أَفَأَنْتَ تُسْمِعُ الصُّمَّ أَوْ تَهْدِي الْعُمْيَ وَمَنْ كَانَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
Maka, apakah engkau dapat menjadikan orang-orang yang tuli mendengar, atau memberi petunjuk kepada orang-orang yang buta, dan kepada orang yang berada dalam kesesatan yang nyata?
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- أَفَأَنْتَ تُسْمِعُ الصُّمَّa-fa-anta tusmi'u sh-shummamaka, apakah engkau dapat menjadikan orang-orang yang tuli mendengar
- أَوْ تَهْدِي الْعُمْيَaw tahdii l-'umyaatau memberi petunjuk kepada orang-orang yang buta
- وَمَنْ كَانَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍwa-man kaana fii dhalaalin mubiinindan kepada orang yang berada dalam kesesatan yang nyata
Terjemahan per kata (11 kata)
- أَفَأَنْتَa-fa-antamaka apakah engkau
- تُسْمِعُtusmi'uengkau memperdengarkan
- الصُّمَّsh-shummaorang-orang tuli
- أَوْawatau
- تَهْدِيtahdiiengkau memberi petunjuk
- الْعُمْيَl-'umyaorang-orang buta
- وَمَنْwa-mandan orang yang
- كَانَkaanaadalah
- فِيfiidalam
- ضَلَالٍdhalaalinkesesatan
- مُبِينٍmubiininyang nyata
Inti bacaan
Susunan (أَفَأَنْتَ تُسْمِعُ الصُّمَّ, a-fa-anta tusmi'u sh-shumma) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 10:42 dan 43:40.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (أَفَأَنْتَ, a-fa-anta) yang berarti "maka, apakah engkau". Bentuknya tersusun dari huruf tanya a, huruf fa yang menyambung dengan ayat sebelumnya, dan kata ganti anta yang berarti "engkau". Bentuk a-fa-anta tertulis di enam ayat, yaitu 10:42, 10:43, 10:99, 25:43, 39:19, dan 43:40. Kata kerja yang menyusul di tiap ayat itu menyebut sesuatu yang dilakukan kepada orang lain, yaitu memperdengarkan di 10:42, memberi petunjuk di 10:43, memaksa di 10:99, menjadi wakil di 25:43, menyelamatkan di 39:19, dan dua sekaligus di 43:40, memperdengarkan dan memberi petunjuk. Terjemahan memakai "dapat" di 10:42, 10:43, dan 43:40, dan memakai "hendak" atau "akan" di tiga ayat lainnya.
Kata (تُسْمِعُ, tusmi'u) yang berarti "memperdengarkan" berakar س-م-ع dan menunjuk pelaku yang membuat orang lain mendengar. Bentuk tusmi'u tertulis di enam ayat, yaitu 10:42, 27:80, 27:81, 30:52, 30:53, dan 43:40. Rangkaian (تُسْمِعُ الصُّمَّ, tusmi'u sh-shumma) yang berarti "memperdengarkan orang-orang yang tuli" muncul di empat ayat, yaitu 10:42, 27:80, 30:52, dan 43:40. Di 27:80 dan 30:52 kata kerja ini punya dua sasaran, (وَلَا تُسْمِعُ الصُّمَّ الدُّعَاءَ, wa-laa tusmi'u sh-shumma d-du'aa'a) yang berarti "dan tidak dapat memperdengarkan seruan kepada orang yang tuli", dan terjemahannya memakai "memperdengarkan seruan kepada". Di 10:42 dan 43:40 sasarannya satu, sehingga terjemahan memakai "menjadikan orang-orang yang tuli mendengar".
Kata (تَهْدِي, tahdii) yang berarti "engkau memberi petunjuk" berakar ه-د-ي dan tertulis di lima ayat, yaitu 7:155, 10:43, 28:56, 42:52, dan 43:40. Di 10:43, (تَهْدِي الْعُمْيَ, tahdii l-'umya) yang berarti "engkau memberi petunjuk kepada orang-orang yang buta", dan di 28:56, (لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ, laa tahdii man ahbabta) yang berarti "engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi", sasaran langsung kata kerjanya adalah orang. Di 42:52, (لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ, la-tahdii ilaa shiraathin mustaqiimin) yang berarti "benar-benar memberi petunjuk ke jalan yang lurus", sasarannya jalan. Kata (الْعُمْيَ, l-'umya) yang berarti "orang-orang yang buta" tertulis di dua ayat, yaitu 10:43 dan 43:40. Bentuk lain dengan arti yang sama, (الْعُمْيِ, l-'umyi), ada di 27:81 dan 30:53. Di 27:81, (بِهَادِي الْعُمْيِ عَنْ ضَلَالَتِهِمْ, bi-haadii l-'umyi 'an dhalaalatihim) yang berarti "pemberi petunjuk bagi orang-orang yang buta dari kesesatannya", orang buta dan kesesatan bersanding seperti di 43:40.
