أَمْ آتَيْنَاهُمْ كِتَابًا مِنْ قَبْلِهِ فَهُمْ بِهِ مُسْتَمْسِكُونَ

Ataukah Kami memberi mereka suatu kitab sebelumnya, lalu, mereka berpegang teguh padanya?

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. أَمْ آتَيْنَاهُمْ كِتَابًا مِنْ قَبْلِهِam aataynaahum kitaaban min qablihiataukah Kami memberi mereka suatu kitab sebelumnya
  2. فَهُمْ بِهِ مُسْتَمْسِكُونَfa-hum bihi mustamsikuunalalu, mereka berpegang teguh padanya

Terjemahan per kata (8 kata)

  1. أَمْamataukah
  2. آتَيْنَاهُمْaataynaahumKami memberi mereka
  3. كِتَابًاkitaabankitab
  4. مِنْmindari
  5. قَبْلِهِqablihisebelumnya
  6. فَهُمْfa-hummaka mereka
  7. بِهِbihipadanya
  8. مُسْتَمْسِكُونَmustamsikuunaorang-orang yang berpegang

Inti bacaan

Susunan (أَمْ آتَيْنَاهُمْ كِتَابًا, am aataynaahum kitaaban) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 35:40 dan 43:21.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (أَمْ, am) yang berarti "ataukah", pembuka pertanyaan baru sesudah pertanyaan tentang saksi di 43:19 dan pernyataan tentang pengetahuan di 43:20. Terjemahan memakai "ataukah" seperti pada pembuka pertanyaan lain di surah ini, yaitu 43:16, 43:52, dan 43:79. Kata berikutnya (آتَيْنَاهُمْ, aataynaahum) yang berarti "Kami memberi mereka" tersusun dari kata kerja aataynaa, "Kami memberi", yang berakar أ-ت-ي, dan -hum, "mereka". Pemberinya adalah Kami, kata ganti yang dipakai penutur ayat ini untuk dirinya. Susunan (أَمْ آتَيْنَاهُمْ كِتَابًا, am aataynaahum kitaaban) muncul dua kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 35:40 dan 43:21. Di 35:40 susunan itu disusul (فَهُمْ عَلَىٰ بَيِّنَتٍ مِنْهُ, fa-hum 'alaa bayyinatin minhu) yang berarti "sehingga mereka memiliki bukti nyata darinya", yaitu hasil yang diperoleh dari kitab. Di 43:21 yang menyusul menyangkut sikap terhadap kitab itu, bukan hasilnya.

Kata (كِتَابًا, kitaaban) yang berarti "suatu kitab" berakar ك-ت-ب dan berbentuk tak tentu, sehingga tidak menunjuk kitab tertentu. Di surah yang sama, (وَالْكِتَابِ الْمُبِينِ, wa-l-kitaabi l-mubiini) yang berarti "dan Kitab yang jelas" di 43:2 memakai kata sandang dan sifat. Terjemahan 43:21 tidak menambahkan nama kitab apa pun, karena tidak ada kata Arab di ayat ini yang melahirkannya.

Frasa (مِنْ قَبْلِهِ, min qablihi) yang berarti "sebelumnya" memuat kata ganti -hi, "-nya", bentuk tunggal laki-laki. Ayat tidak menyebut apa yang ditunjuk -hi. Terjemahan "sebelumnya" membiarkan hal itu terbuka. Di 46:4, (بِكِتَابٍ مِنْ قَبْلِ هَٰذَا, bi-kitaabin min qabli haadzaa) yang berarti "dengan kitab dari sebelum ini" memakai kata penunjuk haadzaa, sedangkan 43:21 memakai kata ganti -hi.

Awalan fa- pada (فَهُمْ, fa-hum) yang berarti "lalu mereka" menyambung pemberian kitab dengan sikap berpegang, sehingga pertanyaannya terdiri dari dua langkah berurutan: apakah kitab itu pernah diberikan, dan apakah mereka memegangnya. Kata (بِهِ, bihi) yang berarti "padanya" menunjuk kitab itu.

