وَجَعَلَهَا كَلِمَةً بَاقِيَةً فِي عَقِبِهِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Dan ia menjadikannya suatu perkataan yang kekal pada keturunannya, agar mereka kembali.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَجَعَلَهَا كَلِمَةً بَاقِيَةً فِي عَقِبِهِwa-ja'alahaa kalimatan baaqiyatan fii 'aqibihidan ia menjadikannya suatu perkataan yang kekal pada keturunannya
- لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَla'allahum yarji'uunaagar mereka kembali
Terjemahan per kata (7 kata)
- وَجَعَلَهَاwa-ja'alahaadan Dia menjadikannya
- كَلِمَةًkalimatankalimat
- بَاقِيَةًbaaqiyatanyang tersisa
- فِيfiipada
- عَقِبِهِ'aqibihitumitnya
- لَعَلَّهُمْla'allahumagar mereka
- يَرْجِعُونَyarji'uunakembali
Inti bacaan
Bentuk (عَقِبِهِ, 'aqibihi) muncul sekali di Al-Qur'an, yaitu di 43:28, sedangkan bentuk dua (عَقِبَيْهِ, 'aqibayhi) muncul tiga kali, yaitu di 2:143, 3:144, dan 8:48.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (وَجَعَلَهَا, wa-ja'alahaa) yang berarti "dan ia menjadikannya". Awalan (وَ, wa) berarti "dan", kata kerjanya (جَعَلَ, ja'ala) berakar ج-ع-ل, dan akhiran (هَا, -haa) berarti "-nya" untuk satu benda perempuan. Bentuk persis wa-ja'alahaa muncul sekali, di ayat ini. Pelaku kata kerjanya berbentuk laki-laki tunggal dan tidak diberi nama. Terjemahan memakai "ia", yaitu pembicara terakhir yang namanya ditulis, Ibrahim di 43:26. Bacaan lain menjadikan Dia pelakunya, sebab kata ganti -hu di 43:27 menunjuk Dia yang menciptakan dan juga berbentuk laki-laki tunggal. Bacaan kedua itu punya pasangan di 29:27, (وَجَعَلْنَا فِي ذُرِّيَّتِهِ, wa-ja'alnaa fii dzurriyyatihi) yang berarti "dan Kami jadikan pada keturunannya", dan di 57:26, (وَجَعَلْنَا فِي ذُرِّيَّتِهِمَا, wa-ja'alnaa fii dzurriyyatihimaa) yang berarti "dan Kami jadikan pada keturunan keduanya", yang pelakunya Kami. Bacaan pertama punya pasangan di 2:132, (وَوَصَّىٰ بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ, wa-washshaa bihaa ibraahiimu baniihi) yang berarti "dan Ibrahim mewasiatkan itu kepada anak-anaknya", yang pelakunya Ibrahim tanpa kata kerja ja'ala. Kedua bacaan menaruh perkataan itu pada keturunan, dan hal itu yang ditulis ayat ini.
Kata (كَلِمَةً, kalimatan) yang berarti "perkataan" berakar ك-ل-م dan berbentuk tak tentu, sehingga terjemahan memakai "suatu perkataan". Bentuk persis ini muncul tiga kali, yaitu di 14:24, 18:5, dan 43:28. Di 14:24 kata itu diberi sifat (كَلِمَةً طَيِّبَةً, kalimatan thayyibatan) yang berarti "kalimat yang baik", dan di 18:5 ia disusul (كَبُرَتْ كَلِمَةً, kaburat kalimatan) yang berarti "alangkah besarnya perkataan" yang keluar dari mulut orang-orang yang disebut ayat itu. Di 43:28 sifatnya (بَاقِيَةً, baaqiyatan) yang berarti "kekal", berakar ب-ق-ي, dan bentuk persis baaqiyatan muncul sekali, di ayat ini. Akar yang sama dipakai untuk yang tersisa di 69:8, (مِنْ بَاقِيَةٍ, min baaqiyatin) yang berarti "seorang pun yang tersisa", dan di 26:120, (الْبَاقِينَ, l-baaqiina) yang berarti "yang tersisa", serta untuk yang bertahan di 37:77. Sifat kekal di 43:28 dibatasi oleh (فِي عَقِبِهِ, fii 'aqibihi) yang berarti "pada keturunannya": perkataan itu ditulis tetap ada di antara mereka, dan ayat tidak menyebut tempat lain.
