صِرَاطِ اللَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ أَلَا إِلَى اللَّهِ تَصِيرُ الْأُمُورُ
jalan Allah yang milik-Nyalah apa yang di langit dan apa yang di bumi. Ketahuilah, kepada Allahlah segala urusan kembali.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- صِرَاطِ اللَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِshiraathi llaahi lladzii lahu maa fii s-samaawaati wa-maa fii l-ardhijalan Allah yang milik-Nyalah apa yang di langit dan apa yang di bumi
- أَلَا إِلَى اللَّهِ تَصِيرُ الْأُمُورُalaa ilaa llaahi tashiiru l-umuuruketahuilah, kepada Allahlah segala urusan kembali
Terjemahan per kata (15 kata)
- صِرَاطِshiraathijalan
- اللَّهِllaahiAllah
- الَّذِيlladziiyang
- لَهُlahubaginya
- مَاmaaapa yang
- فِيfiidi
- السَّمَاوَاتِs-samaawaatilangit
- وَمَاwa-maadan apa yang
- فِيfiidi
- الْأَرْضِl-ardhibumi
- أَلَاalaaketahuilah
- إِلَىilaakepada
- اللَّهِllaahiAllah
- تَصِيرُtashiirukembali
- الْأُمُورُl-umuurusegala urusan
Inti bacaan
Susunan (أَلَا إِلَى اللَّهِ, alaa ilaa llaahi) muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 42:53.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka tanpa kata penghubung dengan (صِرَاطِ اللَّهِ, shiraathi llaahi) yang berarti "jalan Allah". Kata (صِرَاطِ, shiraathi) berakar ص-ر-ط, dan jalan yang disebut di ayat sebelumnya, (صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ, shiraathin mustaqiimin) yang berarti "jalan yang lurus", sama-sama berharakat kasrah di ujungnya. Karena itu 42:53 dapat dibaca sebagai lanjutan yang menamai jalan yang lurus itu, dan terjemahan menandainya dengan koma di ujung 42:52 serta huruf kecil di awal 42:53. Bentuk persis shiraathi llaahi hanya ada di ayat ini. Kata shiraathi yang disusul kata benda ada juga di 14:1, 22:24, 34:6, dan 37:23. Di 34:6, (إِلَىٰ صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ, ilaa shiraathi l-'aziizi l-hamiidi) berarti "ke jalan Sang Digdaya lagi Sang Terpuji", dan di 37:23, (إِلَىٰ صِرَاطِ الْجَحِيمِ, ilaa shiraathi l-jahiimi) berarti "ke jalan neraka yang menyala-nyala". Di 37:23 kata sesudah shiraathi menyebut tujuan jalan itu, sedangkan di 34:6 dan di 42:53 kata itu menyebut pemilik jalan.
Anak kalimat (الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ, lladzii lahu maa fii s-samaawaati wa-maa fii l-ardhi) berarti "yang milik-Nyalah apa yang di langit dan apa yang di bumi". Susunan dengan lladzii di depannya ada di tiga ayat, yaitu 14:2, 34:1, dan 42:53. Tanpa lladzii, (لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ, lahu maa fii s-samaawaati wa-maa fii l-ardhi) ada di sembilan ayat, yaitu 2:255, 4:171, 10:68, 14:2, 20:6, 22:64, 34:1, 42:4, dan 42:53. Dua di antaranya berada di surah ini, yaitu ayat keempat dan ayat terakhir. Ayat 14:1 berakhir dengan jalan Sang Digdaya lagi Sang Terpuji, dan 14:2 dibuka dengan (اللَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ, Allaahi lladzii lahu maa fii s-samaawaati wa-maa fii l-ardhi). Pasangan 14:1 dan 14:2 sejajar dengan 42:52 dan 42:53, yaitu ayat yang berakhir pada jalan dan ayat berikutnya yang menyebut nama Allah beserta pemilikan atas langit dan bumi.
