وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولًا فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيمٌ
Dan tidak mungkin bagi seorang manusia untuk diajak berbicara oleh Allah kecuali dengan wahyu, atau dari balik tabir, atau mengirim utusan lalu ia mewahyukan dengan izin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Sang Tinggi, Sang Penuh Hikmah.
Terjemahan bertahap (4 jeda)
- وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلَّا وَحْيًاwa-maa kaana li-basyarin an yukallimahu llaahu illaa wahyandan tidak mungkin bagi seorang manusia untuk diajak berbicara oleh Allah kecuali dengan wahyu
- أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍaw min waraa'i hijaabinatau dari balik tabir
- أَوْ يُرْسِلَ رَسُولًا فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَاءُaw yursila rasuulan fa-yuuhiya bi-idznihi maa yasyaa'uatau mengirim utusan lalu ia mewahyukan dengan izin-Nya apa yang Dia kehendaki
- إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيمٌinnahu 'aliyyun hakiimunsesungguhnya Dia Sang Tinggi, Sang Penuh Hikmah
Terjemahan per kata (22 kata)
- وَمَاwa-maadan tidaklah
- كَانَkaanaadalah
- لِبَشَرٍli-basyarinbagi manusia
- أَنْanuntuk
- يُكَلِّمَهُyukallimahuberbicara kepadanya
- اللَّهُllaahuAllah
- إِلَّاillaakecuali
- وَحْيًاwahyanwahyu
- أَوْawatau
- مِنْmindari
- وَرَاءِwaraa'ibalik
- حِجَابٍhijaabintabir
- أَوْawatau
- يُرْسِلَyursilamengirimkan
- رَسُولًاrasuulanseorang rasul
- فَيُوحِيَfa-yuuhiyamaka Dia mewahyukan
- بِإِذْنِهِbi-idznihidengan izin-Nya
- مَاmaaapa yang
- يَشَاءُyasyaa'uDia kehendaki
- إِنَّهُinnahusesungguhnya Dia
- عَلِيٌّ'aliyyunMahatinggi
- حَكِيمٌhakiimunbijaksana
Inti bacaan
Tiga metode komunikasi ilahi: 'wahyu, dari belakang tabir, atau dengan mengirim utusan', jalur berbeda pewahyuan yang menegaskan bahwa komunikasi langsung tanpa perantara bukanlah cara umum, melainkan pengecualian yang jarang terjadi.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan '(perantaraan)' dan '(malaikat)' tidak dipakai: 'rasuulan' dibiarkan tanpa identifikasi tambahan yang tak eksplisit di teks Arab; identitasnya dijelaskan di sini sebagai kemungkinan malaikat, bukan disisipkan ke terjemahan.
Tafsiran
Ayat ini menjelaskan tiga cara Allah berkomunikasi dengan manusia (wahyu langsung, dari balik tabir, atau melalui utusan), sekaligus menegaskan bahwa berbicara langsung tatap muka mustahil bagi manusia biasa.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut tiga cara Dia berbicara kepada manusia: wahyu, dari balik tabir, atau lewat utusan. Tiga, bukan satu. Yang mustahil langsung tetap dibuka lewat jalan yang disediakan.
- Ayat dibuka dengan menyatakan tak mungkin bagi manusia diajak bicara langsung. Batasnya disebut lebih dahulu. Kekecualian baru bermakna sesudah batasnya jelas.
- Bahkan lewat utusan, Allah menyebut itu dengan izin-Nya dan sebatas yang Dia kehendaki. Dua batas lagi. Setiap jalur yang dibuka tetap dijaga oleh yang membukanya.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
Perubahan terjemahan ini atas terjemahan lain di ayat ini: sebutan 'Maha Bijaksana' diterjemahkan 'penuh hikmah' (indefinit corpus, tanpa 'Maha'); pasangan sebutan lain (aliim/khabiir dst.) belum dibedah, dipertahankan sementara. Konvensi hkm: hakiim diterjemahkan 'penuh hikmah' (SATU terjemahan: Allah 91 + KITAB 5 + amr 1; takrif diterjemahkan 'Sang Penuh Hikmah', indefinit kecil tanpa Maha); hikmah diterjemahkan 'hikmah' (gloss '(sunah)' dibuang); muhkam diterjemahkan 'dikukuhkan' (11:1, 22:52); verba diterjemahkan 'memutuskan'; keluarga hakim (hakam/haakimiin/hukkaam) tetap 'hakim/penengah'. hukm = pemakaian diteruskan terjemahan lain, sub-putusan MENUNGGU (6:57≡12:40≡12:67 tiga terjemahan).