وَالَّذِي نَزَّلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً بِقَدَرٍ فَأَنْشَرْنَا بِهِ بَلْدَةً مَيْتًا ۚ كَذَٰلِكَ تُخْرَجُونَ
Dan yang menurunkan air dari langit dengan suatu ukuran, lalu, dengan air itu Kami menghidupkan negeri yang mati. Demikianlah kalian dikeluarkan.
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- وَالَّذِي نَزَّلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً بِقَدَرٍwa-lladzii nazzala mina s-samaa'i maa'an bi-qadarindan yang menurunkan air dari langit dengan suatu ukuran
- فَأَنْشَرْنَا بِهِ بَلْدَةً مَيْتًاfa-anasyarnaa bihi baldatan maytanlalu, dengan air itu Kami menghidupkan negeri yang mati
- كَذَٰلِكَ تُخْرَجُونَka-dzaalika tukhrajuunademikianlah kalian dikeluarkan
Terjemahan per kata (12 kata)
- وَالَّذِيwa-lladziidan yang
- نَزَّلَnazzalamenurunkan
- مِنَminadari
- السَّمَاءِs-samaa'ilangit
- مَاءًmaa'anair
- بِقَدَرٍbi-qadarindengan ukuran
- فَأَنْشَرْنَاfa-anasyarnaamaka Kami menghidupkan
- بِهِbihidengannya
- بَلْدَةًbaldatannegeri
- مَيْتًاmaytanyang mati
- كَذَٰلِكَka-dzaalikademikianlah
- تُخْرَجُونَtukhrajuunakalian dikeluarkan
Inti bacaan
Frasa (بَلْدَةً مَيْتًا, baldatan maytan) muncul tiga kali di Al-Qur'an (25:49, 43:11, 50:11), dan hanya di 43:11 kata kerja yang menghidupkannya (فَأَنْشَرْنَا, fa-anasyarnaa).
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (وَالَّذِي, wa-lladzii) yang berarti "dan yang", butir kedua dari rangkaian keterangan yang dimulai di 43:10. Kata kerja (نَزَّلَ, nazzala) yang berarti "menurunkan" berakar ن-ز-ل. Bunyi (مِنَ السَّمَاءِ مَاءً بِقَدَرٍ, mina s-samaa'i maa'an bi-qadarin) yang berarti "dari langit air dengan suatu ukuran" muncul dua kali di dua surah, yaitu 23:18 dan 43:11. Di 23:18 kata kerjanya (وَأَنْزَلْنَا, wa-anzalnaa) yang berarti "dan Kami turunkan", sedangkan di 43:11 kata kerjanya nazzala dengan pelaku orang ketiga.
Kata (بِقَدَرٍ, bi-qadarin) yang berarti "dengan suatu ukuran" tersusun dari huruf bi yang berarti "dengan" dan qadar yang berarti "ukuran", dengan akhiran -in untuk benda tak tentu, dan akarnya ق-د-ر. Susunan bi-qadarin muncul lima kali di lima surah, yaitu 15:21, 23:18, 42:27, 43:11, dan 54:49. Di empat dari lima ayat itu kata kerja di dekatnya berarti menurunkan: (وَمَا نُنَزِّلُهُ إِلَّا بِقَدَرٍ مَعْلُومٍ, wa-maa nunazziluhu illaa bi-qadarin ma'luumin) yang berarti "dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran tertentu" di 15:21, (وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً بِقَدَرٍ, wa-anzalnaa mina s-samaa'i maa'an bi-qadarin) di 23:18, (يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ, yunazzilu bi-qadarin maa yasyaa'u) yang berarti "Dia menurunkan dengan ukuran yang Dia kehendaki" di 42:27, dan nazzala di 43:11. Di 54:49, (خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ, khalaqnaahu bi-qadarin) yang berarti "Kami menciptakannya dengan ukuran", kata kerjanya menciptakan. Terjemahan memakai "ukuran" atau "kadar" untuk qadar, sesuai padanan yang dipakai untuk akar ini.
