وَلَمَنْ صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
Dan sungguh, siapa yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya yang demikian itu termasuk tekad yang teguh dalam berbagai urusan.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَلَمَنْ صَبَرَ وَغَفَرَwa-la-man shabara wa-ghafaradan sungguh, siapa yang bersabar dan memaafkan
- إِنَّ ذَٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الْأُمُورِinna dzaalika la-min 'azmi l-umuurisesungguhnya yang demikian itu termasuk tekad yang teguh dalam berbagai urusan
Terjemahan per kata (8 kata)
- وَلَمَنْwa-la-mandan sungguh siapa
- صَبَرَshabarabersabar
- وَغَفَرَwa-ghafaradan memaafkan
- إِنَّinnasesungguhnya
- ذَٰلِكَdzaalikaitu
- لَمِنْla-minsungguh dari
- عَزْمِ'azmiketeguhan
- الْأُمُورِl-umuurisegala urusan
Inti bacaan
Bentuk (غَفَرَ, ghafara) muncul tiga kali di Al-Qur'an, pada 28:16, 36:27, dan 42:43.
Penjelasan pilihan kata
Pembuka ayat ini, (وَلَمَنْ صَبَرَ وَغَفَرَ, wa-la-man shabara wa-ghafara), berarti "dan sungguh, siapa yang bersabar dan memaafkan". Pembukanya, wa-la-man dengan kata kerja lampau sesudahnya, sama dengan pembuka 42:41, (وَلَمَنِ انْتَصَرَ, wa-la-mani ntashara), dan susunan itu hanya muncul di dua ayat ini. Karena Arabnya sama, terjemahan memakai "dan sungguh" di keduanya, sehingga pembaca yang membaca 42:41 dan 42:43 berdampingan melihat dua kalimat yang dibuka dengan cara yang sama.
Kata kerja (صَبَرَ, shabara) yang berarti "bersabar" berakar ص-ب-ر. Bentuk persis shabara muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 42:43 dan 46:35. Di 46:35, (فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ, fa-shbir ka-maa shabara uluu l-'azmi mina r-rusuli) yang berarti "maka, bersabarlah engkau sebagaimana para rasul yang berketetapan hati telah bersabar", kata kerja yang sama disusul kata 'azm yang juga muncul di ayat ini. Kata kerja (وَغَفَرَ, wa-ghafara) yang berarti "dan memaafkan" hanya muncul di 42:43. Bentuk (غَفَرَ, ghafara) muncul tiga kali, yaitu di 28:16, 36:27, dan 42:43. Di 28:16, (فَغَفَرَ لَهُ, fa-ghafara lahu), dan di 36:27, (غَفَرَ لِي رَبِّي, ghafara lii rabbii), pelakunya Allah dan Tuhan, sedangkan di 42:43 pelakunya manusia. Terjemahan di dua ayat itu memakai "mengampuni", dan di 42:43 memakai "memaafkan" untuk pelaku manusia.
Terjemahan 42:43 memakai "memaafkan" untuk ghafara, sama dengan padanan (فَمَنْ عَفَا, fa-man 'afaa) di 42:40. Dua kata Arab itu berbeda, ع-ف-و di 42:40 dan غ-ف-ر di 42:43, dan terjemahan tidak membedakannya. Perbedaan itu terlihat pada teks Arabnya: di 22:60 keduanya berdampingan dalam (إِنَّ اللَّهَ لَعَفُوٌّ غَفُورٌ, inna llaaha la-'afuwwun ghafuurun) yang berarti "sesungguhnya Allah benar-benar pemaaf lagi pengampun", sehingga dua akar itu hadir sebagai dua kata di satu ayat.
Bagian kedua, (إِنَّ ذَٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ, inna dzaalika la-min 'azmi l-umuuri), berarti "sesungguhnya yang demikian itu termasuk tekad yang teguh dalam berbagai urusan". Kata (ذَٰلِكَ, dzaalika) menunjuk dua kata kerja sebelumnya sekaligus, bersabar dan memaafkan. Susunan (مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ, min 'azmi l-umuuri) muncul tiga kali, yaitu di 3:186, 31:17, dan 42:43, dan di ketiganya bertemu dengan sabar: (وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا, wa-in tashbiruu wa-tattaquu) di 3:186, dan (وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ, wa-shbir 'alaa maa ashaabaka) di 31:17. Dalam susunan min 'azmi l-umuuri, huruf la sebelum min, (لَمِنْ, la-min), hanya ada di 42:43 dan terjemahan membawanya lewat "sesungguhnya". Kata benda (عَزْمِ, 'azmi) berakar ع-ز-م dan muncul empat kali dalam bentuk itu, yaitu 3:186, 31:17, 42:43, dan 46:35, ditambah (عَزْمًا, 'azman) di 20:115 yang berarti "tekad yang kuat".
Kata (الْأُمُورِ, l-umuuri) berbentuk jamak dengan arti "berbagai urusan" dan berakar أ-م-ر, akar yang sama dengan (وَأَمْرُهُمْ, wa-amruhum) yang berarti "dan urusan mereka" di 42:38. Terjemahan memakai "urusan" di kedua ayat itu.
Tafsiran
Ayat ini menutup rangkaian 42:36 sampai 42:43 dengan sebuah penilaian atas sabar dan memaafkan: keduanya tergolong tekad yang teguh. Ayat 42:41 menyatakan bahwa tidak ada jalan atas orang yang membela diri, dan 42:43 menyatakan bahwa orang yang bersabar dan memaafkan melakukan sesuatu yang termasuk tekad. Ayat ini tidak mengatakan pilihan pertama itu lebih rendah. Ayat memakai min, "termasuk", yang menaruh sabar dan maaf di dalam golongan tekad dan membiarkan golongan lain tetap ada.
