فَجَعَلْنَاهُمْ سَلَفًا وَمَثَلًا لِلْآخِرِينَ
Maka, Kami jadikan mereka pendahulu dan perumpamaan bagi orang-orang yang kemudian.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فَجَعَلْنَاهُمْ سَلَفًا وَمَثَلًا لِلْآخِرِينَfa-ja'alnaahum salafan wa-matsalan li-l-aakhiriinamaka, Kami jadikan mereka pendahulu dan perumpamaan bagi orang-orang yang kemudian
Terjemahan per kata (4 kata)
- فَجَعَلْنَاهُمْfa-ja'alnaahummaka Kami menjadikan mereka
- سَلَفًاsalafanpendahulu
- وَمَثَلًاwa-matsalandan perumpamaan
- لِلْآخِرِينَli-l-aakhiriinabagi orang-orang kemudian
Inti bacaan
Kata benda (سَلَفًا, salafan) muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 43:56, dan tujuh ayat lain dari akar yang sama memakai kata kerja.
Penjelasan pilihan kata
Kata (فَجَعَلْنَاهُمْ, fa-ja'alnaahum) yang berarti "maka Kami jadikan mereka" berakar ج-ع-ل. Kata ini muncul lima kali di lima surah, yaitu 21:70, 23:41, 34:19, 37:98, dan 43:56, dengan ujung yang berbeda pada 21:70 dan 37:98 karena kata sesudahnya memakai kata sandang. Hasil yang Kami jadikan dari mereka berbeda di tiap ayat: (الْأَخْسَرِينَ, l-akhsariina) yang berarti "orang-orang yang paling rugi" di 21:70, (غُثَاءً, ghutsaa'an) yang berarti "sampah yang hanyut" di 23:41, (أَحَادِيثَ, ahaadiitsa) yang berarti "buah bibir" di 34:19, dan (الْأَسْفَلِينَ, l-asfaliina) yang berarti "orang-orang yang paling hina" di 37:98. Ayat 43:56 menjadikan mereka (سَلَفًا وَمَثَلًا, salafan wa-matsalan) yang berarti "pendahulu dan perumpamaan". Terjemahan memakai "Kami jadikan" di kelima ayat.
Kata (سَلَفًا, salafan) yang berarti "pendahulu" berakar س-ل-ف dan muncul sebagai kata benda satu kali saja, yaitu di 43:56. Akar ini muncul di delapan ayat. Kata kerja (سَلَفَ, salafa) yang berarti "telah berlalu" ada di 2:275, 4:22, 4:23, 5:95, dan 8:38, dan terjemahannya di lima ayat itu selalu menunjuk sesuatu yang sudah lewat, yaitu "telah lampau", "telah lalu", atau "telah berlalu". Kata kerja (أَسْلَفْتُمْ, aslaftum) di 69:24 dan bentuk sejenisnya di 10:30 berarti "dikerjakan dahulu". Di semua tempat itu akar ini menunjuk sesuatu yang sudah lewat dan berada di depan pembicara dalam urutan waktu, sehingga "pendahulu" dipakai untuk mereka yang lebih dulu dan sudah pergi.
Kata (وَمَثَلًا, wa-matsalan) yang berarti "dan perumpamaan" berakar م-ث-ل. Bentuk مَثَلًا dengan akhiran tak tentu muncul di 20 ayat di 13 surah, yaitu 2:26, 7:177, 11:24, 14:24, 16:75, 16:76, 16:112, 18:32, 24:34, 30:28, 36:13, 36:78, 39:29, 43:17, 43:56, 43:57, 43:59, 66:10, 66:11, dan 74:31. Kata kerja yang paling sering menyertainya adalah (ضَرَبَ, dharaba) yang berarti "membuat", misalnya di 14:24, 16:75, 16:76, 16:112, 36:78, 39:29, 43:17, 66:10, dan 66:11. Di 43:56 dan 43:59 pasangannya (جَعَلْنَا, ja'alnaa) yang berarti "Kami jadikan", sehingga perumpamaan di dua ayat itu muncul dari tindakan Kami atas orangnya, tidak dari pihak yang membuat perbandingan. Kata matsal juga ada di 43:8, (وَمَضَىٰ مَثَلُ الْأَوَّلِينَ, wa-madhaa matsalu l-awwaliina), yang diterjemahkan "dan telah berlalu perumpamaan orang-orang yang terdahulu".