Kata (عَقِبِهِ, 'aqibihi) berakar ع-ق-ب dan muncul sekali dalam bentuk tunggal ini. Bentuk dua, (عَقِبَيْهِ, 'aqibayhi), muncul tiga kali, yaitu di 2:143, 3:144, dan 8:48, dan di ketiganya terdapat pada kata kerja berbalik, yang diterjemahkan "berbalik ke belakang". Di 43:28 terjemahan memakai "keturunannya" karena kata ganti sesudahnya berbentuk jamak, (لَعَلَّهُمْ, la'allahum) yang berarti "agar mereka", sehingga yang dimaksud lebih dari satu orang dan berada di belakang pelaku. Akar yang sama dipakai di 43:25 untuk (عَاقِبَةُ, 'aaqibatu) yang berarti "akibat". Kata lain untuk keturunan yang dipakai Al-Qur'an adalah (ذُرِّيَّتِهِ, dzurriyyatihi), seperti di 29:27, dan kata itu tidak dipakai di 43:28.
Frasa (لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ, la'allahum yarji'uuna) yang berarti "agar mereka kembali" muncul sembilan kali di tujuh surah, yaitu 3:72, 7:168, 7:174, 12:62, 30:41, 32:21, 43:28, 43:48, dan 46:27. Pelaku yang tujuannya ditulis dengan frasa itu tidak selalu Kami. Di 3:72 pelakunya sekelompok Ahlulkitab yang berkata, di 12:62 seorang yang memerintahkan para pembantunya meletakkan barang dagangan, di 30:41 Dia, dan di 7:168, 7:174, 32:21, 43:48, serta 46:27 Kami. Di 43:28 pelakunya tidak ditulis, dan tujuan kembali tidak disertai tempat tujuan.
Tafsiran
Ayat ini memindahkan sorotan dari ucapan Ibrahim ke apa yang terjadi pada ucapan itu sesudahnya: sebuah perkataan dijadikan tetap ada pada keturunan. Kata ganti perempuan -haa di (وَجَعَلَهَا, wa-ja'alahaa) tidak punya kata perempuan di 43:26 dan 43:27 yang dapat ditunjuknya, sehingga dapat dibaca menunjuk ke ucapan yang baru selesai itu, yang di ayat ini diberi nama (كَلِمَةً, kalimatan). Dengan begitu 43:26 dan 43:27, yang ditulis sebagai ucapan satu orang, menjadi di 43:28 sesuatu yang berpindah ke orang-orang sesudahnya.
Tujuan perpindahan itu ditulis di akhir ayat, (لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ, la'allahum yarji'uuna) yang berarti "agar mereka kembali", dan tujuan ini tidak menyebut tempat kembali. Dari 43:27, tempat Ibrahim menyebut Dia yang menciptakannya dan yang akan memberinya petunjuk, pembaca dapat menarik arah kembali itu, tetapi 43:28 sendiri tidak menyambungkannya.
Ayat 43:22 dan 43:23 memuat ucapan lain yang berpindah antargenerasi, (وَجَدْنَا آبَاءَنَا, wajadnaa aabaa'anaa) yang berarti "kami mendapati nenek moyang kami". Dua ayat itu dan 43:28 sama-sama memperlihatkan sesuatu yang sampai kepada orang-orang sesudahnya. Perbedaannya terletak pada tulisan di sekitar yang sampai itu: di 43:22 dan 43:23 tidak ada tujuan yang disebut, sedangkan di 43:28 tujuan disebut di ujung ayat.
Ayat 43:29 beralih dengan kata (بَلْ, bal) yang berarti "bahkan", dan keterangan peralihan itu ada di sana.
