وَمَا يَأْتِيهِمْ مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ

dan tidak datang seorang nabi pun kepada mereka kecuali mereka selalu mengolok-oloknya.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَمَا يَأْتِيهِمْ مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَwa-maa ya'tiihim min nabiyyin illaa kaanuu bihi yastahzi'uunadan tidak datang seorang nabi pun kepada mereka kecuali mereka selalu mengolok-oloknya

Terjemahan per kata (8 kata)

  1. وَمَاwa-maadan tidaklah
  2. يَأْتِيهِمْya'tiihimdatang kepada mereka
  3. مِنْmindari
  4. نَبِيٍّnabiyyinnabi
  5. إِلَّاillaakecuali
  6. كَانُواkaanuumereka selalu
  7. بِهِbihipadanya
  8. يَسْتَهْزِئُونَyastahzi'uunamereka mengolok

Inti bacaan

Bentuk (يَسْتَهْزِئُونَ, yastahzi'uuna) muncul empat belas kali di Al-Qur'an (6:5, 6:10, 11:8, 15:11, 16:34, 21:41, 26:6, 30:10, 36:30, 39:48, 40:83, 43:7, 45:33, 46:26), dan di tiap kemunculannya kaanuu ada di ayat yang sama.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (وَمَا يَأْتِيهِمْ, wa-maa ya'tiihim) yang berarti "dan tidak datang kepada mereka". Huruf wa yang berarti "dan" menyambung ayat ini dengan 43:6, dan kata ganti -him yang berarti "mereka" dapat dibaca kembali kepada orang-orang terdahulu di 43:6, sebab merekalah kelompok terdekat yang disebut. Kata kerja ya'tii berakar أ-ت-ي. Susunan (مَا يَأْتِيهِمْ مِنْ, maa ya'tiihim min) yang berarti "tidak datang kepada mereka" muncul lima kali di lima surah, yaitu 15:11, 21:2, 26:5, 36:30, dan 43:7. Di 21:2 dan 26:5 kata sesudah min adalah (ذِكْرٍ, dzikrin) yang berarti "suatu peringatan", sedangkan di 15:11 dan 36:30 kata itu (رَسُولٍ, rasuulin) yang berarti "seorang rasul". Di 43:7 seorang nabi yang datang, jadi tiga dari lima ayat itu menyebut manusia sebagai yang datang, dan hanya ayat ini yang memakai kata nabi.

Kata (مِنْ نَبِيٍّ, min nabiyyin) yang berarti "seorang nabi pun" tersusun dari min yang berarti "dari" dan nabiyyin yang berarti "nabi", dengan akhiran -in yang menandai benda tak tentu. Akar nabiyyin adalah ن-ب-أ. Terjemahan memakai "nabi" untuk nabiyyin dan "rasul" untuk rasuulin di 15:11 dan 36:30, sehingga dua kata Arab itu tidak tertukar. Susunan min nabiyyin muncul empat kali di tiga surah, yaitu 3:146, 7:94, 43:6, dan 43:7, dan dua yang terakhir berurutan di surah yang sama. Terjemahan menambahkan "pun" supaya kalimat ini terbaca menutup kemungkinan ada satu nabi yang tidak diolok, dan kata kecuali yang menyusul menegaskan hal itu: tidak ada nabi yang tersisa di luar olok-olok.

Kata (إِلَّا كَانُوا, illaa kaanuu) yang berarti "kecuali mereka selalu" tersusun dari illaa yang berarti "kecuali" dan kaanuu yang berarti "mereka selalu" dalam susunan ini. Akar kaanuu adalah ك-و-ن. Susunan illaa kaanuu muncul enam kali di lima surah, yaitu 6:4, 15:11, 26:5, 36:30, 36:46, dan 43:7. Di 6:4, 15:11, 26:5, dan 36:46 terjemahan memakai "selalu" untuk kaanuu, misalnya (إِلَّا كَانُوا عَنْهَا مُعْرِضِينَ, illaa kaanuu 'anhaa mu'ridhiina) yang berarti "kecuali mereka selalu berpaling darinya" di 6:4. Ayat ini mengikuti pilihan itu karena susunan Arabnya sama dengan 15:11, dan dengan "selalu" kata kaanuu terwakili tanpa ada kata yang ditambahkan di luar Arab.

