إِنَّا جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

sesungguhnya Kami menjadikannya bacaan berbahasa Arab, agar kalian berakal.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. إِنَّا جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَinnaa ja'alnaahu qur'aanan 'arabiyyan la'allakum ta'qiluunasesungguhnya Kami menjadikannya bacaan berbahasa Arab, agar kalian berakal

Terjemahan per kata (6 kata)

  1. إِنَّاinnaasesungguhnya Kami
  2. جَعَلْنَاهُja'alnaahuKami menjadikannya
  3. قُرْآنًاqur'aananbacaan
  4. عَرَبِيًّا'arabiyyanberbahasa Arab
  5. لَعَلَّكُمْla'allakumagar kalian
  6. تَعْقِلُونَta'qiluunakalian mengerti

Inti bacaan

Susunan (قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ, qur'aanan 'arabiyyan la'allakum ta'qiluuna) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 12:2 dan 43:3.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (إِنَّا, innaa) yang berarti "sesungguhnya Kami", tersusun dari (إِنَّ, inna) yang berarti "sesungguhnya" dan (نَا, -naa) yang berarti "Kami". Huruf awal terjemahan kecil karena 43:2 berakhir dengan koma dan kalimat sumpahnya bersambung ke sini, sedangkan titik di ujung terjemahan ada karena 43:4 membuka kalimat baru. Rangkaian (إِنَّا جَعَلْنَاهُ, innaa ja'alnaahu) hanya ada di ayat ini.

Kata (جَعَلْنَاهُ, ja'alnaahu) yang berarti "Kami menjadikannya" tersusun dari kata kerja (جَعَلَ, ja'ala) yang berarti "menjadikan", dari akar ج-ع-ل, akhiran (نَا, -naa) yang berarti "Kami", dan (هُ, -hu) yang berarti "-nya". Di ayat ini yang dijadikan ditunjuk oleh -hu, dan hasil jadinya disebut sesudahnya, yaitu (قُرْآنًا عَرَبِيًّا, qur'aanan 'arabiyyan). Pola yang sama ada di 42:52, (وَلَٰكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا, wa-laakin ja'alnaahu nuuran) yang berarti "tetapi Kami menjadikannya cahaya", dan di 41:44, (وَلَوْ جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا أَعْجَمِيًّا, wa-law ja'alnaahu qur'aanan a'jamiyyan) yang berarti "dan seandainya Kami menjadikannya bacaan dalam bahasa asing". Rangkaian (جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا, ja'alnaahu qur'aanan) hanya muncul di 41:44 dan 43:3. Bacaan yang sama dikatakan dengan kata kerja lain di tempat lain: (أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا, anzalnaahu qur'aanan) yang berarti "Kami menurunkannya sebagai Qur'an" di 12:2 dan 20:113, dan (أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ قُرْآنًا, awhaynaa ilayka qur'aanan) yang berarti "Kami wahyukan kepadamu bacaan" di 42:7. Terjemahan mengikuti kata kerja yang tertulis, sehingga ayat ini memakai "menjadikan" dan tidak diganti "menurunkan" atau "mewahyukan". Ayat ini juga tidak menyatakan bacaan itu berbahasa apa sebelum dijadikan berbahasa Arab.

Kata (قُرْآنًا, qur'aanan) yang berarti "bacaan" berakar ق-ر-أ dan tertulis tanpa kata sandang. Bentuk ini muncul sepuluh kali di sembilan surah, yaitu di 12:2, 13:31, 17:106, 20:113, 39:28, 41:3, 41:44, 42:7, 43:3, dan 72:1. Akarnya hadir sebagai kata kerja di ayat yang sama pada 17:106, (وَقُرْآنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ, wa-qur'aanan faraqnaahu li-taqra'ahu) yang berarti "dan bacaan itu Kami pisahkan agar engkau membacakannya", sehingga hubungan antara "bacaan" dan "membaca" terlihat dalam satu ayat. Terjemahan memakai "bacaan" di 13:31, 17:106, 41:3, 41:44, 42:7, 72:1, dan di ayat ini.

