بَلْ قَالُوا إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَىٰ أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَىٰ آثَارِهِمْ مُهْتَدُونَ
Bahkan, mereka berkata, “Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu umat, dan sesungguhnya kami mendapat petunjuk atas jejak-jejak mereka.”
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- بَلْ قَالُواbal qaaluubahkan, mereka berkata
- إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَىٰ أُمَّةٍinnaa wajadnaa aabaa'anaa 'alaa ummatinsesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu umat
- وَإِنَّا عَلَىٰ آثَارِهِمْ مُهْتَدُونَwa-innaa 'alaa aatsaarihim muhtaduunadan sesungguhnya kami mendapat petunjuk atas jejak-jejak mereka
Terjemahan per kata (11 kata)
- بَلْbalbahkan
- قَالُواqaaluumereka berkata
- إِنَّاinnaasesungguhnya kami
- وَجَدْنَاwajadnaakami mendapati
- آبَاءَنَاaabaa'anaaleluhur kami
- عَلَىٰ'alaaatas
- أُمَّةٍummatinumat
- وَإِنَّاwa-innaadan sesungguhnya kami
- عَلَىٰ'alaaatas
- آثَارِهِمْaatsaarihimjejak mereka
- مُهْتَدُونَmuhtaduunaorang-orang yang mendapat petunjuk
Inti bacaan
Frasa (عَلَىٰ أُمَّةٍ, 'alaa ummatin) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 43:22 dan 43:23.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (بَلْ قَالُوا, bal qaaluu) yang berarti "bahkan, mereka berkata". Kata (بَلْ, bal) membalik arah pertanyaan sebelumnya: pertanyaan di 43:21 menunggu kitab, lalu datang ucapan lain. Susunan bal qaaluu muncul tiga kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 21:5, 23:81, dan 43:22, dan ketiganya mengutip ucapan penolak. Di 23:81, (بَلْ قَالُوا مِثْلَ مَا قَالَ الْأَوَّلُونَ, bal qaaluu mitsla maa qaala l-awwaluuna) yang berarti "bahkan mereka mengucapkan seperti apa yang diucapkan oleh orang-orang terdahulu" menyebut ucapan yang menyalin ucapan sebelumnya.
Kata (إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا, innaa wajadnaa aabaa'anaa) yang berarti "sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami" memuat kata kerja wajadnaa, "kami mendapati", dari akar و-ج-د, dan aabaa'anaa, "nenek moyang kami", yang berakar أ-ب-و. Susunan innaa wajadnaa aabaa'anaa muncul dua kali, yaitu di 43:22 dan 43:23. Tanpa innaa, susunan wajadnaa aabaa'anaa muncul empat kali di tiga surah, yaitu di 21:53, 26:74, 43:22, dan 43:23. Di 21:53, (وَجَدْنَا آبَاءَنَا لَهَا عَابِدِينَ, wajadnaa aabaa'anaa lahaa 'aabidiina) yang berarti "kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya" disusul keterangan tentang apa yang dikerjakan nenek moyang. Di 26:74, (وَجَدْنَا آبَاءَنَا كَذَٰلِكَ يَفْعَلُونَ, wajadnaa aabaa'anaa ka-dzaalika yaf'aluuna) yang berarti "kami mendapati nenek moyang kami berbuat begitu" juga disusul perbuatan. Di 43:22 kata kerja itu disusul (عَلَىٰ أُمَّةٍ, 'alaa ummatin).
Kata (أُمَّةٍ, ummatin) yang berarti "suatu umat" berakar أ-م-م dan berbentuk tak tentu. Susunan 'alaa ummatin muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 43:22 dan 43:23. Kata ummah dipakai di tempat lain untuk tiga hal. Untuk kumpulan manusia, seperti (أُمَّةً وَاحِدَةً, ummatan waahidatan) yang berarti "satu umat" di 43:33. Untuk satu orang, seperti (كَانَ أُمَّةً, kaana ummatan) yang berarti "adalah suatu umat" tentang Ibrahim di 16:120. Untuk jangka waktu, seperti (إِلَىٰ أُمَّةٍ مَعْدُودَةٍ, ilaa ummatin ma'duudatin) yang berarti "sampai waktu tertentu" di 11:8. Ayat 43:22 tidak memberi sifat pada ummatin, sehingga ayat ini tidak memilih salah satu dari ketiganya. Terjemahan memakai "umat" tanpa tafsir tambahan. Susunan "menganut suatu umat" terbaca janggal dalam bahasa Indonesia, dan kejanggalan itu dibiarkan karena setiap pengganti, seperti "jalan" atau "agama", memberi arti yang tidak diberikan ayat.
