Ayat 43:22
بَلْ قَالُوا إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَىٰ أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَىٰ آثَارِهِمْ مُهْتَدُونَ
Bahkan, mereka berkata, “Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu umat, dan sesungguhnya kami mendapat petunjuk atas jejak-jejak mereka.”
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- بَلْ قَالُواbal qaaluubahkan, mereka berkata
- إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَىٰ أُمَّةٍinnaa wajadnaa aabaa'anaa 'alaa ummatinsesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu umat
- وَإِنَّا عَلَىٰ آثَارِهِمْ مُهْتَدُونَwa-innaa 'alaa aatsaarihim muhtaduunadan sesungguhnya kami mendapat petunjuk atas jejak-jejak mereka
Terjemahan per kata (11 kata)
- بَلْbalbahkan
- قَالُواqaaluumereka berkata
- إِنَّاinnaasesungguhnya kami
- وَجَدْنَاwajadnaakami mendapati
- آبَاءَنَاaabaa'anaaleluhur kami
- عَلَىٰ'alaaatas
- أُمَّةٍummatinumat
- وَإِنَّاwa-innaadan sesungguhnya kami
- عَلَىٰ'alaaatas
- آثَارِهِمْaatsaarihimjejak mereka
- مُهْتَدُونَmuhtaduunaorang-orang yang mendapat petunjuk
Inti bacaan
Frasa (عَلَىٰ أُمَّةٍ, 'alaa ummatin) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 43:22 dan 43:23.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (بَلْ قَالُوا, bal qaaluu) yang berarti "bahkan, mereka berkata". Kata (بَلْ, bal) membalik arah pertanyaan sebelumnya: pertanyaan di 43:21 menunggu kitab, lalu datang ucapan lain. Susunan bal qaaluu muncul tiga kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 21:5, 23:81, dan 43:22, dan ketiganya mengutip ucapan penolak. Di 23:81, (بَلْ قَالُوا مِثْلَ مَا قَالَ الْأَوَّلُونَ, bal qaaluu mitsla maa qaala l-awwaluuna) yang berarti "bahkan mereka mengucapkan seperti apa yang diucapkan oleh orang-orang terdahulu" menyebut ucapan yang menyalin ucapan sebelumnya.
Kata (إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا, innaa wajadnaa aabaa'anaa) yang berarti "sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami" memuat kata kerja wajadnaa, "kami mendapati", dari akar و-ج-د, dan aabaa'anaa, "nenek moyang kami", yang berakar أ-ب-و. Susunan innaa wajadnaa aabaa'anaa muncul dua kali, yaitu di 43:22 dan 43:23. Tanpa innaa, susunan wajadnaa aabaa'anaa muncul empat kali di tiga surah, yaitu di 21:53, 26:74, 43:22, dan 43:23. Di 21:53, (وَجَدْنَا آبَاءَنَا لَهَا عَابِدِينَ, wajadnaa aabaa'anaa lahaa 'aabidiina) yang berarti "kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya" disusul keterangan tentang apa yang dikerjakan nenek moyang. Di 26:74, (وَجَدْنَا آبَاءَنَا كَذَٰلِكَ يَفْعَلُونَ, wajadnaa aabaa'anaa ka-dzaalika yaf'aluuna) yang berarti "kami mendapati nenek moyang kami berbuat begitu" juga disusul perbuatan. Di 43:22 kata kerja itu disusul (عَلَىٰ أُمَّةٍ, 'alaa ummatin).
Kata (أُمَّةٍ, ummatin) yang berarti "suatu umat" berakar أ-م-م dan berbentuk tak tentu. Susunan 'alaa ummatin muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 43:22 dan 43:23. Kata ummah dipakai di tempat lain untuk tiga hal. Untuk kumpulan manusia, seperti (أُمَّةً وَاحِدَةً, ummatan waahidatan) yang berarti "satu umat" di 43:33. Untuk satu orang, seperti (كَانَ أُمَّةً, kaana ummatan) yang berarti "adalah suatu umat" tentang Ibrahim di 16:120. Untuk jangka waktu, seperti (إِلَىٰ أُمَّةٍ مَعْدُودَةٍ, ilaa ummatin ma'duudatin) yang berarti "sampai waktu tertentu" di 11:8. Ayat 43:22 tidak memberi sifat pada ummatin, sehingga ayat ini tidak memilih salah satu dari ketiganya. Terjemahan memakai "umat" tanpa tafsir tambahan. Susunan "menganut suatu umat" terbaca janggal dalam bahasa Indonesia, dan kejanggalan itu dibiarkan karena setiap pengganti, seperti "jalan" atau "agama", memberi arti yang tidak diberikan ayat.