Kata (عَرَبِيًّا, 'arabiyyan) yang berarti "berbahasa Arab" berakar ع-ر-ب dan muncul delapan kali, yaitu di 12:2, 13:37, 20:113, 39:28, 41:3, 42:7, 43:3, dan 46:12. Enam di antaranya menyifati qur'aanan: 12:2, 20:113, 39:28, 41:3, 42:7, dan 43:3. Dua lainnya menyifati benda berbeda, (حُكْمًا عَرَبِيًّا, hukman 'arabiyyan) yang berarti "putusan yang berbahasa Arab" di 13:37 dan (لِسَانًا عَرَبِيًّا, lisaanan 'arabiyyan) yang berarti "berbahasa Arab" di 46:12. Lawannya juga ada di korpus: (أَعْجَمِيٌّ, a'jamiyyun) yang berarti "asing" di 16:103 menyifati bahasa pihak yang dituduh mengajarkan bacaan itu, dan di 41:44 (أَعْجَمِيًّا, a'jamiyyan) menyifati bacaan dalam sebuah pengandaian. Pasangan lawan itu memperlihatkan bahwa "berbahasa Arab" di ayat ini adalah sifat bacaan yang dapat diganti sifat "asing", seperti yang diandaikan di 41:44.

Rangkaian (لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ, la'allakum ta'qiluuna) yang berarti "agar kalian berakal" tersusun dari (لَعَلَّ, la'alla) yang berarti "agar", (كُمْ, -kum) yang berarti "kalian", dan (تَعْقِلُونَ, ta'qiluuna) yang berarti "kalian berakal". Rangkaian itu muncul delapan kali di tujuh surah, yaitu di 2:73, 2:242, 6:151, 12:2, 24:61, 40:67, 43:3, dan 57:17. Terjemahan memakai "agar kalian berakal" di 2:242, 12:2, 24:61, 40:67, dan 43:3. Gabungannya dengan bacaan berbahasa Arab hanya ada di 12:2 dan 43:3, (قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ, qur'aanan 'arabiyyan la'allakum ta'qiluuna). Akar ع-ق-ل muncul empat puluh sembilan kali di Al-Qur'an, yaitu di 2:44, 2:73, 2:75, 2:76, 2:164, 2:170, 2:171, 2:242, 3:65, 3:118, 5:58, 5:103, 6:32, 6:151, 7:169, 8:22, 10:16, 10:42, 10:100, 11:51, 12:2, 12:109, 13:4, 16:12, 16:67, 21:10, 21:67, 22:46, 23:80, 24:61, 25:44, 26:28, 28:60, 29:35, 29:43, 29:63, 30:24, 30:28, 36:62, 36:68, 37:138, 39:43, 40:67, 43:3, 45:5, 49:4, 57:17, 59:14, dan 67:10. Semuanya kata kerja, dan hanya satu yang menyatakan perbuatan selesai, yaitu di 2:75. Tidak ada satu pun kata benda. Karena itu "berakal" di ayat ini terbaca sebagai kegiatan yang sedang dijalankan oleh pembacanya.

Tafsiran

Ayat 43:3 memuat apa yang disumpahkan di 43:2, dan isinya dua hal: Kami menjadikan Kitab itu bacaan berbahasa Arab, dan tujuannya agar kalian berakal. Ayat ini memuat pembicara untuk pertama kali di surah ini, yaitu kata Kami, dan menyapa pendengar dengan kata kalian untuk pertama kali pula. Dua huruf di 43:1 dan sumpah di 43:2 belum menyebut siapa pun di kedua sisi. Kata Kami berlanjut di 43:4, 43:5, dan 43:6, sehingga empat ayat berturut-turut memakai kata itu.

Ayat 41:44 mencatat lawan dari ayat ini. Di sana pengandaiannya ialah bacaan itu dijadikan berbahasa asing, lalu ada yang akan berkata, "Mengapa tidak diperinci ayat-ayatnya?" dan mempersoalkan bahasa asing yang disandingkan dengan bahasa Arab. Ayat 43:3 menyatakan hal sebaliknya sebagai kenyataan, bukan pengandaian, yaitu bacaan itu dijadikan berbahasa Arab. Keberatan yang diperkirakan di 41:44 tidak diulang di 43:3, dan teks tidak menyatakan apakah keberatan itu pernah diucapkan.

Bacaan berbahasa Arab itu dikaitkan dengan tujuan yang berbeda-beda di enam ayat. Di 12:2 dan 43:3 tujuannya (لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ, la'allakum ta'qiluuna) yang berarti "agar kalian berakal". Di 20:113 dan 39:28 tujuannya (لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ, la'allahum yattaquuna) yang berarti "agar mereka bertakwa". Di 41:3 tujuannya (لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ, li-qawmin ya'lamuuna) yang berarti "bagi kaum yang mengetahui", dan di 42:7 tujuannya (لِتُنْذِرَ, li-tundzira) yang berarti "agar engkau memberi peringatan". Satu bentuk bacaan karena itu tidak dikunci pada satu tujuan, dan tujuan berakal hanya dipasangkan dengan bacaan berbahasa Arab di 12:2 dan 43:3.

