وَكَذَٰلِكَ مَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَىٰ أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَىٰ آثَارِهِمْ مُقْتَدُونَ

Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelummu seorang pemberi peringatan pun ke suatu negeri, kecuali orang-orang yang bermewah-mewah di negeri itu berkata, “Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu umat, dan sesungguhnya kami mengikuti jejak-jejak mereka.”

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. وَكَذَٰلِكَ مَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍwa-ka-dzaalika maa arsalnaa min qablika fii qaryatin min nadziirindan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelummu seorang pemberi peringatan pun ke suatu negeri
  2. إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَاillaa qaala mutrafuuhaakecuali orang-orang yang bermewah-mewah di negeri itu berkata
  3. إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَىٰ أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَىٰ آثَارِهِمْ مُقْتَدُونَinnaa wajadnaa aabaa'anaa 'alaa ummatin wa-innaa 'alaa aatsaarihim muqtaduunasesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu umat, dan sesungguhnya kami mengikuti jejak-jejak mereka

Terjemahan per kata (21 kata)

  1. وَكَذَٰلِكَwa-ka-dzaalikadan demikianlah
  2. مَاmaatidaklah
  3. أَرْسَلْنَاarsalnaaKami mengutus
  4. مِنْmindari
  5. قَبْلِكَqablikasebelummu
  6. فِيfiidi
  7. قَرْيَةٍqaryatinnegeri
  8. مِنْmindari
  9. نَذِيرٍnadziirinpemberi peringatan
  10. إِلَّاillaakecuali
  11. قَالَqaalaberkata
  12. مُتْرَفُوهَاmutrafuuhaaorang-orang bermewahnya
  13. إِنَّاinnaasesungguhnya kami
  14. وَجَدْنَاwajadnaakami mendapati
  15. آبَاءَنَاaabaa'anaaleluhur kami
  16. عَلَىٰ'alaaatas
  17. أُمَّةٍummatinumat
  18. وَإِنَّاwa-innaadan sesungguhnya kami
  19. عَلَىٰ'alaaatas
  20. آثَارِهِمْaatsaarihimjejak mereka
  21. مُقْتَدُونَmuqtaduunaorang-orang yang mengikuti

Inti bacaan

Frasa (إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَا, illaa qaala mutrafuuhaa) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 34:34 dan 43:23.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (وَكَذَٰلِكَ, wa-ka-dzaalika) yang berarti "dan demikianlah", tersusun dari wa-, "dan", ka-, "seperti", dan dzaalika, "itu". Susunan wa-ka-dzaalika maa arsalnaa hanya muncul di 43:23 di seluruh Al-Qur'an. Kata itu mengaitkan ayat ini dengan ucapan di 43:22, dan terjemahan "demikianlah" membiarkan kaitan itu berada pada ayat sebelumnya.

Kata kerja (أَرْسَلْنَا, arsalnaa) yang berarti "Kami mengutus" berakar ر-س-ل. Frasa (مَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ, maa arsalnaa min qablika) yang berarti "Kami tidak mengutus sebelummu" muncul lima kali di lima surah, yaitu di 12:109, 16:43, 21:25, 22:52, dan 43:23. Kata ganti -ka, "-mu", berbentuk tunggal dan menunjuk orang yang diajak bicara. Frasa (فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍ, fii qaryatin min nadziirin) yang berarti "ke suatu negeri seorang pemberi peringatan pun" muncul dua kali, yaitu di 34:34 dan 43:23. Kata (قَرْيَةٍ, qaryatin) berakar ق-ر-ي, dan (نَذِيرٍ, nadziirin) berakar ن-ذ-ر, keduanya tak tentu, dan min di depan nadziirin berarti "pun".

Kalimat berpenyangkalan dan berpengecualian ini berbicara tentang negeri yang didatangi pemberi peringatan. Ayat tidak menyatakan bahwa setiap negeri didatangi. Di 28:46 dan 32:3, (مَا أَتَاهُمْ مِنْ نَذِيرٍ, maa ataahum min nadziirin) yang berarti "belum didatangi oleh seorang pemberi peringatan pun" menyebut kaum yang belum didatangi, sehingga kalimat di 43:23 dibaca sebagai pola pada negeri yang sudah didatangi.

