أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا ۖ وَيَجْعَلُ مَنْ يَشَاءُ عَقِيمًا ۚ إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِيرٌ

Atau Dia menjadikan mereka berpasangan laki-laki dan perempuan, serta menjadikan mandul siapa saja yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia berilmu, berkuasa.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًاaw yuzawwijuhum dzukraanan wa-inaatsanatau Dia menjadikan mereka berpasangan laki-laki dan perempuan
  2. وَيَجْعَلُ مَنْ يَشَاءُ عَقِيمًاwa-yaj'alu man yasyaa'u 'aqiimandan menjadikan mandul siapa saja yang Dia kehendaki
  3. إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِيرٌinnahu 'aliimun qadiirunsesungguhnya Dia berilmu, berkuasa

Terjemahan per kata (11 kata)

  1. أَوْawatau
  2. يُزَوِّجُهُمْyuzawwijuhummenganugerahkan mereka berpasangan
  3. ذُكْرَانًاdzukraanananak laki-laki
  4. وَإِنَاثًاwa-inaatsandan perempuan
  5. وَيَجْعَلُwa-yaj'aludan Dia menjadikan
  6. مَنْmanorang yang
  7. يَشَاءُyasyaa'uDia kehendaki
  8. عَقِيمًا'aqiimanmandul
  9. إِنَّهُinnahusesungguhnya Dia
  10. عَلِيمٌ'aliimunberilmu
  11. قَدِيرٌqadiirunberkuasa

Inti bacaan

Kata (ذُكْرَانًا, dzukraanan) muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 42:50.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (أَوْ, aw) yang berarti "atau", sehingga kalimat 42:49 berlanjut dengan kemungkinan ketiga. Kata kerja (يُزَوِّجُهُمْ, yuzawwijuhum) tersusun dari kata kerja berakar ز-و-ج dan akhiran -hum yang berarti "mereka". Bentuk persis yuzawwijuhum muncul satu kali. Kata kerja dari akar yang sama dengan huruf tengah digandakan muncul lima kali, yaitu 33:37, 42:50, 44:54, 52:20, dan 81:7. Di 44:54, (وَزَوَّجْنَاهُمْ بِحُورٍ عِينٍ, wa-zawwajnaahum bi-huurin 'iinin) berarti "dan Kami pasangkan mereka dengan bidadari yang bermata elok", dan di 81:7, (وَإِذَا النُّفُوسُ زُوِّجَتْ, wa-idzaa n-nufuusu zuwwijat) berarti "dan apabila jiwa-jiwa dipasangkan". Di 44:54 pasangannya disebut dan di 81:7 tidak. Di 42:50 -hum disertai dua kata yang menyebut keadaan, yaitu laki-laki dan perempuan, sehingga terjemahan memakai "menjadikan mereka berpasangan laki-laki dan perempuan". Ayat ini tidak menyebut siapa yang dirujuk -hum, apakah penerima anugerah di 42:49 atau yang dianugerahkan, dan kata "mereka" dalam terjemahan membiarkan kedua kemungkinan itu terbuka.

Dua kata sesudahnya, (ذُكْرَانًا, dzukraanan) yang berarti "laki-laki" dan (إِنَاثًا, inaatsan) yang berarti "perempuan", sama-sama berakhir tanwin dan tidak memakai kata sandang. Bentuk dzukraanan hanya muncul di ayat ini, sedangkan inaatsan juga ada di ayat sebelumnya. Di 53:45, (الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالْأُنْثَىٰ, z-zawjayni adz-dzakara wa-l-untsaa) berarti "sepasang, laki-laki dan perempuan", dan di sana kedua kata itu tunggal serta bersandang. Terjemahan 42:50 memakai "laki-laki dan perempuan" tanpa menambah "anak" atau "keturunan", karena kata Arab untuk keduanya tidak ada di ayat ini.

