وَقَالُوا يَا أَيُّهَ السَّاحِرُ ادْعُ لَنَا رَبَّكَ بِمَا عَهِدَ عِنْدَكَ إِنَّنَا لَمُهْتَدُونَ
Dan mereka berkata, “Wahai penyihir, serulah Tuhanmu untuk kami sesuai dengan apa yang telah Dia janjikan kepadamu; sesungguhnya kami benar-benar akan mendapat petunjuk.”
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- وَقَالُوا يَا أَيُّهَ السَّاحِرُwa-qaaluu yaa ayyuha s-saahirudan mereka berkata, wahai penyihir
- ادْعُ لَنَا رَبَّكَ بِمَا عَهِدَ عِنْدَكَud'u lanaa rabbaka bi-maa 'ahida 'indakaserulah Tuhanmu untuk kami sesuai dengan apa yang telah Dia janjikan kepadamu
- إِنَّنَا لَمُهْتَدُونَinnanaa la-muhtaduunasesungguhnya kami benar-benar akan mendapat petunjuk
Terjemahan per kata (12 kata)
- وَقَالُواwa-qaaluudan mereka berkata
- يَاyaawahai
- أَيُّهَayyuhawahai
- السَّاحِرُs-saahirupenyihir
- ادْعُd'userukanlah
- لَنَاlanaabagi kami
- رَبَّكَrabbakaTuhanmu
- بِمَاbi-maasesuai dengan apa yang
- عَهِدَ'ahidaberjanji
- عِنْدَكَ'indakadi sisimu
- إِنَّنَاinnanaasesungguhnya kami
- لَمُهْتَدُونَla-muhtaduunapasti orang-orang yang mendapat petunjuk
Inti bacaan
Susunan (بِمَا عَهِدَ عِنْدَكَ, bi-maa 'ahida 'indaka) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 7:134 dan 43:49, dan hanya di 43:49 peminta tolongnya menyapa dengan (السَّاحِرُ, s-saahiru).
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (وَقَالُوا, wa-qaaluu) yang berarti "dan mereka berkata". Kata kerja qaala berakar ق-و-ل, dan pelakunya jamak tanpa nama. Rangkaian ini menyebut Firaun dan para pemukanya di 43:46 sebagai pelaku terdekat, sehingga terjemahan memakai "mereka" tanpa mengisi nama. Seruan pertama mereka adalah (يَا أَيُّهَ السَّاحِرُ, yaa ayyuha s-saahiru) yang berarti "wahai penyihir". Kata saahiru berakar س-ح-ر dan menunjuk pelaku sihir. Bentuk (السَّاحِرُ, s-saahiru) yang persis sama ada dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 20:69 dan 43:49. Di 20:69, (وَلَا يُفْلِحُ السَّاحِرُ حَيْثُ أَتَىٰ, wa-laa yuflihu s-saahiru haytsu ataa) berarti "dan penyihir tidak akan menang dari mana pun ia datang", sehingga kata itu menyebut jenis orang. Di 43:49 kata itu dipakai untuk menyapa seseorang secara langsung. Sebutan serupa untuk Musa di ayat lain berada dalam kalimat tentang dirinya, misalnya (لَسَاحِرٌ عَلِيمٌ, la-saahirun 'aliimun) yang berarti "benar-benar penyihir yang berilmu" di 7:109 dan 26:34, (سَاحِرٌ كَذَّابٌ, saahirun kadzdzaabun) yang berarti "penyihir yang banyak berdusta" di 40:24, dan (سَاحِرٌ أَوْ مَجْنُونٌ, saahirun aw majnuunun) yang berarti "penyihir atau orang gila" di 51:39. Ketika pembicara menyapa Musa langsung di 20:57, kalimatnya memakai (يَا مُوسَىٰ, yaa muusaa) yang berarti "wahai Musa". Di 43:49 sapaan dengan nama itu diganti sebutan penyihir.
Kata kerja pada (ادْعُ لَنَا رَبَّكَ, ud'u lanaa rabbaka) yang berarti "serulah Tuhanmu untuk kami" berakar د-ع-و dan berbentuk perintah kepada satu orang. Arti dasar akar ini adalah menyeru, seperti pada (دَعَانَا, da'aanaa) yang berarti "ia menyeru Kami" di 10:12. Terjemahan 43:49 memakai "serulah" dan menaruh Tuhan sebagai hal yang diserukan, tanpa menambahkan "kepada". Susunan (ادْعُ لَنَا رَبَّكَ, ud'u lanaa rabbaka) muncul enam kali di tiga surah, yaitu di 2:61, 2:68, 2:69, 2:70, 7:134, dan 43:49. Pada keenamnya Tuhan disebut dengan akhiran -ka, seperti (رَبَّكَ, rabbaka) yang berarti "Tuhanmu". Seluruh kalimat di 43:49 terbelah dengan cara yang sama. Kata ganti "kamu" dipakai untuk Tuhan, yaitu rabbaka dan 'indaka, sedangkan kata ganti "kami" dipakai untuk keuntungan, yaitu lanaa dan innanaa.
