فَلَمَّا آسَفُونَا انْتَقَمْنَا مِنْهُمْ فَأَغْرَقْنَاهُمْ أَجْمَعِينَ
Maka, ketika mereka membuat Kami murka, Kami membalas mereka, lalu Kami tenggelamkan mereka semuanya.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- فَلَمَّا آسَفُونَاfa-lammaa aasafuunaamaka, ketika mereka membuat Kami murka
- انْتَقَمْنَا مِنْهُمْ فَأَغْرَقْنَاهُمْ أَجْمَعِينَintaqamnaa minhum fa-aghraqnaahum ajma'iinaKami membalas mereka, lalu Kami tenggelamkan mereka semuanya
Terjemahan per kata (6 kata)
- فَلَمَّاfa-lammaamaka ketika
- آسَفُونَاaasafuunaamereka membuat Kami murka
- انْتَقَمْنَاintaqamnaaKami membalas
- مِنْهُمْminhumdari mereka
- فَأَغْرَقْنَاهُمْfa-aghraqnaahummaka Kami menenggelamkan mereka
- أَجْمَعِينَajma'iinaseluruhnya
Inti bacaan
Susunan (مِنْهُمْ فَأَغْرَقْنَاهُمْ, minhum fa-aghraqnaahum) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 7:136 dan 43:55.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (فَلَمَّا, fa-lammaa) yang berarti "maka ketika". Dalam kisah Firaun di surah ini kata itu membuka tiga ayat, yaitu 43:47, 43:50, dan 43:55. Dua yang pertama disusul (إِذَا هُمْ, idzaa hum) yang berarti "seketika itu mereka", yaitu pada (فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِآيَاتِنَا إِذَا هُمْ مِنْهَا يَضْحَكُونَ, fa-lammaa jaa'ahum bi-aayaatinaa idzaa hum minhaa yadhakuuna) di 43:47 dan (فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُمُ الْعَذَابَ إِذَا هُمْ يَنْكُثُونَ, fa-lammaa kasyafnaa 'anhumu l-'adzaaba idzaa hum yankutsuuna) di 43:50. Di 43:55 kata itu tidak disusul idzaa hum, dan Kami baru menjadi pelaku pada kata kerja kedua. Terjemahan memakai "maka, ketika" di ketiganya, sehingga perbedaan arah kalimat terbaca dari susunan kata kerjanya.
Kata (آسَفُونَا, aasafuunaa) yang berarti "mereka membuat Kami murka" tersusun dari kata kerja aasafa, akhiran -w yang berarti "mereka", dan akhiran -naa yang berarti "Kami". Akarnya أ-س-ف muncul di lima ayat, dan cuma 43:55 yang memuat kata kerja berobjek. Empat ayat lain memakai sifat atau kata benda, yaitu (أَسِفًا, asifan) di 7:150 dan 20:86, (أَسَفَىٰ, asafaa) di 12:84, dan (أَسَفًا, asafan) di 18:6. Di 7:150 dan 20:86 sifat itu menyusul (غَضْبَانَ, ghadhbaana) yang berarti "marah", sehingga keduanya diterjemahkan "marah lagi sedih". Pembicara di 12:84 berkata "Alangkah sedihku atas Yusuf" dan matanya memutih karena (الْحُزْنِ, l-huzni) yang berarti "kesedihan", sedangkan di 18:6 kata itu menggambarkan duka yang dapat membinasakan diri orang yang merasakannya.
Pilihan "murka" di 43:55 dengan demikian tidak datang dari akarnya sendiri. Kemurkaan Tuhan di 20:86 ditulis (غَضَبٌ, ghadhabun), kata yang berbeda dari akar ini. Arti murka di 43:55 terbaca dari kata kerja sesudahnya, yaitu (انْتَقَمْنَا, intaqamnaa) yang berarti "Kami membalas", sebab ayat langsung menjawab perbuatan mereka dengan pembalasan. Pembaca yang lebih suka "membuat Kami berduka" memakai arti dasar akar ini di empat ayat lain, sedangkan terjemahan di sini mengikuti jawaban yang datang pada kata kerja berikutnya.
