وَمَا نُرِيهِمْ مِنْ آيَةٍ إِلَّا هِيَ أَكْبَرُ مِنْ أُخْتِهَا ۖ وَأَخَذْنَاهُمْ بِالْعَذَابِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Dan tidaklah Kami perlihatkan suatu tanda kepada mereka kecuali ia lebih besar daripada saudarinya, dan Kami timpakan kepada mereka azab agar mereka kembali.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَمَا نُرِيهِمْ مِنْ آيَةٍ إِلَّا هِيَ أَكْبَرُ مِنْ أُخْتِهَاwa-maa nuriihim min aayatin illaa hiya akbaru min ukhtihaadan tidaklah Kami perlihatkan suatu tanda kepada mereka kecuali ia lebih besar daripada saudarinya
- وَأَخَذْنَاهُمْ بِالْعَذَابِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَwa-akhadznaahum bi-l-'adzaabi la'allahum yarji'uunadan Kami timpakan kepada mereka azab agar mereka kembali
Terjemahan per kata (13 kata)
- وَمَاwa-maadan tidaklah
- نُرِيهِمْnuriihimKami memperlihatkan kepada mereka
- مِنْmindari
- آيَةٍaayatintanda
- إِلَّاillaakecuali
- هِيَhiyaia
- أَكْبَرُakbarulebih besar
- مِنْmindari
- أُخْتِهَاukhtihaasaudarinya
- وَأَخَذْنَاهُمْwa-akhadznaahumdan Kami menimpakan kepada mereka
- بِالْعَذَابِbi-l-'adzaabidengan azab
- لَعَلَّهُمْla'allahumagar mereka
- يَرْجِعُونَyarji'uunakembali
Inti bacaan
Rangkaian (إِلَّا هِيَ أَكْبَرُ مِنْ أُخْتِهَا, illaa hiya akbaru min ukhtihaa) muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 43:48.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (وَمَا نُرِيهِمْ مِنْ آيَةٍ, wa-maa nuriihim min aayatin) yang berarti "dan tidaklah Kami perlihatkan suatu tanda kepada mereka". Kata kerja (نُرِيهِمْ, nuriihim) berarti "Kami perlihatkan kepada mereka" dan muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 41:53 dan 43:48. Di 41:53 bunyinya (سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ, sa-nuriihim aayaatinaa fii l-aafaaqi wa-fii anfusihim) yang berarti "Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri". Di 43:48 kata kerja itu dinegasikan lalu disusul pengecualian. Bingkai "tidaklah ... suatu tanda ... kecuali" muncul tiga kali: (وَمَا تَأْتِيهِمْ مِنْ آيَةٍ, wa-maa ta'tiihim min aayatin) yang berarti "dan tidaklah datang kepada mereka suatu tanda" di 6:4 dan 36:46, yang disusul (إِلَّا كَانُوا عَنْهَا مُعْرِضِينَ, illaa kaanuu 'anhaa mu'ridhiina) yang berarti "kecuali mereka selalu berpaling darinya", lalu 43:48 dengan pengecualian yang lain. Kata (آيَةٍ, aayatin) berakar أ-ي-ي dan diterjemahkan "tanda".
Pengecualian itu berbunyi (إِلَّا هِيَ أَكْبَرُ مِنْ أُخْتِهَا, illaa hiya akbaru min ukhtihaa) yang berarti "kecuali ia lebih besar daripada saudarinya". Kata (هِيَ, hiya) menunjuk tanda dengan kata ganti perempuan tunggal. Kata (أَكْبَرُ, akbaru) berakar ك-ب-ر dan berarti "lebih besar". Kata itu dipakai dengan min sebagai pembanding di enam ayat dalam empat surah, yaitu 2:217, 2:219, 4:153, 40:10, 40:57, dan 43:48, dan bentuk persis akbaru ada di lima ayat di antaranya, sedangkan 4:153 berakhiran lain. Pembandingnya berbeda-beda: dosa dengan manfaat di 2:219, penciptaan langit dan bumi dengan penciptaan manusia di 40:57, dan di ayat ini satu tanda dengan tanda yang lain.
Kata (أُخْتِهَا, ukhtihaa) tersusun dari ukhti yang berarti "saudari" dan -haa yang berarti "-nya" perempuan, dari akar أ-خ-و. Kata saudari, dalam bentuk tunggal, jamak, atau ganda, muncul dalam sebelas ayat, yaitu 4:12, 4:23, 4:176, 7:38, 19:28, 20:40, 24:31, 24:61, 28:11, 33:55, dan 43:48. Sembilan ayat di antaranya menyebut saudari manusia, misalnya (وَلَهُ أُخْتٌ, wa-lahu ukhtun) yang berarti "dan ia mempunyai seorang saudari" di 4:176 dan (إِذْ تَمْشِي أُخْتُكَ, idz tamsyii ukhtuka) yang berarti "ketika saudarimu berjalan" di 20:40. Di 7:38 kata itu dipakai untuk umat yang masuk api sesudah umat lain, (لَعَنَتْ أُخْتَهَا, la'anat ukhtahaa). Di 43:48 kata itu dipakai untuk tanda, sedangkan sepuluh ayat lain tidak memakainya untuk tanda. Terjemahan memakai "saudarinya" karena kata gantinya perempuan.