Kata (فَأَنْشَرْنَا, fa-anasyarnaa) yang berarti "maka Kami menghidupkan" tersusun dari fa yang berarti "maka", kata kerja anasyara dari akar ن-ش-ر, dan akhiran -naa yang berarti "Kami". Bentuk persis anasyarnaa hanya muncul di 43:11. Kata dari akar dan pola yang sama dipakai di tiga ayat lain, yaitu 21:21, 44:35, dan 80:22. Di dua di antaranya yang dikenai kata itu manusia: (ثُمَّ إِذَا شَاءَ أَنْشَرَهُ, tsumma idzaa syaa'a ansyarahu) di 80:22 berarti "kemudian apabila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya", dan (وَمَا نَحْنُ بِمُنْشَرِينَ, wa-maa nahnu bi-munsyariina) di 44:35 berarti "dan kita tidak akan dibangkitkan". Di 43:11 kata itu dikenakan pada tanah. Ayat 50:11 memakai kata kerja lain untuk objek yang sama, (وَأَحْيَيْنَا بِهِ بَلْدَةً مَيْتًا, wa-ahyaynaa bihi baldatan maytan) yang berarti "dan Kami hidupkan dengannya negeri yang mati".
Frasa (بَلْدَةً مَيْتًا, baldatan maytan) yang berarti "negeri yang mati" muncul tiga kali di tiga surah, yaitu 25:49, 43:11, dan 50:11. Kata baldah berakar ب-ل-د dan maytan berakar م-و-ت. Dengan bentuk lain, (بَلَدٍ مَيِّتٍ, baladin mayyitin), pengertian yang sama ada di dua surah, yaitu 7:57 dan 35:9. Dari lima ayat yang memuat negeri yang mati, yaitu 7:57, 25:49, 35:9, 43:11, dan 50:11, empat menutup kalimatnya dengan (كَذَٰلِكَ, ka-dzaalika) yang berarti "demikianlah", lalu menyebut keluarnya manusia atau orang mati: 7:57, 35:9, 43:11, dan 50:11. Ayat 25:49 tidak memakainya. Ayat 30:19 memakai kata yang sama dengan awalan wa dalam kalimat tentang bumi yang dihidupkan, tanpa kata negeri.
Kata (تُخْرَجُونَ, tukhrajuuna) yang berarti "kalian dikeluarkan" berakar خ-ر-ج, berbentuk pasif, dan menyebut penerima tanpa pelaku. Bentuk persis ini muncul tiga kali di tiga surah, yaitu 7:25, 30:19, dan 43:11. Di 7:25, (وَمِنْهَا تُخْرَجُونَ, wa-minhaa tukhrajuuna) yang berarti "dan darinya kalian dikeluarkan", sumber keluarnya disebut lewat minhaa, sedangkan di 43:11 dan 30:19 tidak. Susunan (كَذَٰلِكَ تُخْرَجُونَ, ka-dzaalika tukhrajuuna) yang berarti "demikianlah kalian dikeluarkan" muncul dua kali, yaitu di 30:19 dan 43:11. Terjemahan 43:11 mengikuti 30:19 dan tidak menambahkan "akan".
Tafsiran
Ayat ini menyambung dua butir ke dalam satu kalimat: air yang diturunkan, lalu negeri yang dihidupkan, lalu kalimat penutup yang beralih kepada manusia. Kalimat itu tidak berjalan sebagai daftar saja, sebab kata demikianlah di akhir menjadikan dua butir pertama sebagai dasar perbandingan bagi butir ketiga. Peristiwa di tanah dijadikan ukuran bagi peristiwa pada kalian.
Ayat ini berbeda dari 43:10 dan 43:12 karena memuat sesuatu yang menimpa kalian, yaitu dikeluarkan, sedangkan dua ayat lain memuat pemberian yang tersedia. Ayat 43:10 menyebut bumi dan jalan yang dijadikan, dan 43:12 menyebut kapal dan hewan ternak yang dijadikan. Di tengah daftar pemberian itu 43:11 menaruh peristiwa pada kalian yang disamakan dengan peristiwa pada tanah. Ayat 43:14 kemudian menyebut kembali kepada Tuhan, jadi 43:11 dan 43:14 dapat dibaca membingkai daftar ini dengan dua penyebutan tentang yang menimpa manusia.
Kalimat ini berpindah dari orang ketiga ke orang pertama jamak di tengahnya: nazzala berpelaku Dia, lalu fa-anasyarnaa berpelaku Kami. Peralihan yang sama ada di 25:48, (وَهُوَ الَّذِي أَرْسَلَ الرِّيَاحَ, wa-huwa lladzii arsala r-riyaaha) yang berarti "dan Dialah yang mengirim angin", disusul (وَأَنْزَلْنَا, wa-anzalnaa) yang berarti "dan Kami turunkan", dan di 35:9, (وَاللَّهُ الَّذِي أَرْسَلَ الرِّيَاحَ, wa-llaahu lladzii arsala r-riyaaha) yang berarti "dan Allahlah yang mengirim angin", disusul kata Kami dalam kalimat yang sama. Karena 35:9 menyebut nama Allah sebelum Kami, kata Kami di pola ini dapat dibaca sebagai suara pihak yang sama.
