وَالْكِتَابِ الْمُبِينِ
Demi Kitab yang jelas,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَالْكِتَابِ الْمُبِينِwa-l-kitaabi l-mubiinidemi Kitab yang jelas
Terjemahan per kata (2 kata)
- وَالْكِتَابِwa-l-kitaabidan Kitab
- الْمُبِينِl-mubiiniyang jelas
Inti bacaan
Susunan (الْكِتَابِ الْمُبِينِ, l-kitaabi l-mubiini) muncul lima kali di Al-Qur'an, yaitu di 12:1, 26:2, 28:2, 43:2, dan 44:2, dan hanya dua yang berupa benda sumpah.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (وَالْكِتَابِ, wa-l-kitaabi) yang berarti "demi Kitab". Kata itu tersusun dari huruf wa, kata sandang al-, dan (كِتَابِ, kitaabi) yang berarti "Kitab", dari akar ك-ت-ب. Rangkaian yang sama persis muncul lima kali di Al-Qur'an, yaitu di 2:177, 3:184, 4:136, 43:2, dan 44:2. Di tiga ayat pertama huruf wa menyambung Kitab ke benda lain dalam sebuah daftar: di 2:177 ke malaikat, di 3:184 ke lembaran-lembaran, dan di 4:136 ke Allah dan rasul-Nya. Di 43:2 tidak ada daftar yang bisa disambung, sebab 43:1 hanya berisi dua huruf dan 43:2 membuka kalimat baru. Dalam kedudukan itu terjemahan memakai "Demi", sama dengan 36:2, 38:1, 50:1, dan 68:1, tempat huruf wa yang membuka sebuah sumpah diterjemahkan "Demi".
Terjemahan menulis "Kitab" dengan huruf awal besar, sama dengan 12:1, 26:2, 28:2, dan 44:2, dan tidak menambahkan keterangan tentang Kitab yang mana. Ayat lain yang bersumpah sesudah huruf pembuka memakai kata berbeda, yaitu (الْقُرْآنِ, l-qur'aani) di 36:2, 38:1, dan 50:1, serta pena di 68:1. Terjemahan mengikuti kata yang tertulis di tiap ayat dan tidak menyamakannya, sehingga 43:2 tidak ditulis "Al-Qur'an" dan tidak diberi keterangan tambahan.
Kata kedua, (الْمُبِينِ, l-mubiini) yang berarti "yang jelas", berakar ب-ي-ن dan ikut memakai kata sandang, sehingga dua kata itu terbaca sebagai satu sebutan. Susunan (الْكِتَابِ الْمُبِينِ, l-kitaabi l-mubiini) muncul lima kali, yaitu di 12:1, 26:2, 28:2, 43:2, dan 44:2. Di tiga ayat yang pertama susunan itu menyifati tanda-tanda Kitab, dan di dua ayat terakhir menjadi benda sumpah. Terjemahan memakai "yang jelas" di kelimanya.
Data morfologi menandai kata ini sebagai bentuk pelaku, sehingga arti "yang menjelaskan" tampak mungkin. Arti itu tidak dipilih karena kata yang sama dipakai untuk benda yang tidak menjelaskan apa pun. Susunan (عَدُوٌّ مُبِينٌ, 'aduwwun mubiinun) yang berarti "musuh yang nyata" muncul tujuh kali, yaitu di 2:168, 2:208, 6:142, 7:22, 12:5, 36:60, dan 43:62, dan di ketujuhnya musuh itu setan. Kemenangan pun disifati dengan kata ini di 48:1, (فَتْحًا مُبِينًا, fathan mubiinan) yang berarti "kemenangan yang nyata". Musuh dan kemenangan tidak menerangkan apa pun, jadi arti dasar kata itu ialah terang atau nyata, dan padanan "yang jelas" dipakai untuk Kitab di kelima ayat tadi.