Kata intaqamnaa berakar ن-ق-م dan muncul lima kali di empat surah, yaitu 7:136, 15:79, 30:47, 43:25, dan 43:55. Pelakunya Kami di kelima ayat, dan terjemahan memakai "membalas" di semuanya. Kata kerja dasar dari akar yang sama ada di 5:59, 7:126, 9:74, dan 85:8, dan di 5:59, (تَنْقِمُونَ, tanqimuuna), terjemahan memakai "membenci", sehingga bentuk yang berawalan in- pada intaqamnaa menjadi kata kerja yang berarti membalas, berbeda dari bentuk dasar itu. Kata (مِنْهُمْ, minhum) yang berarti "dari mereka" menyusul intaqamnaa di 7:136, 15:79, 43:25, dan 43:55, dan terjemahan "membalas mereka" memakai dasar yang sama di keempatnya. Susunan (مِنْهُمْ فَأَغْرَقْنَاهُمْ, minhum fa-aghraqnaahum) yang berarti "dari mereka, lalu Kami tenggelamkan mereka" ada di dua ayat saja, yaitu 7:136 dan 43:55.
Kata (فَأَغْرَقْنَاهُمْ, fa-aghraqnaahum) berakar غ-ر-ق dan bentuk persisnya muncul tiga kali, yaitu 7:136, 21:77, dan 43:55. Di 7:136 kata itu disusul (فِي الْيَمِّ, fii l-yammi) yang berarti "di laut", dan di 21:77 disusul (أَجْمَعِينَ, ajma'iina) seperti di ayat ini. Ayat 43:55 tidak memuat penunjuk tempat, jadi terjemahan tidak menambahkan "di laut" karena tidak ada kata Arab yang melahirkannya.
Kata ajma'iina yang berarti "semuanya" menutup ayat. Kata yang sama menandai seluruh anggota kelompok yang diselamatkan, misalnya (وَمَنْ مَعَهُ أَجْمَعِينَ, wa-man ma'ahu ajma'iina) yang berarti "dan semua orang yang bersamanya" di 26:65 dan (وَأَهْلَهُ أَجْمَعِينَ, wa-ahlahu ajma'iina) yang berarti "dan seluruh keluarganya" di 37:134, juga seluruh kelompok yang ditenggelamkan di 21:77 dan 43:55. Kata ini tidak menetapkan nasib, sebab nasibnya ditentukan oleh kata kerja di depannya. Kata ganti "mereka" di ayat ini mengikuti 43:54 yang menyebut (قَوْمَهُ, qawmahu) yang berarti "kaumnya" dan (إِنَّهُمْ, innahum) yang berarti "sesungguhnya mereka". Apakah Firaun sendiri termasuk di dalam kata ganti itu tidak dinyatakan oleh kata gantinya, dan kata ajma'iina menutup kemungkinan ada yang dikecualikan dari yang dirujuk.
Tafsiran
Ayat ini memindahkan pelaku kisah dari Firaun dan kaumnya kepada Allah yang berbicara dengan kata Kami. Dari 43:47 sampai 43:54 kata kerja dipegang oleh Musa, Firaun, dan kaumnya: mereka menertawakan, berkata kepada Musa, mengingkari janji, lalu Firaun berseru dan kaumnya menaatinya. Kami bertindak di dua tempat saja pada rentang itu, yaitu di 43:48 ketika tanda diperlihatkan dan azab ditimpakan "agar mereka kembali", dan di 43:50 ketika azab dihilangkan. Ayat 43:55 membalik arahnya, sebab kali ini perbuatan mereka disebut lebih dulu sebagai sebab, dan Kami yang bergerak sesudahnya.
Rangkaian di 43:48 sampai 43:50 memperlihatkan jalan yang diberikan kepada mereka untuk kembali: tanda yang lebih besar dari tanda sebelumnya, azab, janji mereka, dan azab yang dihilangkan. Ayat 43:50 mencatat bahwa janji itu diingkari seketika, lalu 43:51 sampai 43:54 memuat pidato Firaun dan ketaatan kaumnya. Ayat 43:55 dapat dibaca sebagai akhir jalan itu, dengan perbuatan yang membuat Kami murka dibiarkan tanpa daftar.
Sebab yang diberikan 43:55 berbeda dari dua ayat lain yang memuat kata kerja yang sama. Ayat 7:136 memberi alasan bahwa mereka mendustakan tanda-tanda Kami dan lengah terhadapnya, dan 21:77 memberi alasan bahwa mereka kaum yang jahat, dengan kaum yang berbeda sebagai sasarannya. Ayat 43:55 menyebut hubungan mereka dengan Kami. Ketiga ayat tidak saling menggantikan, dan ketiganya memperlihatkan bahwa Al-Qur'an menyebut sebab tenggelamnya sebuah kaum dari sudut yang berlainan menurut ayatnya.
