لِتَسْتَوُوا عَلَىٰ ظُهُورِهِ ثُمَّ تَذْكُرُوا نِعْمَةَ رَبِّكُمْ إِذَا اسْتَوَيْتُمْ عَلَيْهِ وَتَقُولُوا سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَٰذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ
agar kalian duduk tegak di atas punggungnya, kemudian kalian mengingat nikmat Tuhan kalian apabila kalian telah duduk tegak di atasnya, dan kalian berkata, “Mahasuci Dia yang menundukkan ini bagi kami, padahal kami tidak mampu menguasainya,
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- لِتَسْتَوُوا عَلَىٰ ظُهُورِهِli-tastawuu 'alaa zhuhuurihiagar kalian duduk tegak di atas punggungnya
- ثُمَّ تَذْكُرُوا نِعْمَةَ رَبِّكُمْ إِذَا اسْتَوَيْتُمْ عَلَيْهِtsumma tadzkuruu ni'mata rabbikum idzaa stawaytum 'alayhikemudian kalian mengingat nikmat Tuhan kalian apabila kalian telah duduk tegak di atasnya
- وَتَقُولُوا سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَٰذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَwa-taquuluu subhaana lladzii sakhkhara lanaa haadzaa wa-maa kunnaa lahu muqriniinadan kalian berkata, Mahasuci Dia yang menundukkan ini bagi kami, padahal kami tidak mampu menguasainya
Terjemahan per kata (20 kata)
- لِتَسْتَوُواli-tastawuuagar kalian duduk
- عَلَىٰ'alaaatas
- ظُهُورِهِzhuhuurihipunggungnya
- ثُمَّtsummakemudian
- تَذْكُرُواtadzkuruukalian menyebut
- نِعْمَةَni'matanikmat
- رَبِّكُمْrabbikumTuhan kalian
- إِذَاidzaaapabila
- اسْتَوَيْتُمْstawaytumkalian berada
- عَلَيْهِ'alayhiatasnya
- وَتَقُولُواwa-taquuluudan kalian berkata
- سُبْحَانَsubhaanaMahasuci
- الَّذِيlladziiyang
- سَخَّرَsakhkharamenundukkan
- لَنَاlanaabagi kami
- هَٰذَاhaadzaaini
- وَمَاwa-maadan tidaklah
- كُنَّاkunnaakami adalah
- لَهُlahubaginya
- مُقْرِنِينَmuqriniinayang menguasai
Inti bacaan
Bentuk (مُقْرِنِينَ, muqriniina) muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 43:13.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (لِتَسْتَوُوا, li-tastawuu) yang berarti "agar kalian duduk tegak". Huruf (لِ, li-) yang berarti "agar" menyambungnya ke 43:12, tempat kapal dan hewan ternak disebut sebagai (مَا تَرْكَبُونَ, maa tarkabuuna) yang berarti "apa yang kalian tunggangi". Kata kerja tastawuu berakar س-و-ي, dan bentuk persisnya muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 43:13. Kata kerja yang sama dengan kata depan (عَلَىٰ, 'alaa) yang berarti "di atas" dipakai untuk benda yang menetap di atas sesuatu pada empat ayat di luar ayat-ayat Arasy, yaitu 11:44, 23:28, 43:13, dan 48:29. Di 11:44, (وَاسْتَوَتْ عَلَى الْجُودِيِّ, wa-stawat 'alaa l-juudiyyi) berarti "dan berlabuh di atas Judi", dan di 48:29, (فَاسْتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِ, fa-stawaa 'alaa suuqihi) berarti "lalu tegak sempurna di atas batangnya". Terjemahan 43:13 memakai "duduk tegak". Kata "duduk" memerinci cara penunggang menetap, sedangkan kata Arabnya sendiri menyatakan menetap tegak di atas sesuatu.
Kata (ظُهُورِهِ, zhuhuurihi) yang berarti "punggungnya" berbentuk jamak, sedangkan kata ganti (هِ, -hi) yang berarti "-nya" berbentuk tunggal. Kata ganti tunggal itu menunjuk (مَا, maa) pada (مَا تَرْكَبُونَ, maa tarkabuuna) di 43:12, yang meliputi kapal dan hewan ternak yang disebut sebelumnya. Bentuk jamak zhuhuur dipakai untuk punggung hewan ternak di 6:138, (حُرِّمَتْ ظُهُورُهَا, hurrimat zhuhuuruhaa) yang berarti "diharamkan punggungnya", dan di 6:146, (ظُهُورُهُمَا, zhuhuuruhumaa) yang berarti "punggung keduanya". Ayat 43:13 tidak menyebut apakah punggung itu milik kapal, ternak, atau keduanya, sehingga terjemahan menulis "punggungnya" tanpa menambah nama benda.