Susunan (إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَا, illaa qaala mutrafuuhaa) yang berarti "kecuali orang-orang yang bermewah-mewah di negeri itu berkata" muncul dua kali, yaitu di 34:34 dan 43:23. Kata (مُتْرَفُوهَا, mutrafuuhaa) berakar ت-ر-ف dan berbentuk jamak, dengan -haa, "-nya", yang menunjuk negeri. Bentuk kata benda jamak dari akar ini muncul lima kali: 17:16, 23:64, 34:34, 43:23, dan 56:45. Bentuknya pasif, sehingga kemewahan itu diberikan kepada mereka, dan pemberinya tidak disebut di 43:23. Di 23:33, (وَأَتْرَفْنَاهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا, wa-atrafnaahum fii l-hayaati d-dunyaa) yang berarti "dan yang telah Kami beri kemewahan dalam kehidupan dunia" menyebut Kami sebagai pemberi.

Kalimat yang dikutip, (إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَىٰ أُمَّةٍ, innaa wajadnaa aabaa'anaa 'alaa ummatin) yang berarti "sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu umat", sama dengan kutipan di 43:22. Susunan innaa wajadnaa aabaa'anaa muncul dua kali, yaitu di 43:22 dan 43:23. Kata terakhirnya berbeda: (مُقْتَدُونَ, muqtaduuna) yang berarti "mereka yang mengikuti" berakar ق-د-و, sedangkan 43:22 memakai muhtaduuna dari akar ه-د-ي. Akar ق-د-و muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 6:90 dan 43:23. Di 6:90, (فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهْ, fa-bihudaahumu qtadih) yang berarti "maka ikutilah petunjuk mereka" menyusul kalimat tentang orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah, dan kata mengikuti di sana bersambung dengan petunjuk mereka. Di 43:23 kata mengikuti bersambung dengan (آثَارِهِمْ, aatsaarihim) yang berarti "jejak-jejak mereka".

Tafsiran

Ayat ini memperluas kutipan 43:22 dari ucapan sekelompok orang menjadi pola yang berulang di negeri-negeri yang didatangi pemberi peringatan. Karena ayat dibuka dengan demikianlah, kalimat warisan itu terbaca sebagai milik banyak kaum. Kalimat itu diucapkan oleh orang yang diberi kemewahan di tiap negeri itu, dan pengutusnya adalah Kami, sehingga jawaban yang sama berulang berhadapan dengan pengutus yang sama.

Hubungan dengan 34:34 memperjelas susunannya. Di 34:34 satu kalimat memuat penolakan: orang-orang yang bermewah-mewah berkata, "Sesungguhnya kami kufur terhadap apa yang kalian diutus dengannya". Di 43:23 dan 43:24 penolakan itu didahului dalih warisan, sehingga ada dua langkah. Langkah pertama, di 43:23, adalah dalih warisan. Langkah kedua, di 43:24, adalah penolakan yang datang sesudah pemberi peringatan bertanya. Dapat dibaca bahwa dalih warisan berada di bawah penolakan itu, dan 43:24 memperlihatkan apa yang terjadi bila dalih tersebut diuji.

Ayat ini juga memuat perubahan jumlah. Pemberi peringatan disebut tunggal, seorang di tiap negeri, sedangkan yang berbicara berjumlah banyak dan memakai kata kami. Di 43:24 pemberi peringatan itu membalas dalam bentuk tunggal, aku, dan yang menjawabnya kembali berbentuk jamak. Susunan satu berhadapan dengan banyak ini sudah terpasang di 43:23.

