وَقَالُوا لَوْ شَاءَ الرَّحْمَٰنُ مَا عَبَدْنَاهُمْ ۗ مَا لَهُمْ بِذَٰلِكَ مِنْ عِلْمٍ ۖ إِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ
Dan mereka berkata, “Sekiranya Ar-Rahman menghendaki, tentulah kami tidak menyembah mereka.” Mereka tidak mempunyai pengetahuan sedikit pun tentang itu. Mereka hanya mengira-ngira.
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- وَقَالُوا لَوْ شَاءَ الرَّحْمَٰنُ مَا عَبَدْنَاهُمْwa-qaaluu law syaa'a r-rahmaanu maa 'abadnaahumdan mereka berkata, sekiranya Ar-Rahman menghendaki, tentulah kami tidak menyembah mereka
- مَا لَهُمْ بِذَٰلِكَ مِنْ عِلْمٍmaa lahum bi-dzaalika min 'ilminmereka tidak mempunyai pengetahuan sedikit pun tentang itu
- إِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَin hum illaa yakhrushuunamereka hanya mengira-ngira
Terjemahan per kata (15 kata)
- وَقَالُواwa-qaaluudan mereka berkata
- لَوْlawsekiranya
- شَاءَsyaa'amenghendaki
- الرَّحْمَٰنُr-rahmaanuAr-Rahman
- مَاmaatidaklah
- عَبَدْنَاهُمْ'abadnaahumkami mengabdi kepada mereka
- مَاmaatidaklah
- لَهُمْlahumbagi mereka
- بِذَٰلِكَbi-dzaalikadengan itu
- مِنْmindari
- عِلْمٍ'ilminpengetahuan
- إِنْintidaklah
- هُمْhummereka
- إِلَّاillaakecuali
- يَخْرُصُونَyakhrushuunamereka mengira-ngira
Inti bacaan
Bentuk (عَبَدْنَا, 'abadnaa) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 16:35 dan 43:20.
Penjelasan pilihan kata
Ucapan mereka dibuka dengan (وَقَالُوا, wa-qaaluu) yang berarti "dan mereka berkata", dan isinya (لَوْ شَاءَ الرَّحْمَٰنُ مَا عَبَدْنَاهُمْ, law syaa'a r-rahmaanu maa 'abadnaahum) yang berarti "sekiranya Ar-Rahman menghendaki, tentulah kami tidak menyembah mereka". Kata (لَوْ, law) membuka syarat yang dibayangkan, dan (شَاءَ, syaa'a) yang berarti "menghendaki" berakar ش-ي-أ. Subjeknya (الرَّحْمَٰنُ, r-rahmaanu) yang berarti "Ar-Rahman", dan susunan law syaa'a r-rahmaanu hanya muncul di 43:20. Ucapan penolak yang berpola law syaa'a dikutip di empat ayat, yaitu 6:148, 16:35, 41:14, dan 43:20, dengan subjek yang berlainan. Di 6:148, (لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا أَشْرَكْنَا, law syaa'a llaahu maa asyraknaa) yang berarti "sekiranya Allah menghendaki, tentu kami tidak mempersekutukan", subjeknya Allah. Di 16:35 subjeknya juga Allah, dan di 41:14 subjeknya (رَبُّنَا, rabbunaa) yang berarti "Tuhan kami". Di 43:20 subjeknya Ar-Rahman.
Kata (عَبَدْنَاهُمْ, 'abadnaahum) yang berarti "kami menyembah mereka" tersusun dari kata kerja 'abadnaa, "kami menyembah", yang berakar ع-ب-د, dan -hum, "mereka". Bentuk 'abadnaa muncul dua kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 16:35 dan 43:20. Di 16:35, (مَا عَبَدْنَا مِنْ دُونِهِ مِنْ شَيْءٍ, maa 'abadnaa min duunihi min syay'in) yang berarti "kami tidak menyembah sesuatu pun selain Dia", objeknya disebut dengan kata syay'in. Di 43:20 objeknya kata ganti -hum. Kata ganti itu paling dekat menunjuk malaikat di 43:19, dan ayat ini tidak menyebut nama sembahan itu sendiri. Terjemahan memakai "menyembah" seperti di 16:35 dan 39:3.