Kata kerja (تَذْكُرُوا, tadzkuruu) yang berarti "kalian mengingat" muncul satu kali dalam bentuk ini, dan objeknya (نِعْمَةَ رَبِّكُمْ, ni'mata rabbikum) yang berarti "nikmat Tuhan kalian" juga hanya di 43:13. Perintah yang berobjek nikmat di ayat lain memakai nama Allah, yaitu (اذْكُرُوا نِعْمَةَ, dzkuruu ni'mata) yang berarti "ingatlah nikmat", dan muncul empat kali di tiga surah dengan ejaan ini, yaitu 5:7, 5:20, 14:6, dan 33:9. Frasa (بِنِعْمَةِ رَبِّكَ, bi-ni'mati rabbika) yang berarti "dengan nikmat Tuhanmu" muncul dua kali dengan ejaan ini, yaitu di 68:2 dan 93:11. Di 93:11, (وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ, wa-ammaa bi-ni'mati rabbika fa-haddits) berarti "dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka kisahkanlah". Nikmat Tuhan yang sama disebut bersama dua kegiatan di ayat ini, yaitu mengingat dan berkata, sedangkan di 93:11 disebut bersama kegiatan menceritakan.
Kata kerja (اسْتَوَيْتُمْ, stawaytum) yang berarti "kalian telah duduk tegak" berbentuk lampau dan didahului (إِذَا, idzaa) yang berarti "apabila". Bentuk lampau orang kedua dari kata kerja ini muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu (اسْتَوَيْتَ, stawayta) di 23:28 dan stawaytum di 43:13. Di 23:28, (فَإِذَا اسْتَوَيْتَ أَنْتَ وَمَنْ مَعَكَ, fa-idzaa stawayta anta wa-man ma'aka) berarti "maka apabila engkau dan orang yang bersamamu telah menetap", dan sesudahnya langsung datang ucapan (فَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي نَجَّانَا, fa-quli l-hamdu li-llaahi lladzii najjaanaa) yang berarti "maka katakanlah, segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kami". Kedua ayat itu menaruh ucapan tepat sesudah penetapan di atas sesuatu.
Ucapan di 43:13 dibuka dengan (سُبْحَانَ الَّذِي, subhaana lladzii) yang berarti "Mahasuci Dia yang". Rangkaian ini muncul empat kali di tiga surah, yaitu 17:1, 36:36, 36:83, dan 43:13. Di tiga ayat pertama, rangkaian itu adalah tutur ayat tentang perbuatan Allah, yaitu memperjalankan hamba-Nya, menciptakan segala pasangan, dan memegang kekuasaan atas segala sesuatu. Di 43:13 rangkaian itu menjadi kalimat yang diucapkan para penunggang. Kata kerja (سَخَّرَ, sakhkhara) yang berarti "menundukkan" disusul (لَنَا, lanaa) yang berarti "bagi kami". Di ayat lain kata kerja ini disusul "bagi kalian": (سَخَّرَ لَكُمُ, sakhkhara lakumu) muncul dalam empat ayat di tiga surah, yaitu 14:32, 14:33, 16:12, dan 45:12, serta (سَخَّرَ لَكُمْ, sakhkhara lakum) tiga kali di tiga surah, yaitu 22:65, 31:20, dan 45:13. Kapal termasuk yang ditundukkan di 14:32, (وَسَخَّرَ لَكُمُ الْفُلْكَ, wa-sakhkhara lakumu l-fulka) yang berarti "dan Dia menundukkan bagi kalian kapal", dan unta-unta kurban yang disebut di 22:36, dalam 22:37, (سَخَّرَهَا لَكُمْ, sakhkharahaa lakum) yang berarti "Dia menundukkannya untuk kalian". Kapal dan hewan ternak adalah dua benda yang disebut 43:12. Bentuk (سَخَّرَ لَنَا, sakhkhara lanaa) hanya muncul di 43:13. Kata (هَٰذَا, haadzaa) yang berarti "ini" menunjuk sesuatu yang dekat tanpa menyebut namanya, dan terjemahan tidak mengisinya dengan nama benda.