Frasa (عَلَىٰ آثَارِهِمْ, 'alaa aatsaarihim) yang berarti "atas jejak-jejak mereka" memuat aatsaar, "jejak-jejak", dari akar أ-ث-ر. Frasa ini muncul enam kali di lima surah, yaitu di 5:46, 18:6, 37:70, 43:22, 43:23, dan 57:27, dan surah 43 memuatnya dua kali. Di 5:46 dan 57:27, (قَفَّيْنَا عَلَىٰ آثَارِهِمْ, qaffaynaa 'alaa aatsaarihim) yang berarti "Kami iringkan jejak mereka" menyebut jejak orang-orang terdahulu yang diiringi Kami dengan rasul. Di 18:6 orang yang diajak bicara dapat membinasakan dirinya karena duka sambil mengikuti jejak orang-orang yang belum tentu beriman. Di 37:70, (فَهُمْ عَلَىٰ آثَارِهِمْ يُهْرَعُونَ, fa-hum 'alaa aatsaarihim yuhra'uuna) yang berarti "maka mereka bergegas di atas jejak mereka" didahului 37:69, (إِنَّهُمْ أَلْفَوْا آبَاءَهُمْ ضَالِّينَ, innahum alfaw aabaa'ahum dhaalliina) yang berarti "sesungguhnya mereka mendapati nenek moyang mereka dalam keadaan sesat". Kata jejak sendiri tidak membawa penilaian, karena arahnya ditentukan oleh siapa yang meninggalkannya.
Kata terakhir (مُهْتَدُونَ, muhtaduuna) yang berarti "orang-orang yang mendapat petunjuk" berakar ه-د-ي dan muncul delapan kali di lima surah, yaitu di 2:70, 2:157, 6:82, 7:30, 36:21, 43:22, 43:37, dan 43:49; tiga di antaranya ada di surah 43. Di 7:30 dan 43:37, (وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ, wa-yahsabuuna annahum muhtaduuna) yang berarti "dan mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk" memakai kata kerja mengira sebelum kata ini. Di 43:22 kata itu keluar dari mulut mereka sendiri tanpa kata mengira. Di 2:170, (وَلَا يَهْتَدُونَ, wa-laa yahtaduuna) yang berarti "dan tidak mendapat petunjuk" dipakai untuk nenek moyang dalam pertanyaan a-wa-law, dan 5:104 memuat susunan yang sama. Terjemahan memakai "mendapat petunjuk" di semua tempat itu.
Kalimat yang dikutip di 43:22 dan 43:23 sama kecuali satu kata, yaitu kata terakhir: muhtaduuna di 43:22 dan (مُقْتَدُونَ, muqtaduuna) di 43:23, yang berarti "mereka yang mengikuti" dan berakar ق-د-و. Akar ق-د-و muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 6:90 dalam (اقْتَدِهْ, qtadih) yang berarti "ikutilah" dan di 43:23.
Tafsiran
Ayat ini memuat dasar yang mereka sebut sendiri. Tiga pertanyaan sebelumnya, tentang saksi, pengetahuan, dan kitab, tidak dijawab dengan salah satu dari ketiganya. Kata bahkan di awal ayat memindahkan percakapan dari apa yang ditanyakan kepada apa yang mereka pegang, dan yang mereka pegang adalah warisan.
Ucapan mereka dikutip tanpa komentar di dalam ayat yang sama. Bantahan tidak ditaruh di sana, sehingga susunan kalimatnya sendiri yang dibaca. Mereka menyebut apa yang mereka dapati dan jejak yang tersisa, dan tidak menyebut sesuatu yang mereka periksa atau mereka pilih. Di ujung kalimat, warisan itu mereka namai petunjuk. Dasar di 43:19 sampai 43:21 adalah dasar yang dapat ditunjukkan: saksi dihadirkan, pengetahuan dikeluarkan, kitab dibawa. Dasar di 43:22 hanya dapat ditunjuk sebagai sesuatu yang sudah ada sebelum mereka.
Nama petunjuk itu mendapat bingkai dari ayat lain di surah ini. Di 43:36 pembicaraannya tentang orang yang berpaling dari peringatan Ar-Rahman, dan di 43:37 kata muhtaduun didahului kata mengira. Ayat 43:22 sendiri tidak memuat kata mengira, dan penilaian seperti itu tidak ditempelkan pada ucapan mereka di sini.
Kalimat yang sama diulang di 43:23 dengan penutur yang diperluas ke negeri-negeri yang didatangi pemberi peringatan, dan di 43:24 muncul tawaran petunjuk yang lebih baik daripada yang mereka dapati. Dengan begitu 43:22 menjadi tempat pertama kalimat ini dikutip, dan 43:23 menyatakan bahwa kalimat itu bukan milik satu kaum.
