وَلَوْلَا أَنْ يَكُونَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً لَجَعَلْنَا لِمَنْ يَكْفُرُ بِالرَّحْمَٰنِ لِبُيُوتِهِمْ سُقُفًا مِنْ فِضَّةٍ وَمَعَارِجَ عَلَيْهَا يَظْهَرُونَ
Seandainya bukan disebabkan manusia akan menjadi satu umat, pastilah sudah Kami buatkan bagi orang-orang yang kufur kepada Ar-Rahman, loteng-loteng dari perak untuk rumah-rumah mereka, dan tangga-tangga yang mereka naiki,
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَلَوْلَا أَنْ يَكُونَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةًwa-lawlaa an yakuuna n-naasu ummatan waahidatanseandainya bukan disebabkan manusia akan menjadi satu umat
- لَجَعَلْنَا لِمَنْ يَكْفُرُ بِالرَّحْمَٰنِ لِبُيُوتِهِمْ سُقُفًا مِنْ فِضَّةٍ وَمَعَارِجَ عَلَيْهَا يَظْهَرُونَla-ja'alnaa li-man yakfuru bi-r-rahmaani li-buyuutihim suqufan min fidhdhatin wa-ma'aarija 'alayhaa yazhharuunapastilah sudah Kami buatkan bagi orang-orang yang kufur kepada Ar-Rahman, loteng-loteng dari perak untuk rumah-rumah mereka, dan tangga-tangga yang mereka naiki
Terjemahan per kata (17 kata)
- وَلَوْلَاwa-lawlaadan sekiranya tidak
- أَنْanbahwa
- يَكُونَyakuunaada
- النَّاسُn-naasumanusia
- أُمَّةًummatanumat
- وَاحِدَةًwaahidatansatu
- لَجَعَلْنَاla-ja'alnaasungguh Kami akan menjadikan
- لِمَنْli-manbagi orang yang
- يَكْفُرُyakfurukufur
- بِالرَّحْمَٰنِbi-r-rahmaanipada Ar-Rahman
- لِبُيُوتِهِمْli-buyuutihimbagi rumah-rumah mereka
- سُقُفًاsuqufanatap
- مِنْmindari
- فِضَّةٍfidhdhatinperak
- وَمَعَارِجَwa-ma'aarijadan tangga
- عَلَيْهَا'alayhaaatasnya
- يَظْهَرُونَyazhharuunamereka naik
Inti bacaan
Bentuk jamak (سُقُفًا, suqufan) hanya ada di 43:33, sedangkan akar yang sama muncul empat kali di Al-Qur'an (16:26, 21:32, 43:33, 52:5).
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (وَلَوْلَا أَنْ, wa-lawlaa an) yang berarti "dan sekiranya tidak". Susunan itu muncul empat kali di empat surah, yaitu 17:74, 28:47, 43:33, dan 59:3. Kata lawlaa sendiri muncul tiga kali di surah ini dengan dua makna: "mengapa tidak" di 43:31 dan 43:53, serta "sekiranya tidak" di 43:33. Di 59:3, (وَلَوْلَا أَنْ كَتَبَ اللَّهُ عَلَيْهِمُ الْجَلَاءَ, wa-lawlaa an kataba llaahu 'alayhimu l-jalaa'a) yang berarti "dan sekiranya Allah tidak menetapkan pengusiran atas mereka" disusul oleh akibat yang tidak terjadi karena penetapan itu, yaitu azab di dunia. Di 43:33 pola yang sama dipakai: sesuatu yang diandaikan terjadi, lalu akibat yang tidak jadi.
Pengandaian itu menyebut keadaan (أَنْ يَكُونَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً, an yakuuna n-naasu ummatan waahidatan) yang berarti "manusia akan menjadi satu umat". Frasa (أُمَّةً وَاحِدَةً, ummatan waahidatan) yang berarti "satu umat" muncul sembilan kali di sembilan surah, yaitu 2:213, 5:48, 10:19, 11:118, 16:93, 21:92, 23:52, 42:8, dan 43:33. Di 2:213 dan 10:19 satu umat menggambarkan keadaan manusia yang sudah lewat. Di 5:48, 11:118, 16:93, dan 42:8 frasa itu dipakai dalam pengandaian tentang kehendak Allah. Di 21:92 dan 23:52 frasa itu menyebut umat yang diajak mengabdi dan bertakwa. Susunan "manusia akan menjadi satu umat" sebagai alasan menahan sesuatu hanya ada di 43:33. Ayat ini tidak menyebut satu umat dalam hal apa.