Frasa (وَيَجْعَلُ مَنْ يَشَاءُ عَقِيمًا, wa-yaj'alu man yasyaa'u 'aqiiman) berarti "dan menjadikan mandul siapa saja yang Dia kehendaki". Di 42:49 kata man didahului li- dan menjadi penerima, sedangkan di sini kata itu langsung mengikuti kata kerja dan menjadi sasaran tindakan. Akar ع-ق-م ada di empat ayat, yaitu 22:55 untuk suatu hari, 42:50, 51:29 untuk seorang perempuan tua, dan 51:41 untuk angin. Bentuk persis 'aqiiman hanya ada di 42:50. Di 51:29, (وَقَالَتْ عَجُوزٌ عَقِيمٌ, wa-qaalat 'ajuuzun 'aqiimun) berarti "dan berkata, 'Perempuan tua yang mandul'", dan kata itu diucapkan perempuan tersebut tentang dirinya sendiri. Di 42:50 kata yang sama berada pada tindakan Allah. Keadaan serupa disebut dengan kata lain di 19:8, (وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا, wa-kaanat imra'atii 'aaqiran) yang berarti "sedangkan istriku seorang yang mandul", dari akar ع-ق-ر, dan terjemahan memakai "mandul" untuk kedua akar itu.

Ayat ini ditutup dengan (إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِيرٌ, innahu 'aliimun qadiirun) yang berarti "sesungguhnya Dia berilmu, berkuasa". Pasangan tak tentu 'aliimun qadiirun muncul dua kali di dua surah, yaitu 16:70 dan 42:50. Di 16:70 pasangan itu menutup ayat yang memuat (يُرَدُّ إِلَىٰ أَرْذَلِ الْعُمُرِ, yuraddu ilaa ardzali l-'umuri) yang berarti "dikembalikan pada usia yang paling hina". Bentuk bersandangnya, (وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ, wa-huwa l-'aliimu l-qadiiru) yang berarti "dan Dia Sang Berilmu lagi Sang Berkuasa", menutup 30:54 setelah tahap lemah dan kuat disebut. Pada ketiga ayat itu ilmu disebut lebih dulu daripada kuasa. Terjemahan memakai huruf kecil tanpa "Sang" untuk bentuk tak tentu, dan "Sang" untuk bentuk bersandang.

Tafsiran

Ayat ini menyelesaikan kalimat 42:49 dengan dua kemungkinan terakhir, yaitu laki-laki dan perempuan sekaligus, dan kemandulan. Dengan begitu satu kalimat memuat empat keadaan, yaitu perempuan saja, laki-laki saja, keduanya, dan tidak ada. Keempatnya berada di bawah kehendak yang sama, dan tidak ada sebab, jasa, atau kesalahan yang ditulis untuk salah satunya.

Kemandulan berada di dalam kalimat yang sama dengan anugerah, memakai penghubung yang sama dengan kemungkinan lain, yaitu "atau" dan "dan". Kata kerjanya berganti dari menganugerahkan di 42:49 ke memasangkan dan menjadikan di 42:50, tetapi pelakunya tetap Dia. Semua kata kerja dalam dua ayat itu, yaitu menciptakan, menganugerahkan, memasangkan, dan menjadikan, dikerjakan Allah, dan tidak ada satu pun yang dikerjakan manusia.

Ayat 51:28 sampai 51:30 menuturkan seorang perempuan yang menyebut dirinya mandul di tengah kabar gembira tentang seorang anak yang berilmu, dan para pembawa kabar menjawabnya dengan ucapan bahwa Tuhannya berfirman demikian. Dua tempat itu tidak saling membatalkan. Ayat 42:50 menyebut Allah menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki, dan 51:28 sampai 51:30 menempatkan perempuan yang menyebut dirinya mandul di dalam kabar gembira. Keduanya dapat dibaca sebagai satu kehendak yang berlaku ke dua arah, meskipun 42:50 tidak menulis bahwa kemandulan itu berakhir.

