فَاسْتَمْسِكْ بِالَّذِي أُوحِيَ إِلَيْكَ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
Maka, berpegang teguhlah pada apa yang diwahyukan kepadamu; sesungguhnya engkau berada di atas jalan yang lurus.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- فَاسْتَمْسِكْ بِالَّذِي أُوحِيَ إِلَيْكَfa-stamsik bi-lladzii uuhiya ilaykamaka, berpegang teguhlah pada apa yang diwahyukan kepadamu
- إِنَّكَ عَلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍinnaka 'alaa shiraathin mustaqiiminsesungguhnya engkau berada di atas jalan yang lurus
Terjemahan per kata (8 kata)
- فَاسْتَمْسِكْfa-stamsikmaka berpegang teguhlah
- بِالَّذِيbi-lladziidengan yang
- أُوحِيَuuhiyadiwahyukan
- إِلَيْكَilaykakepadamu
- إِنَّكَinnakasesungguhnya engkau
- عَلَىٰ'alaaatas
- صِرَاطٍshiraathinjalan
- مُسْتَقِيمٍmustaqiiminyang lurus
Inti bacaan
Rangkaian (أُوحِيَ إِلَيْكَ, uuhiya ilayka) muncul lima kali di Al-Qur'an, yaitu di 6:106, 18:27, 29:45, 39:65, dan 43:43, dan hanya 43:43 yang menyambungnya dengan kata alladzii.
Penjelasan pilihan kata
Perintah di ayat ini ditulis (فَاسْتَمْسِكْ, fa-stamsik) yang berarti "maka berpegang teguhlah", dari akar م-س-ك. Awalan (فَ, fa) yang berarti "maka" menyambungnya ke dua kemungkinan di 43:41 dan 43:42, yaitu (فَإِمَّا نَذْهَبَنَّ بِكَ, fa-immaa nadzhabanna bika) yang berarti "maka, sungguh, jika Kami membawamu pergi" dan (أَوْ نُرِيَنَّكَ الَّذِي وَعَدْنَاهُمْ, aw nuriyannaka lladzii wa'adnaahum) yang berarti "atau, Kami perlihatkan kepadamu apa yang telah Kami ancamkan kepada mereka". Akar م-س-ك dengan awalan ist- muncul di empat ayat, yaitu (فَقَدِ اسْتَمْسَكَ, fa-qadi stamsaka) yang berarti "maka sungguh ia telah berpegang" di 2:256 dan 31:22, (مُسْتَمْسِكُونَ, mustamsikuuna) yang berarti "mereka yang berpegang teguh" di 43:21, dan ayat ini. Hanya di sini kata itu berupa perintah. Di tiga ayat lain kata itu menceritakan orang yang sudah berpegang, dan terjemahan memakai "berpegang" di keempatnya.
Benda yang dipegang ditunjuk oleh (بِالَّذِي أُوحِيَ إِلَيْكَ, bi-lladzii uuhiya ilayka) yang berarti "pada apa yang diwahyukan kepadamu". Kata kerja (أُوحِيَ, uuhiya) berakar و-ح-ي dan berbentuk pasif, sehingga ayat ini tidak menyebut siapa yang mewahyukan. Rangkaian (أُوحِيَ إِلَيْكَ, uuhiya ilayka) muncul lima kali di lima surah, yaitu di 6:106, 18:27, 29:45, 39:65, dan 43:43. Di 6:106 bunyinya (اتَّبِعْ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ, ittabi' maa uuhiya ilayka) yang berarti "ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu". Di 18:27 bunyinya (وَاتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ, wa-tlu maa uuhiya ilayka) yang berarti "dan bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu", dan 29:45 memakai (اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ, utlu maa uuhiya ilayka) yang berarti "bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu". Ketiganya menyuruh mengikuti atau membaca dengan kata (مَا, maa) yang berarti "apa yang", sedangkan 43:43 menyuruh berpegang dengan kata (الَّذِي, alladzii) yang berarti "yang". Rangkaian dengan alladzii seperti itu tidak ada di tempat lain dalam bentuk pasif.
Bentuk aktifnya menyebut pelaku. Rangkaian (أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ, awhaynaa ilayka) yang berarti "Kami wahyukan kepadamu" muncul sepuluh kali di tujuh surah, yaitu di 4:163, 12:3, 13:30, 16:123, 17:73, 17:86, 35:31, 42:7, 42:13, dan 42:52. Bunyi (بِالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ, bi-lladzii awhaynaa ilayka) yang berarti "pada apa yang Kami wahyukan kepadamu" ada di 17:86 saja di antara sepuluh itu, dan bunyi tersebut adalah bentuk aktif dari bi-lladzii uuhiya ilayka di 43:43.