Akibat yang tidak jadi dimulai dengan (لَجَعَلْنَا, la-ja'alnaa) yang berarti "pastilah sudah Kami buatkan". Bentuk ini muncul empat kali di tiga surah, yaitu 6:9, 43:33, 43:60, dan 56:65. Di 43:60, (لَجَعَلْنَا مِنْكُمْ مَلَائِكَةً, la-ja'alnaa minkum malaa'ikatan) yang berarti "niscaya Kami jadikan dari kalian malaikat-malaikat" memakai pengandaian dengan "sekiranya Kami menghendaki", sedangkan 43:33 memakai alasan yang disebut di depan. Kata (لِمَنْ يَكْفُرُ بِالرَّحْمَٰنِ, li-man yakfuru bi-r-rahmaani) yang berarti "bagi orang yang kufur kepada Ar-Rahman" menyebut penerima pengandaian itu. Susunan yakfuru bi-r-rahmaani dalam bentuk tunggal hanya ada di 43:33. Bentuk jamaknya, (يَكْفُرُونَ بِالرَّحْمَٰنِ, yakfuruuna bi-r-rahmaani), ada di 13:30, dan di 21:36 orang-orang yang kufur disebut (بِذِكْرِ الرَّحْمَٰنِ هُمْ كَافِرُونَ, bi-dzikri r-rahmaani hum kaafiruuna) yang berarti "kufur terhadap peringatan Ar-Rahman". Di tiga ayat itu pengingkaran disebut bersama nama Ar-Rahman.
Benda pertama dalam daftar itu disebut (سُقُفًا مِنْ فِضَّةٍ, suqufan min fidhdhatin) yang berarti "loteng-loteng dari perak". Akar س-ق-ف muncul empat kali di empat surah, yaitu 16:26, 21:32, 43:33, dan 52:5, dan hanya di 43:33 bentuknya jamak. Di tiga ayat lain kata itu diterjemahkan "atap", yaitu atap yang runtuh di 16:26, langit sebagai atap yang terpelihara di 21:32, dan atap yang ditinggikan di 52:5. Untuk bentuk jamak di 43:33, terjemahan memakai "loteng-loteng" karena ayat menyebut bagian rumah-rumah yang dibuatkan bagi pemiliknya. Perak, (فِضَّةٍ, fidhdhatin), muncul dalam bentuk "dari perak" empat kali di dua surah, yaitu 43:33, 76:15, 76:16, dan 76:21, dan kata fidhdhah muncul enam kali di empat surah, yaitu 3:14, 9:34, 43:33, 76:15, 76:16, dan 76:21. Di surah 76 perak menjadi bejana dan gelang dalam keadaan orang-orang yang diberi minum oleh Tuhan mereka, jadi bahan yang sama tampil di dua tempat dengan kedudukan yang berlawanan.
Benda kedua (وَمَعَارِجَ, wa-ma'aarija) yang berarti "dan tangga-tangga" hanya muncul dua kali, di 43:33 dan 70:3. Di 70:3, (ذِي الْمَعَارِجِ, dzii l-ma'aariji) yang berarti "Pemilik tempat-tempat naik" menyifati Allah, dan 70:4 menyebut malaikat dan Ruh naik kepada-Nya. Kata kerja (يَظْهَرُونَ, yazhharuuna) yang berarti "mereka naiki" termasuk lima kemunculan lema yang sama dalam bentuk orang ketiga jamak, yaitu di 9:8, 18:20, 18:97, 24:31, dan 43:33. Di 9:8 terjemahan memakai "menang atas kalian", di 18:20 "menangkap kalian", di 24:31 "mengerti tentang aurat", dan di 18:97 "mendakinya". Di 18:97 sasaran kata kerja itu benda fisik, yaitu dinding yang tinggi, sedangkan tiga ayat lain menyangkut kemenangan, penangkapan, atau pengetahuan. Karena itu "naiki" di 43:33 mengikuti 18:97.
Tafsiran
Ayat ini memberi alasan mengapa kemewahan penuh tidak diberikan kepada orang yang kufur kepada Ar-Rahman, dan alasan itu menyangkut keadaan manusia secara umum. Kelayakan para pengingkar tidak dibicarakan. Dalam kalimat bersyarat itu, sekiranya tidak ada kemungkinan bahwa manusia menjadi satu umat, pastilah sudah dibuatkan loteng perak dan tangga bagi mereka. Pengandaian itu menyebut pengingkar sebagai penerima yang mungkin, sehingga ayat ini tidak mengikat kemewahan dengan iman dalam satu arah mana pun.
Ayat ini melanjutkan 43:32, yang menyatakan bahwa rahmat Tuhanmu lebih baik daripada apa yang dikumpulkan. Daftar di sini dapat dibaca sebagai rincian dari apa yang dikumpulkan itu: loteng dan tangga, lalu pintu dan dipan di 43:34, dan perhiasan di 43:35. Terjemahan 43:33 berakhir dengan koma karena kalimatnya belum selesai, dan 43:34 melanjutkan dengan huruf dan yang menyambung ke daftar yang sama.