Ayat 43:54 memisahkan dua pihak, yang memperdaya dan yang menaati, lalu menyebut kaum itu fasik. Di 43:55 pemisahan itu tidak muncul lagi: satu kalimat memuat murka, pembalasan, tenggelam, dan semuanya. Ayat 43:56 kemudian menyebut apa yang Kami jadikan dari mereka, sehingga 43:55 menjadi tempat kisah ini berpindah dari apa yang mereka lakukan kepada apa yang menimpa dan apa yang ditinggalkan.
Renungan dan Hikmah
- Dalam kalimat 43:55 kaum Firaun menjadi pelaku pada kata kerja pertama, yaitu mereka membuat Kami murka, lalu menjadi sasaran pada kata kerja sesudahnya: Kami membalas mereka dan Kami tenggelamkan mereka. Rangkaian 43:51 sampai 43:54 tentang ucapan seorang penguasa dan ketaatan kaumnya tampak sebagai urusan di antara manusia sendiri, dan ayat 43:55 yang menyusulnya menyebut Allah sebagai pihak yang dibuat murka oleh mereka. Perbuatan yang dimaksud tidak diperinci. Pembaca dapat bertanya perbuatan apa dalam sehari yang dianggapnya menyangkut dirinya dan orang di sekitarnya saja, padahal ayat ini menaruh Allah sebagai pihak yang dibuat murka?
- Ayat 43:50 mencatat bahwa ketika azab dihilangkan, mereka seketika mengingkari janji, dan 43:55 datang sesudah rangkaian itu. Kelegaan dari azab itu diberikan Allah lewat tindakan-Nya sendiri, dan menurut 43:50 janji yang diucapkan ketika azab masih menekan tidak bertahan sampai kelegaan itu tiba. Ayat tidak menghitung berapa kali pola itu berulang sebelum 43:55. Pembaca yang pernah berjanji ketika sedang terdesak dapat memperhatikan apa yang terjadi pada janji itu sesudah keadaannya membaik, dan apakah kata-katanya sendiri saat itu masih diingat.
- Ayat 43:54 membedakan yang memperdaya dari yang menaati dan menyebut yang menaati sebagai kaum fasik, lalu 43:55 menutup dengan satu kata, yaitu semuanya. Orang yang mengikuti sebuah ajakan karena suara yang paling lantang tidak mendapat tempat tersendiri dalam kalimat penutup ini. Pembaca yang sedang menimbang suatu ajakan dapat membayangkan pertanyaan yang kelak diajukan kepadanya tentang alasan mengikutinya, dan bertanya apakah jawaban "saya cuma menurut" sudah tertutup oleh kata penutup ayat ini.
- Di 43:51 Firaun menyebut sungai-sungai yang mengalir di bawahnya sebagai bukti kebesarannya, dan di 43:55 Allah memakai kata tenggelam tanpa menyebut tempat. Pembaca dapat memperhatikan bahwa kata tenggelam datang tanpa sungai atau tempat apa pun yang disebut, sehingga benda yang dipegang Firaun sebagai tanda kokohnya kedudukan tidak tampil di ayat ini sebagai pelindung ketika Kami bertindak. Apa yang mengalir di bawah kedudukan yang dibanggakan seorang pembaca, dan sudahkah asal aliran itu diperiksa?
- Kata yang menutup 43:55 dipakai Allah, dengan Kami sebagai pelaku, juga untuk kelompok yang diselamatkan, yaitu Musa dan semua orang yang bersamanya di 26:65, serta keluarga orang yang diselamatkan di 37:134. Kata itu sendiri tidak menentukan nasib, sebab arah selamat atau tenggelam datang dari kata kerja yang mendahuluinya. Di 43:55 kata kerja itu didahului sebab yang disebut ayat, yaitu mereka membuat Kami murka. Pembaca yang ingin tahu di pihak mana dirinya berdiri tidak dapat bertanya kepada kata penutup itu, dan dapat menanyakan kata kerja apa yang kelak mendahuluinya bila kelompoknya disebut dengan kata yang sama?
- Ayat 43:48 menyebut bahwa setiap tanda yang Kami perlihatkan kepada mereka lebih besar dari tanda sebelumnya, dan 43:55 adalah ayat tempat rangkaian itu berakhir dengan pembalasan. Dalam rangkaian itu tiap tanda datang dengan ukuran yang lebih besar, dan menurut ayat itu tujuannya agar mereka kembali. Pembaca dapat menanyakan pada dirinya bagaimana ia memperlakukan peringatan yang datang berulang dengan ukuran makin besar dalam hidupnya, apakah ia menyebutnya kebetulan yang berurutan atau tanda dari Tuhan yang meminta jawaban.