وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولًا فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيمٌ
Dan tidak mungkin bagi seorang manusia untuk diajak berbicara oleh Allah kecuali dengan wahyu, atau dari balik tabir, atau mengirim utusan lalu mewahyukan dengan izin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia tinggi, penuh hikmah.
Terjemahan bertahap (4 jeda)
- وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلَّا وَحْيًاwa-maa kaana li-basyarin an yukallimahu llaahu illaa wahyandan tidak mungkin bagi seorang manusia untuk diajak berbicara oleh Allah kecuali dengan wahyu
- أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍaw min waraa'i hijaabinatau dari balik tabir
- أَوْ يُرْسِلَ رَسُولًا فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَاءُaw yursila rasuulan fa-yuuhiya bi-idznihi maa yasyaa'uatau mengirim utusan lalu mewahyukan dengan izin-Nya apa yang Dia kehendaki
- إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيمٌinnahu 'aliyyun hakiimunsesungguhnya Dia tinggi, penuh hikmah
Terjemahan per kata (22 kata)
- وَمَاwa-maadan tidaklah
- كَانَkaanaadalah
- لِبَشَرٍli-basyarinbagi manusia
- أَنْanuntuk
- يُكَلِّمَهُyukallimahuberbicara kepadanya
- اللَّهُllaahuAllah
- إِلَّاillaakecuali
- وَحْيًاwahyanwahyu
- أَوْawatau
- مِنْmindari
- وَرَاءِwaraa'ibalik
- حِجَابٍhijaabintabir
- أَوْawatau
- يُرْسِلَyursilamengirimkan
- رَسُولًاrasuulanutusan
- فَيُوحِيَfa-yuuhiyalalu mewahyukan
- بِإِذْنِهِbi-idznihidengan izin-Nya
- مَاmaaapa yang
- يَشَاءُyasyaa'uDia kehendaki
- إِنَّهُinnahusesungguhnya Dia
- عَلِيٌّ'aliyyuntinggi
- حَكِيمٌhakiimunpenuh hikmah
Inti bacaan
Pasangan (عَلِيٌّ حَكِيمٌ, 'aliyyun hakiimun) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 42:51 dan 43:4.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ, wa-maa kaana li-basyarin) yang berarti "dan tidak mungkin bagi seorang manusia". Frasa persis (مَا كَانَ لِبَشَرٍ, maa kaana li-basyarin) muncul dua kali di dua surah, yaitu 3:79 dan 42:51. Di 3:79 frasa itu disusul (أَنْ يُؤْتِيَهُ اللَّهُ الْكِتَابَ, an yu'tiyahu llaahu l-kitaaba) yang berarti "bahwa Allah memberinya Kitab", dan di 42:51 disusul (أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ, an yukallimahu llaahu) yang berarti "bahwa Allah berbicara kepadanya". Pada keduanya Allah menjadi pelaku dan seorang manusia menjadi sasaran.
Kata kerja (يُكَلِّمَهُ, yukallimahu) berakar ك-ل-م, dan susunan an yukallimahu hanya ada di ayat ini. Dengan Allah sebagai pelaku, kata kerja dari akar yang sama dipakai juga antara lain di 2:118, 2:253, 4:164, dan 7:143. Di 4:164, (وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَىٰ تَكْلِيمًا, wa-kallama llaahu muusaa takliiman) berarti "dan Allah benar-benar berbicara kepada Musa", dan di 7:143, (وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ, wa-kallamahu rabbuhu) berarti "dan Tuhannya berfirman kepadanya". Di 2:118, (لَوْلَا يُكَلِّمُنَا اللَّهُ, lawlaa yukallimunaa llaahu) berarti "mengapa Allah tidak berbicara dengan kami", dan kalimat itu diucapkan orang-orang yang tidak berilmu.
Jalan pertama dari tiga jalan di ayat ini memakai (وَحْيًا, wahyan) yang berarti "wahyu", kata benda berakar و-ح-ي dengan bentuk persis yang hanya ada di 42:51. Jalan kedua, (مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ, min waraa'i hijaabin) yang berarti "dari balik tabir", adalah rangkaian kata depan dan kata benda, sedangkan jalan ketiga, (أَوْ يُرْسِلَ رَسُولًا, aw yursila rasuulan) yang berarti "atau mengirim utusan", memakai kata kerja. Frasa min waraa'i hijaabin muncul dua kali, yaitu di 33:53 dan 42:51, dan di 33:53 tabir itu dipakai untuk meminta suatu keperluan. Kata (وَرَاءِ, waraa'i) yang berarti "balik" ada pula di 49:4, (مِنْ وَرَاءِ الْحُجُرَاتِ, min waraa'i l-hujuraati) yang berarti "dari balik kamar-kamar", dan di 59:14, (مِنْ وَرَاءِ جُدُرٍ, min waraa'i judurin) yang berarti "dari balik tembok". Pada ketiga ayat itu satu pihak berada di satu sisi penghalang dan pihak lain di sisi sebaliknya. Ayat 42:51 menyebut tabir tanpa menjelaskan apa wujudnya. Akar ح-ج-ب ada di delapan ayat, yaitu 7:46, 17:45, 19:17, 33:53, 38:32, 41:5, 42:51, dan 83:15.