Kata (لِلْآخِرِينَ, li-l-aakhiriina) yang berarti "bagi orang-orang yang kemudian" tersusun dari huruf li yang berarti "bagi", kata sandang, dan al-aakhiriin. Tanpa huruf li, al-aakhiriin muncul sembilan kali di empat surah, yaitu 26:84, 37:78, 37:108, 37:119, 37:129, 56:14, 56:40, 56:49, dan 77:17. Di 37:78 dan 37:108 bunyinya (وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ, wa-taraknaa 'alayhi fii l-aakhiriina) yang berarti "dan Kami tinggalkan untuknya, di kalangan orang-orang yang datang kemudian", dan di 26:84 (وَاجْعَلْ لِي لِسَانَ صِدْقٍ فِي الْآخِرِينَ, wa-j'al lii lisaana shidqin fii l-aakhiriina) berarti "dan jadikanlah bagiku buah tutur yang benar di kalangan orang-orang yang datang kemudian". Di 26:84, 37:78, dan 37:108 orang-orang kemudian adalah tempat sebuah nama dikenang. Di 43:56 mereka adalah pihak yang menerima pendahulu dan perumpamaan, dan terjemahan memakai "orang-orang yang kemudian" untuk keduanya.
Kata (سَلَفًا وَمَثَلًا, salafan wa-matsalan) disambung dengan wa tanpa pembeda, dan frasa "bagi orang-orang yang kemudian" menutup keduanya. Terjemahan menghindari "pelajaran" atau "kaum" karena tidak ada kata Arab di ayat ini yang melahirkannya.
Tafsiran
Ayat ini menjawab pertanyaan yang ditinggalkan 43:55, yaitu apa yang tersisa dari mereka sesudah tenggelam. Dua peran tersisa dari mereka, dan keduanya menunjuk kepada orang lain, yaitu orang-orang yang datang sesudah mereka. Di antara lima ayat yang memakai kata kerja ja'ala atas sebuah kaum, empat menyebut apa yang terjadi pada kaum itu: rugi, hina, sampah yang hanyut, dan buah bibir. Ayat 43:56 menyebut apa yang mereka berikan kepada pihak lain, sehingga kisah yang berakhir di 43:55 tetap bekerja sesudah pelakunya hilang.
Surah ini sudah menyiapkan tempat bagi peran itu. Ayat 43:8 menyebut bahwa telah berlalu perumpamaan orang-orang yang terdahulu, sesudah Kami membinasakan yang lebih keras kekuatannya daripada orang-orang yang dibicarakan di sana. Ayat 43:56 memperlihatkan barisan itu bertambah panjang: perumpamaan orang-orang terdahulu di 43:8 kini disusul kaum Firaun sebagai perumpamaan bagi orang-orang yang kemudian.
Ayat 43:56 tidak merumuskan pelajarannya. Kata perumpamaan dibiarkan terbuka, dan isinya baru terisi bagi orang-orang kemudian yang membaca kisah ini. Dapat dibaca bahwa orang-orang kemudian itu mencakup para pendengar surah ini sendiri, tetapi ayat 43:56 tidak menyebut siapa saja yang termasuk. Ayat 43:59 mengulang susunan Kami jadikan dan perumpamaan untuk orang lain, sehingga pembaca diajak membandingkan dua peran itu dalam dua kisah yang berurutan.
