فَأَهْلَكْنَا أَشَدَّ مِنْهُمْ بَطْشًا وَمَضَىٰ مَثَلُ الْأَوَّلِينَ

Maka, Kami binasakan yang lebih keras kekuatannya daripada mereka; dan telah berlalu perumpamaan orang-orang yang terdahulu.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. فَأَهْلَكْنَا أَشَدَّ مِنْهُمْ بَطْشًاfa-ahlaknaa asyadda minhum bathsyanmaka, Kami binasakan yang lebih keras kekuatannya daripada mereka
  2. وَمَضَىٰ مَثَلُ الْأَوَّلِينَwa-madhaa matsalu l-awwaliinadan telah berlalu perumpamaan orang-orang yang terdahulu

Terjemahan per kata (7 kata)

  1. فَأَهْلَكْنَاfa-ahlaknaamaka Kami membinasakan
  2. أَشَدَّasyaddalebih keras
  3. مِنْهُمْminhumdari mereka
  4. بَطْشًاbathsyankekuatan
  5. وَمَضَىٰwa-madhaadan telah berlalu
  6. مَثَلُmatsaluperumpamaan
  7. الْأَوَّلِينَl-awwaliinaorang-orang terdahulu

Inti bacaan

Susunan (أَشَدَّ مِنْهُمْ, asyadda minhum) muncul empat kali di Al-Qur'an (30:9, 35:44, 40:21, 43:8), dan hanya di 43:8 kata sesudahnya (بَطْشًا, bathsyan), bukan quwwatan.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (فَأَهْلَكْنَا, fa-ahlaknaa) yang berarti "maka Kami binasakan". Bentuk ini tersusun dari tiga bagian: awalan fa yang berarti "maka", kata kerja ahlaka yang berakar ه-ل-ك dan berarti "membinasakan", dan akhiran -naa yang berarti "Kami". Awalan fa menyambungkan 43:8 dengan olok-olok di 43:7, dan terjemahan memakai "Maka" pada awalnya. Akhiran -naa yang sama ada di 43:6 pada (أَرْسَلْنَا, arsalnaa) yang berarti "Kami utus", sehingga pengutusan dan pembinasaan memakai kata ganti yang sama.

Kata (أَشَدَّ, asyadda) yang berarti "yang lebih keras" berakar ش-د-د dan berdiri tanpa kata benda sesudah fa-ahlaknaa, jadi yang dibinasakan hanya disebut lewat tingkat kekerasannya. Terjemahan tidak menambahkan "kaum" atau "umat", sebab tidak ada kata Arab di ayat ini yang melahirkannya. Susunan (أَشَدَّ مِنْهُمْ, asyadda minhum) yang berarti "lebih keras daripada mereka" muncul empat kali di empat surah, yaitu 30:9, 35:44, 40:21, dan 43:8. Di tiga yang pertama kata sesudahnya adalah (قُوَّةً, quwwatan) yang berarti "kekuatan", misalnya (كَانُوا أَشَدَّ مِنْهُمْ قُوَّةً, kaanuu asyadda minhum quwwatan) yang berarti "mereka dahulu lebih kuat daripada mereka" di 30:9. Di 43:8 kata sesudahnya adalah (بَطْشًا, bathsyan), dan susunan serupa dengan bentuk asyaddu, (هُمْ أَشَدُّ مِنْهُمْ بَطْشًا, hum asyaddu minhum bathsyan) yang berarti "mereka lebih keras kekuatannya daripada mereka", ada di 50:36.

Kata bathsyan berakar ب-ط-ش dan memakai akhiran -an yang menandai benda tak tentu. Akar ini muncul di delapan ayat, yaitu 7:195, 26:130, 28:19, 43:8, 44:16, 50:36, 54:36, dan 85:12. Di 26:130, (وَإِذَا بَطَشْتُمْ بَطَشْتُمْ جَبَّارِينَ, wa-idzaa bathasytum bathasytum jabbaariina) yang berarti "dan apabila kalian menghantam, kalian menghantam secara bengis", akar itu berupa kata kerja, dan di 85:12, (بَطْشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ, bathsya rabbika la-syadiidun) yang berarti "hantaman Tuhanmu benar-benar keras", berupa kata benda milik Tuhan. Di 43:8 dan 50:36 yang memiliki bathsyan adalah kaum-kaum terdahulu, dan terjemahan memakai "kekuatan" untuk keduanya. Akar ب-ط-ش dan ش-د-د muncul bersama di tiga ayat saja, yaitu 43:8, 50:36, dan 85:12. Ayat ini tidak merinci bentuk bathsyan mereka, sehingga terjemahan tidak menambahkan "pasukan" atau "senjata".

