وَلَمَنِ انْتَصَرَ بَعْدَ ظُلْمِهِ فَأُولَٰئِكَ مَا عَلَيْهِمْ مِنْ سَبِيلٍ
Dan sungguh, siapa yang membela diri setelah dizalimi, mereka itu tidak ada jalan atas mereka.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَلَمَنِ انْتَصَرَ بَعْدَ ظُلْمِهِwa-la-mani ntashara ba'da zhulmihidan sungguh, siapa yang membela diri setelah dizalimi
- فَأُولَٰئِكَ مَا عَلَيْهِمْ مِنْ سَبِيلٍfa-ulaa'ika maa 'alayhim min sabiilinmereka itu tidak ada jalan atas mereka
Terjemahan per kata (9 kata)
- وَلَمَنِwa-la-manidan sungguh siapa
- انْتَصَرَntasharamembela diri
- بَعْدَba'dasesudah
- ظُلْمِهِzhulmihikezalimannya
- فَأُولَٰئِكَfa-ulaa'ikamaka mereka itu
- مَاmaatidaklah
- عَلَيْهِمْ'alayhimatas mereka
- مِنْmindari
- سَبِيلٍsabiilinjalan
Inti bacaan
Kata kerja (انْتَصَرَ, ntashara) dalam bentuk lampau muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 42:41 dan 47:4.
Penjelasan pilihan kata
Kata pertama ayat ini, (وَلَمَنِ انْتَصَرَ, wa-la-mani ntashara), berarti "dan sungguh, siapa yang membela diri". Kata ini tersusun dari wa yang berarti "dan", huruf la yang berarti "sungguh", man yang berarti "siapa", dan kata kerja lampau (انْتَصَرَ, ntashara) yang berakar ن-ص-ر. Susunan wa-la-man dengan kata kerja lampau sesudahnya hanya muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 42:41 dan 42:43. Kata kerja ntashara sendiri muncul dua kali, yaitu di 42:41 dan 47:4. Di 47:4, (لَانْتَصَرَ مِنْهُمْ, la-ntashara minhum) yang berarti "niscaya Dia membalas mereka", pelakunya Allah dan terjemahan memakai "membalas". Di 42:41 pelakunya manusia, dan terjemahan memakai "membela diri", sama dengan terjemahan (وَانْتَصَرُوا مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا, wa-ntasharuu min ba'di maa zhulimuu) di 26:227 yang berarti "dan membela diri setelah dizalimi".
Bagian berikutnya, (بَعْدَ ظُلْمِهِ, ba'da zhulmihi), tersusun dari ba'da yang berarti "setelah", zhulm yang berarti "kezaliman", dan akhiran -hi yang berarti "-nya". Kata zhulm berakar ظ-ل-م dan dipakai di dua puluh ayat sebagai kata benda. Di 5:39, (مِنْ بَعْدِ ظُلْمِهِ وَأَصْلَحَ, min ba'di zhulmihi wa-ashlaha) berarti "setelah melakukan kezaliman dan memperbaiki diri", dan akhiran -hi di sana menunjuk pelakunya. Di 42:41 akhiran -hi menunjuk orang yang membela diri, dan karena kata kerja sebelumnya ntashara bertemu dengan aniaya yang menimpa di 42:39, terjemahan membaca zhulmihi sebagai kezaliman yang dikenakan kepada orang itu, yaitu "setelah dizalimi", seperti 26:227. Susunan (بَعْدَ ظُلْمِهِ, ba'da zhulmihi) tersendiri hanya muncul di 42:41.
