وَجَعَلُوا لَهُ مِنْ عِبَادِهِ جُزْءًا ۚ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَكَفُورٌ مُبِينٌ
Dan mereka menjadikan sebagian dari hamba-hamba-Nya sebagai bagian dari-Nya; sesungguhnya manusia benar-benar pengingkar yang nyata.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَجَعَلُوا لَهُ مِنْ عِبَادِهِ جُزْءًاwa-ja'aluu lahu min 'ibaadihi juz'andan mereka menjadikan sebagian dari hamba-hamba-Nya sebagai bagian dari-Nya
- إِنَّ الْإِنْسَانَ لَكَفُورٌ مُبِينٌinna l-insaana la-kafuurun mubiinunsesungguhnya manusia benar-benar pengingkar yang nyata
Terjemahan per kata (9 kata)
- وَجَعَلُواwa-ja'aluudan mereka menjadikan
- لَهُlahubaginya
- مِنْmindari
- عِبَادِهِ'ibaadihihamba-hamba-Nya
- جُزْءًاjuz'anbagian
- إِنَّinnasesungguhnya
- الْإِنْسَانَl-insaanamanusia
- لَكَفُورٌla-kafuurunbenar-benar sangat ingkar
- مُبِينٌmubiinunyang nyata
Inti bacaan
Kata (جُزْءًا, juz'an) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 2:260 dan 43:15.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (وَجَعَلُوا, wa-ja'aluu) yang berarti "dan mereka menjadikan". Kata kerja ja'aluu berakar ج-ع-ل dan menunjuk pelaku jamak orang ketiga, sehingga pembicaraan berpindah dari "kalian" dan "kami" di 43:10 sampai 43:14 ke "mereka". Kata ganti pada (لَهُ, lahu) yang berarti "bagi-Nya" ditulis dengan huruf awal besar karena menunjuk Tuhan yang disebut di 43:14, dan (عِبَادِهِ, 'ibaadihi) yang berarti "hamba-hamba-Nya" bergantung pada pemilik yang sama. Susunan (وَجَعَلُوا لِلَّهِ, wa-ja'aluu li-llaahi) muncul empat kali di tiga surah, yaitu 6:100, 6:136, 13:33, dan 14:30, dengan benda yang berbeda-beda di belakangnya. Di 6:100 benda itu adalah jin sebagai sekutu, di 13:33 sekutu-sekutu, dan di 14:30 tandingan-tandingan. Susunan (وَجَعَلُوا لَهُ, wa-ja'aluu lahu) hanya muncul di 43:15, dan benda di belakangnya adalah bagian yang diambil dari hamba.
Kata (مِنْ عِبَادِهِ, min 'ibaadihi) yang berarti "dari hamba-hamba-Nya" memuat kata 'ibaad, bentuk jamak dari kata yang berarti hamba. Ayat ini tidak menyebut hamba yang mana. Ayat 43:19 memakai kata yang sama untuk malaikat, (الْمَلَائِكَةَ الَّذِينَ هُمْ عِبَادُ الرَّحْمَٰنِ, l-malaa'ikata lladziina hum 'ibaadu r-rahmaani) yang berarti "malaikat, yang merupakan hamba-hamba Ar-Rahman itu". Karena 43:15 tidak mengulang penunjuk itu, terjemahan menulis "hamba-hamba-Nya" tanpa mengisinya dengan "malaikat". Dalam kalimat yang sama, yang dijadikan bagian tetap disebut hamba, dan kata itu tidak diganti.
Kata (جُزْءًا, juz'an) yang berarti "bagian" berakar ج-ز-ء, dan bentuk persis juz'an muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 2:260 dan 43:15. Bentuk (جُزْءٌ, juz'un) muncul satu kali, di 15:44. Di 2:260, (ثُمَّ اجْعَلْ عَلَىٰ كُلِّ جَبَلٍ مِنْهُنَّ جُزْءًا, tsumma j'al 'alaa kulli jabalin minhunna juz'an) berarti "kemudian letakkanlah di atas setiap gunung satu bagian dari tiap-tiap burung", jadi bagian itu potongan dari sesuatu yang utuh. Di 15:44, (جُزْءٌ مَقْسُومٌ, juz'un maqsuumun) berarti "bagian tertentu", yaitu bagian dari sebuah kelompok yang dibagi per pintu. Dua ayat lain itu memakai kata ini untuk potongan dari keseluruhan. Bacaan lain dapat dicoba pada lahu: "bagi-Nya", artinya jatah yang disisihkan untuk Allah, seperti di 6:136, (وَجَعَلُوا لِلَّهِ مِمَّا ذَرَأَ مِنَ الْحَرْثِ وَالْأَنْعَامِ نَصِيبًا, wa-ja'aluu li-llaahi mimmaa dzara'a mina l-hartsi wa-l-an'aami nashiiban) yang berarti "dan mereka menyediakan bagi Allah dari apa yang Dia ciptakan, yaitu tanaman dan hewan ternak, suatu bagian". Bacaan itu ditolak untuk 43:15 karena dua hal. Kata yang dipakai di 6:136 adalah (نَصِيبًا, nashiiban), bukan juz'an, dan benda yang disisihkan di sana adalah tanaman dan ternak, tidak hamba. Ayat sesudahnya, 43:16, juga langsung bertanya tentang mengambil anak-anak perempuan, sehingga "bagian dari-Nya" yang dipilih terjemahan lebih dekat dengan arah ayat itu.