Penutup berilmu dan berkuasa ditaruh sesudah keempat keadaan, sehingga mengikat seluruh kalimat dan tidak hanya keadaan yang terakhir. Dalam surah ini kalimat itu disusul 42:51, yang berpindah dari urusan anugerah dan kemandulan ke cara Allah berbicara kepada manusia.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat 42:50 tidak menaruh kemandulan di kalimat tersendiri atau di catatan pinggir. Kemandulan ditulis di dalam kalimat yang sama dengan anugerah perempuan dan laki-laki, memakai penghubung yang sama dan pelaku yang sama, yaitu Dia. Pembaca yang menjalani rumah tangga tanpa anak dapat memperhatikan tempat yang diberikan ayat ini kepada keadaannya, yaitu di antara kemungkinan lain dan tidak di luarnya. Kalimat yang memuat keempat keadaan sekaligus dapat dipinjam sebagai cara bercerita tentang rumah tangga tanpa mengeluarkan siapa pun. Seperti apa cara seseorang menceritakan rumah tangganya sendiri bila kalimat yang dipakainya memuat semua keadaan itu?
  • Keempat keadaan di 42:49 dan 42:50 ditulis tanpa sebab. Tidak ada kalimat yang mengatakan bahwa perempuan datang karena suatu hal, laki-laki karena hal lain, atau kemandulan karena kesalahan tertentu. Teks menuliskan kehendak, lalu di ujung kalimat ilmu dan kuasa. Seseorang yang mencari penyebab keadaan rumah tangganya, entah dalam dirinya, pasangannya, atau pilihannya, dapat melihat bahwa ayat ini berhenti di kehendak Allah dan tidak menyodorkan daftar sebab. Apa yang tersisa dari pertanyaan "mengapa aku" ketika ayat ini menjawabnya dengan menyebut Dia berilmu dan berkuasa?
  • Di 51:29 seorang perempuan tua menyebut dirinya mandul sambil menepuk wajahnya, dan di 51:30 para pembawa kabar menjawab dengan ucapan bahwa Tuhannya berfirman demikian. Di 42:50 kata yang sama menjadi tindakan Allah. Seseorang yang pernah mengucapkan kata itu tentang dirinya sendiri dapat membandingkan caranya mengucapkan kata itu dengan cara ayat ini menuliskannya, sebab pelaku kata itu berubah dari dirinya menjadi Dia yang berilmu dan berkuasa. Jawaban di 51:30 menyebut Tuhan perempuan itu sendiri. Apakah kata itu terdengar sama ketika Tuhan menjadi pelakunya?
  • Penutup ayat menyebut berilmu lebih dulu, lalu berkuasa, dan urutan itu sama di 16:70 dan 30:54. Di 16:70 pasangan itu menutup ayat tentang orang yang dikembalikan pada usia paling hina sehingga orang itu tidak lagi mengetahui sesuatu setelah mengetahui. Di sana pengetahuan manusia dicatat menyusut, lalu sesudahnya ayat itu menyebut Allah berilmu. Orang yang kecewa pada sebuah hasil dapat menimbang bahwa sebelum kuasa-Nya disebut, ilmu-Nya sudah ditulis lebih dulu. Bagaimana membaca keadaan yang tidak dipilih bila ilmu-Nya atas keadaan itu ditulis lebih dulu daripada kuasa-Nya?
  • Di 3:40 dan 19:8 pertanyaan "bagaimana aku bisa mendapat anak" diajukan oleh orang yang sudah sangat tua dan beristri yang mandul. Di 3:40 jawabannya berbunyi "Demikianlah, Allah melakukan apa yang Dia kehendaki". Jawaban itu tidak menguraikan cara, dan menaruh kehendak di tempat yang ditanyakan. Ayat 42:50 memuat kemandulan dan kehendak dalam satu kalimat tanpa tokoh yang bertanya. Orang yang menyimpan pertanyaan "bagaimana mungkin" dapat melihat bahwa jawaban yang tertulis di ayat-ayat ini tidak berupa penjelasan cara. Apa yang dilakukan seseorang terhadap pertanyaannya ketika jawaban yang tersedia adalah kehendak Allah?
  • Semua pekerjaan yang ditulis di 42:49 dan 42:50 berpelaku Dia, dan kehendak yang menyertainya pun kehendak-Nya, sehingga tidak ada satu pekerjaan pun yang dikerjakan manusia. Orang tua yang menghitung jerih payahnya dapat melihat bahwa kedua ayat ini tidak mencatat jerih payah itu sebagai pekerjaan. Hal itu tidak menyatakan bahwa jerih payah tidak ada, sebab ayat ini berbicara tentang apa yang diberikan dan tidak tentang apa yang dikerjakan manusia. Apa yang dikerjakan seorang manusia di antara pekerjaan yang semuanya ditulis sebagai pekerjaan Dia?