Dalam rangkaian 43:1 sampai 43:6, ayat ini menjadi tempat sumpah menemukan isinya. Sesudahnya 43:4 memindahkan perhatian dari bacaan ke letaknya di sisi Kami, 43:5 mempertanyakan apakah peringatan akan dipalingkan, dan 43:6 menoleh ke para nabi terdahulu. Ayat 43:3 menjadi penghubung, sebab menjawab sumpah di belakangnya dan membuka tiga ayat yang berturut-turut memakai kata Kami.

Renungan dan Hikmah

  • Akar kata berakal di Al-Qur'an selalu berupa kata kerja, tidak pernah kata benda, sehingga akal yang diminta dari pendengar di 43:3 adalah akal yang sedang bekerja pada bacaan. Di 2:242 Allah menjelaskan tanda-tanda kepada pendengarnya dengan tujuan yang sama, agar kalian berakal. Seseorang yang membaca sebuah bacaan dengan lancar tetapi tidak sempat menimbang isinya memenuhi bunyi ayat dan melewatkan tujuannya. Kapan terakhir akalnya bekerja pada sebuah ayat, ketika mulutnya sudah lancar melafalkannya?
  • Bacaan berbahasa Arab yang sama dikaitkan dengan tujuan berbeda di enam ayat: berakal di 12:2 dan 43:3, bertakwa di 20:113 dan 39:28, mengetahui di 41:3, memberi peringatan di 42:7. Pembaca yang hanya mengenal satu tujuan akan membaca semua ayat itu dengan satu kacamata, dan tujuan lain tidak terlihat. Orang yang mendekati bacaan ini dapat memperhatikan tujuan mana yang selama ini dibawanya, dan tujuan mana yang tidak pernah diajukannya. Jika ayat-ayat itu menyebut lebih dari satu tujuan, pertanyaan apa yang belum diajukan pembaca kepada bacaan yang sedang dibacanya?
  • Ayat 41:44 mencatat keberatan yang akan muncul seandainya bacaan itu dijadikan berbahasa asing: mengapa ayat-ayatnya tidak diperinci, disusul persoalan tentang bahasa asing yang disandingkan dengan bahasa Arab. Ayat 43:3 menyatakan bacaan itu dijadikan berbahasa Arab, dan keberatan itu tidak diulang di sini. Pembaca yang menemukan keberatan seperti itu dalam dirinya, sesudah bacaan datang dalam bahasanya sendiri, dapat memperhatikan dari mana keberatan itu berasal. Apakah kesulitan itu ada pada bahasanya, atau pada kesediaan menimbang isinya?
  • Di 42:51 Allah disebut berbicara kepada manusia lewat wahyu, dan di 42:52 kata Kami meneruskan dengan menyatakan bahwa Kami menjadikannya cahaya. Di 43:3 yang Kami jadikan adalah bacaan berbahasa Arab. Kata kerja menjadikan dipakai di dua tempat itu, dan keduanya menyebut hasil jadi yang melayani pendengar: cahaya untuk memberi petunjuk, bacaan untuk dipahami. Orang yang menerima sesuatu yang sudah dibentuk demi dirinya dapat bertanya apa yang sudah dilakukannya dengan bentuk itu. Apakah bacaan yang dibuat berbahasa pendengarnya dibaca sebagai sesuatu yang dibuat untuk pembaca sendiri?
  • Ayat 43:1 dan 43:2 belum menyapa siapa pun, dan 43:3 adalah ayat pertama surah ini yang memakai kata kalian. Pembaca yang membaca dua ayat pertama berada di luar percakapan, sebagai pendengar bunyi dan sumpah. Pada 43:3 posisi itu berubah: pembaca berada di antara yang disapa. Orang yang terbiasa membaca bacaan ini sebagai cerita tentang pihak lain dapat memperhatikan saat dirinya sendiri menjadi alamat sapaan. Siapa yang dimaksud dengan kalian ketika pembaca membaca ayat ini, dan apa yang berubah jika kata itu dibaca sebagai ditujukan kepada dirinya?
  • Di 26:192 bacaan ini disebut diturunkan oleh Tuhan seisi alam, dan di 26:195 sampainya digambarkan dengan bahasa Arab yang jelas. Ayat 43:3 menaruh bahasa Arab dan tujuan berakal dalam satu kalimat. Kedua ayat itu menyebut bahasa sebagai bagian dari cara bacaan sampai kepada pendengar, dan tidak sebagai hiasan. Seseorang yang membaca terjemahan dapat memperhatikan apa saja yang sudah sampai kepadanya lewat bahasa yang ia pahami, dan apa yang masih perlu ditimbang. Apakah tujuan agar kalian berakal tercapai lewat bunyi yang dilafalkan, atau lewat arti yang dipahami?