Kata terakhir (مُسْتَمْسِكُونَ, mustamsikuuna) yang berarti "mereka yang berpegang teguh" berkerabat dengan kata kerja istamsaka dari akar م-س-ك, dan berbentuk kata benda pelaku jamak. Kata kerja itu muncul tiga kali di Al-Qur'an, yaitu di 2:256, 31:22, dan 43:43, sehingga bersama kata di 43:21 jumlahnya empat. Di 2:256 dan 31:22, (اسْتَمْسَكَ, stamsaka) yang berarti "telah berpegang" bersambung dengan (بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ, bi-l-'urwati l-wutsqaa) yang berarti "pada tali yang kukuh". Di 43:43, (فَاسْتَمْسِكْ بِالَّذِي أُوحِيَ إِلَيْكَ, fa-stamsik bi-lladzii uuhiya ilayka) yang berarti "maka berpegang teguhlah pada apa yang diwahyukan kepadamu". Pada ketiga ayat itu objek yang dipegang disebut jelas. Di 43:21 objeknya adalah kitab yang keberadaannya sedang ditanyakan, dan pertanyaan itu ditujukan kepada pihak yang mengaku memegang.

Tafsiran

Ayat ini membuka dasar ketiga yang ditanyakan dalam rangkaian 43:19 sampai 43:22. Di 43:19 pertanyaannya menguji kesaksian, di 43:20 pengetahuan, dan di 43:21 kitab. Urutan ketiganya dapat dibaca makin menjauh dari kejadian: hadir sendiri, mengetahui, lalu menerima tulisan yang disampaikan pihak lain. Pertanyaan tentang kitab datang sesudah dua pintu lain tertutup, sehingga tinggal pintu yang paling jauh.

Pertanyaannya diajukan dengan kata Kami sebagai pemberi. Pemberilah yang mengetahui apakah suatu kitab pernah diberikan, dan ayat memakai kata itu untuk mengajukan pertanyaan, tanpa menyatakan jawabannya. Jawabannya terbaca dari ayat sesudahnya. Di 43:22 mereka tidak mengutip kitab apa pun. Mereka mengutip nenek moyang. Di 34:44 jawaban itu dinyatakan langsung tentang kelompok yang berbicara di 34:43, yang menyebut apa yang biasa nenek moyang mereka abdi: "Dan Kami tidak memberi mereka kitab-kitab yang mereka pelajari". Ayat 43:21 sendiri tidak memuat pernyataan seperti itu, dan jawabannya baru terbaca ketika 43:22 dibuka.

Surah ini menaruh dua tuntutan berpegang teguh berjauhan. Di 43:21 pihak yang ditanya diminta menunjukkan kitab yang mereka pegang. Di 43:43 penerima wahyu diperintah berpegang pada apa yang diwahyukan kepadanya, dan ayat itu memberi alasan bahwa penerima wahyu berada di atas jalan yang lurus. Kedua ayat menyentuh tindakan yang sama dengan objek yang berlainan.

Sesudah ayat ini tiga dasar sudah ditanyakan, dan dasar yang mereka sebut sendiri baru muncul di 43:22.

