وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ
Dan sesungguhnya mereka benar-benar menghalangi mereka dari jalan, sedangkan mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَّبِيلِwa-innahum la-yashudduunahum 'ani s-sabiilidan sesungguhnya mereka benar-benar menghalangi mereka dari jalan
- وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَwa-yahsabuuna annahum muhtaduunasedangkan mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk
Terjemahan per kata (7 kata)
- وَإِنَّهُمْwa-innahumdan sesungguhnya mereka
- لَيَصُدُّونَهُمْla-yashudduunahumsungguh mereka menghalangi mereka
- عَنِ'anidari
- السَّبِيلِs-sabiilijalan
- وَيَحْسَبُونَwa-yahsabuunadan mereka mengira
- أَنَّهُمْannahumbahwa mereka
- مُهْتَدُونَmuhtaduunaorang-orang yang mendapat petunjuk
Inti bacaan
Susunan (عَنِ السَّبِيلِ, 'ani s-sabiili) muncul lima kali di Al-Qur'an, yaitu di 13:33, 27:24, 29:38, 40:37, dan 43:37, dan di kelimanya kata kerja akar ص-د-د ada di sampingnya.
Penjelasan pilihan kata
Kalimat pertama ayat ini memuat (وَإِنَّهُمْ, wa-innahum) yang berarti "dan sesungguhnya mereka", lalu (لَيَصُدُّونَهُمْ, la-yashudduunahum) yang berarti "benar-benar menghalangi mereka". Bentuk kedua tersusun dari huruf lam yang menguatkan, kata kerja yashudduuna dari akar ص-د-د, dan akhiran -hum yang berarti "mereka" sebagai sasaran perbuatan. Bentuk la-yashudduunahum hanya ada di 43:37. Kata kerja yashudduuna tanpa lam muncul di sepuluh ayat dari sembilan surah, yaitu 4:61, 7:45, 8:34, 8:47, 9:34, 11:19, 14:3, 22:25, 43:37, dan 63:5. Di sembilan ayat lain dari daftar itu tidak ada kata ganti yang menempel pada kata kerjanya, sedangkan di 43:37 kata ganti itu menempel, sehingga terjemahan memakai "menghalangi mereka". Setan tertulis sebagai pelaku kata kerja akar ص-د-د di empat ayat, yaitu 5:91, 27:24, 29:38, dan 43:62. Di 43:62, (وَلَا يَصُدَّنَّكُمُ الشَّيْطَانُ, wa-laa yashuddannakumu sy-syaythaanu) yang berarti "dan janganlah sekali-kali setan menghalangi kalian", pelakunya disebut, dan ayat itu berada di surah yang sama dengan ayat ini.
Susunan (عَنِ السَّبِيلِ, 'ani s-sabiili) yang berarti "dari jalan" muncul di lima ayat, yaitu 13:33, 27:24, 29:38, 40:37, dan 43:37, dan di kelimanya kata kerja akar ص-د-د ada di sampingnya. Di 27:24 bunyinya (فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيلِ, fa-shaddahum 'ani s-sabiili) yang berarti "lalu menghalangi mereka dari jalan", dan bunyi Arab yang sama ada di 29:38. Di 40:37 bentuknya pasif, (وَصُدَّ عَنِ السَّبِيلِ, wa-shudda 'ani s-sabiili) yang berarti "dan ia dihalangi dari jalan", dan di 13:33 (وَصُدُّوا عَنِ السَّبِيلِ, wa-shudduu 'ani s-sabiili) yang berarti "dan mereka dihalangi dari jalan". Di kedua bentuk pasif itu pelaku tidak disebut, dan di 43:37 pelakunya jamak dan tidak dinamai. Kata s-sabiili memakai kata sandang al- dan tidak diikuti kata lain, sehingga terjemahan tidak menambahkan "yang lurus", "yang benar", atau "Allah". Padanan "jalan" untuk akar س-ب-ل sama dengan yang dipakai di bagian lain terjemahan ini.
Kata (وَيَحْسَبُونَ, wa-yahsabuuna) yang berarti "dan mereka mengira" berakar ح-س-ب, dan (أَنَّهُمْ, annahum) berarti "bahwa mereka". Rangkaian wa-yahsabuuna annahum muncul tiga kali, yaitu di 7:30, 43:37, dan 58:18. Di 7:30 rangkaian itu disusul (مُهْتَدُونَ, muhtaduuna) seperti di ayat ini, dan di 58:18 disusul (عَلَىٰ شَيْءٍ, 'alaa syay'in) yang berarti "di atas sesuatu". Di 18:104 kata kerja yang sama dibuka dengan wa-hum, (يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا, yahsabuuna annahum yuhsinuuna shun'an) yang berarti "mengira bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya". Kata kerja ini mencatat isi pikiran pelaku tanpa menyatakan isinya benar, dan terjemahan "mengira" menjaga batas itu.