Frasa (عَلَىٰ آثَارِهِمْ, 'alaa aatsaarihim) yang berarti "atas jejak-jejak mereka" memuat aatsaar, "jejak-jejak", dari akar أ-ث-ر. Frasa ini muncul enam kali di lima surah, yaitu di 5:46, 18:6, 37:70, 43:22, 43:23, dan 57:27, dan surah 43 memuatnya dua kali. Di 5:46 dan 57:27, (قَفَّيْنَا عَلَىٰ آثَارِهِمْ, qaffaynaa 'alaa aatsaarihim) yang berarti "Kami iringkan jejak mereka" menyebut jejak orang-orang terdahulu yang diiringi Kami dengan rasul. Di 18:6 orang yang diajak bicara dapat membinasakan dirinya karena duka sambil mengikuti jejak orang-orang yang belum tentu beriman. Di 37:70, (فَهُمْ عَلَىٰ آثَارِهِمْ يُهْرَعُونَ, fa-hum 'alaa aatsaarihim yuhra'uuna) yang berarti "maka mereka bergegas di atas jejak mereka" didahului 37:69, (إِنَّهُمْ أَلْفَوْا آبَاءَهُمْ ضَالِّينَ, innahum alfaw aabaa'ahum dhaalliina) yang berarti "sesungguhnya mereka mendapati nenek moyang mereka dalam keadaan sesat". Kata jejak sendiri tidak membawa penilaian, karena arahnya ditentukan oleh siapa yang meninggalkannya.
Kata terakhir (مُهْتَدُونَ, muhtaduuna) yang berarti "orang-orang yang mendapat petunjuk" berakar ه-د-ي dan muncul delapan kali di lima surah, yaitu di 2:70, 2:157, 6:82, 7:30, 36:21, 43:22, 43:37, dan 43:49; tiga di antaranya ada di surah 43. Di 7:30 dan 43:37, (وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ, wa-yahsabuuna annahum muhtaduuna) yang berarti "dan mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk" memakai kata kerja mengira sebelum kata ini. Di 43:22 kata itu keluar dari mulut mereka sendiri tanpa kata mengira. Di 2:170, (وَلَا يَهْتَدُونَ, wa-laa yahtaduuna) yang berarti "dan tidak mendapat petunjuk" dipakai untuk nenek moyang dalam pertanyaan a-wa-law, dan 5:104 memuat susunan yang sama. Terjemahan memakai "mendapat petunjuk" di semua tempat itu.
Kalimat yang dikutip di 43:22 dan 43:23 sama kecuali satu kata, yaitu kata terakhir: muhtaduuna di 43:22 dan (مُقْتَدُونَ, muqtaduuna) di 43:23, yang berarti "mereka yang mengikuti" dan berakar ق-د-و. Akar ق-د-و muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 6:90 dalam (اقْتَدِهْ, qtadih) yang berarti "ikutilah" dan di 43:23.
Tafsiran
Ayat ini memuat dasar yang mereka sebut sendiri. Tiga pertanyaan sebelumnya, tentang saksi, pengetahuan, dan kitab, tidak dijawab dengan salah satu dari ketiganya. Kata bahkan di awal ayat memindahkan percakapan dari apa yang ditanyakan kepada apa yang mereka pegang, dan yang mereka pegang adalah warisan.
Ucapan mereka dikutip tanpa komentar di dalam ayat yang sama. Bantahan tidak ditaruh di sana, sehingga susunan kalimatnya sendiri yang dibaca. Mereka menyebut apa yang mereka dapati dan jejak yang tersisa, dan tidak menyebut sesuatu yang mereka periksa atau mereka pilih. Di ujung kalimat, warisan itu mereka namai petunjuk. Dasar di 43:19 sampai 43:21 adalah dasar yang dapat ditunjukkan: saksi dihadirkan, pengetahuan dikeluarkan, kitab dibawa. Dasar di 43:22 hanya dapat ditunjuk sebagai sesuatu yang sudah ada sebelum mereka.
Nama petunjuk itu mendapat bingkai dari ayat lain di surah ini. Di 43:36 pembicaraannya tentang orang yang berpaling dari peringatan Ar-Rahman, dan di 43:37 kata muhtaduun didahului kata mengira. Ayat 43:22 sendiri tidak memuat kata mengira, dan penilaian seperti itu tidak ditempelkan pada ucapan mereka di sini.
Kalimat yang sama diulang di 43:23 dengan penutur yang diperluas ke negeri-negeri yang didatangi pemberi peringatan, dan di 43:24 muncul tawaran petunjuk yang lebih baik daripada yang mereka dapati. Dengan begitu 43:22 menjadi tempat pertama kalimat ini dikutip, dan 43:23 menyatakan bahwa kalimat itu bukan milik satu kaum.
Renungan dan Hikmah
- Allah mengutip kalimat "kami mendapati nenek moyang kami" di 43:22, dan di 23:81 mencatat bahwa mereka mengucapkan seperti yang diucapkan orang-orang terdahulu. Dua ayat itu menaruh sebuah alasan yang terdengar pribadi di samping bentuknya yang berulang. Pembaca dapat memperhatikan hal serupa pada alasannya sendiri. Kalimat "memang begitu dari dulu" atau "begitulah yang kami dapati" dapat terasa seperti kesimpulan yang dicapai sendiri, padahal bunyinya sudah dipakai orang lain jauh sebelum pembaca. Kalimat mana dalam pembelaannya yang dapat ditunjukkan sebagai hasil pemeriksaannya sendiri?
- Kata jejak dipakai di enam ayat untuk tiga arah yang berlainan. Di 5:46 dan 57:27 Allah, dengan kata Kami, mengiringkan rasul pada jejak para rasul sebelumnya. Di 18:6 orang yang diajak bicara dapat membinasakan dirinya karena duka sambil mengikuti jejak orang-orang yang belum tentu beriman. Di 43:22 nenek moyang meninggalkan jejak yang diikuti anak-cucu. Jejak sendiri tidak menyatakan ke mana arahnya, karena arah itu bergantung pada siapa yang berjalan lebih dulu. Seseorang yang berjalan di atas jejak yang terlihat jelas, entah milik orang tua, guru, atau lingkungan, dapat bertanya, ke mana jejak itu menuju dan siapa yang pertama menginjaknya?