Bagian kedua ayat berbunyi (وَأَخَذْنَاهُمْ بِالْعَذَابِ, wa-akhadznaahum bi-l-'adzaabi) yang berarti "dan Kami timpakan kepada mereka azab". Kata kerja (أَخَذْنَاهُمْ, akhadznaahum) berakar أ-خ-ذ dan muncul tujuh kali, di 6:42, 6:44, 7:95, 7:96, 23:76, 43:48, dan 54:42. Rangkaian (أَخَذْنَاهُمْ بِالْعَذَابِ, akhadznaahum bi-l-'adzaabi) hanya ada dua kali, di 23:76 dan 43:48. Kata (بِالْعَذَابِ, bi-l-'adzaabi) berakar ع-ذ-ب dan muncul enam kali, di 22:47, 23:64, 23:76, 29:53, 29:54, dan 43:48.
Penutupnya (لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ, la'allahum yarji'uuna) berarti "agar mereka kembali", dengan kata kerja dari akar ر-ج-ع. Rangkaian itu muncul sembilan kali di tujuh surah, yaitu di 3:72, 7:168, 7:174, 12:62, 30:41, 32:21, 43:28, 43:48, dan 46:27. Pada enam ayat di antaranya, yaitu 7:168, 7:174, 30:41, 32:21, 43:48, dan 46:27, yang menetapkan tujuan itu adalah Kami atau Dia. Di 3:72 yang menetapkannya segolongan Ahlulkitab, di 12:62 Yusuf, dan di 43:28 Ibrahim. Surah 43 memuatnya dua kali, di 43:28 dan 43:48. Ayat 43:48 tidak menyebut kembali ke mana, dan terjemahan membiarkannya tanpa tujuan.
Tafsiran
Ayat ini mengisi jarak antara tawa di 43:47 dan ucapan di 43:49. Ayat 43:47 mencatat tanggapan pertama atas tanda-tanda yang dibawa Musa, lalu 43:48 menceritakan apa yang terjadi sesudahnya dari sisi yang memperlihatkan: tanda demi tanda diperlihatkan, tiap-tiapnya lebih besar daripada saudarinya, dan azab ditimpakan dengan tujuan tertentu. Ayat 43:49 menutup rangkaian itu dengan ucapan mereka yang memohon, wahai penyihir, serulah Tuhanmu untuk kami.
Kata saudari mengubah tanda-tanda dari daftar menjadi rangkaian yang berhubungan. Tiap tanda disebut punya saudari, yaitu tanda yang lain, dan tiap tanda lebih besar daripada saudarinya. Ayat ini tidak merinci tanda-tanda itu dan tidak menyebut jumlahnya. Di bagian lain Al-Qur'an, 17:101 menyebut Musa dianugerahi sembilan tanda yang jelas, (تِسْعَ آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ, tis'a aayaatin bayyinaatin), dan 7:133 menyebut banjir besar, belalang, kutu, katak, dan darah sebagai (آيَاتٍ مُفَصَّلَاتٍ, aayaatin mufashshalaatin) yang berarti "tanda-tanda yang jelas dan terperinci". Ayat-ayat itu berasal dari penuturan yang berbeda dari 43:48, dan hanya menunjukkan bahwa rangkaian tanda bagi Musa disebut bernomor atau berdaftar di tempat lain.
Susunan ayat ini sejajar dengan 6:4 dan 36:46, tetapi isi pengecualiannya berbeda. Di dua ayat itu setiap tanda dari tanda-tanda Tuhan mereka disambut dengan berpaling. Di 43:48 setiap tanda diperlihatkan lebih besar daripada tanda sebelumnya. Dua ayat pertama menulis sikap penerima tanda, sedangkan 43:48 menulis sifat tanda yang diperlihatkan, dan sikap penerimanya tercatat di ayat-ayat yang mengapit: tawa di 43:47, permohonan di 43:49, dan ingkar janji di 43:50.