Kalimat terakhir, (أَلَا إِلَى اللَّهِ تَصِيرُ الْأُمُورُ, alaa ilaa llaahi tashiiru l-umuuru), berarti "ketahuilah, kepada Allahlah segala urusan kembali". Kata pembuka (أَلَا, alaa) yang berarti "ketahuilah" ada di empat ayat dalam surah ini, yaitu 42:5, 42:18, 42:45, dan 42:53, dan susunan alaa ilaa llaahi hanya ada di 42:53. Kata kerja (تَصِيرُ, tashiiru) berakar ص-ي-ر, dan bentuk tashiiru muncul satu kali. Akar yang sama ada di ayat lain sebagai kata benda mashiir yang berarti "tempat kembali", misalnya (وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ, wa-ilayhi l-mashiiru) di 42:15 dan (وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ, wa-ilaa llaahi l-mashiiru) di 3:28, 24:42, dan 35:18. Kata kerja tashiiru berbentuk aktif, sehingga urusan-urusan itu sendiri yang kembali.
Kalimat dengan kata kerja lain, (إِلَى اللَّهِ تُرْجَعُ الْأُمُورُ, ilaa llaahi turja'u l-umuuru), muncul enam kali di enam surah, yaitu 2:210, 3:109, 8:44, 22:76, 35:4, dan 57:5, dan terjemahannya "kepada Allah segala urusan dikembalikan". Kata kerja (تُرْجَعُ, turja'u) berbentuk pasif, sehingga urusan itu dikembalikan oleh pihak yang tidak disebut, sedangkan tashiiru di 42:53 tidak memuat pihak itu. Terjemahan memakai "kembali" untuk tashiiru sesuai dengan "tempat kembali" untuk mashiir, dan "dikembalikan" untuk turja'u.
Tafsiran
Ayat ini menutup kalimat yang dimulai di 42:52 dan menutup surah. Jalan yang lurus, yang di ayat sebelumnya ditunjukkan oleh yang disapa dengan "engkau", dinamai di sini jalan Allah, yaitu jalan milik pihak yang memiliki apa yang di langit dan apa yang di bumi. Dengan nama itu jalan terbaca sebagai milik pihak yang memiliki segalanya, sehingga penunjuk dan pemilik jalan tidak berada di tingkat yang sama.
Rangkaian 42:49 sampai 42:53 dibuka dan ditutup oleh pernyataan tentang milik Allah atas langit dan bumi. Di 42:49 pernyataan itu berbunyi (لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ, li-llaahi mulku s-samaawaati wa-l-ardhi) yang berarti "milik Allahlah kerajaan langit dan bumi", dan di 42:53 berbunyi (لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ, lahu maa fii s-samaawaati wa-maa fii l-ardhi) yang berarti "milik-Nyalah apa yang di langit dan apa yang di bumi". Di antara keduanya ada anugerah anak, kemandulan, cara Allah berbicara, ruh, dan petunjuk. Teks menaruh semuanya di dalam bingkai itu, dan tidak menyebut urutan sebab di antara kelima hal tersebut.
Kalimat yang sama muncul di 42:4, tetapi penutupnya berbeda. Di 42:4 kalimat itu disusul (وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ, wa-huwa l-'aliyyu l-'azhiimu) yang berarti "dan Dialah Sang Tinggi, Sang Agung", sedangkan di 42:53 disusul tujuan segala urusan. Ayat 42:10 sudah menyebut arah yang sama untuk perselisihan, (فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ, fa-hukmuhu ilaa llaahi) yang berarti "maka putusannya kepada Allah". Ayat penutup memperluas arah itu dari perselisihan ke segala urusan.
Ayat ini tidak menyebut kapan urusan-urusan itu kembali dan tidak menguraikan apa yang terjadi sesudahnya. Teks hanya menuliskan arahnya, yaitu kepada Allah, dan karena tashiiru berbentuk aktif, urusan terbaca sebagai yang bergerak menuju arah itu.