Kata (وَمَضَىٰ, wa-madhaa) yang berarti "dan telah berlalu" berakar م-ض-ي dan berbentuk perbuatan yang sudah selesai. Kata kerja dari akar ini dengan subjek yang disandarkan kepada orang-orang terdahulu ada di dua ayat, yaitu 43:8 dan 8:38, (فَقَدْ مَضَتْ سُنَّتُ الْأَوَّلِينَ, fa-qad madhat sunnatu l-awwaliina) yang berarti "maka sungguh telah berlalu ketetapan orang-orang terdahulu". Subjek di 43:8 adalah (مَثَلُ, matsalu) yang berarti "perumpamaan", berakar م-ث-ل. Kata matsal muncul lima kali di surah ini, yaitu 43:8, 43:17, 43:56, 43:57, dan 43:59, dan terjemahan memakai "perumpamaan" di kelimanya, termasuk di 43:56, (وَمَثَلًا لِلْآخِرِينَ, wa-matsalan li-l-aakhiriina) yang berarti "dan perumpamaan bagi orang-orang yang kemudian".

Kata (الْأَوَّلِينَ, l-awwaliina) yang berarti "orang-orang yang terdahulu" berakar أ-و-ل dan menjadi pemilik perumpamaan itu. Kata ini muncul juga di 43:6, (فِي الْأَوَّلِينَ, fii l-awwaliina) yang berarti "pada orang-orang yang terdahulu", tempat nabi-nabi diutus. Di 43:6 kelompok ini menerima pengutusan, dan di 43:8 kelompok yang sama disebut sebagai pemilik perumpamaan yang sudah berlalu.

Tafsiran

Ayat 43:8 menyelesaikan rangkaian tiga ayat: banyak nabi diutus di 43:6, mereka semua diolok-olok di 43:7, dan di 43:8 yang dibinasakan lebih kuat daripada mereka. Awalan fa di awal ayat membuat kebinasaan itu terbaca sebagai sesuatu yang mengikuti olok-olok.

Perbandingan kekuatan di ayat ini memutus satu pembelaan yang mudah dipakai, yaitu bahwa kekuatan dapat melindungi. Kata ganti -hum pada minhum tidak diberi nama, dan ada dua cara membacanya. Dapat dibaca bahwa kata ganti itu kembali kepada para pengolok di 43:7, atau kepada kaum yang sedang diajak bicara surah ini. Pembacaan kedua sejalan dengan 50:36, tempat generasi yang dibinasakan lebih keras daripada orang-orang yang sedang dibicarakan, tetapi teks 43:8 tidak memilih salah satunya. Fungsi ayatnya sama dalam kedua pembacaan: pihak yang menolak diperlihatkan bahwa sebelum mereka sudah ada yang lebih kuat dan tetap binasa.

Sebab kebinasaan itu tertulis di ayat lain yang memakai perbandingan serupa. Di 40:21 yang lebih kuat itu diambil Allah karena dosa-dosa mereka, dan di 40:22 sebabnya dijelaskan lagi: rasul-rasul datang dengan bukti nyata, lalu mereka kufur. Di 43:8 kekuatan hanya menjadi ukuran bandingan, dan olok-olok di ayat sebelumnya menjadi hal yang paling dekat dengan kebinasaan itu dalam teks. Di 50:36 perbandingan yang sama disusul pertanyaan tentang tempat pelarian, dan di 43:8 pertanyaan itu tidak ada.