Bagian jawaban dimulai dengan (فَأُولَٰئِكَ, fa-ulaa'ika) yang berarti "maka mereka itu". Subjek berpindah dari man yang tunggal ke ulaa'ika yang jamak, dan terjemahan mempertahankan perpindahan itu dengan "siapa" lalu "mereka itu". Lanjutannya, (مَا عَلَيْهِمْ مِنْ سَبِيلٍ, maa 'alayhim min sabiilin) yang berarti "tidak ada jalan atas mereka", tidak memuat kata kerja. Kata (سَبِيلٍ, sabiilin) berakar س-ب-ل dan di ayat ini bertemu dengan huruf 'alaa. Susunan (مِنْ سَبِيلٍ, min sabiilin) muncul lima kali di tiga surah, yaitu di 9:91, 40:11, 42:41, 42:44, dan 42:46. Bentuk terdekatnya ada di 9:91, (مَا عَلَى الْمُحْسِنِينَ مِنْ سَبِيلٍ, maa 'alaa l-muhsiniina min sabiilin), yang berarti "tidak ada jalan apa pun atas orang-orang yang berbuat baik". Untuk arti sabiil dengan 'alaa, dua ayat lain menyebut pemberi jalan itu secara tersurat: (فَمَا جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ عَلَيْهِمْ سَبِيلًا, fa-maa ja'ala llaahu lakum 'alayhim sabiilan) di 4:90 yang berarti "maka Allah tidak menjadikan bagi kalian jalan untuk melawan mereka", dan (وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا, wa-lan yaj'ala llaahu li-l-kaafiriina 'alaa l-mu'miniina sabiilan) di 4:141 yang berarti "dan Allah tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk mengalahkan orang-orang mukmin". Dari kedua ayat itu sabiil 'alaa terbaca sebagai jalan untuk menjangkau pihak lain. Terjemahan 42:41 memakai "jalan" tanpa tambahan "untuk menyalahkan" atau "untuk menghukum", karena tidak ada kata Arab yang melahirkannya.
Akar س-ب-ل dipakai juga di tiga ayat lain dalam surah ini, yaitu (إِنَّمَا السَّبِيلُ, innamaa s-sabiilu) di 42:42, (هَلْ إِلَىٰ مَرَدٍّ مِنْ سَبِيلٍ, hal ilaa maraddin min sabiilin) di 42:44, dan (فَمَا لَهُ مِنْ سَبِيلٍ, fa-maa lahu min sabiilin) di 42:46, dan terjemahan memakai "jalan" di semuanya. Tanda koma di tengah terjemahan menandai pemisah antara syarat dan jawabannya, sedangkan titik di ujung menandai bahwa kalimat selesai di 42:41.
Tafsiran
Ayat ini menetapkan kedudukan orang yang membela diri sesudah dizalimi, dan kedudukan itu dinyatakan dengan satu kalimat tanpa kata kerja: tidak ada jalan atas mereka. Pernyataan ini menjawab pertanyaan yang bisa muncul sesudah 42:40, ketika ayat itu menutup dengan pernyataan bahwa Dia tidak mencintai orang-orang zalim. Pembaca yang baru saja membaca takaran balasan, pemaafan, dan penutup tentang orang zalim dapat bertanya apakah membela diri menempatkan seseorang di antara orang-orang zalim itu. Ayat 42:41 menjawab dengan menyebut mereka sebagai pihak yang tidak dapat dijangkau oleh sabiil.
Kata zhulmihi di ayat ini menyebut apa yang dialami orang itu, sedangkan zh-zhaalimiin di 42:40 menyebut pelaku yang tidak dicintai. Akar yang sama dipakai untuk dua kedudukan yang berlawanan, dan ayat memisahkannya dengan susunannya: orang yang membela diri berada di posisi yang dizalimi, dan posisi menzalimi dimiliki pihak lain. Pemisahan ini kemudian ditegaskan oleh 42:42, yang menyebut siapa yang berada di bawah sabiil.
Ayat ini juga memantulkan 42:39. Di sana membela diri disebut sebagai satu sifat orang beriman yang bertawakal, dan di sini sifat itu diberi kedudukan: tidak ada jalan atas pelakunya. Daftar orang beriman di 26:227 menempatkan membela diri sesudah dizalimi di sisi iman, amal saleh, dan banyak mengingat Allah, sehingga sifat ini tidak berdiri sendiri di surah 42. Ayat 42:41 tidak menyebut cara membela diri dan tidak menyebut batasnya; batas takaran sudah ada di 42:40.
Susunan pembuka ayat ini, wa-la-man dengan kata kerja lampau, diulang di 42:43 dengan sabar dan memaafkan. Dua ayat itu dipisahkan oleh 42:42, sehingga pembaca bertemu dua pilihan yang dibuka dengan susunan yang sama dan satu ayat penjelas di tengahnya.
