وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ خَلَقَهُنَّ الْعَزِيزُ الْعَلِيمُ
Dan sungguh, jika engkau bertanya kepada mereka, “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi,” pastilah mereka akan menjawab, “Yang menciptakannya adalah Sang Digdaya, Sang Berilmu.”
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَwa-la-in sa'altahum man khalaqa s-samaawaati wa-l-ardhadan sungguh, jika engkau bertanya kepada mereka, siapakah yang menciptakan langit dan bumi
- لَيَقُولُنَّ خَلَقَهُنَّ الْعَزِيزُ الْعَلِيمُla-yaquulunna khalaqahunna l-'aziizu l-'aliimupastilah mereka akan menjawab, yang menciptakannya adalah Sang Digdaya, Sang Berilmu
Terjemahan per kata (10 kata)
- وَلَئِنْwa-la-indan sungguh jika
- سَأَلْتَهُمْsa'altahumengkau bertanya kepada mereka
- مَنْmanorang yang
- خَلَقَkhalaqamenciptakan
- السَّمَاوَاتِs-samaawaatilangit
- وَالْأَرْضَwa-l-ardhadan bumi
- لَيَقُولُنَّla-yaquulunnasungguh mereka akan berkata
- خَلَقَهُنَّkhalaqahunnamenciptakan mereka
- الْعَزِيزُl-'aziizuSang Digdaya
- الْعَلِيمُl-'aliimuSang Berilmu
Inti bacaan
Pasangan nama (الْعَزِيزُ الْعَلِيمُ, l-'aziizu l-'aliimu) muncul enam kali di Al-Qur'an (6:96, 27:78, 36:38, 40:2, 41:12, 43:9), dan hanya di 43:9 pasangan itu diucapkan oleh pihak yang ditanya.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (وَلَئِنْ, wa-la-in) yang berarti "dan sungguh jika". Bentuk ini tersusun dari wa yang berarti "dan", la yang berarti "sungguh", dan in yang berarti "jika". Kata kerja yang menyusul, (سَأَلْتَهُمْ, sa'altahum) yang berarti "engkau bertanya kepada mereka", berakar س-أ-ل dan memakai akhiran -ta untuk satu orang yang diajak bicara. Susunan (وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ, wa-la-in sa'altahum) muncul tujuh kali di lima surah, yaitu 9:65, 29:61, 29:63, 31:25, 39:38, 43:9, dan 43:87. Terjemahan memakai "sungguh" untuk la di 29:61, 31:25, 39:38, dan 43:87, dan ayat ini mengikutinya.
Susunan (مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ, man khalaqa s-samaawaati wa-l-ardha) yang berarti "siapakah yang menciptakan langit dan bumi" muncul empat kali di empat surah, yaitu 29:61, 31:25, 39:38, dan 43:9. Di tiga yang pertama jawaban yang dikutip memakai nama, yaitu (لَيَقُولُنَّ اللَّهُ, la-yaquulunna llaahu) yang berarti "pastilah mereka akan berkata, Allah". Susunan jawaban itu muncul lima kali di empat surah, yaitu 29:61, 29:63, 31:25, 39:38, dan 43:87. Di 43:9 jawaban yang dikutip memuat dua sifat, Sang Digdaya dan Sang Berilmu, dan nama Allah tidak ada di dalamnya. Kata kerja (لَيَقُولُنَّ, la-yaquulunna) diapit dua penegas, la di depan dan -nna di belakang, sehingga terjemahan memakai "pastilah mereka akan".
Kata (خَلَقَهُنَّ, khalaqahunna) yang berarti "menciptakannya" tersusun dari khalaqa yang berarti "menciptakan" dan akhiran -hunna, kata ganti jamak perempuan yang di ayat ini kembali kepada langit dan bumi. Bentuk persis ini muncul dua kali di dua surah, yaitu 41:37 dan 43:9. Di 41:37, (وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ, wa-sjuduu li-llaahi lladzii khalaqahunna) yang berarti "dan tunduklah kepada Allah yang menciptakannya", akhiran -hunna kembali kepada malam, siang, matahari, dan bulan, dan yang menciptakan disebut dengan nama Allah. Terjemahan memakai "-nya" di kedua ayat.