Kata (وَمَنْ, wa-man) yang berarti "dan siapa yang" menyambung ke kata al-'umya, sehingga kata kerja tahdii punya dua sasaran, yaitu orang-orang yang buta dan orang yang berada dalam kesesatan yang nyata. Kata kerja tusmi'u hanya punya satu sasaran. Rangkaian (وَمَنْ كَانَ فِي, wa-man kaana fii) muncul dua kali, di 17:72 dan 43:40. Di 17:72, (وَمَنْ كَانَ فِي هَٰذِهِ أَعْمَىٰ, wa-man kaana fii haadzihi a'maa) yang berarti "dan siapa yang buta di dunia ini", sesudah kaana datang keadaan buta, dan di 43:40 sesudah kaana datang kesesatan. Terjemahan 17:72 tidak memakai bentuk lampau, dan 43:40 mengikutinya dengan "orang yang berada". Rangkaian (فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ, fii dhalaalin mubiinin) yang berarti "dalam kesesatan yang nyata" tertulis di delapan belas ayat dari enam belas surah, yaitu 3:164, 6:74, 7:60, 12:8, 12:30, 19:38, 21:54, 26:97, 28:85, 31:11, 34:24, 36:24, 36:47, 39:22, 43:40, 46:32, 62:2, dan 67:29.
Tafsiran
Ayat ini menyapa orang yang disapa dengan "engkau" lewat tiga pertanyaan tentang kesanggupan, dan 43:43 memperlihatkan siapa dia, karena wahyu di sana disebut diwahyukan kepadanya. Ayat-ayat sebelumnya menuturkan apa yang terjadi pada mereka, yaitu dihalangi dari jalan, merasa mendapat petunjuk, dan tidak terhibur oleh kebersamaan dalam azab. Ayat ini menanyakan apa yang dapat dilakukan penyampai kepada mereka, dan pertanyaannya dibuka dengan huruf fa sehingga terbaca sebagai lanjutan dari gambaran itu.
Dua pertanyaan pertama bersambung dengan 10:42 dan 10:43. Di sana keduanya dipisah dan masing-masing diberi tambahan, (وَلَوْ كَانُوا لَا يَعْقِلُونَ, wa-law kaanuu laa ya'qiluuna) yang berarti "walaupun mereka tidak mengerti" dan (وَلَوْ كَانُوا لَا يُبْصِرُونَ, wa-law kaanuu laa yubshiruuna) yang berarti "walaupun mereka tidak melihat". Di 43:40 keduanya digabung dengan kata aw dan tambahan walaupun itu tidak ada, lalu muncul sasaran ketiga, orang yang berada dalam kesesatan yang nyata. Ayat 10:42 dan 10:43 didahului keterangan bahwa di antara mereka ada yang mendengarkan dan melihat kepada engkau, sedangkan 43:40 langsung menyusul 43:39 tanpa keterangan seperti itu.
Al-Qur'an sendiri menaruh kebutaan di tempat yang bukan mata. Di 22:46 kebutaan diletakkan pada (الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ, l-quluubu llatii fii sh-shuduuri) yang berarti "hati yang berada dalam dada", dan penglihatan mata dinyatakan tidak menjadi buta. Karena itu tuli dan buta di 43:40 dapat dibaca sebagai gambaran tentang penerimaan, dan ayat ini tidak menyebut telinga atau mata orang yang dimaksud.
Sesudah tiga pertanyaan di 43:40, ayat 43:41 dan 43:42 menulis dua kemungkinan yang masing-masing berakhir pada tindakan Kami atas mereka. Urusan itu terbagi di dua pihak, yaitu pertanyaan tentang kesanggupan ditujukan kepada engkau, sedangkan pembalasan dan kuasa ditulis sebagai milik Kami.
Renungan dan Hikmah
- Ketiga pertanyaan di ayat ini menanyakan kesanggupan, dan tidak ada satu pun yang menyuruh orang yang disapa berhenti menyampaikan. Di 13:40 tugas orang yang disapa dengan "engkau" ditulis sebagai menyampaikan, sedangkan perhitungan ditulis sebagai milik Kami. Pembaca yang menyampaikan sesuatu kepada orang lain, sebagai orang tua, guru, atau rekan kerja, dapat memperhatikan pembagian itu. Bagian hasil yang dirasa menjadi tanggungan penyampai dapat diperiksa kembali dengan pembagian itu, sebab ayat-ayat ini menaruh sebagian hasil di luar kesanggupan penyampai, yaitu membuat orang lain mendengar dan melihat. Menyampaikan tetap berjalan, dan yang dikeluarkan dari tanggungan penyampai adalah hasilnya pada pendengaran dan penglihatan orang yang disampaikan kepadanya.