Kata (مُهْتَدُونَ, muhtaduuna) yang berarti "orang-orang yang mendapat petunjuk" berakar ه-د-ي dan menunjuk keadaan sudah mendapat petunjuk. Kata ini muncul di delapan ayat dari lima surah, yaitu 2:70, 2:157, 6:82, 7:30, 36:21, 43:22, 43:37, dan 43:49, jadi tiga di antaranya ada di surah ini. Di 43:22, (وَإِنَّا عَلَىٰ آثَارِهِمْ مُهْتَدُونَ, wa-innaa 'alaa aatsaarihim muhtaduuna) yang berarti "dan sesungguhnya kami mendapat petunjuk atas jejak-jejak mereka", kata itu diucapkan oleh orang-orang yang mengikuti jejak nenek moyang. Di 43:49, (إِنَّنَا لَمُهْتَدُونَ, innanaa la-muhtaduuna) yang berarti "sesungguhnya kami benar-benar akan mendapat petunjuk", kata itu juga diucapkan oleh para pembicaranya sendiri. Di 2:70 kata itu juga diucapkan oleh pembicaranya sendiri, tetapi diberi batas, (إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَمُهْتَدُونَ, in syaa'a llaahu la-muhtaduuna) yang berarti "jika Allah menghendaki, pasti akan mendapat petunjuk". Permintaan "serukanlah untuk kami kepada Tuhanmu" mendahului kata itu di 2:70 dan di 43:49, dan hanya di 2:70 ada batas tadi. Di 43:37 tidak ada yang mengucapkannya; ayat ini meletakkannya sesudah "mengira". Kata kerja dari akar yang sama ada di 27:24, (فَهُمْ لَا يَهْتَدُونَ, fa-hum laa yahtaduuna) yang berarti "sehingga mereka tidak mendapat petunjuk", tepat sesudah rangkaian yang memuat fa-shaddahum 'ani s-sabiili. Terjemahan 7:30, 27:24, 43:37, dan 43:49 memakai "mendapat petunjuk".
Tafsiran
Ayat ini menyambung 43:36 dengan akibat dari penetapan teman itu. Di 43:36, (وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَٰنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا, wa-man ya'syu 'an dzikri r-rahmaani nuqayyidh lahu syaythaanan) yang berarti "siapa yang berpaling dari peringatan Ar-Rahman, Kami tetapkan baginya setan", ada satu orang dan satu setan. Di 43:37 kata gantinya menjadi jamak pada kedua pihak, sehingga ayat ini terbaca sebagai pernyataan umum dan bukan cerita satu orang. Ayat 43:38 kembali ke bentuk tunggal, (جَاءَنَا قَالَ, jaa'anaa qaala) yang berarti "ia datang kepada Kami, ia berkata", dan 43:39 memakai kata ganti jamak "kalian" lagi. Urutan jamak, tunggal, jamak itu dapat dibaca sebagai satu contoh yang diapit dua pernyataan umum.
Ayat ini tidak menamai pelaku menghalangi. Pembacaan pertama menaruh setan sebagai pelakunya, karena 43:36 menyebut dua pihak saja, yaitu orang yang berpaling dan setan, dan karena 43:62 menulis setan sebagai pihak yang dapat menghalangi. Pembacaan ini sejalan dengan terjemahan yang memakai "sedangkan" pada wa- kedua, sebab yang menghalangi dan yang mengira dibaca sebagai dua pihak. Pembacaan lain menaruh kedua kata kerja pada pihak yang sama, dan teks tidak memutuskan di antara keduanya.
Penilaian atas keyakinan itu tidak ada di ayat ini. Kata kerja "mengira" mencatat apa yang ada dalam pikiran pelakunya, dan ayat tidak menambahkan bahwa pikiran itu keliru atau benar. Ayat lain menambahkannya. Di 7:30 "mengira mendapat petunjuk" ditulis sesudah mereka menjadikan setan-setan sebagai wali selain Allah, dan di 27:24 rangkaian yang sama dengan ayat ini sampai pada "sehingga mereka tidak mendapat petunjuk". Dua ayat itu dapat dibaca sebagai dua sisi dari keadaan yang sama, yaitu ketiadaan petunjuk menurut 27:24 dan perasaan telah memilikinya menurut 43:37.
Teks tidak menyebutkan apakah orang-orang itu pernah diberi tahu tentang keadaannya, dan tidak menjelaskan jalan yang dimaksud lebih jauh daripada kata s-sabiili. Dua kata kerja berjalan serentak di ayat ini, menghalangi dan mengira, sampai ayat berikutnya menandai batasnya dengan (حَتَّىٰ إِذَا جَاءَنَا, hattaa idzaa jaa'anaa) yang berarti "sehingga apabila ia datang kepada Kami".