Kata (يَسْتَهْزِئُونَ, yastahzi'uuna) yang berarti "mereka mengolok-olok" berakar ه-ز-أ. Bentuk persis ini muncul empat belas kali di tiga belas surah, yaitu 6:5, 6:10, 11:8, 15:11, 16:34, 21:41, 26:6, 30:10, 36:30, 39:48, 40:83, 43:7, 45:33, dan 46:26. Di keempat belas ayat itu kata kaanuu ada di ayat yang sama, misalnya (وَكَانُوا بِهَا يَسْتَهْزِئُونَ, wa-kaanuu bihaa yastahzi'uuna) yang berarti "dan mereka selalu mengolok-oloknya" di 30:10. Sepuluh di antaranya berupa (مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ, maa kaanuu bihi yastahzi'uuna) yang berarti "apa yang selalu mereka olok-olokkan", yaitu 6:5, 6:10, 11:8, 16:34, 21:41, 26:6, 39:48, 40:83, 45:33, dan 46:26, dan di sepuluh ayat itu apa yang diolok-olok menimpa pelakunya atau kabarnya akan sampai kepada pelakunya. Tiga di antara empat sisanya, 15:11, 36:30, dan 43:7, memuat susunan (إِلَّا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ, illaa kaanuu bihi yastahzi'uuna) yang berarti "kecuali mereka selalu mengolok-oloknya".

Huruf (بِ, bi-) yang berarti "terhadap" pada (بِهِ, bihi), dengan akhiran -hi yang berarti "-nya", menunjuk pada nabi. Kata kerja ini memakai bi- untuk menyebut yang diolok-olok di ayat lain juga. Di 6:10 dan 21:41, (وَلَقَدِ اسْتُهْزِئَ بِرُسُلٍ مِنْ قَبْلِكَ, wa-la-qadi stuhzi'a bi-rusulin min qablika) yang berarti "dan sungguh rasul-rasul sebelum engkau telah diolok-olok" menyebut para rasul sebagai yang diolok-olok. Di 9:65, (أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ, a-bi-llaahi wa-aayaatihi wa-rasuulihi kuntum tastahzi'uuna) yang berarti "apakah terhadap Allah, tanda-tanda-Nya, dan rasul-Nya kalian selalu berolok-olok?" menyebut tiga sasaran dengan satu kata kerja. Ayat 43:7 tidak merinci wujud olok-olok itu, dan terjemahan tidak menambahkan "dengan ejekan" atau "dengan tawa".

Tafsiran

Setelah 43:6 menyebut betapa banyak nabi diutus di kalangan orang-orang terdahulu, ayat ini menyebut bagaimana mereka disambut, sehingga jumlah yang disebut lebih dulu langsung diikuti kalimat yang tidak menyisakan pengecualian. Orang yang membaca 43:6 sendirian bisa membayangkan sebagian nabi diterima baik. Ayat 43:7 menutup bayangan itu dengan "tidak ... seorang nabi pun ... kecuali".

Ayat ini juga dapat dibaca sebagai jawaban atas pertanyaan di 43:5, yaitu apakah peringatan akan dipalingkan dari kaum yang melampaui batas. Jawabannya berupa catatan kejadian: banyak nabi diutus, dan tiap nabi diolok-olok. Dapat dibaca bahwa pengutusan berlangsung terus meskipun olok-olok datang tiap kali, tetapi ayat ini tidak menyatakannya dengan kata-kata itu.

Susunan maa ya'tiihim min muncul lima kali, dan lima ayat itu terbagi menurut yang datang. Di 21:2 dan 26:5 sebuah peringatan yang datang, dan tanggapannya berbeda: di 21:2, (اسْتَمَعُوهُ وَهُمْ يَلْعَبُونَ, stama'uuhu wa-hum yal'abuuna) yang berarti "mereka mendengarkannya sambil bermain-main", dan di 26:5, (إِلَّا كَانُوا عَنْهُ مُعْرِضِينَ, illaa kaanuu 'anhu mu'ridhiina) yang berarti "kecuali mereka selalu berpaling darinya". Di 15:11, 36:30, dan 43:7 seorang rasul atau nabi yang datang, dan tanggapannya sama di ketiganya, yaitu olok-olok. Pada dua ayat pertama tanggapannya dua jenis yang berbeda, dan pada tiga ayat terakhir tanggapannya satu jenis.

