemahan iman juga tidak menemukan dukungan di daftar yang sama. Pemahaman mana yang selama ini lebih sering mengisi pikiran pembaca ketika diperlakukan tidak adil?
  • Di 42:39 kata ganti hum berdiri sendiri di depan kata kerja, dan terjemahan menulis mereka dua kali: apabila aniaya menimpa mereka, mereka membela diri. Kata yang sama muncul di 42:37 sebelum memberi maaf. Dua kali pelaku disebut dengan kata ganti yang berdiri sendiri, dan keduanya menyangkut pihak yang mengalami peristiwa. Pembaca yang terbiasa menunggu orang lain bertindak ketika dirinya menjadi sasaran aniaya dapat memperhatikan bahwa ayat ini menaruh pelaku jawaban pada kelompok yang mengalami peristiwanya. Siapa yang biasanya bertindak lebih dulu ketika aniaya menimpa pembaca: ia sendiri atau orang lain yang melihat?
  • Ayat 42:39 tidak menyebut dari siapa aniaya itu datang, jadi pelakunya bisa seorang yang dikenal, sebuah kelompok, atau keadaan tanpa wajah yang bisa dituju. Rumusan ayat tidak memuat syarat tentang siapa pelakunya, sehingga pembaca tidak menemukan di sana alasan untuk menunda jawaban sampai pelakunya dikenal. Di 42:42 pelaku itu baru digambarkan, dan pembaca di tempat itu melihat bagaimana ayat menyebutnya. Aniaya yang pelakunya sulit ditunjuk tetap termasuk yang disebut ayat ini. Bagaimana pembaca membela diri dari aniaya yang tidak punya alamat?
  • Akar ن-ص-ر dipakai di 42:39 untuk orang yang membela dirinya, dan di 22:60 untuk pertolongan yang Allah berikan kepada orang yang dizalimi setelah membalas seimbang. Dua ayat itu membicarakan keadaan yang tidak sama, jadi yang satu tidak menggantikan yang lain. Meski begitu, akar yang sama dipakai untuk pelaku manusia di satu ayat dan pelaku Allah di ayat lain, dan pembaca dapat memperhatikan bahwa teks tidak menaruh kedua pelaku itu saling berhadapan. Orang yang membela diri di 42:39 tidak disebut menolak pertolongan Allah, dan pertolongan di 22:60 tidak disebut menghapus pembelaan diri. Apa artinya bagi pembaca bahwa dua kata kerja dari akar yang sama itu hidup berdampingan di dua ayat?