Renungan dan Hikmah
- Dua ayat ucapan Ibrahim, yang dibuka di 43:26, dijadikan perkataan yang tetap ada pada orang-orang sesudahnya di 43:28. Di 2:132 Ibrahim mewasiatkan sesuatu kepada anak-anaknya, dan Ya'qub mengucapkan pesan yang dibuka dengan panggilan wahai anak-anakku, lalu menyebut bahwa Allah telah memilih pertanggungjawaban itu bagi mereka. Dua ayat ini tidak disamakan: 2:132 memuat wasiat, dan 43:28 memuat perkataan yang dijadikan tetap ada. Keduanya menaruh ucapan seseorang pada generasi sesudahnya. Kalimat apa dalam hidup pembaca yang cukup jelas untuk dipindahkan kepada orang sesudahnya, dan sudahkah kalimat itu pernah diucapkan dengan kata-katanya sendiri?
- Frasa agar mereka kembali ditulis untuk tujuan yang berasal dari pihak yang berbeda. Di 3:72 sekelompok Ahlulkitab menyuruh orang beriman pada awal siang dan ingkar pada akhirnya, agar mereka kembali. Di 12:62 seorang yang memerintahkan para pembantunya meletakkan barang dagangan di karung orang lain menulis tujuan yang sama. Di 30:41 Dia mencicipkan kepada manusia sebagian dari apa yang mereka kerjakan, agar mereka kembali. Kata kembali sama, sedangkan pelaku dan isi perbuatannya berbeda. Di 43:28 pelaku tidak disebut dan tujuan kembali tidak diberi alamat. Bila kata kembali dipakai untuk pembaca, siapa yang menyusun perbuatan di baliknya, dan ke arah mana kembali itu dimaksudkan?
- Di 43:22 dan 43:23 yang sampai kepada penerima ditulis dengan kalimat kami mendapati nenek moyang kami, dan tidak ada tujuan yang disebut untuk jalan itu. Di 43:28 yang sampai kepada penerima disertai tujuan, yaitu agar mereka kembali. Pembicara di kedua tempat itu berbeda, sehingga keduanya tidak disamakan, tetapi penulisannya memperlihatkan bahwa sesuatu yang diwariskan dapat tiba tanpa alasan yang tertulis dan dapat pula tiba bersama tujuannya. Dari semua yang diterima pembaca dari orang tuanya, bagian mana yang tiba bersama tujuan, dan bagian mana yang tiba sebagai kebiasaan?
- Ucapan Ibrahim di 43:26 ditujukan kepada bapak dan kaumnya, sedangkan perkataan itu di 43:28 diletakkan pada orang-orang yang datang di belakangnya. Penerima ucapan dan penerima warisan ucapan itu dapat berbeda. Di tengah ucapan itu, 43:27 memuat pernyataan bahwa Dia yang menciptakan pembicara akan memberinya petunjuk, dan pernyataan itu ikut berpindah bersama perkataan tadi. Ayat tidak membatasi orang yang datang di belakang itu pada yang mendengar langsung. Pembaca yang berbicara kepada orang yang hadir dapat bertanya, siapa lagi yang kelak menerima kalimat itu, dan apakah kata-katanya cukup jelas bagi mereka yang tidak pernah mendengar suaranya?
- Siapa yang menjadikan perkataan itu tetap ada tidak ditulis di 43:28. Di 29:27 dan 57:26 pelaku yang meletakkan sesuatu pada keturunan Ibrahim ditulis Kami, dan di 2:132 Ibrahim yang mewasiatkan kepada anak-anaknya. Dari tiga ayat itu terlihat dua jalur yang sama-sama tercatat: Kami yang menaruh, dan Ibrahim yang mewasiatkan. Ayat 43:28 tidak memilih di antara keduanya. Pembaca yang menerima sesuatu dari generasi sebelumnya dapat bertanya, apakah penerimaan itu dicatat sebagai pemberian dari seseorang atau sebagai sesuatu yang diletakkan di hadapannya, dan apakah perbedaan itu penting baginya?
- Sifat kekal di 43:28 dibatasi oleh kata pada keturunannya, sehingga perkataan itu ditulis tetap ada di satu tempat tertentu. Di 69:8 akar kata yang sama dipakai dalam pertanyaan adakah seorang pun yang tersisa dari kaum yang binasa. Dua ayat itu berbeda konteks dan tidak disamakan, tetapi keduanya memakai akar yang sama untuk sesuatu yang bertahan setelah pelakunya tiada. Apa yang bertahan pada orang-orang sesudah seseorang tiada: ucapan, kebiasaan, atau kenangan, dan apakah yang bertahan itu sama dengan yang pernah dimaksudkannya?