إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ

kecuali Dia yang menciptakanku; maka, sesungguhnya Dia akan memberiku petunjuk.”

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِيillaa lladzii fatharaniikecuali Dia yang menciptakanku
  2. فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِfa-innahu sa-yahdiinimaka, sesungguhnya Dia akan memberiku petunjuk

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. إِلَّاillaakecuali
  2. الَّذِيlladziiyang
  3. فَطَرَنِيfatharaniimenciptakanku
  4. فَإِنَّهُfa-innahumaka sesungguhnya dia
  5. سَيَهْدِينِsa-yahdiiniDia akan memberiku petunjuk

Inti bacaan

Frasa (الَّذِي فَطَرَنِي, alladzii fatharanii) muncul tiga kali di Al-Qur'an, yaitu di 11:51, 36:22, dan 43:27.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (إِلَّا, illaa) yang berarti "kecuali", dan kata itu menyambung ke 43:26: apa yang dilepaskan di sana dikecualikan di sini. Kata (الَّذِي, alladzii) yang berarti "yang" menunjuk satu pihak, dan (فَطَرَنِي, fatharanii) yang berarti "menciptakanku" tersusun dari kata kerja (فَطَرَ, fathara) dan akhiran (نِي, -nii) yang berarti "ku". Kata kerja fathara berakar ف-ط-ر dan, dengan berbagai akhiran, muncul delapan kali di delapan surah, yaitu 6:79, 11:51, 17:51, 20:72, 21:56, 30:30, 36:22, dan 43:27. Bentuk (الَّذِي فَطَرَنِي, alladzii fatharanii) yang berarti "Dia yang menciptakanku" muncul tiga kali, yaitu di 11:51, 36:22, dan 43:27. Di 11:51 frasa itu menjadi tempat imbalan bergantung, (عَلَى الَّذِي فَطَرَنِي, 'alaa lladzii fatharanii) yang berarti "atas Dia yang menciptakanku", dan di 36:22 menjadi alasan sebuah pertanyaan pembicara tentang dirinya sendiri. Di 43:27 frasa itu menjadi pengecualian dari apa yang dilepaskan di 43:26.

Terjemahan menulis Dia dengan huruf besar karena di 21:56, dalam kisah Ibrahim yang dibuka di 21:51, pihak yang menciptakan disebut (رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ, rabbu s-samaawaati wa-l-ardhi) yang berarti "Tuhan langit dan bumi", lalu dilanjutkan (الَّذِي فَطَرَهُنَّ, alladzii fatharahunna) yang berarti "yang menciptakannya". Kata kerja yang sama dipakai di 6:79, dalam ucapan Ibrahim yang dibuka di 6:74, yaitu (لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ, li-lladzii fathara s-samaawaati wa-l-ardha) yang berarti "kepada Dia yang menciptakan langit dan bumi". Di 6:79 dan 21:56 langit dan bumi yang diciptakan, sedangkan di 43:27 pembicara sendiri yang diciptakan.

Kata (سَيَهْدِينِ, sa-yahdiini) yang berarti "Dia akan memberiku petunjuk" tersusun dari awalan (سَ, sa) yang berarti "akan", kata kerja (يَهْدِي, yahdii) berakar ه-د-ي, dan akhiran -nii yang berarti "ku". Bentuk (يَهْدِينِ, yahdiini) muncul empat kali di tiga surah, yaitu 26:62, 26:78, 37:99, dan 43:27, dan dengan awalan sa- tiga kali, yaitu 26:62, 37:99, dan 43:27. Di 26:62 dan 37:99 pelakunya ditulis (رَبِّي, rabbii) yang berarti "Tuhanku", sedangkan di 43:27 pelakunya ditulis lewat kata ganti -hu pada (فَإِنَّهُ, fa-innahu) yang berarti "maka sesungguhnya Dia", dan kata ganti itu kembali kepada Dia yang menciptakan. Di 26:78 bentuk tanpa sa- mengikuti (الَّذِي خَلَقَنِي, alladzii khalaqanii) yang berarti "Dia yang menciptakanku", dan ayat itu berada dalam kisah Ibrahim yang dibuka di 26:69, seperti 37:99 yang berada dalam kisah yang dibuka di 37:83. Terjemahan memakai "menciptakanku" untuk khalaqanii dan untuk fatharanii; ayat-ayat ini tidak menjelaskan apa beda kedua kata kerja itu.

Ayat ini tidak menulis apakah kaum Ibrahim juga menyembah Dia yang menciptakannya. Ayat mencatat bahwa Dia dikecualikan dari apa yang dilepaskan, tanpa keterangan lain. Tanda kutip yang dibuka di 43:26 ditutup di akhir ayat ini. Terjemahan memakai "maka, sesungguhnya Dia" untuk fa-innahu tanpa menambahkan sebab atau urutan waktu, dan memakai "akan memberiku petunjuk" untuk sa-yahdiini tanpa menyebut kapan petunjuk itu datang atau ke mana.

Tafsiran

Ayat ini menyelesaikan kalimat Ibrahim yang dibuka di 43:26 dan mengubah arahnya. Di 43:26 Ibrahim berlepas diri dari apa yang disembah bapak dan kaumnya tanpa batas. Di 43:27 satu pihak dikecualikan, dan pihak itu dikenali lewat perbuatannya, yaitu menciptakan pembicara, tanpa disebut namanya. Sesudah pengecualian itu ayat memuat alasan yang menghadap ke depan, (فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ, fa-innahu sa-yahdiini) yang berarti "maka sesungguhnya Dia akan memberiku petunjuk".