- Ucapan di 43:22 berakhir dengan kata muhtaduuna, orang-orang yang mendapat petunjuk. Warisan yang mereka pegang sudah mereka beri nama itu sebelum ada yang memeriksanya. Di 43:37 kata yang sama didahului kata mengira, dalam ayat tentang orang yang berpaling dari peringatan Ar-Rahman. Ayat 43:22 tidak memakai kata mengira dan membiarkan kata petunjuk berdiri dalam mulut mereka. Pembaca dapat meletakkan dua ayat itu berdampingan tanpa menyimpulkan keduanya berbicara tentang kelompok yang sama. Bila sebuah pegangan sudah dinamai petunjuk, apakah memeriksanya masih terasa seperti memeriksa, atau terasa seperti meragukan? Dari pegangan milik pembaca, mana yang sudah disebut petunjuk sebelum diperiksa ke mana pegangan itu mengarah?
- Ayat 43:22 tidak menilai nenek moyang. Di 2:170 jawaban "kami mengikuti apa yang kami dapati" dan di 5:104 jawaban "cukuplah bagi kami apa yang kami dapati" muncul sesudah mereka diajak mengikuti apa yang diturunkan Allah, lalu dihadapkan pada pertanyaan tentang keadaan nenek moyang itu sendiri, yaitu apakah mereka mengerti sesuatu dan mendapat petunjuk. Pertanyaan di kedua ayat itu menyangkut keadaan sesuatu yang diwarisi, dan tidak menyangkut fakta bahwa sesuatu diwarisi. Mewarisi sebuah kebiasaan, bahasa, atau keyakinan tidak menjadi persoalan di sana. Seseorang yang menerima warisan dari generasi sebelumnya dapat bertanya, bagaimana keadaan pemberi warisan itu ketika memegangnya, dan sudahkah pembaca sendiri memeriksa keadaan itu sebelum memegangnya pula?
- Dalam satu ayat pendek, kata ganti kami muncul empat kali: innaa, wajadnaa, aabaa'anaa, dan wa-innaa. Kata saya tidak ada. Alasan yang disampaikan terdengar sebagai alasan sebuah kelompok, dan kata kami membuat tidak ada seorang pun yang disebut sebagai pemeriksanya. Pembaca yang berkata "begitulah yang kami dapati" dapat menanyakan siapa yang termasuk dalam kata kami itu dan siapa di antara mereka yang pernah memeriksanya. Di 43:19 Allah menyebut kesaksian mereka akan dituliskan dan mereka akan ditanya, sedangkan 43:22 memuat ucapan yang tidak menyebut seorang pun yang dapat ditanya. Kepada siapa di dalam kata kami sebuah pertanyaan akan diarahkan?
- Tiga pertanyaan beruntun, tentang saksi, pengetahuan, dan kitab, dijawab dengan kata bahkan dan sebuah kutipan. Kutipan itu menyebut dasar yang mereka punya, dan tidak menyebut dasar yang diminta pertanyaan. Dalam percakapan sehari-hari, orang yang ditanya "dari mana kamu tahu?" dapat menjawab dengan sesuatu yang sungguh dimilikinya, dan jawaban semacam itu terdengar jujur tentang apa yang ada. Ayat 43:22 menaruh jawaban seperti itu di samping tiga pertanyaan yang tidak dijawab. Kalimat apa yang akan keluar dari mulut pembaca bila tiga pertanyaan itu datang kepadanya berurutan, dan sampai di kalimat yang mana ia berhenti dan mengganti jawabannya dengan kata bahkan?
Ayat 43:23
وَكَذَٰلِكَ مَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَىٰ أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَىٰ آثَارِهِمْ مُقْتَدُونَ
Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelummu seorang pemberi peringatan pun ke suatu negeri, kecuali orang-orang yang bermewah-mewah di negeri itu berkata, “Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu umat, dan sesungguhnya kami mengikuti jejak-jejak mereka.”
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- وَكَذَٰلِكَ مَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍwa-ka-dzaalika maa arsalnaa min qablika fii qaryatin min nadziirindan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelummu seorang pemberi peringatan pun ke suatu negeri
- إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَاillaa qaala mutrafuuhaakecuali orang-orang yang bermewah-mewah di negeri itu berkata
- إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَىٰ أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَىٰ آثَارِهِمْ مُقْتَدُونَinnaa wajadnaa aabaa'anaa 'alaa ummatin wa-innaa 'alaa aatsaarihim muqtaduunasesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu umat, dan sesungguhnya kami mengikuti jejak-jejak mereka
Terjemahan per kata (21 kata)
- وَكَذَٰلِكَwa-ka-dzaalikadan demikianlah
- مَاmaatidaklah
- أَرْسَلْنَاarsalnaaKami mengutus
- مِنْmindari
- قَبْلِكَqablikasebelummu
- فِيfiidi
- قَرْيَةٍqaryatinnegeri
- مِنْmindari
- نَذِيرٍnadziirinpemberi peringatan
- إِلَّاillaakecuali
- قَالَqaalaberkata
- مُتْرَفُوهَاmutrafuuhaaorang-orang bermewahnya
- إِنَّاinnaasesungguhnya kami
- وَجَدْنَاwajadnaakami mendapati
- آبَاءَنَاaabaa'anaaleluhur kami
- عَلَىٰ'alaaatas
- أُمَّةٍummatinumat
- وَإِنَّاwa-innaadan sesungguhnya kami
- عَلَىٰ'alaaatas
- آثَارِهِمْaatsaarihimjejak mereka
- مُقْتَدُونَmuqtaduunaorang-orang yang mengikuti
Inti bacaan
Frasa (إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَا, illaa qaala mutrafuuhaa) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 34:34 dan 43:23.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (وَكَذَٰلِكَ, wa-ka-dzaalika) yang berarti "dan demikianlah", tersusun dari wa-, "dan", ka-, "seperti", dan dzaalika, "itu". Susunan wa-ka-dzaalika maa arsalnaa hanya muncul di 43:23 di seluruh Al-Qur'an. Kata itu mengaitkan ayat ini dengan ucapan di 43:22, dan terjemahan "demikianlah" membiarkan kaitan itu berada pada ayat sebelumnya.