Perak dan tangga tidak diberi nilai buruk di dalam ayat. Perak muncul di 76:15, 76:16, dan 76:21 sebagai bejana dan gelang pada keadaan yang disebut baik, dan tangga disebut di 70:3 sebagai milik Allah. Karena itu 43:33 tidak menyatakan bahwa bahan atau bentuk itu buruk. Ayat mempersoalkan akibat pemberiannya kepada pengingkar terhadap manusia secara keseluruhan.
Ayat tidak mengisahkan pengandaian ini sebagai peristiwa yang pernah hampir terjadi. Hubungan yang dinyatakannya hanya antara dua hal: kemewahan yang diberikan kepada pengingkar, dan manusia yang menjadi satu umat. Di surah yang sama, 43:60 memakai bentuk pengandaian serupa dengan "sekiranya Kami menghendaki", dan hasilnya malaikat-malaikat di bumi. Dua pengandaian itu menunjukkan bahwa surah ini lebih dari sekali menyebut hal yang bisa terjadi tetapi tidak dijadikan.
Renungan dan Hikmah
- Ayat ini menyebut satu alasan untuk tidak memberikan kemewahan penuh kepada pengingkar, yaitu keadaan manusia yang akan menjadi satu umat. Ayat tidak menyebut alasan lain seperti layak atau tidak layaknya mereka. Orang yang melihat kemakmuran seseorang yang menolak apa yang dipegangnya dapat mencatat dua kesimpulan yang mudah melekat pada pemandangan itu: bahwa orang itu disayang atau bahwa orang itu dibiarkan. Ayat tidak mengatakan salah satunya. Apakah kesimpulan yang dipasang pembaca pada kemakmuran orang lain pernah diperiksa terhadap alasan yang disebut ayat ini?
- Penerima yang diandaikan di sini adalah orang yang kufur kepada Ar-Rahman, yaitu nama yang disandingkan dengan Allah di 17:110. Pengandaian itu tidak terjadi, jadi ayat tidak menyatakan bahwa kemewahan berada di tangan mereka. Pembaca yang mengukur kebaikan sebuah jalan dari kemakmuran orang yang menempuhnya dapat mengamati bahwa ukuran itu tidak muncul dalam ayat. Apakah kemakmuran yang terlihat pada orang beriman atau orang yang menolak pernah dibaca pembaca sebagai tanda, padahal ayat tidak memberinya arti itu?
- Kalimat bersyarat ini menyatakan bahwa manusia akan menjadi satu umat bila benda-benda itu diberikan. Dalam hal apa umat itu menjadi satu, ayat membiarkannya terbuka. Pembaca dapat mencari lingkungan dalam hidupnya tempat semua orang bergerak ke satu arah, di kantor, kampung, atau lingkaran pergaulan. Adakah di antara mereka yang masih menimbang arah itu dengan pertimbangan lain, dan pembaca sendiri termasuk yang mana?
- Kata yang diterjemahkan tangga di 43:33 juga muncul di 70:3, tempat Allah disebut Pemilik tempat-tempat naik, dan 70:4 menyebut malaikat serta Ruh naik kepada-Nya. Dua ayat itu berbeda konteks: yang satu tentang tangga rumah yang dinaiki penghuninya, yang lain tentang jalan naik kepada Allah. Kata yang sama menunjuk dua arah naik yang berlainan. Orang yang membangun tangga di rumahnya sendiri, tangga kedudukan atau tangga tabungan, dapat bertanya kepada tempat apa tangga itu membawanya naik, dan siapa yang sebenarnya menunggu di atas?
- Perak muncul di 43:33 sebagai loteng bagi rumah pengingkar, dan di 76:15, 76:16, 76:21 sebagai bejana dan gelang dalam keadaan orang yang minumannya diberikan oleh Tuhan mereka. Bahan yang sama berada di dua tempat dengan kedudukan berlawanan. Ayat 43:33 tidak menyatakan perak itu buruk, dan surah 76 tidak menyatakannya baik karena bahannya. Pembaca yang menimbang benda dari wujudnya dapat melihat bahwa nilai benda itu dalam dua ayat ini ditentukan oleh siapa yang memegangnya dan apa yang terjadi di sekitarnya. Pada benda miliknya sendiri, mana yang lebih dulu dilihat pembaca, wujudnya atau kedudukannya?
- Pengingkaran di 43:33 ditujukan kepada Ar-Rahman, dan nama itu juga muncul di 13:30 dan 21:36 pada ayat tentang penolakan. Nama Ar-Rahman muncul tepat pada kalimat tentang pengingkaran di ketiga ayat itu, dan 17:110 menaruh nama tersebut sejajar dengan Allah. Pembaca dapat bertanya apa yang berubah pada sebuah penolakan ketika yang ditolak disebut dengan nama itu. Apakah penolakan yang pernah dilakukan pembaca sendiri pernah diucapkan bersama nama yang ditolaknya?