Kata (فَيُوحِيَ, fa-yuuhiya) yang berarti "lalu mewahyukan" memakai akar yang sama dengan wahyan, sehingga wahyu disebut dua kali di ayat ini, sekali sebagai jalan pertama dan sekali sebagai pekerjaan sesudah utusan dikirim. Bentuk fa-yuuhiya hanya ada di ayat ini, dan pelakunya tidak disebut. Kata (بِإِذْنِهِ, bi-idznihi) yang berarti "dengan izin-Nya" muncul sembilan kali di tujuh surah, yaitu 2:213, 2:221, 2:255, 3:152, 5:16, 11:105, 22:65, 33:46, dan 42:51. Di 5:16, (وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ, wa-yukhrijuhum mina zh-zhulumaati ilaa n-nuuri bi-idznihi) berarti "dan mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya dengan izin-Nya", dan pelakunya Allah sendiri. Di 2:255, (مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ, man dzaa lladzii yasyfa'u 'indahu illaa bi-idznihi) berarti "siapakah yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya kecuali dengan izin-Nya", dan pelakunya pihak lain. Karena kedua jenis pelaku memakai bi-idznihi, kata itu tidak memutuskan siapa pelaku fa-yuuhiya. Terjemahan karena itu melesapkan pelaku "lalu mewahyukan" seperti Arabnya, tanpa kata ganti "ia" atau "Dia".
Ayat ini ditutup dengan (إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيمٌ, innahu 'aliyyun hakiimun) yang berarti "sesungguhnya Dia tinggi, penuh hikmah". Pasangan tak tentu 'aliyyun hakiimun muncul dua kali, yaitu di 42:51 dan 43:4, dan 43:4 memakai (لَعَلِيٌّ حَكِيمٌ, la-'aliyyun hakiimun) yang berarti "benar-benar tinggi dan penuh hikmah". Bentuk bersandang di 42:4, (وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ, wa-huwa l-'aliyyu l-'azhiimu), berarti "dan Dialah Sang Tinggi, Sang Agung". Terjemahan memakai "tinggi, penuh hikmah" tanpa "Sang" untuk bentuk tak tentu di ayat ini, sejajar dengan 43:4 dan dengan perbedaan antara bentuk tak tentu dan bentuk bersandang di 42:4.
Tafsiran
Ayat ini menaruh batas lebih dulu, lalu tiga pengecualian, yaitu wahyu, dari balik tabir, dan utusan yang dikirim. Kata "kecuali" membuat daftar itu tertutup, dan penutup ayat menyebut Dia tinggi dan penuh hikmah. Kalimat ini tidak menyatakan siapa yang menerima ketiga jalan itu, dan hanya menuliskan apa yang tidak mungkin tanpa salah satunya.
Ayat 42:51 berdiri di antara 42:49 sampai 42:50, yang membicarakan anugerah dan kemandulan, dan 42:52, yang dibuka dengan (وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ, wa-ka-dzaalika awhaynaa ilayka) yang berarti "dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu". Frasa yang sama muncul dua kali, yaitu di 42:7 dan 42:52, dua-duanya di surah ini. Kata "demikianlah" di 42:52 dapat dibaca menunjuk ke cara-cara di 42:51, tetapi ayat itu tidak menyebut cara mana dari tiga cara yang dimaksud.
Ayat 4:164 dan 7:143 menyebut Allah berbicara kepada Musa, sedangkan 42:51 menyatakan tidak ada manusia yang diajak berbicara kecuali lewat tiga jalan. Kedua kelompok ayat itu tidak saling menjelaskan. Ayat 7:143 memisahkan berbicara dari melihat, sebab sesudah Tuhan berbicara kepada Musa, permintaan melihat dijawab dengan (لَنْ تَرَانِي, lan taraanii) yang berarti "Engkau tidak akan melihat-Ku". Pemisahan itu sejalan dengan "dari balik tabir" di 42:51, tetapi 7:143 tidak memakai kata tabir, sehingga hubungan itu hanya dapat dibaca sebagai kemungkinan.