Kata (إِنَّ الْإِنْسَانَ لَكَفُورٌ, inna l-insaana la-kafuurun) yang berarti "sesungguhnya manusia benar-benar sangat ingkar" muncul dua kali, yaitu di 22:66 dan 43:15. Kata (كَفُورٌ, kafuurun) berakar ك-ف-ر dan muncul empat kali di empat surah, yaitu 11:9, 22:66, 42:48, dan 43:15, dan di keempatnya menjadi sifat manusia. Di 17:67, (وَكَانَ الْإِنْسَانُ كَفُورًا, wa-kaana l-insaanu kafuuran) menyebut sifat yang sama dalam bentuk lain. Kata (الْإِنْسَانَ, l-insaana) tidak diikuti penunjuk kelompok mana pun di 43:15, dan "mereka" di awal ayat tidak diulang pada kalimat penilaian. Akar yang sama berobjek nikmat di 16:72, (وَبِنِعْمَتِ اللَّهِ هُمْ يَكْفُرُونَ, wa-bi-ni'mati llaahi hum yakfuruuna) yang berarti "dan terhadap nikmat Allah mereka kufur". Di 14:34, (كَفَّارٌ, kaffaarun) yang berarti "sangat kufur" menutup ayat yang membicarakan nikmat Allah yang tidak dapat dihitung. Akar ini karena itu sudah dipakai berpasangan dengan nikmat di ayat lain.
Kata (مُبِينٌ, mubiinun) yang berarti "yang nyata" menjadi keterangan bagi kafuur, dan terjemahan menulis "pengingkar yang nyata". Di 22:66 kafuurun yang sama tanpa mubiinun diterjemahkan "sangat kufur". Di 43:15 dua kata itu tampil berpasangan, sehingga terjemahan memakai kata benda "pengingkar" untuk menampung keterangan "yang nyata" di belakangnya.
Tafsiran
Ayat ini memindahkan pembicaraan dari ucapan para penunggang ke tuduhan tentang pihak lain. Di 43:10 sampai 43:14 kata ganti yang dipakai "kalian" dan "kami", dan di 43:15 kata ganti itu menjadi "mereka". Ayat ini terdiri dari dua bagian, yaitu pernyataan tentang perbuatan mereka dan penilaian tentang manusia. Penilaian itu menyebut manusia tanpa penunjuk kelompok, sehingga ayat bergerak dari pelaku tertentu ke jenis, tanpa menyatakan siapa pelaku tertentu itu.
Letaknya sesudah 43:13 sampai 43:14 menaruh dua hal berdekatan, yaitu ucapan penunggang yang mengingat nikmat dan menyebut Mahasuci Dia, serta tuduhan yang melekatkan bagian pada-Nya. Pernyataan tasbih yang mengikuti tuduhan serupa tercatat di tiga ayat lain: di 6:100 (سُبْحَانَهُ, subhaanahu) yang berarti "Mahasuci Dia" mengikuti pernyataan tentang anak laki-laki dan anak perempuan bagi-Nya, di 16:57 kata yang sama mengikuti (وَيَجْعَلُونَ لِلَّهِ الْبَنَاتِ, wa-yaj'aluuna li-llaahi l-banaati) yang berarti "dan mereka menetapkan bagi Allah anak-anak perempuan", dan di 39:4 kata yang sama mengikuti pernyataan tentang mengambil anak. Di 43:13 tasbih ada lebih dulu, di 43:15 tuduhan muncul, dan ayat ini sendiri tidak memuat tasbih.
Ayat ini menyatakan perbuatan dan penilaian tanpa alasan, dan alasannya datang sebagai pertanyaan di 43:16 sampai 43:18. Urutan itu membuat 43:15 berfungsi sebagai dakwaan yang diuji ayat berikutnya. Ayat 43:16 bertanya tentang mengambil anak-anak perempuan dan memilihkan anak-anak lelaki, 43:17 menggambarkan wajah seseorang yang menerima kabar, dan 43:18 menggambarkan orang yang dibesarkan dalam perhiasan. Ayat-ayat itu tidak menyebut kembali siapa yang dimaksud dengan "hamba-hamba-Nya" di 43:15. Ayat 43:19 menamai malaikat sebagai hamba Ar-Rahman, sehingga pembaca dapat menautkan keduanya, tetapi tautan itu bersandar pada kata yang sama dan tidak dinyatakan oleh 43:15.
