وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا ۖ فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

Dan balasan suatu keburukan adalah keburukan yang setimpal. Maka, siapa yang memaafkan dan memperbaiki, pahalanya atas tanggungan Allah. Sesungguhnya Dia tidak mencintai orang-orang zalim.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَاwa-jazaa'u sayyi'atin sayyi'atun mitsluhaadan balasan suatu keburukan adalah keburukan yang setimpal
  2. فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِfa-man 'afaa wa-ashlaha fa-ajruhu 'alaa llaahimaka, siapa yang memaafkan dan memperbaiki, pahalanya atas tanggungan Allah
  3. إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَinnahu laa yuhibbu zh-zhaalimiinasesungguhnya Dia tidak mencintai orang-orang zalim

Terjemahan per kata (14 kata)

  1. وَجَزَاءُwa-jazaa'udan balasan
  2. سَيِّئَةٍsayyi'atinkeburukan
  3. سَيِّئَةٌsayyi'atunkeburukan
  4. مِثْلُهَاmitsluhaayang serupa dengannya
  5. فَمَنْfa-manmaka orang yang
  6. عَفَا'afaamemaafkan
  7. وَأَصْلَحَwa-ashlahadan memperbaiki
  8. فَأَجْرُهُfa-ajruhumaka pahalanya
  9. عَلَى'alaaatas
  10. اللَّهِllaahiAllah
  11. إِنَّهُinnahusesungguhnya Dia
  12. لَاlaatidak
  13. يُحِبُّyuhibbumencintai
  14. الظَّالِمِينَzh-zhaalimiinayang zalim

Inti bacaan

Bentuk (وَأَصْلَحَ, wa-ashlaha) muncul tujuh kali di Al-Qur'an, yaitu di 4:16, 5:39, 6:48, 6:54, 7:35, 42:40, dan 47:2.

Penjelasan pilihan kata

Bagian pertama ayat ini, (وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا, wa-jazaa'u sayyi'atin sayyi'atun mitsluhaa), berarti "dan balasan suatu keburukan adalah keburukan yang setimpal". Bagian ini tidak memuat kata kerja. Kata (جَزَاءُ, jazaa'u) yang berarti "balasan" disusul (سَيِّئَةٍ, sayyi'atin) yang berarti "suatu keburukan", lalu kata yang sama diulang dalam bentuk lain, (سَيِّئَةٌ, sayyi'atun), sebagai sebutan bagi balasannya. Susunan (جَزَاءُ سَيِّئَةٍ, jazaa'u sayyi'atin) muncul dua kali, yaitu di 10:27 dan 42:40, dan di 10:27 bunyinya (جَزَاءُ سَيِّئَةٍ بِمِثْلِهَا, jazaa'u sayyi'atin bi-mitslihaa) yang berarti "balasan suatu keburukan setimpal dengannya". Karena kata Arabnya sama dua kali, terjemahan menulis "keburukan" dua kali dan tidak mengganti sebutan balasan dengan kata yang lebih halus.

Kata (مِثْلُهَا, mitsluhaa) yang berarti "yang setimpal" tersusun dari mitsl, "semisal", dan akhiran -haa, "dengannya". Bentuk (إِلَّا مِثْلَهَا, illaa mitslahaa) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 6:160 dan 40:40, dan keduanya menyebut keburukan yang tidak dibalas kecuali dengan yang semisal. Di 16:126, (فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُمْ بِهِ, fa-'aaqibuu bi-mitsli maa 'uuqibtum bihi) yang berarti "maka balaslah setimpal dengan apa yang ditimpakan kepada kalian", takarannya dinyatakan lewat kata mitsl yang sama. Terjemahan 42:40 memakai "setimpal", sama dengan terjemahan 10:27 dan 16:126, sedangkan terjemahan 6:160 dan 40:40 memakai "seimbang" dan "sebanding" untuk bentuk yang bertaut dengan kata ini.

Kata (عَفَا, 'afaa) pada (فَمَنْ عَفَا, fa-man 'afaa) yang berarti "maka siapa yang memaafkan" berakar ع-ف-و, dan bentuk lampaunya muncul sebelas kali di tujuh surah. Susunan fa-man 'afaa hanya muncul di 42:40. Akar yang sama dipakai tiga kali di surah ini dengan Allah sebagai pelaku, yaitu (وَيَعْفُو عَنِ السَّيِّئَاتِ, wa-ya'fuu 'ani s-sayyi'aati) di 42:25, (وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ, wa-ya'fuu 'an katsiirin) di 42:30, dan (وَيَعْفُ عَنْ كَثِيرٍ, wa-ya'fu 'an katsiirin) di 42:34. Di 42:40 pelakunya manusia dan kata kerjanya berdiri tanpa objek, sehingga terjemahan memakai "memaafkan" tanpa objek.

