وَإِنَّا إِلَىٰ رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ

dan sesungguhnya kami pasti kembali kepada Tuhan kami.”

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَإِنَّا إِلَىٰ رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَwa-innaa ilaa rabbinaa la-munqalibuunadan sesungguhnya kami pasti kembali kepada Tuhan kami

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. وَإِنَّاwa-innaadan sesungguhnya kami
  2. إِلَىٰilaakepada
  3. رَبِّنَاrabbinaaTuhan kami
  4. لَمُنْقَلِبُونَla-munqalibuunabenar-benar akan kembali

Inti bacaan

Kata benda pelaku (مُنْقَلِبُونَ, munqalibuuna) muncul tiga kali di Al-Qur'an, yaitu di 7:125, 26:50, dan 43:14.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini terdiri dari satu kalimat pendek yang menyambung ke ucapan di 43:13. Kata (وَإِنَّا, wa-innaa) yang berarti "dan sesungguhnya kami" tersusun dari (وَ, wa) yang berarti "dan", (إِنَّ, inna) yang berarti "sesungguhnya", dan akhiran (نَا, -naa) yang berarti "kami". Akhiran -naa meneruskan "kami" yang sudah dipakai di 43:13 pada (لَنَا, lanaa) dan (كُنَّا, kunnaa). Ayat ini tidak memuat kata kerja berkata, sehingga kalimatnya terbaca sebagai lanjutan dari (وَتَقُولُوا, wa-taquuluu) yang berarti "dan kalian berkata" di ayat sebelumnya. Tanda petik yang dibuka di 43:13 ditutup di ujung ayat ini.

Rangkaian (إِنَّا إِلَىٰ رَبِّنَا, innaa ilaa rabbinaa) yang berarti "sesungguhnya kami kepada Tuhan kami" muncul empat kali di empat surah, yaitu 7:125, 26:50, 43:14, dan 68:32. Di 7:125, (قَالُوا إِنَّا إِلَىٰ رَبِّنَا مُنْقَلِبُونَ, qaaluu innaa ilaa rabbinaa munqalibuuna) berarti "mereka berkata, sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami", sesudah ancaman di 7:124, (لَأُقَطِّعَنَّ أَيْدِيَكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ مِنْ خِلَافٍ, la-uqaththi'anna aydiyakum wa-arjulakum min khilaafin) yang berarti "sungguh aku akan memotong tangan-tangan dan kaki-kaki kalian secara bersilangan". Di 26:50 ucapan yang sama didahului (قَالُوا لَا ضَيْرَ, qaaluu laa dhayra) yang berarti "mereka berkata, tidak ada mudarat". Di 68:32, (إِنَّا إِلَىٰ رَبِّنَا رَاغِبُونَ, innaa ilaa rabbinaa raaghibuuna) berarti "sesungguhnya kita mengharap kepada Tuhan kita", diucapkan oleh para pemilik kebun sesudah kebun mereka ditimpa bencana di 68:19 dan sesudah mereka mengaku zalim di 68:29 dan melampaui batas di 68:31. Di 43:14 tidak ada ancaman dan tidak ada kebun yang binasa; 43:13 berbicara tentang duduk tegak di atas sesuatu yang ditundukkan.

Kata (لَمُنْقَلِبُونَ, la-munqalibuuna) yang berarti "pasti kembali" tersusun dari (لَ, la-) yang berarti "pasti" dan (مُنْقَلِبُونَ, munqalibuuna) yang berarti "orang-orang yang kembali". Kata benda pelaku munqalibuuna muncul tiga kali di tiga surah, yaitu 7:125, 26:50, dan 43:14, dan hanya di 43:14 kata itu didahului la-. Karena itu terjemahan memakai "pasti" di sini dan memakai "akan kembali" di 7:125 dan 26:50. Kata kerja bentuk sekarang dari akar ق-ل-ب yang sama, seperti (يَنْقَلِبُ, yanqalibu), muncul antara lain di 2:143, 3:127, 26:227, dan 84:9. Keadaan orang yang kembali ditentukan oleh kata lain di ayat itu. Di 84:9, (وَيَنْقَلِبُ إِلَىٰ أَهْلِهِ مَسْرُورًا, wa-yanqalibu ilaa ahlihi masruuran) berarti "dan dia kembali kepada keluarganya dengan gembira", sedangkan di 3:127, (فَيَنْقَلِبُوا خَائِبِينَ, fa-yanqalibuu khaa'ibiina) berarti "sehingga mereka kembali dalam keadaan kecewa". Kata kerja bentuk lampaunya dipakai untuk pulang kepada keluarga di 12:62, (إِذَا انْقَلَبُوا إِلَىٰ أَهْلِهِمْ, idzaa inqalabuu ilaa ahlihim) yang berarti "apabila kembali kepada keluarga mereka". Ayat 43:14 menyebut tujuan kembali, yaitu Tuhan kami, dan tidak menyebut keadaan orang yang kembali.

