بَلْ قَالُوا إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَىٰ أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَىٰ آثَارِهِمْ مُهْتَدُونَ
Bahkan, mereka berkata, “Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu umat, dan sesungguhnya kami mengikuti petunjuk atas jejak-jejak mereka.”
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- بَلْ قَالُواbal qaaluubahkan, mereka berkata
- إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَىٰ أُمَّةٍinnaa wajadnaa aabaa'anaa 'alaa ummatinsesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu umat
- وَإِنَّا عَلَىٰ آثَارِهِمْ مُهْتَدُونَwa-innaa 'alaa aatsaarihim muhtaduunadan sesungguhnya kami mengikuti petunjuk atas jejak-jejak mereka
Terjemahan per kata (11 kata)
- بَلْbalbahkan
- قَالُواqaaluumereka berkata
- إِنَّاinnaasesungguhnya kami
- وَجَدْنَاwajadnaakami mendapati
- آبَاءَنَاaabaa'anaaleluhur kami
- عَلَىٰ'alaaatas
- أُمَّةٍummatinumat
- وَإِنَّاwa-innaadan sesungguhnya kami
- عَلَىٰ'alaaatas
- آثَارِهِمْaatsaarihimjejak mereka
- مُهْتَدُونَmuhtaduunaorang-orang yang mendapat petunjuk
Inti bacaan
Pola universal taklid buta: 'kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu umat, dan kami mengikuti jejak-jejak mereka', mengandalkan tradisi leluhur sebagai pembenaran tunggal tanpa evaluasi independen.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini tidak membantah. Ia merekam alasan yang sesungguhnya, apa adanya, dengan kata-kata orang yang mengucapkannya sendiri.
Yang mereka sebut sebagai dasar adalah “kami mendapati nenek moyang kami” (إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا, innaa wajadnaa aabaa'anaa). Bukan kami memeriksa, bukan kami menemukan buktinya, melainkan kami mendapati. Yang diwariskan diterima sebagaimana adanya, dan pertanyaan tentang dasarnya tidak pernah diajukan karena sudah terjawab oleh kenyataan bahwa ia diwariskan.
Yang mereka ikuti pun disebut dengan tepat: “jejak-jejak mereka” (آثَارِهِمْ, aatsaarihim). Jejak adalah yang tertinggal sesudah orangnya pergi, bukan alasan yang membuatnya berjalan ke arah itu. Lalu semuanya mereka namai petunjuk, dan penamaan itu ikut direkam tanpa dikoreksi di tempat itu juga.
Kalimat itu muncul dua kali, dan keduanya di surah ini, pada ayat ini dan ayat berikutnya (43:22, 43:23). Bedanya menentukan. Pengulangan yang kedua tidak lagi menaruhnya di mulut satu kaum tertentu, melainkan menyebutnya sebagai jawaban yang diberikan orang-orang bermewah-mewah di setiap negeri yang pernah didatangi pemberi peringatan. Dua ayat berdampingan mengubah satu ucapan menjadi satu pola yang berulang sepanjang sejarah.
Ungkapan yang menyebut apa yang mereka dapati memakai kata yang berulang tepat di ayat berikutnya. Rangkaian “menganut suatu umat” (عَلَىٰ أُمَّةٍ, 'alaa ummatin) muncul dua kali di dalam Al-Qur'an, dan keduanya berada di surah ini pada dua ayat berurutan (43:22, 43:23). Tidak ada pemakaian lain di mana pun.
Kata yang dipakai untuk apa yang mereka anut itu sendiri biasanya berarti sekumpulan orang. Di sini ia dipakai untuk sesuatu yang bisa dianut, yaitu jalan atau cara hidup yang diwarisi. Pergeseran itu menerangkan sesuatu tentang apa yang sebenarnya mereka pegang: bukan ajaran yang bisa dinyatakan, melainkan cara hidup sebuah kelompok.
Yang mereka sebut sebagai landasan pun bukan kebenaran melainkan penemuan. Kami mendapati, kata mereka. Kata itu tidak mengandung pemeriksaan, tidak mengandung pertimbangan, dan tidak mengandung pilihan. Ia hanya menyatakan bahwa sesuatu sudah ada di sana ketika mereka tiba.
Yang paling perlu diperhatikan adalah kata terakhir mereka, yaitu bahwa mereka mengikuti petunjuk. Sebuah cara hidup yang diterima tanpa diperiksa mereka namai dengan kata yang paling terhormat. Penamaan itu direkam tanpa dikoreksi di tempat itu juga, dan pembacanya dibiarkan menimbang sendiri jarak antara apa yang mereka kerjakan dan apa yang mereka namakan.
Tafsiran
Ayat ini mengungkap dasar sesungguhnya keyakinan mereka: bukan wahyu, melainkan sekadar mengikuti tradisi nenek moyang. Yang membuatnya bekerja, ayat ini tidak membantah sama sekali. Ia merekam.