Kata terakhir (مُقْرِنِينَ, muqriniina) muncul satu kali, di 43:13, dan berarti "yang mampu menguasai" dalam kalimat (وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ, wa-maa kunnaa lahu muqriniina) yang berarti "padahal kami tidak mampu menguasainya". Akar ق-ر-ن di ayat lain menyebut dua hal yang disandingkan atau diikat bersama. Contohnya (قَرِينٌ, qariinun) di 43:36 yang berarti "teman" bagi orang yang berpaling dari peringatan Ar-Rahman, (مُقَرَّنِينَ, muqarraniina) di 14:49 yang berarti "diikat berpasangan", dan (مُقْتَرِنِينَ, muqtariniina) di 43:53 yang berarti "mengiringinya". Bentuk muqriniina tidak punya padanan di ayat lain, sehingga "mampu menguasai" adalah bacaan atas kalimat ini sendiri: sesuatu yang telah ditundukkan bagi kami adalah sesuatu yang tidak kami sanggup menguasainya dengan kekuatan sendiri. Ayat ini tidak menerangkan lebih jauh bagaimana kemampuan itu dibayangkan.
Tafsiran
Ayat ini menyusun tiga tindakan dengan bentuk yang sama, yaitu duduk tegak, mengingat nikmat, dan berkata. Kata kerja kedua dan ketiga disambung dengan "kemudian" dan "dan" pada kata kerja pertama yang dibuka (لِ, li-) "agar", sehingga mengingat dan berkata terbaca ikut menjadi tujuan dari apa yang dijadikan bagi manusia di 43:12, di samping menunggangi. Kata (ثُمَّ, tsumma) yang berarti "kemudian" mengurutkannya: ingatan datang sesudah penunggang menetap, dan ucapan datang sesudah ingatan.
Ayat 43:10, 43:11, dan 43:12 masing-masing menyebut satu perbuatan dengan kata (الَّذِي, alladzii) yang berarti "yang", yaitu menjadikan bumi sebagai hamparan, menurunkan air, dan menciptakan semua pasangan. Ucapan di 43:13 memakai kata itu lagi untuk perbuatan yang berbeda dari ketiganya, yaitu menundukkan. Dengan begitu ayat ini memberi penunggang kalimat yang memakai kata pembuka yang sama dengan ayat-ayat sebelumnya. Perbuatan yang di 43:12 disebut sebagai penjadian, yaitu (وَجَعَلَ لَكُمْ, wa-ja'ala lakum) yang berarti "dan Dia menjadikan bagi kalian", di sini diucapkan dari sisi orang yang mengalaminya.
Ayat 43:9 mencatat bahwa orang-orang yang ditanya siapa yang menciptakan langit dan bumi (لَيَقُولُنَّ, la-yaquulunna) yang berarti "pastilah mereka akan menjawab" dengan menyebut Sang Digdaya, Sang Berilmu. Jawaban itu lahir dari pertanyaan. Ucapan di 43:13 muncul dalam keadaan lain: tidak ada penanya, ada benda yang sedang dinaiki, dan penuturnya memakai kata "kami". Dua ayat itu sama-sama memuat pengakuan tentang siapa yang berbuat.
Ayat ini juga mempertemukan pujian dengan pengakuan tidak mampu dalam satu kalimat. Pola serupa ada di 7:43, tempat (الَّذِي هَدَانَا, lladzii hadaanaa) yang berarti "yang telah menunjuki kami" disusul (وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ, wa-maa kunnaa li-nahtadiya) yang berarti "dan kami tidak akan mendapat petunjuk". Ayat 7:43 diucapkan di antara sungai-sungai yang mengalir dan seruan tentang taman, sedangkan 43:13 diucapkan di atas tunggangan, jadi suasananya tidak sama. Kesamaannya terletak pada susunan: sesuatu telah diberikan kepada kami, dan kami tidak akan mencapainya sendiri.
Isi ucapan di 43:13 terdiri dari pujian, pernyataan penundukan, dan pengakuan tidak mampu. Tidak ada permintaan di dalamnya, dan tanda petik yang dibuka di sini baru ditutup di 43:14.
Renungan dan Hikmah
- Ayat 43:13 menyusun tiga hal dengan urutan yang jelas: duduk tegak lebih dulu, lalu mengingat nikmat Tuhan, lalu berkata. Kata "kemudian" menaruh ingatan itu pada saat penunggang sudah menetap dan kendaraan tidak lagi menjadi pekerjaan. Ayat ini menaruh ingatan itu sesudah tempat duduk didapat. Dengan susunan itu, saat nyaman yang biasanya lewat tanpa dicatat menjadi saat yang ditandai oleh ayat. Pembaca dapat bertanya, pada duduk yang paling nyaman dalam sehari, apa yang biasanya muncul di pikirannya lebih dulu, dan apakah Tuhan pernah ada di antara pikiran itu?