Bentuk kata benda tempat (مُنْقَلَبٍ, munqalabin) di 26:227 dan (مُنْقَلَبًا, munqalaban) di 18:36 berarti "tempat kembali". Di 26:227, (أَيَّ مُنْقَلَبٍ يَنْقَلِبُونَ, ayya munqalabin yanqalibuuna) berarti "ke tempat mana mereka akan kembali", sebuah pertanyaan tentang tujuan yang belum diketahui orang-orang zalim. Di 18:36 tempat kembali itu berupa dugaan seseorang, (لَأَجِدَنَّ خَيْرًا مِنْهَا مُنْقَلَبًا, la-ajidanna khayran minhaa munqalaban) di ayat yang juga memuat (رُدِدْتُ إِلَىٰ رَبِّي, rudidtu ilaa rabbii) yang berarti "aku dikembalikan kepada Tuhanku". Ayat 43:14 menyebut tujuan itu tanpa bertanya dan tanpa menduga: tujuannya Tuhan kami, dan kepastiannya dipegang oleh la-.

Ayat 36:83 menutup (فَسُبْحَانَ الَّذِي, fa-subhaana lladzii) dengan (وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ, wa-ilayhi turja'uuna) yang berarti "dan kepada-Nya kalian dikembalikan". Kata kerjanya dikenai, yaitu "dikembalikan", tanpa menyebut siapa yang mengembalikan, sedangkan 43:14 memakai kata benda pelaku yang berarti orang yang kembali. Kedua ayat menaruh kembali kepada Allah sesudah ucapan Mahasuci Dia yang melakukan sesuatu, dengan sudut pandang yang berbeda: 36:83 menyapa "kalian", dan 43:14 berbicara sebagai "kami". Di 68:29 pun, (قَالُوا سُبْحَانَ رَبِّنَا, qaaluu subhaana rabbinaa) yang berarti "mereka berkata, Mahasuci Tuhan kami" mendahului 68:32.

Kata (رَبِّنَا, rabbinaa) yang berarti "Tuhan kami" berakar ر-ب-ب, akar yang sama dengan (رَبِّكُمْ, rabbikum) yang berarti "Tuhan kalian" di 43:13. Penunjuk pemiliknya berganti dari "kalian" menjadi "kami": di 43:13 kata itu masih bagian dari tutur ayat yang menyapa penunggang, dan di 43:14 kata itu berada dalam kalimat yang diucapkan penunggang sendiri. Terjemahan memakai "Tuhan" untuk kedua bentuk itu. Ayat 43:14 tidak memuat kata perintah dan tidak memuat permintaan; semua bagiannya pernyataan.

Tafsiran

Ayat ini menutup ucapan di atas tunggangan dengan arah akhir dan tanpa permintaan. Rangkaian dari 43:13 sampai 43:14 berisi pujian, pernyataan bahwa sesuatu telah ditundukkan bagi kami, pengakuan tidak mampu menguasainya, dan pernyataan kembali kepada Tuhan kami. Tidak satu pun bagian itu berbentuk permohonan, sehingga ucapan ini mencatat siapa yang menundukkan dan ke mana penuturnya akan kembali.

Kepastian kembali itu diucapkan dengan la- yang tidak dipakai di dua ayat lain yang memuat kata benda pelaku yang sama. Di 7:125 dan 26:50 ucapan serupa diucapkan di bawah ancaman, dan di 68:32 sesudah kebun binasa. Di sini kepastian itu diucapkan oleh orang yang sedang duduk tegak di atas sesuatu yang ditundukkan bagi mereka. Ayat tidak mengaitkan kenyamanan di 43:13 dengan kepastian di 43:14 melalui kata sambung selain (وَ, wa) yang berarti "dan", tetapi letaknya yang berurutan menaruh keduanya dalam satu napas.

Ayat 43:11 menutup tutur tentang air yang menghidupkan negeri yang mati dengan (كَذَٰلِكَ تُخْرَجُونَ, ka-dzaalika tukhrajuuna) yang berarti "demikianlah kalian dikeluarkan". Ayat 43:14 memakai kata yang berlawanan arah, yaitu kembali. Dapat dibaca bahwa surah ini, dalam empat ayat saja, menyebut arah keluar lalu arah pulang; pembacaan ini bertumpu pada letak kedua ayat dan tidak dinyatakan oleh teksnya.

Rangkaian dari 43:9 sampai 43:14 bergerak dari jawaban tentang Sang Digdaya, Sang Berilmu, ke perbuatan menjadikan, menurunkan, dan menciptakan, lalu ke ucapan penunggang yang berakhir pada Tuhan kami. Tempat tujuan perjalanan yang sedang dilakukan penunggang tidak disebut sama sekali di ayat ini. Ayat ini menyebut tujuan akhir saja.

Ayat 43:15 berganti pelaku dari "kami" menjadi "mereka": (وَجَعَلُوا لَهُ مِنْ عِبَادِهِ جُزْءًا, wa-ja'aluu lahu min 'ibaadihi juz'an) yang berarti "dan mereka menjadikan sebagian dari hamba-hamba-Nya sebagai bagian dari-Nya". Ucapan di 43:13 sampai 43:14 menempatkan penuturnya sebagai pihak yang kembali kepada Tuhan mereka, dan 43:15 menyebut pihak yang menaruh sebagian hamba pada kedudukan lain terhadap-Nya. Hubungan itu bersandar pada letaknya yang berdekatan.