Alasan perintah dibuka oleh (إِنَّكَ, innaka) yang berarti "sesungguhnya engkau", lalu disusul (عَلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ, 'alaa shiraathin mustaqiimin) yang berarti "di atas jalan yang lurus". Kata (صِرَاطٍ, shiraathin) berakar ص-ر-ط dan berarti "jalan", sedangkan (مُسْتَقِيمٍ, mustaqiimin) berakar ق-و-م dan berarti "lurus". Ketiga kata itu muncul bersama enam kali, yaitu di 6:39, 11:56, 16:76, 36:4, 43:43, dan 67:22. Pelaku yang berada di atas jalan itu berbeda-beda: orang yang dijadikan Allah berada di sana di 6:39, Tuhan dari si pembicara di 11:56, orang yang memerintahkan keadilan di 16:76, orang yang berjalan tegak di 67:22, dan orang yang disapa dengan "engkau" di 36:4 serta ayat ini. Ayat Arabnya tidak memuat kata kerja untuk "berada", sehingga terjemahan menambahkan "berada" untuk menyatakan kedudukan itu. Kata (عَلَىٰ, 'alaa) yang berarti "di atas" diterjemahkan sama di 6:39 dan 11:56.
Tafsiran
Ayat ini memberi Nabi satu pegangan yang tidak bergantung pada kemungkinan mana yang terjadi di 43:41 dan 43:42. Dua ayat itu menaruh hasilnya pada pihak yang berkata "Kami": Nabi mungkin dibawa pergi sebelum pembalasan datang, mungkin pula Nabi diperlihatkan apa yang diancamkan, dan keduanya ditutup dengan pernyataan bahwa pembalasan dan kuasa atas mereka tetap ada pada Kami. Sebelum itu 43:40 menanyakan, (أَفَأَنْتَ تُسْمِعُ الصُّمَّ, a-fa-anta tusmi'u sh-shumma) yang berarti "maka, apakah engkau dapat menjadikan orang-orang yang tuli mendengar", sehingga rangkaian 43:40 sampai 43:43 dapat dibaca sebagai pembagian: menjadikan orang mendengar dan menentukan hasil tidak diletakkan di tangan Nabi, sedangkan berpegang diletakkan di tangannya.
Perintah itu disusul keterangan tentang tempat Nabi berdiri, tidak disusul janji tentang apa yang akan terjadi pada kaumnya. Susunan seperti itu ada di dua ayat lain. Di 27:79 perintah (فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ, fa-tawakkal 'alaa llaahi) yang berarti "maka bertawakallah kepada Allah" disusul (إِنَّكَ عَلَى الْحَقِّ الْمُبِينِ, innaka 'alaa l-haqqi l-mubiini) yang berarti "sesungguhnya engkau berada di atas kebenaran yang nyata". Di 22:67 perintah (وَادْعُ إِلَىٰ رَبِّكَ, wa-d'u ilaa rabbika) yang berarti "dan serulah kepada Tuhanmu" disusul (إِنَّكَ لَعَلَىٰ هُدًى مُسْتَقِيمٍ, innaka la-'alaa hudan mustaqiimin) yang berarti "sesungguhnya engkau benar-benar berada di atas petunjuk yang lurus". Pada ketiga ayat, perintah yang diberikan kepada Nabi bersandar pada keterangan tentang kedudukannya.
Surah ini sudah lebih dulu menyebut apa yang dipegang pihak lain. Ayat 43:21 bertanya, (أَمْ آتَيْنَاهُمْ كِتَابًا, am aataynaahum kitaaban) yang berarti "ataukah Kami memberi mereka suatu kitab", lalu menyebut mereka (مُسْتَمْسِكُونَ, mustamsikuuna), orang-orang yang berpegang teguh. Ayat 43:22 menyebut sandaran yang mereka sebut sendiri, yaitu (إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَىٰ أُمَّةٍ, innaa wajadnaa aabaa'anaa 'alaa ummatin) yang berarti "sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu umat". Akar yang sama dan kata 'alaa yang sama kini dipakai untuk Nabi, tetapi sumber pegangannya berbeda, yaitu apa yang diwahyukan kepadanya.
Ayat berikutnya menyebut apa yang dipegang itu dengan kata ganti saja. Ayat 43:44 dibuka dengan (وَإِنَّهُ, wa-innahu) yang berarti "dan sesungguhnya ia", dan kata ganti itu dapat dibaca menunjuk ke "apa yang diwahyukan" di ayat ini. Kata kerja (نَذْهَبَنَّ, nadzhabanna) di 43:41 muncul lagi di 17:86 saja, dengan objek lain: Nabi sendiri yang dibawa pergi di 43:41, dan apa yang diwahyukan yang dibawa pergi di 17:86. Konteks keduanya berbeda, karena 43:41 berbicara tentang pembalasan dan 17:86 tentang wahyu yang dapat dilenyapkan. Bila keduanya dibaca bersama, perintah berpegang di 43:43 diberikan di antara dua hal yang sama-sama dapat dibawa pergi, yaitu pembawa wahyu dan wahyu itu sendiri.