Kata kerja (أَرْسَلْنَا, arsalnaa) yang berarti "Kami mengutus" berakar ر-س-ل. Frasa (مَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ, maa arsalnaa min qablika) yang berarti "Kami tidak mengutus sebelummu" muncul lima kali di lima surah, yaitu di 12:109, 16:43, 21:25, 22:52, dan 43:23. Kata ganti -ka, "-mu", berbentuk tunggal dan menunjuk orang yang diajak bicara. Frasa (فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍ, fii qaryatin min nadziirin) yang berarti "ke suatu negeri seorang pemberi peringatan pun" muncul dua kali, yaitu di 34:34 dan 43:23. Kata (قَرْيَةٍ, qaryatin) berakar ق-ر-ي, dan (نَذِيرٍ, nadziirin) berakar ن-ذ-ر, keduanya tak tentu, dan min di depan nadziirin berarti "pun".
Kalimat berpenyangkalan dan berpengecualian ini berbicara tentang negeri yang didatangi pemberi peringatan. Ayat tidak menyatakan bahwa setiap negeri didatangi. Di 28:46 dan 32:3, (مَا أَتَاهُمْ مِنْ نَذِيرٍ, maa ataahum min nadziirin) yang berarti "belum didatangi oleh seorang pemberi peringatan pun" menyebut kaum yang belum didatangi, sehingga kalimat di 43:23 dibaca sebagai pola pada negeri yang sudah didatangi.
Susunan (إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَا, illaa qaala mutrafuuhaa) yang berarti "kecuali orang-orang yang bermewah-mewah di negeri itu berkata" muncul dua kali, yaitu di 34:34 dan 43:23. Kata (مُتْرَفُوهَا, mutrafuuhaa) berakar ت-ر-ف dan berbentuk jamak, dengan -haa, "-nya", yang menunjuk negeri. Bentuk kata benda jamak dari akar ini muncul lima kali: 17:16, 23:64, 34:34, 43:23, dan 56:45. Bentuknya pasif, sehingga kemewahan itu diberikan kepada mereka, dan pemberinya tidak disebut di 43:23. Di 23:33, (وَأَتْرَفْنَاهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا, wa-atrafnaahum fii l-hayaati d-dunyaa) yang berarti "dan yang telah Kami beri kemewahan dalam kehidupan dunia" menyebut Kami sebagai pemberi.
Kalimat yang dikutip, (إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَىٰ أُمَّةٍ, innaa wajadnaa aabaa'anaa 'alaa ummatin) yang berarti "sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu umat", sama dengan kutipan di 43:22. Susunan innaa wajadnaa aabaa'anaa muncul dua kali, yaitu di 43:22 dan 43:23. Kata terakhirnya berbeda: (مُقْتَدُونَ, muqtaduuna) yang berarti "mereka yang mengikuti" berakar ق-د-و, sedangkan 43:22 memakai muhtaduuna dari akar ه-د-ي. Akar ق-د-و muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 6:90 dan 43:23. Di 6:90, (فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهْ, fa-bihudaahumu qtadih) yang berarti "maka ikutilah petunjuk mereka" menyusul kalimat tentang orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah, dan kata mengikuti di sana bersambung dengan petunjuk mereka. Di 43:23 kata mengikuti bersambung dengan (آثَارِهِمْ, aatsaarihim) yang berarti "jejak-jejak mereka".
Tafsiran
Ayat ini memperluas kutipan 43:22 dari ucapan sekelompok orang menjadi pola yang berulang di negeri-negeri yang didatangi pemberi peringatan. Karena ayat dibuka dengan demikianlah, kalimat warisan itu terbaca sebagai milik banyak kaum. Kalimat itu diucapkan oleh orang yang diberi kemewahan di tiap negeri itu, dan pengutusnya adalah Kami, sehingga jawaban yang sama berulang berhadapan dengan pengutus yang sama.
Hubungan dengan 34:34 memperjelas susunannya. Di 34:34 satu kalimat memuat penolakan: orang-orang yang bermewah-mewah berkata, "Sesungguhnya kami kufur terhadap apa yang kalian diutus dengannya". Di 43:23 dan 43:24 penolakan itu didahului dalih warisan, sehingga ada dua langkah. Langkah pertama, di 43:23, adalah dalih warisan. Langkah kedua, di 43:24, adalah penolakan yang datang sesudah pemberi peringatan bertanya. Dapat dibaca bahwa dalih warisan berada di bawah penolakan itu, dan 43:24 memperlihatkan apa yang terjadi bila dalih tersebut diuji.