Kata kerja berikutnya, (وَأَصْلَحَ, wa-ashlaha) yang berarti "dan memperbaiki", berakar ص-ل-ح dan muncul tujuh kali di enam surah, yaitu 4:16, 5:39, 6:48, 6:54, 7:35, 42:40, dan 47:2. Di 5:39, (مِنْ بَعْدِ ظُلْمِهِ وَأَصْلَحَ, min ba'di zhulmihi wa-ashlaha) berarti "setelah melakukan kezaliman dan memperbaiki diri", sehingga terjemahan di sana menyebut objeknya. Di 42:40 kata kerja itu berdiri tanpa objek, dan terjemahan tidak menambahkan "diri" atau "keadaan".

Bagian (فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ, fa-ajruhu 'alaa llaahi) berarti "maka pahalanya atas tanggungan Allah". Kata (أَجْرُهُ, ajruhu) berakar أ-ج-ر dan memuat -hu yang menunjuk orang yang memaafkan. Huruf (عَلَى, 'alaa) berarti "atas", dan terjemahan menulis "atas tanggungan" karena huruf itu menempatkan pahala pada Allah sebagai pihak yang menanggungnya; kata "tanggungan" tidak punya kata Arab sendiri. Bentuk (إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى اللَّهِ, in ajriya illaa 'alaa llaahi) muncul tiga kali, yaitu di 10:72, 11:29, dan 34:47, dalam ucapan pembicara yang menyatakan tidak meminta imbalan dari orang-orang yang diajaknya bicara. Di 42:40 susunan 'alaa llaahi menyangkut pahala orang yang memaafkan.

Bagian akhir, (إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ, innahu laa yuhibbu zh-zhaalimiina) yang berarti "sesungguhnya Dia tidak mencintai orang-orang zalim", memuat susunan (لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ, laa yuhibbu zh-zhaalimiina) yang muncul tiga kali, yaitu di 3:57, 3:140, dan 42:40. Di dua ayat lainnya pelakunya ditulis wa-llaahu, sedangkan di 42:40 ditulis innahu, kata ganti yang menunjuk Allah yang disebut di bagian sebelumnya. Ayat ini tidak menyebut apakah orang zalim di sini adalah yang memulai keburukan, yang membalas melebihi takaran, atau keduanya.

Tafsiran

Ayat ini menyusun tiga pernyataan yang saling menyambung: takaran balasan, pilihan memaafkan, dan satu penutup tentang orang zalim. Pernyataan pertama menyebut apa yang berlaku, pernyataan kedua menunjuk pihak yang menanggung pahala, dan pernyataan ketiga menyebut apa yang tidak dicintai.

Ayat 42:39 menyebut orang yang membela diri, dan 42:41 menyebut orang yang membela diri setelah dizalimi. Ayat 42:40 berada di antara keduanya dan dapat dibaca sebagai jawaban atas pertanyaan yang ditinggalkan 42:39, yaitu seberapa jauh pembelaan itu: sebanyak keburukan yang diterimanya, tidak lebih. Takaran itu disebut tanpa kata kerja, seperti pernyataan umum yang berlaku bagi siapa pun, tidak seperti perintah kepada satu pihak. Ayat ini juga tidak memuat kata perintah di bagian pilihan memaafkan; ayat menuliskan syarat dan akibatnya, yaitu siapa yang memaafkan dan memperbaiki, pahalanya ditanggung Allah.

Dalam surah ini, memaafkan sudah muncul tiga kali sebagai perbuatan Allah, di 42:25, 42:30, dan 42:34, dan ayat 42:40 memakai kata kerja yang sama untuk manusia. Ayat-ayat itu tidak menghubungkan kedua pelaku secara tertulis, sehingga kesamaan kata kerja itu merupakan fakta teks dan tidak menyatakan bahwa yang satu meniru yang lain. Susunan ini menaruh takaran dan pemaafan dalam satu kalimat tanpa pertentangan, dan ayat tidak menyebut salah satunya salah.