Ayat 43:11 tidak menyebut dari mana kalian dikeluarkan. Sumber itu tertulis di 7:25, tempat keluarnya disebut darinya, dan kata ganti itu kembali kepada bumi yang disebut di 7:24. Di 43:11 perbandingan berdiri tanpa tempat, dan kalimatnya berhenti pada kata kerja pasif itu.
Renungan dan Hikmah
- Ayat 43:11 menyebut air diturunkan dengan ukuran, dan 42:27 menaruh kata yang sama dalam kalimat tentang rezeki: seandainya Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya, mereka akan melampaui batas di bumi, tetapi Dia menurunkan dengan ukuran yang Dia kehendaki. Ayat 42:27 membicarakan rezeki secara umum dan 43:11 air, jadi keduanya tidak disamakan. Hujan diterima menurut ukurannya. Ukuran apa yang pembaca terima dengan lapang seperti menerima hujan, dan ukuran apa yang pembaca tolak?
- Negeri yang mati di 43:11 adalah tanah yang kemudian hidup. Tanah itu disebut mati lebih dulu, lalu disebut hidup sesudah air datang dengan ukuran. Di 30:19 kalimat yang sama menyebut penghidupan bumi setelah matinya. Pembaca yang pernah menganggap sebuah bagian hidupnya sudah mati, entah pekerjaan, hubungan, atau kebiasaan, dapat memperhatikan bahwa kata mati pada ayat ini dipakai untuk sesuatu yang kemudian dihidupkan oleh air. Bagian mana dalam hidup pembaca yang disebut mati dan tidak lagi disiram?
- Dalam satu kalimat 43:11 berpindah dari pihak ketiga ke pihak pertama: Dia menurunkan air, lalu Kami menghidupkan negeri. Di 35:9 peralihan yang sama terjadi sesudah nama Allah disebut, yaitu Allahlah yang mengirim angin, lalu Kami arahkan awan itu. Peralihan itu terjadi tanpa jeda, dan pembaca tidak diberi tanda bahwa pembicara berganti. Pembaca yang terbiasa menganggap yang dibicarakan dan yang berbicara sebagai dua pihak dapat bertanya, pada kalimat mana pembaca mendapati Dia yang tadi dibicarakan sekarang berbicara kepadanya?
- Kata demikianlah di akhir 43:11 memperlakukan tanah yang bisa dilihat sebagai ukuran bagi hal yang belum terlihat. Di 41:39 kalimat yang searah menyebut bahwa Dia yang menghidupkan bumi benar-benar menghidupkan yang mati, dan di 7:57 bahwa begitulah Kami mengeluarkan orang mati. Ketiga ayat itu memakai pengamatan sebagai jembatan. Pembaca dapat bertanya, apa dalam pengalaman pembaca yang diterima sebagai bukti bagi hal yang belum terlihat, dan sejauh mana bukti itu menahan beban yang diletakkan di atasnya?
- Kata kerja terakhir 43:11 berbentuk pasif: kalian dikeluarkan. Di awal kalimat pelakunya Dia dan Kami, dan di ujung pembaca berada di kedudukan penerima. Orang yang terbiasa menyusun hidup sebagai rangkaian keputusan sendiri dapat memperhatikan bahwa kalimat yang membicarakan akhir ini tidak menaruh pembaca sebagai pelaku. Apa yang berubah dalam cara pembaca merencanakan sesuatu bila pembaca mengingat bahwa di kata kerja terakhir ayat ini pelakunya bukan pembaca?
- Di 15:22 air diturunkan dari langit lalu diberikan untuk diminum, dan ayat itu menutup dengan pernyataan bahwa kalian bukanlah penyimpannya. Ayat 43:11 menyebut air itu datang dengan ukuran dan berhenti pada penghidupan negeri, tanpa menyebut siapa yang menyimpannya. Ayat 15:22 membicarakan minum dan penyimpanan, sedangkan 43:11 penghidupan negeri, jadi keduanya tidak disamakan. Pembaca yang menyimpan persediaan air, uang, atau waktu dapat memperhatikan bahwa dalam kalimat 15:22 penyimpanan tidak dimiliki penerima. Apa yang pembaca simpan seakan-akan pembaca sendiri yang mengisi perbendaharaannya?