Ayat ini juga memuat perubahan jumlah. Pemberi peringatan disebut tunggal, seorang di tiap negeri, sedangkan yang berbicara berjumlah banyak dan memakai kata kami. Di 43:24 pemberi peringatan itu membalas dalam bentuk tunggal, aku, dan yang menjawabnya kembali berbentuk jamak. Susunan satu berhadapan dengan banyak ini sudah terpasang di 43:23.
Akibat bagi mereka belum tercantum di ayat ini. Akibatnya baru muncul di 43:25, sesudah 43:24 menutup percakapan. Dalam rangkaian 43:19 sampai 43:24, ayat ini adalah tempat dalih warisan berpindah dari ucapan satu kelompok ke pola yang diulang.
Renungan dan Hikmah
- Ayat 43:23 menyebut siapa yang mengucapkan dalih warisan: orang-orang yang diberi kemewahan di negeri itu. Teksnya tidak menyatakan bahwa kemewahan menyebabkan dalih itu, dan tidak menyatakan bahwa semua penduduk negeri berada dalam keadaan demikian. Ayat hanya menuliskan bahwa mereka yang mengucapkannya termasuk golongan itu. Pembaca dapat menanyakan keadaan apa yang dinikmatinya dari susunan yang diwarisinya, dan apakah keadaan itu ikut menentukan kalimat yang dipilihnya ketika susunan itu dipertanyakan. Menurut ayat ini, pemberi peringatan yang diutus Kami berhadapan dengan kalimat yang sama di negeri yang didatanginya. Kalimat apa yang dipertahankannya dengan mudah karena susunan itu menguntungkannya?
- Dua sebutan di sekitar ucapan ini sama-sama menunjuk sesuatu yang diterima. Para pengucap dinamai orang yang diberi kemewahan, dan mereka berkata kami mendapati nenek moyang kami. Di 23:33 Allah, dengan kata Kami, menyebut telah memberi kemewahan kepada para pemuka yang menolak. Dapat dibaca bahwa kemewahan dan warisan keyakinan adalah dua hal yang sama-sama datang kepada mereka tanpa mereka mengerjakannya, meskipun ayat tidak menghubungkannya secara langsung. Pembaca dapat memisahkan apa yang dipegangnya dengan bangga menjadi dua daftar, yang diterima dan yang diusahakan, lalu memperhatikan daftar mana yang lebih sering ia bela bila ada yang menggugatnya.
- Di 34:34 yang dikutip hanya penolakan. Di 43:23 dan 43:24 dalih warisan datang di depannya dan dipisah dari penolakan oleh sebuah pertanyaan, dan urutannya terlihat: dalih warisan lebih dulu, lalu, sesudah ditanya apakah petunjuk yang lebih baik pun ditolak, muncul penolakan. Allah menyebut pola itu di 43:23 sebagai sesuatu yang berulang. Urutan di 43:23 dan 43:24 memperlihatkan dalih lebih dulu dan penolakan sesudah pertanyaan, sedangkan 34:34 hanya memuat penolakan. Bila alasan yang diucapkan pembaca dihadapkan pada tawaran yang lebih baik, apakah alasan itu masih berfungsi sebagai alasan, atau sudah berganti menjadi sikap yang tidak membutuhkan alasan lagi?
- Kata pemberi peringatan di 43:23 berbentuk tunggal, seorang di tiap negeri, sedangkan yang menjawab memakai kata kami dalam bentuk jamak. Seseorang berhadapan dengan sebuah kelompok yang bersuara sama, dan menurut ayat ini yang mengutusnya adalah Kami, yaitu Allah. Ayat tidak menyebut berapa banyak penduduk negeri itu yang sependapat dengan ucapan tersebut, tetapi bentuk jamak kami memberi kesan kelompok. Pembaca yang pernah menyampaikan sesuatu yang berbeda dari kebiasaan lingkungannya mengenal posisi itu, dan pembaca yang pernah berada di tengah kelompok yang menjawab dengan satu suara mengenal posisi lainnya. Di posisi mana pembaca lebih sering berdiri, dan apa yang akan terdengar bila pembaca berbicara dari posisi yang lain?
- Akar ق-د-و, mengikuti, dipakai di dua ayat saja, 6:90 dan 43:23, dan objeknya berbeda. Di 6:90 Allah memerintahkan ikutilah petunjuk mereka, yaitu mereka yang diberi petunjuk oleh Allah. Di 43:23 jejak nenek moyang yang diikuti. Kata kerjanya satu akar, tetapi pihak yang dituju tidak sama: yang satu mengarah pada petunjuk milik orang-orang yang diberi petunjuk, yang lain pada jejak yang ditinggalkan. Pembaca yang berkata "aku mengikuti" dapat memperhatikan apa yang mengisi kalimat itu sesudah kata mengikuti. Apakah kalimat itu berisi petunjuk yang diberikan Dia kepada orang-orang tertentu, atau jejak yang tampak karena banyak kaki telah melewatinya?