- Di 28:56 orang yang disapa dengan "engkau" tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang dikasihinya, sedangkan Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. Di 43:40 sasaran yang disebut adalah orang buta dan orang dalam kesesatan yang nyata, dan kasih atau jengkel tidak disebut di sana. Dua ayat itu bertemu di satu titik, yaitu bahwa kesanggupan memberi petunjuk kepada orang tertentu tidak ditaruh pada penyampai, baik terhadap yang dikasihi maupun yang bukan. Bila rasa sayang tidak cukup untuk memindahkan petunjuk, dan rasa jengkel pun tidak mengubah apa-apa, hubungan apa yang tersisa antara penyampai dan orang yang disampaikan kepadanya?
- Di 10:99 pertanyaan berbentuk sama dibuka dengan syarat, yaitu sekiranya Tuhanmu menghendaki, tentu semua orang di bumi beriman seluruhnya, lalu menyusul pertanyaan apakah engkau hendak memaksa manusia hingga mereka beriman. Urutannya menaruh kehendak Tuhan lebih dulu dan pertanyaan tentang paksaan sesudahnya. Di 43:40 pertanyaan tentang kesanggupan menyusul uraian tentang orang-orang yang tidak menerima. Pembaca yang melihat orang dekatnya belum beriman dapat memperhatikan urutan di 10:99 itu. Apa yang berubah pada cara pembaca menyikapi orang tersebut bila kehendak Tuhan dibaca sebagai yang pertama disebut, dan dorongan untuk memaksa sebagai yang sesudahnya?
- Al-Qur'an menaruh kebutaan di dua tempat yang berbeda dari mata. Di 22:46 kebutaan ada pada hati yang berada dalam dada, dan di 47:23 tuli dan buta ditulis sebagai akibat laknat Allah, yaitu Dia menulikan dan membutakan penglihatan orang-orang yang dilaknat itu. Dua ayat itu tidak berbicara tentang orang yang sama dengan 43:40, dan keduanya memperlihatkan bahwa tuli dan buta di sini menyangkut penerimaan. Pembaca yang pernah gagal membuat orang lain mengerti dapat membedakan dua kemungkinan, cara menyampaikan yang belum tepat atau penerimaan yang tertutup di pihak lain. Ayat 47:23 menulis penutupan itu sebagai perbuatan Allah atas orang-orang yang dilaknat-Nya, dan ayat itu tidak dipakai untuk menafsirkan 43:40. Dari luar, kedua kemungkinan itu tidak mudah dipisahkan, dan ayat tidak memberi cara memisahkannya.
- Ayat ini menyebut kesesatan sasaran ketiga sebagai kesesatan yang nyata, yaitu kesesatan yang jelas. Di 43:37 orang yang dihalangi mengira dirinya mendapat petunjuk. Dua ayat itu menaruh kejelasan di tempat berbeda, karena kejelasan kesesatan ada pada pernyataan ayat, sedangkan perasaan lurus ada pada orang yang bersangkutan. Pembaca yang menilai orang lain sesat dengan yakin, karena tampak nyata, dapat mengingat bahwa ayat sebelumnya mencatat orang yang dihalangi tidak merasakan itu. Kejelasan yang dilihat pembaca pada orang lain, apakah kejelasan itu terlihat juga oleh orang tersebut, dan kejelasan serupa pada diri pembaca sendiri, siapa yang dapat melihatnya?
- Ayat 43:37 sampai 43:39 memberi gambaran yang rinci tentang keadaan orang-orang itu, dan pertanyaan di 43:40 dibuka dengan huruf fa yang membuatnya menyusul gambaran itu. Gambaran yang rinci tentang kerusakan pada orang lain dapat membuat pembacanya merasa mampu memperbaiki, sebab ia melihat apa yang kurang. Ayat ini menaruh pertanyaan tentang kesanggupan tepat pada titik itu, sesudah semua yang kurang diperlihatkan. Pembaca yang mengenal baik apa yang keliru pada seseorang dapat memperhatikan perbedaan antara mengenali kekeliruan dan mampu mengubahnya. Ayat ini dapat dibaca memisahkan dua urusan itu, sehingga yang satu tidak otomatis membawa yang lain.