Renungan dan Hikmah
- Allah mengutip kalimat "kami mendapati nenek moyang kami" di 43:22, dan di 23:81 mencatat bahwa mereka mengucapkan seperti yang diucapkan orang-orang terdahulu. Dua ayat itu menaruh sebuah alasan yang terdengar pribadi di samping bentuknya yang berulang. Pembaca dapat memperhatikan hal serupa pada alasannya sendiri. Kalimat "memang begitu dari dulu" atau "begitulah yang kami dapati" dapat terasa seperti kesimpulan yang dicapai sendiri, padahal bunyinya sudah dipakai orang lain jauh sebelum pembaca. Kalimat mana dalam pembelaannya yang dapat ditunjukkan sebagai hasil pemeriksaannya sendiri?
- Kata jejak dipakai di enam ayat untuk tiga arah yang berlainan. Di 5:46 dan 57:27 Allah, dengan kata Kami, mengiringkan rasul pada jejak para rasul sebelumnya. Di 18:6 orang yang diajak bicara dapat membinasakan dirinya karena duka sambil mengikuti jejak orang-orang yang belum tentu beriman. Di 43:22 nenek moyang meninggalkan jejak yang diikuti anak-cucu. Jejak sendiri tidak menyatakan ke mana arahnya, karena arah itu bergantung pada siapa yang berjalan lebih dulu. Seseorang yang berjalan di atas jejak yang terlihat jelas, entah milik orang tua, guru, atau lingkungan, dapat bertanya, ke mana jejak itu menuju dan siapa yang pertama menginjaknya?
- Ucapan di 43:22 berakhir dengan kata muhtaduuna, orang-orang yang mendapat petunjuk. Warisan yang mereka pegang sudah mereka beri nama itu sebelum ada yang memeriksanya. Di 43:37 kata yang sama didahului kata mengira, dalam ayat tentang orang yang berpaling dari peringatan Ar-Rahman. Ayat 43:22 tidak memakai kata mengira dan membiarkan kata petunjuk berdiri dalam mulut mereka. Pembaca dapat meletakkan dua ayat itu berdampingan tanpa menyimpulkan keduanya berbicara tentang kelompok yang sama. Bila sebuah pegangan sudah dinamai petunjuk, apakah memeriksanya masih terasa seperti memeriksa, atau terasa seperti meragukan? Dari pegangan milik pembaca, mana yang sudah disebut petunjuk sebelum diperiksa ke mana pegangan itu mengarah?
- Ayat 43:22 tidak menilai nenek moyang. Di 2:170 jawaban "kami mengikuti apa yang kami dapati" dan di 5:104 jawaban "cukuplah bagi kami apa yang kami dapati" muncul sesudah mereka diajak mengikuti apa yang diturunkan Allah, lalu dihadapkan pada pertanyaan tentang keadaan nenek moyang itu sendiri, yaitu apakah mereka mengerti sesuatu dan mendapat petunjuk. Pertanyaan di kedua ayat itu menyangkut keadaan sesuatu yang diwarisi, dan tidak menyangkut fakta bahwa sesuatu diwarisi. Mewarisi sebuah kebiasaan, bahasa, atau keyakinan tidak menjadi persoalan di sana. Seseorang yang menerima warisan dari generasi sebelumnya dapat bertanya, bagaimana keadaan pemberi warisan itu ketika memegangnya, dan sudahkah pembaca sendiri memeriksa keadaan itu sebelum memegangnya pula?
- Dalam satu ayat pendek, kata ganti kami muncul empat kali: innaa, wajadnaa, aabaa'anaa, dan wa-innaa. Kata saya tidak ada. Alasan yang disampaikan terdengar sebagai alasan sebuah kelompok, dan kata kami membuat tidak ada seorang pun yang disebut sebagai pemeriksanya. Pembaca yang berkata "begitulah yang kami dapati" dapat menanyakan siapa yang termasuk dalam kata kami itu dan siapa di antara mereka yang pernah memeriksanya. Di 43:19 Allah menyebut kesaksian mereka akan dituliskan dan mereka akan ditanya, sedangkan 43:22 memuat ucapan yang tidak menyebut seorang pun yang dapat ditanya. Kepada siapa di dalam kata kami sebuah pertanyaan akan diarahkan?
- Tiga pertanyaan beruntun, tentang saksi, pengetahuan, dan kitab, dijawab dengan kata bahkan dan sebuah kutipan. Kutipan itu menyebut dasar yang mereka punya, dan tidak menyebut dasar yang diminta pertanyaan. Dalam percakapan sehari-hari, orang yang ditanya "dari mana kamu tahu?" dapat menjawab dengan sesuatu yang sungguh dimilikinya, dan jawaban semacam itu terdengar jujur tentang apa yang ada. Ayat 43:22 menaruh jawaban seperti itu di samping tiga pertanyaan yang tidak dijawab. Kalimat apa yang akan keluar dari mulut pembaca bila tiga pertanyaan itu datang kepadanya berurutan, dan sampai di kalimat yang mana ia berhenti dan mengganti jawabannya dengan kata bahkan?