- Orang yang duduk tegak di atas punggung tunggangan diberi kalimat yang menyatakan bahwa penunggang tidak mampu menguasainya. Dari tempat duduk itu kendali dapat tampak berada di tangan penunggang, tetapi kalimat di ayat ini menyebut Dia yang menundukkannya bagi mereka. Di 7:43, orang-orang yang dikaruniai taman mengucapkan pengakuan serupa tentang petunjuk, bahwa mereka tidak akan mendapatkannya sekiranya Allah tidak menunjuki mereka. Dua ayat itu berbeda tempat dan suasana, tetapi keduanya memasang pengakuan tidak mampu di samping sesuatu yang sedang dimiliki. Pembaca dapat memperhatikan benda apa yang paling yakin dikendalikannya, lalu bertanya apakah kalimat bahwa dirinya tidak sanggup menundukkannya sendiri pernah terlintas di sana.
- Kata "ini" dalam ucapan itu tidak menyebut jenis kendaraan. Ayat 43:12 menyebut kapal dan hewan ternak, sedangkan ucapan di 43:13 menunjuk apa yang sedang dinaiki tanpa menamainya. Karena nama bendanya tidak dikunci, kalimat itu dapat dibawa pembaca ke kendaraan apa pun yang sedang dinaikinya, dan di tempat itu penundukannya tetap disebut perbuatan Dia, tidak disebut hasil kecakapan penumpang. Ayat tidak menyebut kendaraan apa pun selain yang tertulis di 43:12, dan pembaca tidak perlu mencari kendaraan yang lebih mutakhir di dalamnya. Perjalanan paling biasa dalam sepekan dapat menjadi ujian kecil: apakah Dia yang menundukkannya pernah disebut dalam satu kalimat, sebelum tujuan perjalanan itu disebut?
- Ayat 43:13 menyebut nikmat dalam bentuk tunggal, nikmat Tuhan kalian, padahal 16:18 menyatakan bahwa jika kalian menghitung nikmat Allah, kalian tidak akan mampu menghitungnya. Satu kata tunggal di 43:13 dengan demikian dapat memuat sesuatu yang tidak selesai dihitung. Ayat tidak memberi daftar, dan ingatan yang diminta terikat pada nikmat yang sedang ada di bawah pembaca pada saat ia duduk. Ukuran ingatan itu dibatasi oleh tempat duduknya, sehingga pembaca tidak perlu menunggu daftar yang lengkap sebelum mengingat. Orang dapat bertanya, jika satu nikmat saja boleh dipilih untuk diingat pada duduk berikutnya, nikmat apa yang paling sering terlewat tanpa disebut?
- Kalimat yang disebut ayat ini memakai kata "kami" dan "bagi kami", walaupun seorang penunggang dapat duduk sendirian di atas tunggangannya. Ayat tidak mengubah kata ganti itu menjadi "aku" untuk yang sendirian. Dengan itu, penundukan yang dipuji dilekatkan pada kelompok penunggang yang diwakili ucapan itu, dan Dia yang menundukkan disebut sebagai yang menundukkan bagi kelompok tersebut. Orang yang membaca ayat ini sendirian di atas kendaraannya seolah diajak menyebut orang-orang lain yang ikut berada di bawah penundukan yang sama. Pembaca dapat bertanya siapa saja yang tercakup dalam kata "kami" ketika mengucapkannya, dan apakah daftar itu pernah dipikirkan sampai selesai?
- Ayat 43:9 mencatat bahwa orang-orang yang ditanya siapa yang menciptakan langit dan bumi pasti menjawab dengan nama yang menunjuk Sang Digdaya, Sang Berilmu. Pengetahuan semacam itu sudah tersedia pada orang yang menjawab. Ayat 43:13 memuat hal lain, yaitu kalimat yang diucapkan bersamaan dengan memakai nikmat itu, tanpa ada yang bertanya. Perbedaan keduanya terletak pada tempat kalimat diucapkan: yang satu muncul ketika orang ditanya, yang lain muncul ketika orang itu sedang duduk di atas sesuatu yang ditundukkan baginya. Pengetahuan yang sama tentang Tuhan dapat hadir di kedua tempat itu, dan ayat 43:13 menaruhnya pada saat orang sedang memakai nikmat itu. Pembaca dapat mengamati apakah pengetahuan tentang siapa yang menciptakan pernah diucapkannya tanpa dipancing pertanyaan siapa pun.