Kitab yang diberi sifat itu muncul pula tanpa kata sandang, (كِتَابٍ مُبِينٍ, kitaabin mubiinin), di tujuh ayat, yaitu 5:15, 6:59, 10:61, 11:6, 27:1, 27:75, dan 34:3. Di 5:15 kitab itu datang dari Allah bersama cahaya. Di 6:59, 10:61, 11:6, dan 34:3 ayat menyebut berbagai hal yang diketahui, dari yang tersembunyi sampai hewan di bumi, lalu menyatakan bahwa semuanya ada dalam kitab itu. Pemakaian itu berbeda dari 43:2, sebab di sini Kitab menjadi benda yang disumpahi dan tidak menjadi tempat sesuatu tercatat. Teks tidak menyatakan apakah Kitab di 43:2 sama dengan kitab di ayat-ayat itu.
Dua kata (وَالْكِتَابِ الْمُبِينِ, wa-l-kitaabi l-mubiini) yang berarti "demi Kitab yang jelas" muncul dua kali, di 43:2 dan 44:2. Koma di ujung terjemahan menandai bahwa kalimat sumpah ini bersambung ke 43:3.
Tafsiran
Ayat 43:2 berisi sumpah saja, dan apa yang disumpahkan datang di 43:3, (إِنَّا جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا, innaa ja'alnaahu qur'aanan 'arabiyyan) yang berarti "sesungguhnya Kami menjadikannya bacaan berbahasa Arab". Kata ganti -hu di 43:3 dapat dibaca menunjuk Kitab di 43:2, sebab Kitab adalah benda yang disebut tepat sebelum kata itu. Dengan bacaan itu, benda yang disumpahi dan benda yang dinyatakan di 43:3 adalah satu. Siapa yang bersumpah di 43:2 belum tertulis, dan pembicara baru tampak lewat kata Kami di 43:3.
Sifat "jelas" disebut lebih dulu, di 43:2, sebelum pernyataan tentang bahasanya di 43:3. Di 12:1, 26:2, dan 28:2 dua kata yang sama dipakai untuk menyifati tanda-tanda Kitab, sedangkan di 43:2 dan 44:2 keduanya menjadi sebutan bagi benda yang disumpahi. Dalam kalimat tentang tanda-tanda itu, kejelasan dikatakan tentang Kitab, sedangkan dalam sumpah kejelasan sudah menjadi bagian dari sebutan sebelum klaim apa pun dibuat. Di tempat lain kata mubiin dipasangkan langsung dengan bahasa Arab, (لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُبِينٌ, lisaanun 'arabiyyun mubiinun) yang berarti "bahasa Arab yang jelas" di 16:103 dan (بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ, bi-lisaanin 'arabiyyin mubiinin) di 26:195. Kedua ayat itu menyifati bahasa dan bukan Kitab, jadi 43:2 dan 43:3 tidak disamakan dengannya. Susunan 43:2 dan 43:3 hanya menaruh kejelasan dan bahasa Arab berdekatan, tanpa menyatakan hubungan sebab di antaranya.
Ayat 44:2 berbunyi sama dengan 43:2, tetapi jawabannya berbeda. Sesudah 43:2 datang pernyataan tentang bacaan berbahasa Arab, sedangkan sesudah 44:2 datang (إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ, innaa anzalnaahu fii laylatin mubaarakatin) di 44:3 yang berarti "sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi". Sumpah yang sama karena itu membuka dua kalimat yang menyampaikan hal berbeda tentang Kitab. Dalam rangkaian 43:1 sampai 43:6, ayat 43:2 menjadi titik peralihan: sebelumnya ada bunyi yang artinya tidak diberikan, sesudahnya pernyataan tentang tujuan Kitab itu dijadikan berbahasa Arab, yaitu agar pembacanya berakal.