Ayat 43:8 dibuka dengan fa yang berarti "maka", jadi olok-olok di 43:7 diikuti akibat. Urutan yang sama ada di 6:10 dan 21:41: rasul-rasul diolok-olok, lalu menimpa orang-orang yang mencemooh mereka apa yang selalu mereka olok-olokkan. Kedua susunan itu tidak identik, sebab 43:8 menyebut kebinasaan kaum yang lebih kuat sedangkan 6:10 dan 21:41 menyebut apa yang diolok-olok itu menimpa pelakunya, tetapi arahnya sama: olok-olok pada pembawa pesan tidak berhenti di olok-olok.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat 43:6 dan 43:7 menaruh pengutusan dan olok-olok berdampingan tanpa ayat lain di tengahnya. Di 9:65 satu pertanyaan mengarahkan satu kata kerja ke tiga sasaran, yaitu Allah, tanda-tanda-Nya, dan Rasul-Nya. Susunan itu menaruh pembawa pesan dan Dia yang mengutusnya dalam satu daftar sasaran olok-olok, meski ayat 43:7 sendiri tidak berbicara sejauh itu. Pembaca yang pernah menertawakan seseorang yang membawa kabar tidak enak dapat bertanya, kabar itu berasal dari siapa dan ke arah mana tawanya sebenarnya sampai?
  • Ayat 21:2 menyebut peringatan baru dari Tuhan mereka, dan 26:5 menyebutnya dari Ar-Rahman. Tanggapannya di dua ayat itu mendengarkan sambil bermain-main dan berpaling. Di 43:7 yang datang seorang nabi, dan tanggapannya olok-olok. Menganggap ringan, menghindar, dan menertawakan memperlihatkan tiga wajah yang tampak berlainan, padahal ketiganya dapat dibaca sebagai cara agar pesan tidak masuk ke dalam. Pembaca dapat memperhatikan tanggapan mana yang paling mudah baginya ketika sesuatu yang tidak nyaman datang, dan apa yang sedang dilindunginya dengan tanggapan itu?
  • Ayat 43:7 mengatakan tidak ada nabi yang luput dari olok-olok. Ayat itu tidak mengatakan bahwa setiap orang yang diolok-olok adalah nabi. Kalimat yang berbunyi tidak ada nabi kecuali diolok-olok hanya membuka satu arah, dari nabi ke olok-olok, dan arah sebaliknya dari olok-olok ke kebenaran tidak dibukanya. Pembaca yang sedang diejek karena pendapatnya tidak mendapat penghiburan dari ayat ini kecuali ia menambahkan kalimat yang tidak tertulis. Selain ejekan itu, apa lagi yang dimilikinya sebagai dasar bahwa pendapatnya benar?
  • Di 43:7 olok-olok datang bersama kata selalu, sehingga digambarkan sebagai sikap yang berulang pada tiap kedatangan. Ayat itu mencatat kedatangan nabi lalu olok-olok, dan tidak mencatat jeda: tidak ada kalimat yang menyebut kaum mendengarkan, menimbang, atau bertanya. Pembaca dapat memeriksa urusan mana dalam hidupnya yang jawabannya sudah siap sebelum orang lain selesai bicara. Bila jawaban itu sudah ada sebelum pertanyaannya sampai, apa yang masih bisa disampaikan kepadanya?
  • Ayat 43:7 mencatat tanggapan kaum dan tidak mencatat tanggapan nabi. Tanggapan itu tertulis di 6:34, ayat yang membicarakan rasul-rasul sebelum penerima wahyu: mereka didustakan dan disakiti, lalu mereka bersabar sampai datang pertolongan Kami, dan tidak ada yang mengubah kalimat-kalimat Allah. Ayat 6:34 membicarakan pendustaan dan gangguan, sedangkan 43:7 olok-olok, jadi keduanya tidak disamakan. Orang yang menerima olok-olok tanpa membalas dapat bertanya, apa yang menopangnya selama menunggu, dan dari siapa ia berharap pertolongan?
  • Pada kata kerja datang di 43:7, nabi menjadi pelakunya dan kaum menjadi tujuannya. Pembaca yang pernah didatangi seseorang dengan pesan yang tidak diminta dapat membayangkan beratnya dua posisi itu: yang datang membawa sesuatu tanpa tahu sambutannya, dan yang ditemui tanpa sempat bersiap. Ayat 43:6 menyebut pengutusan oleh Kami tanpa menyebut undangan dari pihak mana pun. Seberapa sering pesan yang berharga datang tanpa diundang, dan bagaimana tuan rumahnya menyambutnya?