لِتَسْتَوُوا عَلَىٰ ظُهُورِهِ ثُمَّ تَذْكُرُوا نِعْمَةَ رَبِّكُمْ إِذَا اسْتَوَيْتُمْ عَلَيْهِ وَتَقُولُوا سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَٰذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ
agar kalian duduk tegak di atas punggungnya, kemudian kalian mengingat nikmat Tuhan kalian apabila kalian telah duduk tegak di atasnya, dan kalian berkata, “Mahasuci Dia yang menundukkan ini bagi kami, padahal kami tidak mampu menguasainya,
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- لِتَسْتَوُوا عَلَىٰ ظُهُورِهِli-tastawuu 'alaa zhuhuurihiagar kalian duduk tegak di atas punggungnya
- ثُمَّ تَذْكُرُوا نِعْمَةَ رَبِّكُمْ إِذَا اسْتَوَيْتُمْ عَلَيْهِtsumma tadzkuruu ni'mata rabbikum idzaa stawaytum 'alayhikemudian kalian mengingat nikmat Tuhan kalian apabila kalian telah duduk tegak di atasnya
- وَتَقُولُوا سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَٰذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَwa-taquuluu subhaana lladzii sakhkhara lanaa haadzaa wa-maa kunnaa lahu muqriniinadan kalian berkata, Mahasuci Dia yang menundukkan ini bagi kami, padahal kami tidak mampu menguasainya
Terjemahan per kata (20 kata)
- لِتَسْتَوُواli-tastawuuagar kalian duduk
- عَلَىٰ'alaaatas
- ظُهُورِهِzhuhuurihipunggungnya
- ثُمَّtsummakemudian
- تَذْكُرُواtadzkuruukalian menyebut
- نِعْمَةَni'matanikmat
- رَبِّكُمْrabbikumTuhan kalian
- إِذَاidzaaapabila
- اسْتَوَيْتُمْstawaytumkalian berada
- عَلَيْهِ'alayhiatasnya
- وَتَقُولُواwa-taquuluudan kalian berkata
- سُبْحَانَsubhaanaMahasuci
- الَّذِيlladziiyang
- سَخَّرَsakhkharamenundukkan
- لَنَاlanaabagi kami
- هَٰذَاhaadzaaini
- وَمَاwa-maadan tidaklah
- كُنَّاkunnaakami adalah
- لَهُlahubaginya
- مُقْرِنِينَmuqriniinayang menguasai
Inti bacaan
Doa yang diajarkan saat menaiki kendaraan: 'Mahasuci Dia yang menundukkan ini bagi kami, padahal kami tidak mampu menguasainya', kesadaran spiritual yang disisipkan dalam aktivitas paling praktis sekalipun, bukan dipisahkan dari kehidupan sehari-hari.
Penjelasan pilihan kata
'Haadzaa' (dekat) benar diterjemahkan 'ini'. Kutipan ganda dibuka di sini untuk doa yang diajarkan: menyambung ke 43:14.
Tafsiran
Ayat ini mengajarkan doa singkat saat menaiki kendaraan: pengakuan bahwa penundukan alam bagi manusia adalah anugerah, bukan hasil kekuatan manusia sendiri.
Renungan dan Hikmah
- Allah mengajarkan kalimat pendek untuk saat duduk di punggung tunggangan. Bukan di tempat ibadah. Di atas kendaraan.
- Syaratnya disebut lebih dahulu: duduk tegak. Sesudah nyaman, barulah mengingat. Kenyamanan itu justru jadi pemicunya.
- Pengakuan tak mampu diletakkan Allah di dalam doanya sendiri. Kami tidak sanggup menguasai ini. Yang menunggangi justru mengaku tak berdaya.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
(akar s-w-y, zh-h-r, dz-k-r, n-'-m, r-b-b, q-w-l, s-b-h, s-kh-r, k-w-n, q-r-n): tastawuu alaa zhuhuurihi diterjemahkan 'duduk tegak di atas punggungnya' (akar s-w-y + akar zh-h-r); tadhkuruu ni'mah diterjemahkan 'mengingat nikmat' (akar dz-k-r + akar n-'-m); subhaana alladhii sakhkhara diterjemahkan 'Maha Suci Dia yang menundukkan' (akar s-b-h + akar s-kh-r); muqriniin diterjemahkan 'yang menguasai (menyanggupi)' (akar q-r-n). Selaras.