Renungan dan Hikmah
- Ayat 43:41 dan 43:42 menyebut dua kemungkinan bagi Nabi, dibawa pergi sebelum pembalasan atau diperlihatkan apa yang diancamkan, dan 43:43 meminta berpegang tanpa memilih salah satunya. Ayat 10:109 memuat susunan serupa: ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu dan bersabarlah hingga Allah memberi keputusan. Ayat itu berbicara tentang kesabaran dan 43:43 tentang berpegang, jadi keduanya tidak disamakan. Pembaca yang menanti hasil sebuah urusan dapat memisahkan dua daftar: hal yang keputusannya ada pada Allah menurut 10:109, dan hal yang dapat dipegangnya hari ini. Bagian mana dari urusannya yang sebenarnya masuk daftar pertama, padahal diperlakukannya sebagai milik daftar kedua?
- Alasan yang diberikan kepada Nabi menyebut tempat berdirinya, yaitu di atas jalan yang lurus, dan tidak menyebut apa yang akan terjadi pada kaumnya. Di 27:79 alasan serupa menyusul perintah bertawakal kepada Allah, dan di 22:67 menyusul perintah menyeru kepada Tuhan. Pembaca yang lelah di tengah pekerjaan panjang dapat menimbang alasan apa yang dipakainya untuk terus: hasil yang diharapkan atau tempat ia berdiri. Bila hasil itu tertunda atau tidak datang, alasan yang pertama habis lebih dulu, dan ayat ini hanya menyebut alasan yang kedua.
- Ayat 43:21 menanyakan kitab apa yang Kami berikan kepada orang-orang yang berpegang teguh itu, dan 43:22 mencatat jawaban mereka: kami mendapati nenek moyang kami. Pegangan Nabi disebut lain, yaitu apa yang diwahyukan kepadanya. Ayat ini tidak menilai pegangan siapa yang lebih kokoh, dan hanya menyebut dari mana tiap pegangan diterima. Pembaca dapat mengajukan pertanyaan yang sama kepada dirinya sendiri tentang hal yang paling kuat digenggamnya: dari siapa atau dari mana pegangan itu diterimanya, dan kapan terakhir kali ia memeriksa asal itu?
- Di 17:86 pembicara yang memakai kata Kami menyatakan bahwa jika Kami menghendaki, Kami melenyapkan apa yang Kami wahyukan kepada Nabi, lalu Nabi tidak menemukan wakil bagi dirinya terhadap Kami. Ayat 43:43 tidak mengulang hal itu, dan keduanya berbeda konteks. Bila keduanya dibaca berdampingan, pegangan yang diperintahkan di 43:43 dapat dibaca sebagai sesuatu yang diterima dan bisa diambil kembali. Pembaca dapat membayangkan akibatnya pada cara menggenggam: orang yang tahu pegangannya diberikan kepadanya mungkin menggenggam dengan rasa terima kasih.
- Pembaca yang ingin tahu seperti apa berada di atas jalan yang lurus dapat membuka 43:64, yang masih di surah yang sama. Ayat itu memuat ucapan yang dikutip dari Isa: sesungguhnya Allah Tuhanku dan Tuhan kalian, maka mengabdilah kepada-Nya, ini jalan yang lurus. Ayat 43:43 tidak merinci jalan itu, dan 43:64 berasal dari kutipan lain dengan pembicara yang lain. Dua ayat itu memakai kata jalan yang lurus yang sama, sehingga isi jalan di 43:64, yaitu Allah sebagai Tuhan pembicara sekaligus Tuhan para pendengarnya dan pengabdian kepada-Nya, dapat menjadi bahan pembaca untuk mengisi arti jalan di 43:43.
- Ayat 43:40 menanyakan apakah Nabi dapat menjadikan orang yang tuli mendengar, dan pertanyaan itu mengangkat satu beban dari bahunya. Ayat 43:43 meletakkan sesuatu ke tangannya. Pembaca yang menanggung pekerjaan yang hasilnya bergantung pada orang lain dapat menghitung mana beban yang diangkat dan mana yang diletakkan. Berapa bagian dari kelelahannya berasal dari beban yang menurut pertanyaan 43:40 memang tidak berada di tangan Nabi, dan berapa bagian dari pegangan yang disebut 43:43 terabaikan karena tenaganya habis untuk beban itu?