Ayat 2:118 menyebut orang yang menuntut Allah berbicara kepada mereka. Ayat 42:51 menyebut cara-cara berbicara tanpa mengaitkannya dengan tuntutan itu. Arahnya berbeda, sebab 2:118 memuat tuntutan dari manusia dan 42:51 memuat pernyataan tentang apa yang dilakukan Allah.
Renungan dan Hikmah
- Di 2:118 orang-orang yang tidak berilmu menuntut, "Mengapa Allah tidak berbicara dengan kami?", dan 42:51 memuat daftar cara Allah berbicara kepada manusia, yaitu wahyu, dari balik tabir, dan lewat utusan. Kedua ayat tidak saling menunjuk, dan 42:51 tidak ditulis sebagai jawaban atas 2:118. Seseorang yang menunggu Tuhan berbicara kepadanya dapat memakai daftar itu untuk memeriksa tuntutannya sendiri. Cara manakah dari tiga cara itu yang sebenarnya dinantikannya, dan adakah cara yang dibayangkannya yang tidak tercantum di sana?
- Tabir di ayat ini ditulis sebagai salah satu cara berbicara, di antara wahyu dan utusan, sehingga pembicaraan dari balik tabir tetap pembicaraan. Wujud tabir itu tidak dijelaskan, dan ayat hanya menyebut bahwa pembicaraan terjadi dari balik tabir. Orang yang merasakan ada jarak antara dirinya dan Allah dapat memperhatikan bahwa ayat ini menaruh tabir di dalam daftar dan tidak di luarnya. Dari balik tabir pun Dia disebut berbicara. Apakah jarak yang dirasakan seseorang termasuk tabir yang disebut di sini, atau sesuatu yang belum diberi nama?
- Pada jalan ketiga, pewahyuan setelah utusan dikirim terjadi dengan izin-Nya, dan isinya disebut dengan kata "apa yang Dia kehendaki". Di 2:255 syafaat di sisi-Nya terjadi dengan izin-Nya juga, sehingga izin itu menyertai pihak lain yang bekerja di hadapan-Nya. Orang yang menyampaikan sesuatu kepada orang lain, sebagai guru, penulis, atau orang tua, dapat memperhatikan bahwa ayat ini menaruh izin dan kehendak di sekitar isi yang disampaikan. Bagaimana seorang penyampai memeriksa bahwa isi yang disampaikannya dikehendaki Allah?
- Kata "seorang manusia" dipakai di 3:79 dan 42:51 untuk menyatakan batas bagi penerima dari Allah. Di 3:79 seorang yang diberi Kitab, putusan, dan kenabian tidak patut berkata kepada orang banyak, "Jadilah penyembah-penyembahku", dan di 42:51 seorang manusia tidak diajak berbicara oleh Allah selain lewat tiga jalan. Pada keduanya Allah menjadi pelaku dan penerimanya tetap manusia. Orang yang menerima kepercayaan, jabatan, atau pengetahuan yang membuat orang lain mengaguminya dapat menimbang bahwa penerimaan itu di kedua ayat ini disertai kata manusia. Apa yang berubah pada cara seseorang menerima pujian bila orang itu membaca dirinya terutama sebagai manusia yang menerima?
- Penutup ayat ini menyebut dua sifat, tinggi dan penuh hikmah, sesudah batas dan tiga jalan. Di 43:4 pasangan yang sama dipakai untuk bacaan yang berada dalam induk Kitab di sisi Allah, dan pemakaian di dua ayat itu tidak menyamakan keduanya, sebab 43:4 berbicara tentang bacaan dan 42:51 tentang Dia. Seseorang yang menimbang mengapa pembicaraan dari Allah dibatasi dapat membaca kedua sifat itu sebagai penutup yang tertulis, meskipun ayat ini tidak menghubungkannya dengan batas tadi. Apakah tinggi dan hikmah cukup sebagai penutup bagi orang yang bertanya mengapa jalannya hanya tiga?
- Ayat ini memulai dengan apa yang tidak mungkin sebelum menyebut apa yang mungkin. Dengan susunan itu pembaca mengetahui batas lebih dulu, sehingga tiga jalan yang menyusul terbaca sebagai pemberian di dalam batas. Wahyu, tabir, dan pengiriman utusan semuanya disebut sebagai urusan pihak yang berbicara. Orang yang mencari pengalaman rohani sebagai bukti dapat memperhatikan bahwa daftar ini tidak memuat jalan yang dibuka manusia dari pihaknya. Apa yang dikerjakan seseorang dengan kerinduannya akan pengalaman semacam itu bila semua jalan yang tertulis berada di tangan Dia?