Renungan dan Hikmah
- Ayat ini menaruh dua kata kerja dalam satu kalimat, menghalangi dan mengira, dan keduanya sedang berlangsung bersamaan. Kata kerja kedua mencatat isi pikiran orang yang dihalangi, sehingga rasa mantap bahwa dirinya berada di jalan yang benar termasuk bagian dari keadaan yang dibicarakan, dan tidak berdiri di luarnya sebagai penilai. Ayat tidak menyebut tanda yang membedakan orang yang dihalangi dari orang yang tidak dihalangi. Dari susunan itu pembaca dapat menarik kesimpulan kecil yang tajam, yaitu bahwa rasa yakin tidak dapat dipakai untuk memisahkan keduanya, sebab orang yang dihalangi pun memilikinya. Pembaca yang menimbang arah hidupnya dengan seberapa mantap hatinya sedang memakai alat ukur yang menurut ayat ini ikut dimiliki pihak yang keliru.
- Kata kerja "mengira" dengan bunyi yang hampir sama ditulis di tiga ayat. Di 7:30 orang-orang yang menjadikan setan-setan sebagai wali selain Allah mengira bahwa mereka mendapat petunjuk. Di 18:104 orang-orang yang usahanya sia-sia dalam kehidupan dunia mengira bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Di 58:18 orang-orang yang bersumpah kepada Allah pada hari mereka dibangkitkan mengira bahwa mereka berada di atas sesuatu. Isi perkiraannya berlainan, yaitu petunjuk, kebaikan, dan pijakan, dan ketiganya sama-sama dicatat sebagai perkiraan. Di antara petunjuk, kebaikan, dan pijakan, mana yang paling sering dianggap pembaca sudah dimilikinya tanpa pernah diperiksa?
- Di surah ini orang-orang menyatakan dirinya mendapat petunjuk dua kali. Di 43:22 pernyataan itu bersandar pada jejak nenek moyang yang diikuti, dan di 43:49 diucapkan sesudah meminta, "serulah Tuhanmu untuk kami", tanpa batas apa pun pada kepastiannya. Di 43:37 ayat tidak mencatat sandaran apa pun dan hanya mencatat bahwa mereka mengira begitu. Dua pernyataan pertama punya alamat yang dapat ditunjuk, yaitu leluhur dan sebuah permintaan, sedangkan perkiraan di ayat ini tidak punya alamat. Kepastian pembaca sendiri dapat ditelusuri asalnya, apakah dari jejak yang diwarisi, dari sesuatu yang pernah diminta dan terasa dikabulkan, atau dari sesuatu yang belum pernah ditanyakan asalnya.
- Orang yang dihalangi tidak merasa dihalangi, dan ayat tidak mencatat siapa yang memberi tahu mereka. Menurut 43:36 yang dipalingi adalah peringatan, yaitu kabar yang datang dari luar diri. Di 7:178, 17:97, dan 18:17 tertulis bahwa siapa yang Allah beri petunjuk, dialah yang mendapat petunjuk, sehingga kalimat itu menaruh syarat mendapat petunjuk pada pemberian Allah dan tidak pada keyakinan penerimanya. Peringatan yang datang dari luar dan petunjuk yang diberikan Allah sama-sama berada di luar orang yang yakin dirinya lurus. Bila perasaan sendiri tidak dapat membedakan, dari arah mana kabar bahwa dirinya sedang dihalangi dapat sampai kepada orang yang yakin dirinya lurus?
- Kedua kata kerja di ayat ini berbentuk sedang berlangsung, sedangkan ayat berikutnya memakai bentuk selesai untuk datang dan berkata. Perbedaan itu membuat 43:37 terbaca sebagai keadaan yang masih berjalan, dan batas keadaan itu ditandai kata sehingga di 43:38. Pembaca tidak sedang membaca tentang orang yang sudah selesai tersesat di masa lalu. Ayat ini menulis sesuatu yang masih terjadi pada saat ayat dibaca, pada pihak yang tidak menyebut dirinya sedang dihalangi. Ayat tidak mencatat apakah keadaan itu berubah sebelum batasnya tiba, dan dari teks ini saja pembaca tidak punya cara untuk memastikannya.
- Penetapan teman di 43:36 disebut sesudah berpaling dari peringatan, dan 43:37 menyebut akibatnya pada sisi petunjuk. Urutan itu menaruh peringatan sebagai titik pertama yang dilewati, sebelum teman itu hadir dan sebelum rasa lurus terbentuk. Peringatan di ayat itu disebut bersama nama Ar-Rahman. Titik pertama itu dapat ditimbang pembaca pada dirinya sendiri, yaitu kapan terakhir pembaca mendengar sesuatu dari luar dirinya yang tidak sesuai dengan keyakinannya, dan apa yang terjadi pada pendengaran itu. Apakah pembaca berhenti dan menimbang, atau segera mencari pihak yang menguatkan keyakinan lamanya?