Kata (الْعَزِيزُ, l-'aziizu) yang berarti "Sang Digdaya" berakar ع-ز-ز dan (الْعَلِيمُ, l-'aliimu) yang berarti "Sang Berilmu" berakar ع-ل-م, dan keduanya memakai kata sandang al- yang menjadikannya nama sifat. Pasangan ini muncul enam kali di enam surah, yaitu 6:96, 27:78, 36:38, 40:2, 41:12, dan 43:9. Di 6:96, 36:38, dan 41:12 pasangan itu berada dalam (تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ, taqdiiru l-'aziizi l-'aliimi) yang berarti "ketetapan Sang Digdaya lagi Sang Berilmu". Di 40:2, (مِنَ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ, mina llaahi al-'aziizi l-'aliimi) yang berarti "dari Allah, Sang Digdaya, Sang Berilmu", pasangan itu mengikuti nama Allah, dan di 27:78, (وَهُوَ الْعَزِيزُ الْعَلِيمُ, wa-huwa l-'aziizu l-'aliimu) yang berarti "dan Dialah Sang Digdaya, Sang Berilmu", ia mengikuti kata ganti Dia. Dari keenam ayat itu hanya 43:9 yang menaruhnya di mulut pihak yang ditanya.
Terjemahan menutup kutipan jawaban di akhir ayat ini, dan ayat-ayat sesudahnya dibaca sebagai penuturan ayat sendiri. Dasarnya ada di teks: 43:10 memakai (لَكُمُ, lakumu) yang berarti "bagi kalian" untuk menyapa pendengar, dan 43:11 memuat (فَأَنْشَرْنَا, fa-anasyarnaa) yang berarti "maka Kami menghidupkan", dengan kata ganti Kami yang tidak ada di dalam jawaban yang dikutip di 43:9.
Tafsiran
Ayat ini menaruh pertanyaan tentang pencipta sesudah dua ayat tentang olok-olok dan kebinasaan, jadi 43:6 sampai 43:9 memuat empat langkah berurutan: pengutusan, olok-olok, kebinasaan, lalu pertanyaan kepada sebuah kelompok yang disebut mereka. Kata ganti itu tidak diberi nama, dan teks tidak menyatakan apakah kelompoknya sama dengan kelompok di 43:7 dan 43:8. Hubungan keduanya terbaca dari urutan, dan tidak ada kalimat yang menyatakannya.
Di empat ayat dengan pertanyaan serupa, jawaban pihak yang ditanya disusul hal yang berbeda-beda. Di 29:61 dan 43:87 disusul pertanyaan tentang kenapa atau bagaimana mereka dipalingkan, di 31:25 disusul perintah mengucapkan segala puji bagi Allah, dan di 39:38 disusul pertanyaan tentang apa yang mereka seru selain Allah. Di 43:9 tidak ada teguran, pertanyaan balik, maupun perintah sesudah jawaban. Yang menyusul adalah rentetan keterangan yang dibuka (الَّذِي, alladzii) yang berarti "yang", tentang bumi sebagai hamparan, jalan, air dari langit, dan pasangan, sampai 43:12. Jawaban di ayat ini dibiarkan berdiri, lalu diperluas oleh daftar yang menerangkan perbuatan pihak yang bersifat demikian.
Dua sifat yang diucapkan pihak yang ditanya sama dengan sifat yang dipakai ayat-ayat lain untuk menutup kalimat tentang tatanan benda langit: 6:96 menyebut malam, matahari, dan bulan, 36:38 menyebut matahari, dan 41:12 menyebut tujuh langit. Jadi jawaban di 43:9 memakai kosakata yang dipakai teks sendiri, sehingga pihak yang ditanya mengucapkan sesuatu yang sudah tertulis di tempat lain. Teks tidak menyebut dari mana mereka mengetahuinya.
Pertanyaannya sendiri memakai kata ganti engkau untuk satu penanya, sedangkan yang menjawab banyak. Dalam adegan ini satu orang bertanya dan jawabannya keluar dari kelompok, tanpa penanya menyodorkan keterangan lebih dulu. Ayat 43:9 mencatat jawaban dan tidak mencatat tanggapan penanya atasnya, jadi tanggapan itu, bila ada, tertulis di ayat sekitarnya.