Renungan dan Hikmah

  • Dalam tiga ayat lain, kalimat "sesungguhnya kami kepada Tuhan kami" diucapkan di bawah ancaman potong dan salib pada dua ayat, atau sesudah kebun binasa pada satu ayat. Di ayat ini kalimat itu diucapkan tanpa ancaman, dengan kata penegas, oleh orang yang duduk tegak di atas sesuatu yang ditundukkan bagi mereka. Ayat tidak menjelaskan mengapa susunan itu dipakai di sini, tetapi letaknya mengubah arti kepastian tersebut: kepastian itu tidak lahir dari keterpaksaan. Orang bisa membayangkan dirinya mengucapkan kalimat yang sama pada hari yang lapang, ketika tidak ada yang memaksa untuk mengingat ke mana semuanya berujung. Pembaca dapat bertanya, kapan terakhir kali Tuhan disebutnya sebagai tempat kembali pada hari yang tenang, dan tidak pada hari yang genting saja?
  • Ucapan dari 43:13 sampai 43:14 berisi pujian, pernyataan penundukan, pengakuan tidak mampu, dan pernyataan kembali. Tidak ada satu pun permintaan di dalamnya. Orang yang naik tunggangan diberi kalimat yang tidak menambah apa pun pada kebutuhannya, dan kalimat itu menyebut Dia yang menundukkan serta ke mana penuturnya akan pulang. Bagi pembaca, bagian ini membuka kemungkinan berbicara kepada Tuhan tanpa membawa daftar keinginan yang menunggu dikabulkan. Seperti apa percakapan dengan Tuhan bila semua permintaan dikeluarkan dari dalamnya?
  • Kendaraan membawa penumpang ke kota, ke rumah, atau ke tempat kerja, dan tempat-tempat itu tidak disebut sama sekali di 43:14. Ayat hanya menyebut tujuan akhir, yaitu Tuhan kami, dan tidak ada kendaraan yang mencapainya. Jarak antara tujuan perjalanan hari ini dan tujuan yang disebut ayat ini memberi pembaca ukuran yang sederhana: perjalanan yang sedang ditempuh adalah satu segmen dari sesuatu yang lebih panjang, dan ayat tidak merinci panjangnya. Tuhan yang nikmat-Nya diingat di 43:13 disebut sebagai ujung perjalanan itu di 43:14. Apa yang berubah pada sebuah perjalanan bila tujuan pertama disebut sebagai tempat singgah?
  • Di 43:13 kata "Tuhan kalian" masih bagian dari tutur ayat yang menyapa penunggang, dan di 43:14 kata "Tuhan kami" berada di mulut penunggang sendiri. Perpindahan itu kecil, tetapi menggambarkan jarak antara mendengar bahwa ada Tuhan atas orang lain dan menyebut-Nya sebagai Tuhan milik sendiri. Ayat tidak menambahkan nasihat apa pun untuk menempuh jarak itu, dan hanya menyusun dua kata ganti berurutan. Pembaca dapat memperhatikan pada kalimat doanya yang mana kata "kalian" atau "mereka" berganti menjadi "kami" atau "aku" ketika Tuhan disebut.
  • Kata kembali di ayat lain datang bersama keadaan: gembira kepada keluarga di 84:9, atau kecewa di 3:127. Ayat 43:14 menyebut tujuan, Tuhan kami, dan tidak menyebut keadaan ketika sampai di sana. Ruang yang dibiarkan kosong itu tidak diisi ayat dengan janji atau ancaman. Orang yang mengucapkan kalimat ini di atas tunggangan menyatakan kepastiannya tanpa menjanjikan perasaan apa pun kepada dirinya sendiri. Keadaan pulang kepada-Nya tetap menjadi urusan di luar ucapan. Pembaca dapat bertanya, bila tujuan sudah pasti dan keadaan saat tiba tidak disebutkan, bagian mana dari hidupnya yang masih dianggap sebagai bahan yang sedang disiapkan?
  • Ayat 43:14 berbicara sebagai pihak yang kembali kepada Tuhannya, dan ayat sesudahnya, 43:15, menyebut pihak yang menjadikan sebagian dari hamba-hamba-Nya sebagai bagian dari-Nya. Dua ayat itu bersebelahan tanpa kata penghubung selain "dan", dan letaknya menaruh pengakuan sebagai hamba di samping tuduhan yang menyangkut hamba. Teks tidak menyatakan hubungan sebab di antara keduanya. Pembaca yang menyelesaikan ucapan di atas tunggangan dengan kalimat "kami pasti kembali kepada Tuhan kami" langsung bertemu dengan ayat yang mengangkat soal kedudukan hamba terhadap Dia. Apa yang tersisa dari kalimat pertama jika kalimat kedua tidak pernah dipertimbangkan?