Renungan dan Hikmah
- Kalimat 43:55 berakhir pada tenggelam, dan 43:56 segera menyebut apa yang tersisa dari mereka: peran sebagai pendahulu dan perumpamaan. Peran itu dijadikan oleh Allah dengan kata kerja yang sama dengan empat ayat lain, sehingga apa yang tertinggal dari sebuah kaum tidak ditentukan oleh kaum itu sendiri. Pembaca dapat membandingkan apa yang tertinggal dari dirinya di benak orang lain dengan apa yang tertinggal dari kaum ini, dan menanyakan apakah yang kelak diceritakan tentang dirinya akan berfungsi sebagai pendahulu yang diikuti atau sebagai perumpamaan yang dihindari?
- Ayat 26:84 memuat doa agar bagi orang-orang yang datang kemudian ditinggalkan buah tutur yang benar, dan 37:78 menyatakan bahwa Kami meninggalkan sesuatu untuk tokoh yang disebut di sana di kalangan orang-orang yang datang kemudian. Ayat 43:56 memakai kelompok yang sama, orang-orang kemudian, untuk menerima kaum yang ditenggelamkan sebagai pendahulu dan perumpamaan. Kelompok penerimanya sama, sedangkan yang diwariskan kepada mereka berbeda jauh. Pembaca yang menyusun nama baiknya dari waktu ke waktu dapat bertanya apakah yang dilakukannya lebih mirip doa seperti 26:84 yang disampaikan kepada Tuhannya, atau bahan bagi ayat seperti 43:56?
- Kata kerja Kami jadikan mereka dipakai di lima ayat, dan hasilnya berlain-lainan, dari orang-orang yang paling rugi di 21:70 sampai pendahulu dan perumpamaan di ayat ini. Pelaku kata kerjanya sama di kelima ayat, sedangkan kaum yang dikenai berbeda-beda. Pembaca dapat memperhatikan bahwa di tangan Allah satu kata kerja menghasilkan banyak macam sisa, dan bertanya sisa macam apa yang paling mungkin ditinggalkan oleh kebiasaan yang sedang diulangnya hari ini, serta siapa yang kelak menerima sisa itu.
- Pendahulu dan perumpamaan di 43:56 diberikan bagi orang-orang yang kemudian, yaitu pihak yang tidak hadir ketika kaum itu hidup. Mereka tidak menanggung akibat langsung dari perbuatan kaum itu, tetapi menerima kisahnya sebagai bahan. Pembaca yang tumbuh dengan cerita orang-orang sebelumnya dapat menyadari bahwa banyak hal yang diketahuinya tanpa pernah dialami berasal dari mereka yang sudah pergi. Apa yang kelak ditinggalkannya bagi orang-orang kemudian, dan apakah itu bahan yang berguna bagi mereka, atau cuma beban yang mereka pikul tanpa tahu asalnya?
- Kata pendahulu mengandaikan sebuah barisan yang bergerak searah, dengan sebagian sudah berada di depan dan sebagian masih di belakang, dan ayat 43:56 menaruh kaum yang ditenggelamkan di bagian depan barisan itu bagi orang-orang kemudian. Ayat tidak menyebut siapa yang berjalan di belakang mereka. Pembaca dapat menanyakan jejak siapa yang sedang diikutinya dalam cara bekerja, bertutur, dan menilai orang, serta jejak siapa yang akan diikuti orang lain dari dirinya. Allah, yang menjadikan kaum ini pendahulu di ayat ini, tidak menyebut ke mana barisan itu menuju, dan apa yang diketahui pembaca tentang arah barisannya sendiri?
- Perumpamaan di 43:56 dijadikan oleh Allah, tetapi isinya baru bekerja ketika ada orang kemudian yang menerimanya sebagai perumpamaan dan tidak sebagai cerita lama. Ayat-ayat sesudahnya memperlihatkan bahwa sebuah perumpamaan dapat disambut dengan cara yang berlainan. Pembaca yang mendengar kisah Firaun sebagai sesuatu yang sudah selesai di masa lampau melewatkan peran yang dijadikan baginya di ayat ini. Apakah sebuah kisah tentang kegagalan orang lain pernah didengar sebagai kabar tentang diri sendiri, dan apa yang berubah pada hari itu?