Kalimat berikutnya, (مَا لَهُمْ بِذَٰلِكَ مِنْ عِلْمٍ, maa lahum bi-dzaalika min 'ilmin) yang berarti "mereka tidak mempunyai pengetahuan sedikit pun tentang itu", memuat (عِلْمٍ, 'ilmin) dari akar ع-ل-م, tanpa kata sandang dan didahului min. Dalam susunan ini min berarti "sedikit pun". Kata (بِذَٰلِكَ, bi-dzaalika) yang berarti "tentang itu" dapat dibaca menunjuk ucapan mereka tadi, yaitu hubungan antara kehendak Ar-Rahman dan penyembahan mereka. Ayat tidak menyebut sasaran lain.
Bentuk persis bi-dzaalika min 'ilmin muncul dua kali, yaitu di 43:20 dan 45:24. Di 45:24 pernyataan itu disusul (إِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ, in hum illaa yazhunnuuna) yang berarti "mereka menduga-duga". Di 43:20 pernyataan itu disusul (إِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ, in hum illaa yakhrushuuna) yang berarti "mereka mengira-ngira". Kata kerja yakhrushuuna berakar خ-ر-ص, dan susunan in hum illaa yakhrushuuna muncul tiga kali, yaitu di 6:116, 10:66, dan 43:20. Terjemahan memakai "mengira-ngira" di ketiganya dan "menduga-duga" untuk yazhunnuuna di 45:24, sehingga dua akar itu tetap terbaca terpisah.
Ucapan yang mirip di 6:148 dijawab dengan pertanyaan, (هَلْ عِنْدَكُمْ مِنْ عِلْمٍ, hal 'indakum min 'ilmin) yang berarti "apakah pada kalian ada pengetahuan", dan ditutup dengan (وَإِنْ أَنْتُمْ إِلَّا تَخْرُصُونَ, wa-in antum illaa takhrushuuna) yang berarti "dan kalian mengira-ngira". Di 43:20 isi yang sama dinyatakan dalam bentuk orang ketiga, tentang mereka. Perbedaan bentuk itu sejalan dengan letaknya: 43:20 berada dalam tuturan yang berbicara tentang mereka sejak 43:15, sedangkan 6:148 berada dalam perintah katakanlah yang ditujukan kepada mereka.
Tafsiran
Ayat ini memberi suara kepada mereka sesudah pertanyaan tentang kesaksian di 43:19. Jawaban mereka tidak berbicara tentang kehadiran. Mereka mengangkat soal kehendak: sekiranya Ar-Rahman menghendaki, mereka tidak akan menyembah sembahan itu. Kalimat bersyarat itu dapat dibaca menjadikan kenyataan yang sudah terjadi sebagai tanda kehendak, lalu memakai kehendak tersebut untuk membenarkan perbuatan mereka.
Jawaban ayat menyentuh tempat yang lain. Ayat tidak menyatakan Ar-Rahman menghendaki atau tidak menghendaki, dan tidak membahas apakah kehendak seperti itu mungkin. Ayat mengajukan soal pengetahuan: mereka tidak memilikinya tentang hubungan antara kehendak itu dan penyembahan mereka. Kalimat terakhir memberi nama bagi seluruh ucapan itu, yaitu mengira-ngira.
Penolakan ini sejajar dengan 43:19 dari sisi lain. Pertanyaan di 43:19 menyangkut kehadiran, sedangkan pernyataan di 43:20 menyangkut pengetahuan. Keduanya menutup dua jalan untuk mengetahui sesuatu, yaitu menyaksikannya sendiri dan memiliki dasar pengetahuan. Jalan ketiga ditanyakan di ayat berikutnya, 43:21, dan jalan keempat disebut mereka sendiri di 43:22.
Pola dalih ini tidak khusus untuk ayat ini. Di 6:148 dan 16:35 orang-orang yang mempersekutukan mengucapkan kalimat berpola serupa tentang Allah, dan 6:148 melanjutkan bahwa orang-orang sebelum mereka berbuat demikian pula.