Renungan dan Hikmah
- Di 29:61, 31:25, 39:38, dan 43:87 jawaban yang berbunyi Allah keluar dari mulut mereka sesudah ditanya, tanpa disodorkan lebih dulu. Di 29:61 dan 43:87 yang menyusul pertanyaan tentang kenapa mereka dipalingkan. Ayat 43:9 mencatat jawaban yang sama jenisnya dan tidak mencatat teguran apa pun sesudahnya. Pembaca yang biasa meyakinkan orang dengan memberi tahu dapat mengamati bahwa dalam adegan ini sekelompok orang diajak sampai pada jawabannya lewat pertanyaan. Seberapa sering pertanyaan yang tepat sudah cukup sehingga keterangan tambahan tidak diperlukan?
- Di empat ayat lain jawaban pihak yang ditanya hanya satu nama, Allah. Di 43:9 jawabannya memuat dua sifat sekaligus, kedigdayaan dan keilmuan, dan di 40:2 pasangan itu mengikuti nama Allah dalam kalimat tentang diturunkannya Kitab. Pengakuan di 43:9 karena itu lebih panjang daripada jawaban di empat ayat itu. Ayat 43:9 tidak menjelaskan kenapa jawabannya lebih panjang. Apa saja yang diakui seseorang tentang Tuhan ketika ditanya, dan apakah semuanya terbawa ke hal-hal yang tidak ditanyakan?
- Bentuk yang sama dengan khalaqahunna di 43:9 ada di 41:37, tempat kalimatnya berlanjut ke perintah: tunduklah kepada Allah yang menciptakannya. Kalimat tentang siapa yang menciptakan ada di kedua ayat itu, dan perintah untuk tunduk tertulis di 41:37 saja. Ayat 41:37 membicarakan malam, siang, matahari, dan bulan, sedangkan 43:9 langit dan bumi, jadi keduanya tidak disamakan. Pembaca dapat memisahkan dua hal dalam diri sendiri, yang diketahui tentang Pencipta dan yang dilakukan karena pengetahuan itu. Di antara keduanya, jarak mana yang paling lebar?
- Ayat 43:9 mengikuti 43:7 dan 43:8 tanpa menyebut siapa yang menjawab, dan teks tidak menyatakan bahwa pengolok di 43:7 dan penjawab di 43:9 adalah kelompok yang sama. Bila keduanya dibaca sebagai satu kelompok, pengakuan terhadap Pencipta dan olok-olok terhadap yang diutus-Nya dapat berdiri bersama dalam satu kaum. Pembacaan itu bersifat kemungkinan. Pembaca yang pernah memuji sesuatu secara umum lalu menertawakan orang yang membawanya dapat bertanya, apakah pujian dan tawa itu pernah bertemu dalam diri pembaca sendiri, dan apa yang terjadi ketika keduanya bertemu?
- Ayat 43:8 menyebut kaum yang dibinasakan karena lebih keras kekuatannya, dan 43:9 menyebut sifat Sang Digdaya. Dua ayat itu berdekatan, dan kedigdayaan yang disebut di 43:9 tidak dibandingkan dengan kekuatan kaum di 43:8 oleh teksnya sendiri. Kekuatan di 43:8 dipakai untuk kaum yang tampak dalam ayat, sedangkan kedigdayaan di 43:9 dipakai untuk pihak yang wujudnya tidak digambarkan. Bila kedigdayaan diucapkan sebagai nama bagi Pencipta, bagaimana kata yang sama diperlakukan ketika pembaca memakainya untuk diri sendiri?
- Sesudah jawaban di 43:9, ayat-ayat berikutnya menyusun daftar: bumi sebagai hamparan, jalan, air dari langit, dan semua pasangan. Teguran tidak tertulis di antara jawaban dan daftar itu. Orang yang mendengar lawan bicaranya mengakui hal yang benar dapat menegur, dan dapat juga menyebutkan apa saja yang sudah diterima. Ayat-ayat itu memuat yang kedua. Mana yang lebih lama tinggal di ingatan pendengar, teguran atau daftar pemberian?