Akibat bagi mereka belum tercantum di ayat ini. Akibatnya baru muncul di 43:25, sesudah 43:24 menutup percakapan. Dalam rangkaian 43:19 sampai 43:24, ayat ini adalah tempat dalih warisan berpindah dari ucapan satu kelompok ke pola yang diulang.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat 43:23 menyebut siapa yang mengucapkan dalih warisan: orang-orang yang diberi kemewahan di negeri itu. Teksnya tidak menyatakan bahwa kemewahan menyebabkan dalih itu, dan tidak menyatakan bahwa semua penduduk negeri berada dalam keadaan demikian. Ayat hanya menuliskan bahwa mereka yang mengucapkannya termasuk golongan itu. Pembaca dapat menanyakan keadaan apa yang dinikmatinya dari susunan yang diwarisinya, dan apakah keadaan itu ikut menentukan kalimat yang dipilihnya ketika susunan itu dipertanyakan. Menurut ayat ini, pemberi peringatan yang diutus Kami berhadapan dengan kalimat yang sama di negeri yang didatanginya. Kalimat apa yang dipertahankannya dengan mudah karena susunan itu menguntungkannya?
  • Dua sebutan di sekitar ucapan ini sama-sama menunjuk sesuatu yang diterima. Para pengucap dinamai orang yang diberi kemewahan, dan mereka berkata kami mendapati nenek moyang kami. Di 23:33 Allah, dengan kata Kami, menyebut telah memberi kemewahan kepada para pemuka yang menolak. Dapat dibaca bahwa kemewahan dan warisan keyakinan adalah dua hal yang sama-sama datang kepada mereka tanpa mereka mengerjakannya, meskipun ayat tidak menghubungkannya secara langsung. Pembaca dapat memisahkan apa yang dipegangnya dengan bangga menjadi dua daftar, yang diterima dan yang diusahakan, lalu memperhatikan daftar mana yang lebih sering ia bela bila ada yang menggugatnya.
  • Di 34:34 yang dikutip hanya penolakan. Di 43:23 dan 43:24 dalih warisan datang di depannya dan dipisah dari penolakan oleh sebuah pertanyaan, dan urutannya terlihat: dalih warisan lebih dulu, lalu, sesudah ditanya apakah petunjuk yang lebih baik pun ditolak, muncul penolakan. Allah menyebut pola itu di 43:23 sebagai sesuatu yang berulang. Urutan di 43:23 dan 43:24 memperlihatkan dalih lebih dulu dan penolakan sesudah pertanyaan, sedangkan 34:34 hanya memuat penolakan. Bila alasan yang diucapkan pembaca dihadapkan pada tawaran yang lebih baik, apakah alasan itu masih berfungsi sebagai alasan, atau sudah berganti menjadi sikap yang tidak membutuhkan alasan lagi?
  • Kata pemberi peringatan di 43:23 berbentuk tunggal, seorang di tiap negeri, sedangkan yang menjawab memakai kata kami dalam bentuk jamak. Seseorang berhadapan dengan sebuah kelompok yang bersuara sama, dan menurut ayat ini yang mengutusnya adalah Kami, yaitu Allah. Ayat tidak menyebut berapa banyak penduduk negeri itu yang sependapat dengan ucapan tersebut, tetapi bentuk jamak kami memberi kesan kelompok. Pembaca yang pernah menyampaikan sesuatu yang berbeda dari kebiasaan lingkungannya mengenal posisi itu, dan pembaca yang pernah berada di tengah kelompok yang menjawab dengan satu suara mengenal posisi lainnya. Di posisi mana pembaca lebih sering berdiri, dan apa yang akan terdengar bila pembaca berbicara dari posisi yang lain?
  • Akar ق-د-و, mengikuti, dipakai di dua ayat saja, 6:90 dan 43:23, dan objeknya berbeda. Di 6:90 Allah memerintahkan ikutilah petunjuk mereka, yaitu mereka yang diberi petunjuk oleh Allah. Di 43:23 jejak nenek moyang yang diikuti. Kata kerjanya satu akar, tetapi pihak yang dituju tidak sama: yang satu mengarah pada petunjuk milik orang-orang yang diberi petunjuk, yang lain pada jejak yang ditinggalkan. Pembaca yang berkata "aku mengikuti" dapat memperhatikan apa yang mengisi kalimat itu sesudah kata mengikuti. Apakah kalimat itu berisi petunjuk yang diberikan Dia kepada orang-orang tertentu, atau jejak yang tampak karena banyak kaki telah melewatinya?
  • Kalimat di 43:22 dan 43:23 sama kecuali kata terakhir. Di 43:22 mereka berkata kami mendapat petunjuk, dan di 43:23 orang-orang yang diberi kemewahan berkata kami mengikuti. Satu kata menyebut keadaan sudah diberi petunjuk, dan satu kata lagi menyebut tindakan mengikuti. Ayat tidak menerangkan mengapa kata itu berganti. Pembaca dapat mengamati hal serupa pada kalimat pembelaannya sendiri: ketika alasan yang sama diulang oleh orang yang hidupnya diberi kemewahan, kata mana yang bertahan di ujung kalimat, petunjuk atau mengikuti saja? Dan pada kalimat mana pembaca memilih kata yang lebih sederhana karena kata yang lebih besar tidak lagi sanggup dipertanggungjawabkannya?