Renungan dan Hikmah
- Dalih di 43:20 berbentuk "sekiranya Ar-Rahman menghendaki, tentulah kami tidak menyembah mereka". Kata kerja menyembah tetap berada di mulut mereka sendiri: kami tidak menyembah. Kehendak dipasang sebagai sebab, tetapi perbuatannya tetap perbuatan mereka. Jawaban ayat tidak menyentuh apakah Ar-Rahman menghendaki sesuatu. Jawabannya menanyakan pengetahuan tentang hubungan antara kehendak itu dan perbuatan mereka. Pembaca yang pernah berkata "kalau Tuhan tidak mau, ini tidak akan terjadi" tentang pilihannya sendiri dapat bertanya kepada dirinya, dari mana ia tahu bahwa kenyataan yang terjadi sama dengan kehendak yang membenarkannya?
- Nama Ar-Rahman disebut di 43:19 dan disebut lagi di ayat sesudahnya, 43:20. Di 43:19 Allah memakainya untuk menyatakan milik siapa para malaikat, yaitu hamba-hamba Ar-Rahman. Di 43:20 mereka memakai nama yang sama sebagai pemegang kehendak yang mereka sebut dalam dalih. Satu nama dipakai oleh dua pihak untuk dua keperluan, dan ayat tidak mengatakan bahwa salah satu pemakaian itu menggantikan yang lain. Pembaca yang menyebut nama Tuhan dalam alasannya sendiri dapat menimbang apakah nama itu dipakai seperti Dia memakainya sendiri di ayat-ayat yang berbicara tentang-Nya. Alasan apa yang pernah disandarkannya pada nama itu?
- Di 6:148 dalih yang mirip dijawab dengan pertanyaan langsung kepada mereka: apakah pada kalian ada pengetahuan yang dapat kalian keluarkan untuk Kami? Di 43:20 jawabannya berbentuk pernyataan tentang mereka. Kedua ayat memilih pengetahuan sebagai ukuran, dan tidak memilih kesalehan kalimat sebagai ukuran. Dalih berbentuk kehendak Tuhan terdengar saleh, dan ayat tidak menilai kesalehan bunyinya. Ayat menilai apakah penuturnya memiliki dasar untuk mengucapkannya. Bila pertanyaan "adakah padamu pengetahuan tentang hubungan itu?" diajukan kepada pembaca, apa yang dapat dikeluarkannya?
- Ayat memberi nama bagi seluruh ucapan mereka, yaitu mengira-ngira, dan memakai akar yang berbeda dari menduga-duga di 45:24. Kalimat bersyarat "sekiranya ... tentulah ..." terdengar seperti penalaran yang rapi, dengan sebab dan akibat yang tersusun. Ayat menaruhnya di kelas yang sama dengan terkaan, bersama ucapan di 6:116 tentang kebanyakan orang di bumi dan di 10:66 tentang mereka yang menyeru sekutu-sekutu. Pembaca dapat memeriksa kalimat bersyarat miliknya sendiri, yang berbentuk "kalau begini, tentu begitu", dan menanyakan berapa banyak dari kalimat itu yang berdiri di atas pengetahuan dan berapa banyak yang berdiri di atas bentuk kalimatnya?
- Ayat 43:19 menyatakan bahwa merekalah yang akan ditanya. Dalih di 43:20 membawa pertanyaan ke arah lain: ke kehendak Ar-Rahman, seolah-olah sebabnya terletak di sana. Di 21:23 dinyatakan bahwa Dia tidak ditanya tentang apa yang Dia kerjakan, sedangkan mereka ditanya. Pembaca dapat membaca tiga ayat itu berdampingan dan memperhatikan arahnya: pertanyaan yang ditujukan kepada pelaku perbuatan tidak berpindah ke pihak yang disebut kehendaknya. Kapan terakhir pembaca menjawab pertanyaan tentang perbuatannya sendiri dengan jawaban tentang kehendak pihak lain?
- Ayat 43:19 menanyakan penglihatan, apakah mereka menyaksikan penciptaan malaikat. Ayat 43:20 menyatakan bahwa mereka tidak memiliki pengetahuan. Kedua ayat menutup dua jalan yang berlainan, yaitu hadir sendiri di tempat kejadian dan mengetahui lewat dasar yang dapat dikeluarkan. Seorang pembaca dapat memegang keyakinan tentang hal-hal yang tidak dilihatnya, misalnya tentang Tuhan, tentang akhir segala sesuatu, dan tentang apa yang pantas bagi makhluk-Nya. Untuk satu keyakinan yang paling erat digenggamnya, melalui jalan mana keyakinan itu sampai kepadanya: penglihatan, pengetahuan, atau jalan ketiga yang ditanyakan ayat berikutnya?