Renungan dan Hikmah
- Ayat 42:52 menyebut "engkau" memberi petunjuk ke jalan yang lurus, dan 42:53 menamai jalan itu jalan Allah. Penunjuk dan jalan tidak berada di tingkat yang sama dalam dua ayat itu, sebab jalannya milik pihak yang memiliki apa yang di langit dan apa yang di bumi. Orang yang menunjukkan jalan kepada anak, murid, atau kawan dapat memperhatikan nama yang dipakainya untuk jalan itu. Apakah orang itu menyebutnya jalanku, atau sebagai jalan yang pemiliknya Allah, dan bagaimana nada ajakannya berubah di antara dua sebutan itu?
- Rangkaian 42:49 sampai 42:53 dibuka dengan kerajaan langit dan bumi yang dimiliki Allah dan ditutup dengan apa yang di langit dan di bumi yang dimiliki-Nya. Di dalam bingkai itu terdapat anugerah, kemandulan, pembicaraan, ruh, dan petunjuk. Orang yang menyimpan banyak kebingungan tentang hidupnya, dari anak sampai arah yang dituju, dapat melihat bahwa semuanya tertulis di antara dua pernyataan tentang milik Dia. Bila semua urusan itu diletakkan dalam satu bingkai yang sama, apa yang masih tersisa di luarnya?
- Di ayat lain yang memakai turja'u, urusan dikembalikan kepada Allah dengan kata kerja pasif, dan di 42:53 urusan itu kembali dengan kata kerja aktif. Perbedaan itu dapat dibaca sebagai perbedaan arah pandang. Yang pertama membayangkan ada pihak yang membawa urusan kepada Dia, dan yang kedua membayangkan urusan itu sendiri bergerak ke arah-Nya. Orang yang menumpuk urusan yang belum selesai dapat membandingkan dua cara membaca itu. Apakah urusan yang belum selesai terasa berbeda bila dibaca sebagai sesuatu yang bergerak menuju Allah?
- Di 42:10 putusan atas apa yang diperselisihkan manusia ditaruh kepada Allah, dan di 42:53 segala urusan ditaruh di arah yang sama. Ayat penutup memperluas arah yang sudah disebut untuk perselisihan di awal surah, tanpa menyebut bahwa keduanya berhubungan sebagai sebab dan akibat. Dua pihak yang sedang berselisih dapat memperhatikan bahwa kedua ayat itu menyebut tujuan akhir yang sama bagi keduanya. Apa yang berubah dalam sebuah perselisihan bila masing-masing pihak menyebut ke mana putusan akhirnya menuju, dan menyadari bahwa tujuan itu sama?
- Kalimat tentang milik Dia atas apa yang di langit dan di bumi ada di 42:4 dan di 42:53, dua kali dalam satu surah. Di 42:4 kalimat itu disusul dua sifat, Sang Tinggi dan Sang Agung, dan di 42:53 disusul arah segala urusan. Pembaca yang membaca surah ini dari awal sampai akhir mendengar kalimat yang sama dua kali dengan ujung yang berbeda. Di awal Allah dikenalkan lewat sifat-Nya, dan di akhir lewat tempat segala urusan menuju. Apa yang berbeda pada seorang pembaca antara pendengaran pertama dan pendengaran terakhir atas kalimat itu?
- Di 37:23 kata sesudah jalan menyebut tujuannya, yaitu neraka, sedangkan di 42:53 kata sesudah jalan menyebut pemiliknya, yaitu Allah, dan kalimat terakhirnya menyebut tujuan segala urusan, yaitu kepada-Nya. Jalan yang dinamai dengan pemiliknya dan urusan yang bergerak ke pemilik itu berada dalam satu ayat. Ketika seseorang menyebut jalan hidupnya, orang itu dapat menimbang apakah jalan tersebut dinamai dengan siapa pemiliknya atau dengan ke mana ujungnya. Apakah dua nama itu menunjuk satu tempat bagi orang yang membaca 42:53 dengan teliti?