- Kalimat di 43:22 dan 43:23 sama kecuali kata terakhir. Di 43:22 mereka berkata kami mendapat petunjuk, dan di 43:23 orang-orang yang diberi kemewahan berkata kami mengikuti. Satu kata menyebut keadaan sudah diberi petunjuk, dan satu kata lagi menyebut tindakan mengikuti. Ayat tidak menerangkan mengapa kata itu berganti. Pembaca dapat mengamati hal serupa pada kalimat pembelaannya sendiri: ketika alasan yang sama diulang oleh orang yang hidupnya diberi kemewahan, kata mana yang bertahan di ujung kalimat, petunjuk atau mengikuti saja? Dan pada kalimat mana pembaca memilih kata yang lebih sederhana karena kata yang lebih besar tidak lagi sanggup dipertanggungjawabkannya?
Ayat 43:24
قَالَ أَوَلَوْ جِئْتُكُمْ بِأَهْدَىٰ مِمَّا وَجَدْتُمْ عَلَيْهِ آبَاءَكُمْ ۖ قَالُوا إِنَّا بِمَا أُرْسِلْتُمْ بِهِ كَافِرُونَ
Ia berkata, “Apakah sekalipun aku membawa kepada kalian petunjuk yang lebih baik daripada apa yang kalian dapati padanya nenek moyang kalian?” Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami kufur terhadap apa yang kalian diutus dengannya.”
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- قَالَ أَوَلَوْ جِئْتُكُمْ بِأَهْدَىٰ مِمَّا وَجَدْتُمْ عَلَيْهِ آبَاءَكُمْqaala a-wa-law ji'tukum bi-ahdaa mimmaa wajadtum 'alayhi aabaa'akumia berkata, apakah sekalipun aku membawa kepada kalian petunjuk yang lebih baik daripada apa yang kalian dapati padanya nenek moyang kalian
- قَالُوا إِنَّا بِمَا أُرْسِلْتُمْ بِهِ كَافِرُونَqaaluu innaa bi-maa ursiltum bihi kaafiruunamereka menjawab, sesungguhnya kami kufur terhadap apa yang kalian diutus dengannya
Terjemahan per kata (14 kata)
- قَالَqaalaberkata
- أَوَلَوْa-wa-lawapakah walaupun
- جِئْتُكُمْji'tukumaku datang kepada kalian
- بِأَهْدَىٰbi-ahdaalebih mendapat petunjuk
- مِمَّاmimmaadaripada apa yang
- وَجَدْتُمْwajadtumkalian dapati
- عَلَيْهِ'alayhiatasnya
- آبَاءَكُمْaabaa'akumbapak-bapak kalian
- قَالُواqaaluumereka berkata
- إِنَّاinnaasesungguhnya kami
- بِمَاbi-maapada apa yang
- أُرْسِلْتُمْursiltumkalian diutus
- بِهِbihidengannya
- كَافِرُونَkaafiruunaorang-orang kafir
Inti bacaan
Susunan (أَوَلَوْ, a-wa-law) muncul tujuh kali di Al-Qur'an, yaitu di 2:170, 5:104, 7:88, 26:30, 31:21, 39:43, dan 43:24.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (قَالَ, qaala) yang berarti "ia berkata", kata kerja tunggal yang pelakunya tidak disebut. Di 43:23 pelaku tunggal yang terdekat disebut (نَذِيرٍ, nadziirin), seorang pemberi peringatan, sedangkan jawaban sesudahnya memakai bentuk jamak qaaluu. Pertanyaannya dibuka dengan (أَوَلَوْ, a-wa-law) yang berarti "apakah sekalipun", tersusun dari huruf tanya a-, wa-, dan law, "sekiranya". Susunan a-wa-law muncul tujuh kali di seluruh Al-Qur'an, tersebar di tujuh surah, yaitu di 2:170, 5:104, 7:88, 26:30, 31:21, 39:43, dan 43:24. Di 2:170, 5:104, dan 31:21 pertanyaan itu menyusul ucapan tentang apa yang didapati dari nenek moyang. Di 26:30, (قَالَ أَوَلَوْ جِئْتُكَ بِشَيْءٍ مُبِينٍ, qaala a-wa-law ji'tuka bi-syay'in mubiinin) yang berarti "ia berkata, apakah sekalipun aku membawa kepadamu sesuatu yang jelas" dijawab di 26:31 dengan (فَأْتِ بِهِ, fa-ti bihi) yang berarti "maka datangkanlah itu". Jawaban di 43:24 berbeda dari itu.
Kata (جِئْتُكُمْ, ji'tukum) yang berarti "aku membawa kepada kalian" tersusun dari ji'tu, "aku datang", dan -kum, "kalian", dari akar ج-ي-ء. Bentuk ji'tukum muncul lima kali di tiga surah, yaitu di 3:49, 3:50, 7:105, 43:24, dan 43:63; jumlah surahnya lebih kecil karena surah 3 dan surah 43 masing-masing memuatnya dua kali. Di 3:50, 7:105, dan 43:63 kata itu disusul bi- dan sesuatu yang dibawa. Di 7:105, (قَدْ جِئْتُكُمْ بِبَيِّنَةٍ, qad ji'tukum bi-bayyinatin) yang berarti "sungguh aku datang kepada kalian dengan bukti yang nyata". Di 43:63, (قَدْ جِئْتُكُمْ بِالْحِكْمَةِ, qad ji'tukum bi-l-hikmati) yang berarti "sungguh aku datang kepada kalian dengan membawa hikmah". Di 43:24 benda yang dibawa disebut dengan (بِأَهْدَىٰ, bi-ahdaa).