Sebuah bantahan akan memancing bantahan balik. Sebuah rekaman tidak. Kalimat mereka dikutip apa adanya, dengan kata-kata mereka sendiri, dan dibiarkan berdiri. Pembacanya tidak diberi tahu bahwa itu keliru; ia hanya diberi kesempatan mendengar sendiri apa yang mereka sebut sebagai dasar.
Dan yang mereka sebut sebagai dasar ternyata bukan pemeriksaan melainkan penemuan. Kami mendapati, kata mereka. Yang mereka ikuti pun bukan alasannya melainkan jejaknya, yaitu apa yang tertinggal sesudah orangnya pergi. Jejak menunjukkan ke mana seseorang berjalan, tetapi tidak pernah menerangkan mengapa ia berjalan ke sana. Perbedaan itu adalah seluruh isi ayat ini.
Yang paling menusuk adalah kata terakhir mereka. Semua itu mereka namai petunjuk. Sebuah cara hidup yang diterima tanpa diperiksa diberi nama yang paling terhormat, dan penamaan itu direkam tanpa dikoreksi di tempat itu juga. Ayat berikutnya menyebutkan bahwa jawaban yang sama diberikan orang-orang bermewah-mewah di setiap negeri yang pernah didatangi pemberi peringatan, dan rangkaian kata yang sama itu memang hanya muncul di dua ayat berurutan ini. Dengan tambahan itu, satu ucapan berubah menjadi satu pola yang berulang sepanjang sejarah, dan pembacanya kehilangan tempat untuk berdiri sebagai penonton.
Renungan dan Hikmah
- Allah merekam dasar keyakinan mereka apa adanya. Kami mendapati. Nenek moyang kami begitu. Merekamnya apa adanya berarti tidak menambahkan bantahan di kalimat yang sama. Ucapan itu dibiarkan berdiri sendiri lebih dahulu, dan pembacanya diberi kesempatan mendengar bunyinya sebelum dinilai. Cara seperti ini jauh lebih telak daripada menyanggah, sebab yang membantah kalimat itu akhirnya kalimat itu sendiri.
- Yang diikuti jejaknya, bukan alasannya. Bukan mengikuti bukti. Mengikuti jejak. Mengikuti jejak memang lebih murah. Jejak sudah kelihatan, sudah dipadatkan orang banyak, dan tidak menuntut pemeriksaan apa pun. Alasan hanya perlu dicari kalau ada yang bertanya, dan di jalan yang ramai jarang ada yang bertanya.
- Mereka menamai itu petunjuk. Allah merekam penamaannya. Yang diwarisi disebut petunjuk. Penamaan itu bagian terpenting dari ucapan mereka. Mereka tidak berkata sedang mengikuti kebiasaan; mereka berkata sedang mengikuti petunjuk. Sesuatu yang sudah dinamai petunjuk berhenti diperiksa, sebab memeriksanya terasa seperti meragukan petunjuk.
- Allah merekam ucapan itu apa adanya, lalu di ayat berikutnya menunjukkan bahwa jawaban yang sama diberikan di setiap negeri. Mana bagian dari keyakinan kita yang sanggup kita jelaskan dasarnya, dan mana yang kalau ditanya hanya bisa dijawab dengan kalimat bahwa memang begitulah yang kita dapati? Yang paling sulit dijawab biasanya bukan bagian yang kita perdebatkan, melainkan bagian yang tak pernah terpikir untuk didebat. Bagian itu tidak pernah muncul dalam pembicaraan karena semua orang di sekitar kita memegangnya juga, sehingga tidak ada yang berperan sebagai penanya. Ayat ini memasukkan penanya itu dari luar, dan pertanyaannya sederhana saja: atas dasar apa. Pertanyaan itu tidak menuduh apa pun; ia cuma meminta sesuatu yang semestinya sudah ada.
- Kata مُهْتَدُونَ muncul delapan kali di seluruh Al-Quran, di 2:70, 2:157, 6:82, 7:30, 36:21, 43:22, 43:37, dan 43:49. Tiga di antaranya berkumpul di surah ini. Di 43:22 mereka menyebut diri mengikuti petunjuk karena mengikuti nenek moyang, dan di 43:37 Allah menyebut mereka dihalangi dari jalan sedangkan mereka mengira sedang mendapat petunjuk. Dua ayat itu memakai kata yang sama untuk dua kedudukan yang berlawanan: sekali sebagai pengakuan mereka sendiri, sekali sebagai keterangan tentang apa yang sebenarnya terjadi.
- Ayat ini tidak menyalahkan mereka karena mewarisi sesuatu dari orang tua. Hampir semua yang kita pegang memang diterima dari orang lain, dan tidak ada manusia yang menyusun seluruh keyakinannya sendiri dari nol. Yang dipersoalkan Allah di sini bukan asalnya, melainkan bahwa asal itu dijadikan seluruh alasannya. Warisan yang diperiksa lalu dipegang tetap warisan, tetapi ia sudah berubah kedudukannya menjadi milik orang yang memegangnya. Yang tidak pernah diperiksa selamanya tetap milik orang yang sudah tiada.