Renungan dan Hikmah
- Ayat 43:2 menyebut Kitab itu jelas sebelum ada satu pun pernyataan tentang isinya, dan pernyataan baru tiba di 43:3. Di 5:15 kitab yang jelas disebut datang dari Allah bersama cahaya, sehingga sifat itu juga ditaruh di tempat lain di luar sumpah. Pembaca yang diberi tahu bahwa sesuatu jelas sebelum melihatnya berada dalam keadaan yang mirip dengan orang yang diberi tahu bahwa sebuah jalan terang sebelum menempuhnya. Apakah pembaca menunggu sampai melihat kejelasan itu sendiri sebelum mempercayainya, atau menerimanya karena sumpah itu sudah diucapkan?
- Kata mubiin yang menyifati Kitab di 43:2 dipakai lagi di 43:62 untuk musuh, yaitu setan yang disebut musuh yang nyata bagi kalian. Dalam satu surah yang sama, kata itu menyifati dua hal yang arahnya berlawanan. Kata itu sendiri tidak berpihak: sesuatu dapat terang tanpa menjadi baik bagi yang melihatnya. Orang yang pernah menganggap sesuatu sudah jelas lalu tidak bergerak dapat bertanya apa yang terjadi antara jelasnya sesuatu dan bergeraknya manusia. Kitab yang jelas dan musuh yang nyata sama-sama terlihat; apakah terlihat cukup untuk membuat seseorang memilih?
- Ayat 43:2 menyebut Kitab tanpa mengatakan Kitab yang mana. Di 11:6 hewan yang bergerak di bumi dijamin rezekinya oleh Allah, Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya, dan semuanya ada dalam kitab yang nyata. Di 34:3 tidak ada yang luput dari-Nya seberat zarah, dan semuanya ada dalam kitab yang nyata. Teks tidak menyatakan apakah kitab di dua ayat itu sama dengan yang disumpahi di 43:2, dan ayat 43:2 tidak meminta pembaca memutuskannya. Seseorang yang membaca kata Kitab dapat memperhatikan gambaran apa yang pertama muncul di benaknya. Dari ayat mana gambaran itu datang, dan apakah ayat itu yang dimaksud di sini?
- Sumpah di 43:2 diulang kata demi kata di 44:2, tetapi 43:3 dan 44:3 menyampaikan hal yang berbeda. Yang pertama berbicara tentang bacaan berbahasa Arab agar kalian berakal, yang kedua tentang malam yang diberkahi. Pembaca yang mendengar sumpah itu untuk kedua kalinya sudah punya dugaan tentang kelanjutannya, dan dugaan itu tidak terpenuhi di surah berikutnya. Orang yang merasa mengenal awal sebuah ucapan dapat memperhatikan seberapa cepat penyimakannya berhenti. Apakah sumpah yang sama menuntut jawaban yang sama, atau pembaca yang menuntutnya?
- Kejelasan disebut di 43:2 dan bahasa Arab di 43:3, berdekatan, dan di 16:103 serta 26:195 kedua sifat itu dipasangkan pada bahasa: bahasa Arab yang jelas. Pembaca yang membaca 43:2 lalu 43:3 menerima kedua sifat itu dalam satu rangkaian, dan tujuan yang disebut sesudahnya ialah agar kalian berakal. Seseorang yang mengatakan sebuah tulisan tidak jelas dapat bertanya apakah yang kurang ada pada tulisannya atau pada bahasa yang dikuasainya. Apa yang berubah pada tuntutan terhadap sebuah bacaan ketika 43:3 menyebut bahasa tepat sesudah 43:2 menyebut kejelasan?
- Ayat 43:2 tidak menyebut siapa yang bersumpah. Pembicara baru tampak di 43:3 lewat kata Kami, sedangkan Kitab itu sendiri di 45:2 disebut diturunkan dari Allah Sang Digdaya lagi Sang Penuh Hikmah. Pembaca 43:2 mendengar sumpah sebelum tahu siapa yang mengucapkannya, sehingga yang pertama dipegang pembaca adalah benda yang disumpahi. Orang yang menerima sebuah janji dari suara yang belum dikenal dapat memperhatikan apakah penerima menilai janji itu dari isinya atau dari pengucapnya. Apakah sebuah sumpah terdengar berbeda ketika pengucapnya baru dikenal di ayat berikutnya?