Azab di ayat ini datang bersama tujuan. Ayat 32:21 memuat urutan yang berdekatan, (مِنَ الْعَذَابِ الْأَدْنَىٰ دُونَ الْعَذَابِ الْأَكْبَرِ, mina l-'adzaabi l-adnaa duuna l-'adzaabi l-akbari) yang berarti "sebagian dari azab yang dekat, selain azab yang lebih besar", disusul tujuan yang sama, agar mereka kembali. Ayat 32:21 berbicara tentang azab yang lebih dekat dan yang lebih besar, sedangkan 43:48 berbicara tentang tanda yang lebih besar, dan keduanya memakai kata akbar untuk sesuatu yang bertambah. Kembali itu dapat dibaca sebagai kembali kepada apa yang disebut di 43:26 sampai 43:28 dalam surah yang sama, yaitu ucapan Ibrahim yang dijadikan perkataan yang kekal pada keturunannya, agar mereka kembali. Pembacaan itu bersifat kemungkinan, karena 43:48 tidak mengutip tujuan kembali itu.
Renungan dan Hikmah
- Ayat 43:48 menyebut tiap tanda lebih besar daripada saudarinya, sehingga yang diperlihatkan kepada mereka tidak menyusut. Ayat 6:4 menyebut tiap tanda dari tanda-tanda Tuhan mereka disambut dengan berpaling, jadi dua ayat itu menulis dua sisi dari rangkaian yang sama: yang memperlihatkan makin besar, yang menerima tetap berpaling. Pembaca yang pernah mengabaikan sebuah isyarat kecil dapat bertanya, bila isyarat berikutnya datang lebih besar, apakah cara menanggapinya sudah berubah atau masih sama seperti terhadap yang pertama?
- Ayat 43:48 memakai kata saudari untuk menyatakan hubungan antara tanda-tanda, dan di 7:38 kata yang sama dipakai untuk umat yang masuk api sesudah umat lain. Di dua ayat itu kata saudari menyatukan hal-hal yang datang berurutan. Pembaca yang menerima beberapa peringatan beruntun dari satu pihak dapat bertanya, apakah tiap peringatan diperlakukan sebagai kejadian terpisah, padahal ayat ini menyebut tanda-tanda itu bersaudara? Dalam hal itu pembaca perlu membaca rangkaian, dan tidak berhenti pada kejadian terbaru.
- Ayat 43:48 menyebut azab ditimpakan agar mereka kembali, dan 30:41 menyebut tujuan yang sama: agar Dia mencicipkan kepada mereka sebagian dari apa yang mereka kerjakan, agar mereka kembali. Dua ayat itu berbicara tentang peristiwa yang berbeda dan hanya sama dalam menyebut tujuannya. Tujuan itu tertulis, sementara tempat kembali tidak tertulis di 43:48. Pembaca dapat memperhatikan bahwa kesulitan yang menimpa orang dalam ayat ini dikaitkan dengan satu maksud, dan bahwa pengaitan itu tidak otomatis berlaku bagi kesulitan pembaca sendiri.
- Rangkaian menimpakan azab di 43:48 juga ada di 23:76, dan ayat itu mencatat hasilnya: mereka tidak tunduk kepada Tuhan mereka dan tidak merendahkan diri. Ayat 43:48 sendiri berhenti pada tujuan, tidak pada hasil. Dua ayat itu berasal dari penuturan yang berlainan, dan tidak disamakan. Pembaca yang pernah ditimpa sesuatu yang berat dapat memeriksa apa yang berubah pada sikapnya terhadap Tuhan sesudahnya: lebih tunduk, lebih merendah, atau tetap seperti semula? Ayat ini tidak menjawabnya untuk siapa pun selain mereka.
- Di 7:132 mereka berkata, tanda apa pun yang engkau bawa kepada kami untuk menyihir kami dengannya, kami tidak akan beriman kepadamu. Di 43:48 tanda yang diperlihatkan makin besar. Dua ayat itu dari penuturan yang berbeda, tetapi memakai kata tanda dengan cara serupa, yang satu dari sisi penerima dan yang lain dari sisi yang memperlihatkan. Pembaca dapat bertanya, bukti sebesar apa yang ditunggunya sebelum mau bersikap, dan apakah keputusan bahwa tidak ada bukti yang cukup sudah diambil lebih dulu, sehingga tanda yang makin besar tidak mengubah apa-apa, termasuk ketika Tuhannya yang menyodorkan tanda itu?
- Bentuk kata kerja (نُرِيهِمْ, nuriihim) dipakai dua kali, di 43:48 dan di 41:53 dengan awalan sa-, yang menyebut tanda-tanda diperlihatkan di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa semua itu kebenaran. Ayat 41:53 berbicara tentang masa depan dan 43:48 tentang tanda yang sudah diperlihatkan, jadi keduanya tidak disamakan. Ayat itu menutup dengan pertanyaan apakah tidak cukup bahwa Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu. Di mana pembaca terbiasa mencari tanda: di sekelilingnya, atau juga pada dirinya sendiri?