Kata (عَهِدَ, 'ahida) yang berarti "telah berjanji" muncul tiga kali di Al-Qur'an, yaitu di 3:183, 7:134, dan 43:49. Di 3:183, (عَهِدَ إِلَيْنَا, 'ahida ilaynaa) berarti "telah berjanji kepada kami", dengan penerima janji ditandai ilaa. Di 7:134 dan 43:49 penerimanya ditandai 'inda, dalam (بِمَا عَهِدَ عِنْدَكَ, bi-maa 'ahida 'indaka) yang berarti "sesuai dengan apa yang telah Dia janjikan kepadamu". Susunan lengkap itu muncul dua kali, yaitu di 7:134 dan 43:49. Kata (عِنْدَكَ, 'indaka) secara harfiah berarti "di sisimu", sehingga janji itu digambarkan berada di sisi penerimanya, dan terjemahan memakai "kepadamu" sebagaimana "kepada kami" di 3:183. Pelaku 'ahida adalah orang ketiga tunggal laki-laki. Posisi penerima sudah ditempati akhiran -ka pada 'indaka, sehingga pelakunya terbaca rabbaka yang baru disebut, dan terjemahan menulisnya "Dia" dengan huruf besar. Isi janji itu tidak disebut di ayat ini.
Kata (لَمُهْتَدُونَ, la-muhtaduuna) yang berarti "benar-benar akan mendapat petunjuk" tersusun dari huruf la penegas dan muhtaduuna, kata benda pelaku dari akar ه-د-ي. Di depannya ada (إِنَّنَا, innanaa) yang berarti "sesungguhnya kami", jadi kalimat ini memuat dua penegas yang bertumpuk. Bentuk (لَمُهْتَدُونَ, la-muhtaduuna) muncul dua kali, yaitu di 2:70 dan 43:49. Di 2:70 kalimat itu didahului (إِنْ شَاءَ اللَّهُ, in syaa'a llaahu) yang berarti "jika Allah menghendaki", dan di 43:49 syarat itu tidak ada. Bentuk muhtaduuna muncul di delapan ayat pada lima surah, yaitu 2:70, 2:157, 6:82, 7:30, 36:21, 43:22, 43:37, dan 43:49. Tiga di antaranya berada di surah ini. Ayat 43:22 memuat ucapan tentang jejak nenek moyang, 43:37 memuat dugaan dalam (وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ, wa-yahsabuuna annahum muhtaduuna) yang berarti "sedangkan mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk", dan 43:49 memuat janji. Terjemahan memakai "akan" meski tidak ada kata Arab yang melahirkannya, sebab kalimat ini diucapkan sebelum permintaannya dipenuhi dan 43:50 menyebut kelanjutannya sebagai janji yang diingkari. Janji di 7:134 berisi hal lain, yaitu (لَنُؤْمِنَنَّ لَكَ, la-nu'minanna laka) yang berarti "pasti kami beriman kepadamu". Kata beriman tidak ada di 43:49.
Tafsiran
Ayat ini memuat satu kalimat dengan dua sikap terhadap orang yang sama. Orang itu disapa dengan sebutan penyihir, lalu diminta menyerukan Tuhannya. Permintaan itu menganggap seruan orang tersebut sampai kepada Tuhan yang disebut dengan akhiran "-mu", dan menyebut sebuah janji yang menurut peminta berada di sisi orang itu. Celaan di awal kalimat dan permohonan di tengahnya diucapkan sekaligus, tanpa jeda dan tanpa penjelasan.
Urutan di sekitarnya membuat kalimat ini terbaca sebagai jawaban. Di 43:47 tanda-tanda disambut tawa, dan di 43:48 setiap tanda lebih besar daripada saudarinya. Ayat 43:48 menyebut maksud azab itu dalam (لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ, la'allahum yarji'uuna) yang berarti "agar mereka kembali". Kata kembali di sana tidak memuat tujuan, jadi ayat itu tidak menyebut kembali kepada siapa. Ayat 43:49 mencatat permintaan agar orang lain menyerukan Tuhan, dan 43:50 langsung menyambungnya dengan azab yang dihilangkan serta janji yang diingkari.
Rangkaian yang serupa tertulis di 7:132 sampai 7:135, tempat tuduhan sihir atas tanda-tanda, azab, permintaan, penghilangan azab, dan pengingkaran juga berurutan. Ayat-ayat itu dapat dibaca sebagai dua catatan atas satu peristiwa, dan dapat pula dibaca sebagai dua peristiwa yang berulang. Tidak ada ayat yang memutuskan di antara keduanya.