Ayat 43:13 menyebut ingatan pada nikmat Tuhan, dan 43:15 menyebut manusia sebagai pengingkar yang nyata. Kedua ayat bertetangga, dan akar yang sama dengan kafuur sudah dipakai berobjek nikmat di 16:72. Hubungan itu menjadikan 43:15 terbaca sebagai lawan dari ucapan di 43:13 sampai 43:14, tanpa mengatakan bahwa pelaku di 43:15 adalah orang yang sama dengan penutur di 43:13.
Renungan dan Hikmah
- Dalam kalimat yang sama, mereka yang dijadikan bagian dari-Nya tetap disebut hamba-hamba-Nya. Ayat tidak mengganti kata itu, dan menamai kedudukan baru tidak menghapus kedudukan lama yang ditulis oleh ayat. Gelar yang diberikan manusia kepada orang lain dapat sangat tinggi, tetapi ayat ini tetap memanggil orang yang digelari itu dengan kata yang paling sederhana. Pembaca dapat menguji gelar-gelar di sekitarnya dengan satu pertanyaan: apakah orang yang diberi gelar itu, di mata ayat ini, masih hamba bagi Dia, dan apakah gelar itu sanggup bertahan di samping kata tersebut?
- Kalimat Mahasuci Dia di 43:13 dan tuduhan tentang bagian dari-Nya di 43:15 hanya dipisahkan satu ayat. Kalimat pertama diucapkan di atas tunggangan, dan kalimat kedua menyangkut sebutan manusia bagi sesama hamba. Ayat tidak menuduh pembacanya melakukan hal yang disebut kalimat kedua. Letaknya yang berdekatan menaruh keduanya di meja yang sama, sehingga pembaca dapat memeriksa apakah ucapan Mahasuci Dia yang dihafalnya sudah pernah dicocokkan dengan sebutan yang dipakainya untuk orang-orang tertentu. Bila kalimat itu sungguh dimaksudkan, apa saja sebutan yang tidak lagi cocok di sampingnya?
- Ayat dimulai dengan mereka yang menjadikan, lalu ditutup dengan manusia yang benar-benar sangat ingkar. Kata sandang pada kata manusia itu mengangkat penilaian dari pelaku tertentu ke jenis yang mencakup pembaca. Ayat tidak mengecualikan siapa pun dengan kata lain dalam kalimat yang sama, dan tidak menyatakan bahwa pembaca termasuk atau tidak termasuk di dalamnya. Kalimat yang menyebut manusia sebagai pengingkar yang nyata membuka kemungkinan bagi pembaca untuk memeriksa dirinya sendiri lebih dulu. Di sisi mana pembaca meletakkan dirinya ketika membaca kata manusia di ujung ayat ini?
- Ayat 43:13 menyebut nikmat Tuhan yang diingat saat duduk tegak, dan 43:15 menyebut manusia sebagai pengingkar yang nyata. Akar yang sama dengan pengingkar sudah dipakai di 16:72 berobjek nikmat Allah, sehingga dua ayat yang bertetangga ini terbaca sebagai dua sikap terhadap pemberi yang sama. Ayat tidak mengatakan bahwa orang yang sedang naik tunggangan adalah pengingkar, dan tidak menyatakan bahwa pelaku tuduhan di 43:15 tidak pernah mengingat nikmat. Pembaca dapat mengamati nikmat apa yang paling sering dipakai dengan lancar, dan apakah ingatan kepada Tuhan sudah pernah datang bersamanya sebelum ayat ini dibaca.
- Ayat 43:15 menyatakan tuduhan dan penilaian dalam satu napas, sedangkan alasannya baru datang sebagai pertanyaan di ayat-ayat sesudahnya. Urutan itu menaruh pembaca pada posisi yang tidak nyaman, karena pembaca sudah mendengar penilaian dan belum mendengar bukti. Ayat membiarkan jeda itu terbuka untuk satu ayat, sebelum 43:16 mulai bertanya. Pembaca dapat menimbang bagaimana tuduhan yang diterima atau disampaikannya biasa ditangani, dan apakah ia sanggup menunggu pertanyaan yang menguji tuduhan itu sebelum mengambil sikap?
- Pelaku kata kerja di awal ayat adalah mereka. Mereka yang menjadikan sebagian hamba sebagai bagian dari-Nya, sehingga kedudukan itu muncul dari tangan manusia dan tidak diberikan kepada orang yang dikenai. Ayat tidak mencatat bahwa Dia menetapkan kedudukan semacam itu, dan tidak menyebut orang yang dijadikan bagian ikut meminta. Dengan begitu pembaca dapat menilai peringkat-peringkat di sekitarnya dengan satu ukuran sederhana, yaitu siapa yang menjadikannya demikian. Kedudukan mana di lingkungannya yang tampak seperti pemberian dari atas, tetapi dibuat oleh orang-orang di sekitarnya sendiri?