Kata (أَهْدَىٰ, ahdaa) berakar ه-د-ي, akar yang sama dengan muhtaduuna di 43:22, dan berbentuk "lebih". Kata itu muncul tujuh kali di tujuh surah, yaitu di 4:51, 6:157, 17:84, 28:49, 35:42, 43:24, dan 67:22. Terjemahan memakai "lebih mendapat petunjuk" di 6:157, 35:42, dan 67:22, "lebih memberi petunjuk" di 28:49, dan "lebih benar jalannya" di 4:51 dan 17:84 karena kata jalan mengikutinya. Di 43:24 tidak ada kata jalan, dan bi- menaruh ahdaa sebagai sesuatu yang dibawa, sehingga terjemahan memakai "petunjuk yang lebih baik". Di 6:157, (لَكُنَّا أَهْدَىٰ مِنْهُمْ, la-kunnaa ahdaa minhum) yang berarti "tentu kami lebih mendapat petunjuk daripada mereka" mengikuti pengandaian bahwa kitab diturunkan kepada mereka. Di 35:42, (لَيَكُونُنَّ أَهْدَىٰ, la-yakuununna ahdaa) yang berarti "niscaya mereka akan lebih mendapat petunjuk" mengikuti sumpah dengan nama Allah bahwa mereka demikian bila datang seorang pemberi peringatan, dan ayat yang sama menyebut bahwa ketika pemberi peringatan itu datang, hal itu tidak menambah mereka kecuali keberpalingan.
Frasa (مِمَّا وَجَدْتُمْ عَلَيْهِ آبَاءَكُمْ, mimmaa wajadtum 'alayhi aabaa'akum) yang berarti "daripada apa yang kalian dapati padanya nenek moyang kalian" memakai kata kerja wajadtum, "kalian dapati", dari akar yang sama dengan wajadnaa di 43:22. Kata ganti -hi pada 'alayhi menunjuk maa, "apa yang", dan aabaa'akum, "nenek moyang kalian", berkedudukan sebagai objek wajadtum. Karena itu nenek moyang berada pada posisi yang didapati, dan "padanya" menunjuk apa yang mereka pegang. Susunan (عَلَيْهِ آبَاءَنَا, 'alayhi aabaa'anaa) yang berarti "padanya nenek moyang kami" muncul empat kali di empat surah dalam ucapan orang-orang yang menyebut warisan, yaitu di 2:170, 5:104, 10:78, dan 31:21. Di 43:24 pemberi peringatan memakai susunan serupa dengan kata ganti kalian.
Jawaban (قَالُوا إِنَّا بِمَا أُرْسِلْتُمْ بِهِ كَافِرُونَ, qaaluu innaa bi-maa ursiltum bihi kaafiruuna) yang berarti "mereka menjawab, sesungguhnya kami kufur terhadap apa yang kalian diutus dengannya" memuat (أُرْسِلْتُمْ, ursiltum) dari akar ر-س-ل, berbentuk pasif dan jamak. Pengutusnya tidak disebut di ayat ini. Bentuk jamak itu berbeda dari pemberi peringatan tunggal di 43:23 dan pembicara tunggal di 43:24, dan ayat tidak menerangkan selisih itu. Kata (كَافِرُونَ, kaafiruuna) berakar ك-ف-ر dan berbentuk jamak pelaku. Susunan bi-maa ursiltum bihi kaafiruuna muncul tiga kali, yaitu di 34:34, 41:14, dan 43:24. Di 43:30, (وَإِنَّا بِهِ كَافِرُونَ, wa-innaa bihi kaafiruuna) yang berarti "dan sesungguhnya kami kufur terhadapnya" memakai kata ganti bihi untuk kebenaran yang datang. Jawaban di 43:24 tidak memuat kata perbandingan apa pun, sehingga pertanyaan "apakah sekalipun lebih baik" tidak dijawab dengan ya atau tidak.
Tafsiran
Ayat ini memuat ucapan pemberi peringatan dalam bentuk aku untuk pertama kali dalam rangkaian 43:19 sampai 43:24. Di 43:19 sampai 43:23 penutur ayat dan orang-orang yang dikutip berbicara. Di sini pemberi peringatan itu muncul dan mengajukan satu pertanyaan, lalu orang-orang yang tadi mengutip warisan menjawab.
Pertanyaannya menerima lebih dulu apa yang mereka katakan di 43:22. Pemberi peringatan tidak membantah bahwa mereka mendapati nenek moyang mereka pada suatu jalan, dan memakai akar kata petunjuk yang sama dengan yang mereka pakai untuk diri mereka. Pemberi peringatan mengajukan satu pengandaian: bila apa yang dibawanya lebih berpetunjuk daripada apa yang mereka dapati. Dengan demikian pertanyaan itu mengambil ukuran mereka sendiri dan menanyakan akibat bila ada yang melampaui ukuran itu.
Jawaban mereka tidak menyentuh pengandaian itu. Mereka berbicara tentang isi kiriman yang dibawa para utusan, yaitu apa yang kalian diutus dengannya, dan menyatakan kufur terhadapnya. Tidak ada kata yang menimbang apakah isi itu lebih baik atau tidak. Susunan jawabannya sama dengan 34:34, tempat kalimat itu diucapkan oleh orang-orang yang bermewah-mewah. Di 43:23 dan 43:24 dalih warisan datang lebih dulu, lalu, sesudah pertanyaan, penolakan. Urutan ini tidak tampak di 34:34, yang hanya mengutip penolakan.