Bagian kedua ayat ini menyatakan bahwa perumpamaan orang-orang terdahulu sudah berlalu. Bagian ini menyebut bahwa isi perumpamaan itu sudah tersedia. Di 43:56 isi semacam itu terlihat: kaum yang ditenggelamkan di 43:55 dijadikan pendahulu dan perumpamaan bagi orang-orang yang kemudian. Ayat 43:56 membicarakan peristiwa yang tertentu, sedangkan 43:8 membicarakan orang-orang terdahulu secara umum, jadi keduanya dibaca sebagai dua titik pada garis yang sama.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat 43:8 memakai kekuatan sebagai alat pembanding dan berhenti di perbandingan itu: yang dibinasakan lebih keras daripada mereka. Di 35:44 kalimat serupa, bahwa orang-orang sebelum mereka lebih besar kekuatannya, disusul pernyataan bahwa tidak ada sesuatu pun yang dapat melemahkan Allah, baik di langit maupun di bumi. Ayat 35:44 berbicara tentang kekuatan yang tidak sanggup melemahkan Allah, sedangkan 43:8 tentang kebinasaan, jadi keduanya tidak disamakan. Pembaca yang merasa aman karena jumlah, modal, atau jabatan dapat bertanya, kekuatan itu sedang dibandingkan dengan siapa, dan adakah pembanding yang belum pernah pembaca sebut?
  • Ayat 43:8 tidak menyebut sebab kebinasaan. Sebab tertulis di 40:21, ketika Allah mengambil kaum yang lebih hebat kekuatannya karena dosa-dosa mereka, dan di 40:22, ketika rasul-rasul datang dengan bukti nyata lalu mereka kufur. Pembaca yang berhenti di 43:8 dapat menyimpulkan bahwa kekuatanlah yang membuat mereka binasa, padahal ayat itu hanya memakai kekuatan sebagai ukuran, dan sebabnya ada di dua ayat lain. Ketika sesuatu menimpa orang lain, bagaimana pembaca membedakan antara ukuran yang disebut dan sebab yang disebut?
  • Kata ganti mereka di 43:8 tidak bernama, dan kaum yang dibinasakan pun hanya disebut menurut tingkat kekuatannya. Tanpa nama, perbandingan itu tidak dapat dialihkan ke kelompok lain yang mudah ditunjuk, dan tempat berdiri mereka di dalam ayat tetap kosong. Kata itu dapat dibaca mengacu pada orang yang mengolok-olok di 43:7. Pembaca yang pernah mengolok-olok sesuatu yang dibawa orang lain dapat bertanya, di sisi mana dari perbandingan itu pembaca sendiri berdiri, di sisi pengolok yang lebih lemah atau di sisi yang sudah binasa?
  • Kata yang di 43:8 dipakai untuk kekuatan kaum yang dibinasakan dipakai di 85:12 untuk hantaman Tuhanmu, dan di sana hantaman itu disebut keras. Di 43:8 kekuatan itu milik yang binasa, dan di 85:12 milik Tuhan. Kedua ayat tidak membandingkan keduanya, jadi ukuran antara keduanya tidak diberikan. Pembaca dapat menimbang bahwa bila kekuatan kaum-kaum itu saja sudah disebut lebih keras daripada para pengolok, kekuatan sendiri yang biasa dibanggakan tinggal berukuran apa di samping hantaman Tuhan, dan siapa yang berhak mengukurnya?
  • Ayat 43:8 menyatakan perumpamaan orang-orang terdahulu sudah berlalu, sehingga isinya terletak di belakang pembaca sebagai bahan yang selesai ditulis. Di 43:56 kaum yang ditenggelamkan dijadikan pendahulu dan perumpamaan bagi orang-orang yang kemudian, jadi perumpamaan yang sudah berlalu itu dipakai oleh yang datang sesudahnya. Pembaca yang menganggap sejarah itu tontonan tentang orang lain dapat bertanya, apakah pembaca sendiri termasuk orang-orang yang kemudian itu, dan apa yang dilakukan seseorang terhadap perumpamaan yang sudah selesai ditulis?
  • Ayat 43:7 dan 43:8 berurutan dengan awalan fa, dan di antara olok-olok dan kebinasaan tidak ada kalimat tentang jeda. Jeda itu tertulis di 13:32: rasul-rasul diolok-olok, lalu Aku beri tenggang waktu kepada orang-orang yang kufur, kemudian Aku ambil mereka. Ayat 13:32 memakai kata Aku dan 43:8 memakai kata Kami, jadi keduanya tidak disamakan. Dari 43:8 saja, waktu antara olok-olok dan akibatnya tidak dapat diukur. Pembaca yang melihat orang mengejek tanpa akibat yang terlihat dapat bertanya, apakah ketiadaan akibat yang terlihat berarti ketiadaan akibat?