Pembukaan yang sama dengan 42:41 menghubungkan kedua ayat sebagai dua pilihan atas satu keadaan. Ayat 42:40 sudah menyebut keduanya dalam satu kalimat, yaitu takaran balasan dan pahala orang yang memaafkan. Karena itu 42:43 berfungsi sebagai ayat penutup bagi pilihan yang kedua, sebagaimana 42:41 dan 42:42 merampungkan pilihan yang pertama. Letak 42:42 di antara keduanya memperlihatkan pelaku kezaliman lebih dulu sebelum pembaca sampai pada sabar dan maaf.
Rangkaian ini dimulai di 42:36 dengan bertawakal kepada Tuhan, memuat urusan yang dimusyawarahkan di 42:38, lalu ditutup di sini dengan tekad dalam berbagai urusan. Kata urusan hadir di 42:38 dan 42:43, dengan musyawarah di satu sisi dan sabar serta maaf di sisi lain. Dari 42:36 sampai 42:43, sifat orang beriman bergerak dari bersandar kepada Tuhan, ke urusan bersama, ke jawaban atas aniaya, dan berakhir pada ketabahan. Ayat 42:43 tidak menyebut pahala. Pahala disebut di 42:40, dan ayat ini menyebut golongan perbuatan itu.
Renungan dan Hikmah
- Bersabar dan memaafkan digandengkan dengan huruf wa dalam satu rumusan, dan urutan penyebutannya tidak ditulis sebagai urutan waktu. Pembaca yang pernah memaafkan seseorang tanpa melewati masa sabar, atau bersabar tanpa pernah sampai memaafkan, dapat melihat di ayat ini bahwa dua pekerjaan itu disebut bersama. Ayat tidak menjelaskan berapa lama masa sabar dan kapan maaf diucapkan. Dua kata kerja itu digandeng, dan pembaca bisa menimbang bagian mana yang sudah dikerjakannya sendiri untuk seseorang yang pernah menyakitinya. Dalam keadaan itu, bagian mana yang tersisa?
- Kata dzaalika menunjuk kedua kata kerja sekaligus, sehingga penilaian tekad jatuh pada keduanya sebagai satu paket. Pembaca yang cenderung menghargai sabar tetapi menganggap maaf sebagai tambahan, atau sebaliknya, dapat memperhatikan bahwa ayat ini tidak memisahkan penilaiannya. Di 3:186 sabar bersama takwa dan di 31:17 sabar bertemu dengan min 'azmi l-umuuri, sedangkan di 42:43 maaf ikut masuk ke dalam golongan itu. Seberapa sering pembaca menggolongkan memaafkan sebagai sesuatu yang berbeda kelas dengan bersabar?
- Kata tekad, 'azm, di 46:35 melekat pada para rasul yang telah bersabar, dan di 42:43 melekat pada sabar dan maaf. Kedua ayat itu mengaitkan tekad dengan menahan dan melepaskan. Pembaca yang membayangkan tekad sebagai dorongan untuk berbuat dapat memperhatikan bahwa dua ayat ini menaruhnya pada perbuatan menahan. Apa yang mendorong tekad itu tidak ditulis, sedangkan tempatnya ditulis jelas, yaitu di dalam urusan-urusan yang jamak. Urusan mana dalam hari pembaca yang paling membutuhkan tekad semacam itu?
- Ayat 42:40 menyebut bahwa pahala orang yang memaafkan ditanggung Allah, sedangkan 42:43 menyebut orang yang bersabar dan memaafkan tanpa menyebut pahala sama sekali. Ayat ini menggolongkan perbuatan itu tanpa menyebut imbalan. Pembaca dapat memperhatikan bahwa penilaian tekad datang sebagai penutup yang berdiri sendiri, terpisah dari imbalan yang sudah disebut tiga ayat sebelumnya. Dengan pemisahan itu, nilai sabar dan maaf dapat ditimbang tanpa menghitung apa yang akan diterima. Seandainya Dia tidak menyebut imbalan di mana pun, apakah pembaca masih akan menimbang sabar dan maaf dengan cara yang sama?
- Surah ini memuat maaf sebagai perbuatan orang dengan tiga rumusan yang berbeda: hum yaghfiruuna ketika marah di 42:37, fa-man 'afaa wa-ashlaha di 42:40, dan shabara wa-ghafara di 42:43. Di dua ayat lain, kata kerja terakhir itu dipakai untuk Allah dan Tuhan, sehingga pelakunya orang hanya di 42:43. Setiap kali maaf disandingkan dengan sesuatu yang lain: kemarahan, perbaikan, kesabaran. Pembaca yang menganggap maaf sebagai satu tindakan tunggal dapat melihat bahwa surah ini tidak pernah menyebutnya sendirian. Pasangan apa yang biasanya menyertai maaf pembaca?
- Bagian ini dibuka di 42:38 dengan orang yang menyambut seruan Tuhan mereka dan ditutup di 42:43 dengan tekad dalam berbagai urusan. Di antara keduanya ada salat, urusan bersama, infak, jawaban atas aniaya, takaran balasan, dan maaf. Urutan itu menaruh seruan yang dijawab pada awal dan ketabahan pada akhir, seakan-akan jawaban kepada Tuhan menemukan ujiannya di tengah urusan sehari-hari. Ayat tidak menuliskan hubungan sebab-akibat itu, jadi bacaan ini menyusun urutan ayat dan tidak menetapkan sebab-akibat. Seruan apa yang telah dijawab pembaca dan di urusan mana jawaban itu sekarang diuji?