Ayat berikutnya, 43:25, menyatakan akibatnya dengan kata Kami: Kami membalas mereka. Rangkaian ini berakhir pada dua ucapan yang berhadapan, tawaran yang lebih baik dan penolakan, lalu satu kalimat pembalasan. Pertanyaan tentang saksi, pengetahuan, dan kitab di 43:19 sampai 43:21 tidak muncul lagi di ayat ini, dan jawaban mereka tidak memuat salah satu dari ketiganya.
Renungan dan Hikmah
- Pemberi peringatan di 43:24 memakai akar kata petunjuk yang sama dengan yang dipakai orang-orang itu di 43:22 untuk diri mereka. Pemberi peringatan itu tidak lebih dulu menyatakan bahwa nenek moyang mereka tidak berpetunjuk. Pemberi peringatan menerima bahasa mereka dan menanyakan apa yang terjadi bila ada yang lebih berpetunjuk. Menurut 43:23, yang mengutusnya adalah Kami, yaitu Allah. Seseorang yang hendak menyampaikan sesuatu yang berbeda dari kebiasaan lawan bicaranya dapat memperhatikan cara itu, yaitu memulai dari ukuran yang dipakai lawan bicara sendiri. Sebagai lawan bicara, pembaca dapat bertanya, bila ada yang lebih berpetunjuk daripada pegangannya, ukuran apa yang akan dipakainya untuk mengetahuinya?
- Di 6:157 orang-orang berkata, sekiranya kitab diturunkan kepada mereka, tentu mereka lebih mendapat petunjuk daripada kelompok lain. Di 35:42 mereka bersumpah dengan nama Allah bahwa bila datang seorang pemberi peringatan, mereka akan lebih mendapat petunjuk, dan ayat itu melanjutkan bahwa ketika pemberi peringatan datang, hal itu tidak menambah mereka kecuali keberpalingan. Dua ayat itu berasal dari dua surah dan kelompok yang tidak dinyatakan sama dengan kelompok di 43:24, tetapi tawaran di 43:24, petunjuk yang lebih baik, adalah barang yang diandaikan di sana. Pengandaian apa yang pernah diucapkan pembaca, misalnya "kalau saja ada yang menunjukkan jalan yang lebih baik, tentu aku berubah", dan bagaimana jawabannya ketika tawaran semacam itu sungguh datang?
- Pertanyaan a-wa-law di 2:170 dan 5:104 menguji pegangan warisan dari ujung yang terburuk: sekalipun nenek moyang mereka tidak mengerti sesuatu pun dan tidak mendapat petunjuk, apakah mereka tetap mengikuti? Di kedua ayat itu pertanyaan tersebut menyusul ajakan mengikuti apa yang diturunkan Allah. Pertanyaan di 43:24 menguji dari ujung yang terbaik: sekalipun yang datang lebih berpetunjuk. Dua ujung itu sama-sama menanyakan ambang, yaitu seburuk apa pegangan lama atau sebaik apa pegangan baru sebelum seseorang mau memeriksa. Ambang apa yang dipakai pembaca untuk mulai memeriksa pegangannya sendiri, dan apakah ambang itu pernah dihitungnya?
- Di 26:30 pertanyaan a-wa-law dijawab di 26:31 dengan permintaan untuk melihat isinya: maka datangkanlah itu, jika engkau termasuk orang-orang yang benar. Jawaban di 43:24 tidak meminta apa pun diperlihatkan dan tidak membandingkan. Jawaban itu menyatakan penolakan terhadap muatan kiriman dan tidak menimbang mutunya. Dua jawaban atas pertanyaan yang serupa memperlihatkan dua cara menghadapi tawaran: meminta isinya lebih dulu, atau menolak sebelum isinya dilihat. Bila tawaran yang lebih baik datang kepada pembaca, kata apa yang keluar lebih dulu, tunjukkan atau tidak? Dan seberapa sering kata kedua datang sebelum kata pertama sempat diucapkan?
- Penolakan di 43:24 ditujukan pada apa yang kalian diutus dengannya, yaitu muatan kiriman. Bentuk kalian diutus menyebut adanya pengutus tanpa menamainya, dan di 43:23 pengutusnya disebut: Kami, yaitu Allah. Kalimat mereka dengan begitu menolak sesuatu yang dikirim, dan kiriman mempunyai pengirim. Pembaca yang menolak sebuah pesan dapat menanyakan apakah yang ditolaknya pembawa pesan, isi pesan, atau pengirimnya, dan dengan kata mana pembaca menyebut ketiganya ketika menjelaskan penolakannya kepada orang lain. Apakah ketiganya pernah dipisahkan sebelum kata tidak diucapkan?
- Di 43:22 orang-orang yang dikutip memberi nama petunjuk bagi pegangan mereka, dan di 43:24 mereka memberi nama kufur bagi sikap mereka terhadap tawaran. Di 43:30 nama kufur diucapkan lagi: dan sesungguhnya kami kufur terhadapnya. Dua nama itu berasal dari ucapan yang dikutip dalam satu rangkaian di surah yang sama. Nama petunjuk terdengar selama pegangan itu belum ditawari yang lain, dan nama kufur terdengar ketika tawaran datang. Ayat tidak menerangkan hubungan sebab di antara kedua nama itu. Pembaca yang memberi nama terhormat bagi sikapnya dapat memperhatikan nama apa yang akan dipilih ketika sikap itu diuji, dan apakah nama itu masih sama.