Ayat 43:50 mencatat jawaban atas permintaan ini sebagai perbuatan Kami, yaitu menghilangkan azab. Ayat itu tidak mencatat Musa menyeru dan tidak memuat satu kata pun yang diucapkan kepada mereka.
Renungan dan Hikmah
- Kalimat di 43:49 membagi dirinya menjadi dua wilayah. Semua yang menyangkut Tuhan memakai kata ganti "kamu", yaitu Tuhanmu dan di sisimu. Semua yang menyangkut keuntungan memakai kata ganti "kami", yaitu untuk kami dan kami akan mendapat petunjuk. Tidak ada kata yang menaruh Tuhan di pihak pembicara, padahal 43:48 menyebut azab yang menimpa mereka sebagai perbuatan Kami. Pembaca dapat menandai kata ganti dalam permintaan yang pernah diucapkannya ketika terdesak. Tuhan disebut milik siapa, dan hasilnya untuk siapa? Bila Tuhan selalu berada di pihak orang lain, permintaan itu masih berupa doa atau sudah menjadi pesan titipan yang diharapkan sampai?
- Di 43:49 sebutan penyihir dan permintaan agar Tuhan diserukan berada dalam satu napas, tanpa jeda yang memisahkan celaan dari permohonan. Orang yang diminta tolong mendengar keduanya sekaligus, dan ayat ini tidak mencatat balasan apa pun darinya. Pembaca yang pernah meminta bantuan kepada pihak yang sebelumnya diremehkannya dapat membayangkan bagaimana permintaan itu terdengar dari seberang. Apakah permintaan itu terdengar sebagai kebutuhan yang sungguh, atau sebagai kalimat yang dibawa sampai kebutuhan itu terpenuhi?
- Dalam kalimat ini tidak ada kata maaf dan tidak ada sebutan untuk apa yang terjadi sebelumnya, yaitu tawa di 43:47 dan penolakan atas tanda-tanda yang bertambah besar di 43:48. Isinya permintaan agar sesuatu diangkat dan janji tentang keadaan sesudahnya. Pembaca yang sedang meminta pertolongan kepada Tuhan dapat memeriksa kalimat permintaannya dengan satu pertanyaan. Bagian mana yang menyebut apa yang telah terjadi di pihaknya, dan bagian mana yang hanya menyebut apa yang ingin dilihatnya hilang?
- Janji di 43:49 berbentuk keadaan, yaitu kami benar-benar akan mendapat petunjuk, dan tidak berbentuk perbuatan yang bisa dicek. Janji di 7:134 yang sudah dikutip di atas berisi pekerjaan yang terlihat. Janji tentang keadaan sulit ditagih, sebab tidak ada saat ketika orang dapat berkata bahwa ini yang dijanjikan dan ini yang belum dikerjakan. Petunjuk di kalimat ini disebut sebagai sesuatu yang sudah menjadi milik mereka, dan tidak disebut sebagai jalan yang akan mereka tempuh. Pembaca dapat bertanya kepada tekadnya sendiri di hadapan Tuhan. Perbuatan mana yang akan tampak berbeda dalam sebulan, dan siapa yang akan menyadarinya selain dirinya?
- Menurut 43:48, azab ditimpakan dengan maksud yang tertulis, yaitu agar mereka kembali. Di 43:49 mereka meminta agar azab itu diangkat lewat seruan orang lain, dan tidak ada kalimat yang menyebut kembali kepada siapa pun. Kesulitan membawa pesan di dalamnya menurut ayat itu, dan pesannya berbentuk ajakan pulang. Pembaca yang sedang berada dalam kesulitan dapat memegang dua pertanyaan sekaligus. Apa yang ingin dihilangkannya dari keadaan itu, dan ke mana pembaca diajak kembali lewat keadaan itu? Pihak yang menurut 43:48 memberi maksud pada azab tidak tercatat berbicara di 43:49, sehingga pertanyaan kedua tinggal di tangan pembaca.
- Mereka menunjuk pada sebuah janji yang berada di sisi Musa, yaitu sesuai dengan apa yang telah Dia janjikan kepadamu. Isi janji itu tidak disebut di ayat ini. Peminta terlihat bersandar pada hubungan orang lain dengan Tuhan, sementara hubungannya sendiri tidak disebut sama sekali. Pembaca dapat bertanya apakah ada sesuatu yang telah disepakatinya sendiri dengan Tuhan, sesuatu yang dapat disebutnya ketika mengajukan permintaan. Atau apakah semua yang dapat disebutnya adalah milik orang tua, guru, dan tokoh yang dikenalnya?