Renungan dan Hikmah

  • Pertanyaan di 43:21 menanyakan apakah Kami memberi mereka suatu kitab, dan yang berbicara dengan kata Kami di surah ini adalah Allah. Pemberi mengetahui apakah suatu kitab pernah diberikan. Karena itu pertanyaan ini terbaca sebagai pemeriksaan atas pihak yang mengaku memegang. Pembaca yang memegang suatu pegangan hidup, entah tulisan, aturan, atau ajaran, dapat menanyakan siapa yang memberikannya dan dengan cara apa pemberian itu dapat ditunjukkan. Siapa yang dapat disebutnya sebagai pemberi pegangan yang paling kuat digenggamnya, dan sanggupkah nama itu menjawab pertanyaan ayat ini?
  • Kata berpegang teguh dipakai untuk tiga objek berbeda di empat ayat: tali yang kukuh di 2:256 dan 31:22, apa yang diwahyukan kepada penerima wahyu di 43:43, dan kitab yang sedang ditanyakan keberadaannya di 43:21. Keteguhan genggaman tidak dinilai sebagai ukuran tersendiri di ayat-ayat itu. Ayat 43:21 menanyakan apakah ada pegangan yang sah. Pembaca yang menilai dirinya teguh dapat bertanya, teguh pada apa, dan apakah Dia yang memberi pegangan itu pernah menyebut pegangan tersebut? Sebuah genggaman yang erat atas sesuatu yang tidak pernah diberikan tetap sebuah genggaman, dan ayat ini menaruh pertanyaannya pada benda yang digenggam.
  • Pertanyaan di 43:21 tidak dijawab di dalam ayat itu sendiri. Ayat 43:22 dibuka dengan kata bahkan, lalu mengutip ucapan mereka, dan ucapan itu memuat nenek moyang tetapi tidak memuat kitab. Di 34:44 Allah menyatakan secara langsung bahwa Dia tidak memberi kelompok yang berbicara di 34:43 kitab-kitab yang mereka pelajari. Dua ayat itu berasal dari dua surah yang berlainan dan tentang dua kelompok yang tidak dinyatakan sama, tetapi keduanya menyentuh hal yang serupa: dasar tertulis yang tidak ada ketika orang ditanya. Pembaca dapat menghitung berapa kali pembaca menjawab pertanyaan "apa dasarnya?" dengan nama seseorang yang dihormatinya, dan bukan dengan sesuatu yang dapat dibuka dan dibaca.
  • Kitab yang ditanyakan di 43:21 adalah benda yang dapat ditunjukkan. Di 46:4 permintaannya jelas: datangkan kitab dari sebelum ini atau peninggalan dari pengetahuan, jika kalian orang-orang yang benar. Di 37:157 permintaannya: bawalah kitab kalian. Pada ketiga ayat itu ukuran yang dipakai sama, yaitu sesuatu yang dapat dibawa ke hadapan penanya. Pembaca yang pernah berkata "memang ada tulisannya" tentang suatu keyakinan dapat bertanya, apakah pembaca sanggup membawa tulisan itu, membuka halamannya, dan menunjuk kalimat yang dimaksud?
  • Kata sebelumnya di 43:21 membawa urutan waktu ke dalam pertanyaan: kitab yang lebih dulu ada. Kedudukan lebih dulu tampak penting bagi mereka, karena di 43:22 mereka menyebut nenek moyang yang lebih dulu ada. Dua hal yang sama-sama lebih dulu itu ditaruh berdampingan oleh kedua ayat. Yang satu berupa kitab yang diberikan oleh Kami, dan yang lain berupa nenek moyang yang didapati, sebab 43:22 memakai kata kami mendapati. Seseorang yang menimbang kekunoan suatu pegangan dapat memisahkan dua pertanyaan: sudah berapa lama pegangan itu ada, dan siapa yang memberikannya? Usia dan pemberi adalah dua ukuran yang berbeda, dan ayat 43:21 menanyakan ukuran yang kedua.
  • Ayat 43:21 menghadapkan dua pihak, Kami yang memberi dan mereka yang berpegang, dan menanyakan hubungan di antara keduanya: adakah pemberian di balik pegangan itu. Pembaca dapat melihat hubungan tersebut dari dua sisi. Dari sisi pemegang, pembaca dapat menanyakan dari mana tiap pegangannya diterima. Dari sisi penyodor, bila pembaca mengajarkan sesuatu kepada anak, murid, atau rekan sebagai pegangan, pembaca dapat menanyakan apakah pemberian di balik pegangan itu dapat ditunjukkannya. Apa jawabannya bila pertanyaan "ataukah Kami memberi" diajukan atas pegangan yang disodorkannya kepada orang lain?