Kalimat tentang orang zalim menyudahi pernyataan yang berjalan dari balasan ke pemaafan. Sesudah 42:40, ayat 42:41 dan 42:42 menjelaskan sisi pembelaan dan sisi orang zalim, sehingga penutup ini berfungsi sebagai pintu masuk bagi dua ayat berikutnya.

Renungan dan Hikmah

  • Takaran dalam ayat ini dinyatakan sebagai keadaan yang berlaku: balasan suatu keburukan adalah keburukan yang setimpal, dan tidak dinyatakan sebagai anjuran untuk membalas. Ayat ini memakai kata mitsl, semisal, dan tidak memakai kata yang berarti lebih. Pembaca yang pernah menyusun balasan di dalam pikirannya dapat memeriksa apakah ukuran balasan itu masih sama dengan keburukan yang diterimanya, atau sudah ditambah oleh hal-hal yang tidak ikut terjadi pada hari itu. Ukuran apa yang bisa dipakai pembaca untuk memastikan bahwa balasan yang dibayangkannya tidak melebihi keburukan yang benar-benar diterimanya?
  • Teks memakai kata yang sama untuk perbuatan buruk pertama dan untuk balasannya, sayyi'ah, dua kata berturutan. Ayat tidak memberi balasan itu nama yang lebih mulia atau lebih ringan. Balasan sebenarnya dapat diberi nama lain, seperti pelajaran, pelurusan, atau keadilan, dan ayat ini memakai kata yang sama dengan nama perbuatan yang dibalas. Pembaca bisa memperhatikan kata-kata yang dipakainya ketika menceritakan balasan yang pernah diberikannya, lalu menimbang apakah kata itu masih akan dipilih bila ia harus memakai kata dari ayat ini. Kata apa yang akan tersisa?
  • Ayat ini menggandengkan dua kata kerja, memaafkan dan memperbaiki, dan tidak menyebut apa yang diperbaiki. Karena objeknya tidak disebut, pembaca yang pernah memaafkan seseorang dapat bertanya apa yang di antara mereka berdua sebenarnya masih patah setelah kata maaf diucapkan. Ayat menggandengkan keduanya dengan huruf wa, tanpa menyebut siapa yang memperbaiki lebih dulu dan tanpa menyebut wujud perbaikannya. Di antara dua kata kerja itu, mana yang paling sering pembaca tinggalkan ketika ia sudah merasa selesai dengan suatu perselisihan?
  • Pahala orang yang memaafkan ditempatkan pada Allah sebagai penanggungnya, dan besarnya tidak disebut. Tempat tagihan dapat dibaca berpindah dari orang yang bersalah kepada Dia. Di tiga ayat lain, 10:72, 11:29, dan 34:47, susunan 'alaa llaahi dipakai oleh pembicara yang menyatakan tidak meminta imbalan dari orang-orang yang diajaknya bicara, sehingga imbalan di sana juga ditaruh pada Allah dan tidak pada pihak yang dilayani. Apa yang berubah pada cara pembaca menagih ketika tempat tagihan itu dipindahkan dari orang yang bersalah kepada Allah?
  • Di surah ini, kata kerja memaafkan dipakai untuk Allah di 42:25, 42:30, dan 42:34, lalu untuk manusia di 42:40. Ayat-ayat itu tidak menyatakan bahwa manusia sedang meniru Allah, jadi hubungan itu tidak bisa dibuat lebih tegas daripada apa yang tertulis. Pembaca melihat bahwa perbuatan yang di tiga ayat menjadi perbuatan Dia disebut juga di satu ayat sebagai perbuatan manusia yang pahalanya ditanggung Dia. Pembaca yang sedang menimbang apakah akan memaafkan seseorang dapat memperhatikan bahwa kata kerja itu sudah dikenal dari tempat lain di surah yang sama. Dari tiga ayat itu, mana yang paling dekat dengan keadaan yang sedang dihadapinya?
  • Ayat ini ditutup dengan pernyataan bahwa Dia tidak mencintai orang-orang zalim, dan tidak menyebut siapa yang dimaksud. Pernyataan itu duduk sesudah takaran dan pemaafan, sehingga pembaca bisa mengisinya dengan orang yang lebih dulu berbuat buruk, atau dengan orang yang membalas melebihi takaran, atau dengan dirinya sendiri. Ayat 42:42 belakangan menggambarkan lebih jelas siapa yang dimaksud, tetapi penutup ini sendiri tidak menyempitkan jawabannya. Ketika pembaca mendengar kata zalim dalam ayat ini, wajah siapa yang lebih dulu terlintas di pikirannya, dan apakah wajah itu pernah berubah?