Renungan dan Hikmah
- Ayat ini menyatakan bahwa tidak ada jalan atas orang yang membela diri sesudah dizalimi, dan pernyataan itu tidak memuat kata kerja sehingga terbaca sebagai keadaan yang sudah berlaku. Pembaca yang pernah membela diri lalu merasa bersalah karena melakukannya dapat memperhatikan apa yang dilepaskan ayat ini, yaitu dakwaan atas pembelaan itu. Ayat ini menyebut sabiil sebagai jalan untuk menjangkau seseorang dari luar, dan jalan itu tidak ada. Perasaan bersalah pembaca, bila masih ada, sumbernya tidak berada di ayat ini. Dari mana asal perasaan itu?
- Ayat ini memakai kata ba'da, setelah, sehingga pembelaan diri yang disebutnya berada sesudah kezaliman dan tidak mendahuluinya. Urutan itu memberi pembaca satu pertanyaan sederhana yang bisa diajukan kepada diri sendiri sebelum bertindak: apakah ada sesuatu yang sudah terjadi, atau baru sesuatu yang diperkirakan akan terjadi? Ayat ini tidak menyebut kapan pembelaan itu harus dilakukan, tetapi menyebut dari titik mana pembelaan itu dihitung. Pembaca yang pernah bertindak lebih dulu karena yakin akan diperlakukan buruk dapat menimbang bahwa ayat ini bertumpu pada kata setelah. Ketika pembaca bertindak, apa yang sudah terjadi lebih dulu?
- Ayat ini bergerak dari siapa yang tunggal menjadi mereka yang jamak. Orang yang membela diri disebut sendirian di awal, lalu ditempatkan di tengah kelompok pada jawabannya, sehingga pembelaan satu orang tidak berdiri sendiri. Pembaca yang pernah membela diri dalam keadaan sendirian, tanpa ada yang membenarkan, dapat memperhatikan bahwa ayat ini menaruh dirinya di antara orang-orang yang tidak punya jalan atas mereka. Siapa yang berdiri bersama pembaca di kelompok itu?
- Akar yang sama dipakai untuk dua posisi yang berbeda: zhulmihi di 42:41 menyebut apa yang dialami orang yang membela diri, dan zh-zhaalimiina di 42:40 menyebut pihak yang tidak dicintai Dia. Karena akarnya sama, kedua posisi itu bisa terbaca sebagai satu, padahal ayat menaruhnya di dua tempat. Ayat tidak menyebut pembela diri sebagai zalim, dan tidak menyebut bahwa Dia tidak mencintainya. Bila pembaca menyebut seseorang zalim, di posisi manakah orang itu menurut ayat ini?
- Ayat 4:90 dan 4:141 menyebut Allah sebagai pihak yang menjadikan atau tidak menjadikan jalan atas suatu kelompok, sedangkan 42:41 hanya menyatakan bahwa jalan itu tidak ada, tanpa menyebut siapa yang menutupnya. Dengan perbedaan itu, pelaku yang menutup jalan di 42:41 tidak dapat diisi dari dua ayat tersebut. Ayat menuliskan keadaan, dan siapa yang menetapkannya dibiarkan terbuka. Pembaca yang menimbang rasa aman dari ayat ini dapat menghitung apa yang diberikan oleh kalimat yang tertulis. Apa yang tersisa dari rasa aman itu bila kalimat ini saja yang dipegang?
- Ayat ini dan 42:43 dibuka dengan susunan wa-la-man dan kata kerja lampau, yang pertama untuk membela diri dan yang kedua untuk bersabar dan memaafkan. Pembaca yang hanya mengenal salah satu dari dua ayat itu dapat menyimpulkan bahwa ayat yang dikenalnya adalah jawaban tunggal terhadap kezaliman. Dibaca berdampingan, keduanya memperlihatkan bahwa teks tidak menaruh pembelaan dan kesabaran sebagai lawan. Ayat 42:40 menyebut pahala orang yang memaafkan ditanggung Allah, sedangkan 42:41 menyebut tidak ada jalan atas orang yang membela diri, dan pahala tidak disebut di sana. Pada kejadian yang sama, apakah pembaca pernah menjalani keduanya secara bergantian?