Susunannya sejajar dengan 6:78 dan 6:79. Di 6:78 Ibrahim berlepas diri dari apa yang dipersekutukan kaumnya, lalu di 6:79 Ibrahim menghadapkan wajahnya kepada Dia yang menciptakan langit dan bumi. Pada kedua tempat penolakan disusul penunjukan satu pihak lewat perbuatan menciptakan. Perbedaannya terletak pada yang diciptakan: di 6:79 langit dan bumi, di 43:27 pembicara sendiri, dan janji petunjuk hanya ada di 43:27.

Pembicara menempatkan dirinya sebagai pihak yang diciptakan lebih dulu, lalu sebagai pihak yang akan diberi petunjuk. Urutan yang sama ditulis di 26:78: Dia yang menciptakanku, maka Dia yang memberiku petunjuk. Kedua ayat itu menaruh petunjuk sebagai lanjutan dari penciptaan.

Ucapan Ibrahim di 43:26 dan 43:27 tidak ditutup dengan pernyataan selamat. Penutupnya kata kerja yang menunjuk waktu yang akan datang, sa-yahdiini, sehingga petunjuk digambarkan belum sampai pada saat kalimat itu diucapkan. Ayat 43:28 melanjutkan dengan kalimat yang dijadikan tetap ada pada keturunan, dan keterangannya ada di sana.

Renungan dan Hikmah

  • Dari semua yang dilepaskan di 43:26, ayat ini mengecualikan satu pihak, dan pihak itu tidak diberi nama. Pihak itu dikenali lewat perbuatannya, yaitu menciptakan pembicara, dan perbuatan yang sama dikaitkan dengan pembicara lain di 11:51 dan 36:22. Di 21:56 pihak yang menciptakan itu disebut Tuhan langit dan bumi. Pembaca yang mendaftar hal-hal yang ditolaknya dalam hidup dapat bertanya, adakah pihak yang selalu dikecualikan dari daftar itu, dan dengan perbuatan apa pihak itu dikenali?
  • Penutup ucapan Ibrahim memakai kata kerja yang menunjuk masa depan, yaitu Dia akan memberiku petunjuk, sehingga petunjuk belum dipegang pada saat ucapan itu keluar. Di 37:99 ucapan serupa mengikuti pernyataan bahwa Ibrahim pergi kepada Tuhannya, dan di 26:62 Tuhanku disebut bersamaku sebelum kata akan memberi petunjuk. Pada ketiganya petunjuk disebut sebagai sesuatu yang akan datang dari pihak yang disebut, sebelum jalannya terlihat. Seberapa jauh pembaca sanggup menyatakan keyakinan tentang arah yang belum terlihat, dan kepada siapa keyakinan itu dialamatkan?
  • Ayat ini dan 26:78 menaruh penciptaan lebih dulu dan petunjuk sesudahnya, dengan kata maka di antara keduanya. Asal pembicara tidak dipilihnya, dan petunjuk dinyatakan sebagai lanjutan dari asal itu. Di 36:22 pertanyaan tentang Dia yang menciptakan pembicara disusul pernyataan bahwa hanya kepada-Nya orang dikembalikan, sehingga asal dan tujuan disebut dalam satu ayat. Pembaca yang menelusuri hidupnya sampai bagian yang tidak dipilihnya dapat bertanya, apa yang ditemukannya di sana dan ke mana bagian itu mengarah?
  • Di 11:51 imbalan pembicara bergantung pada Dia yang menciptakannya, dan ayat itu ditutup dengan pertanyaan tidakkah kalian berakal. Di 43:27 pihak yang sama menjadi tempat petunjuk bergantung. Dua ayat itu berasal dari pembicara yang berbeda dan tidak disamakan, tetapi keduanya menaruh sesuatu yang dibutuhkan pembicara, imbalan di satu ayat dan petunjuk di ayat lain, pada Dia yang menciptakannya. Pembaca dapat menimbang kebutuhan yang sering dimintanya dari orang lain, lalu bertanya, mana di antaranya yang dapat diterima dari Dia yang menciptakannya dan tidak dari orang lain?
  • Di 43:26 dan 43:27 tidak ada kutipan jawaban dari bapak atau kaum Ibrahim, dan ayat berikutnya langsung memuat kalimat yang dijadikan tetap ada. Ucapan itu dicatat tanpa reaksi pendengarnya. Pembaca yang pernah menyampaikan sikap tanpa mendengar tanggapan dapat menyadari bahwa nilai sebuah ucapan di dalam ayat ini tidak digantungkan pada jawaban. Apakah pembaca menimbang ucapannya sendiri dari apa yang dikatakannya atau dari tanggapan yang diterimanya?
  • Di 43:26 pembicara menjadi pelaku: aku berlepas diri. Di 43:27 dua kata kerja menjadikannya penerima: Dia menciptakanku dan Dia akan memberiku petunjuk. Peralihan itu terjadi dalam satu kalimat yang bersambung dengan kata kecuali. Kalimat pembaca sendiri sering memuat aku sebagai pelaku, dan jarang menaruh aku sebagai penerima dari Dia. Dalam percakapan hari ini, kalimat mana yang menaruh pembaca di tempat penerima, dan kepada siapa penerimaan itu ditujukan?