إِنْ هُوَ إِلَّا عَبْدٌ أَنْعَمْنَا عَلَيْهِ وَجَعَلْنَاهُ مَثَلًا لِبَنِي إِسْرَائِيلَ

Ia tidak lain hanya seorang hamba yang Kami beri nikmat, dan Kami jadikan ia perumpamaan bagi Bani Israil.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. إِنْ هُوَ إِلَّا عَبْدٌ أَنْعَمْنَا عَلَيْهِin huwa illaa 'abdun an'amnaa 'alayhiia tidak lain hanya seorang hamba yang Kami beri nikmat
  2. وَجَعَلْنَاهُ مَثَلًا لِبَنِي إِسْرَائِيلَwa-ja'alnaahu matsalan li-banii israa'iiladan Kami jadikan ia perumpamaan bagi Bani Israil

Terjemahan per kata (10 kata)

  1. إِنْintidaklah
  2. هُوَhuwaia
  3. إِلَّاillaakecuali
  4. عَبْدٌ'abdunhamba
  5. أَنْعَمْنَاan'amnaaKami memberi nikmat
  6. عَلَيْهِ'alayhiatasnya
  7. وَجَعَلْنَاهُwa-ja'alnaahudan Kami menjadikannya
  8. مَثَلًاmatsalanperumpamaan
  9. لِبَنِيli-baniibagi Bani
  10. إِسْرَائِيلَisraa'iilaIsrail

Inti bacaan

Susunan (وَجَعَلْنَاهُ مَثَلًا, wa-ja'alnaahu matsalan) muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 43:59.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (إِنْ هُوَ إِلَّا, in huwa illaa) yang berarti "ia tidak lain kecuali". Susunan itu ada di sebelas ayat, yaitu 6:90, 7:184, 12:104, 23:25, 23:38, 34:46, 36:69, 38:87, 43:59, 53:4, dan 81:27, dan terjemahan memakai "tidak lain" di semuanya karena kata in di sini menyangkal. Kata sesudah illaa menunjukkan siapa yang berbicara tentang apa. Di 12:104, 36:69, 38:87, dan 81:27 kata itu (ذِكْرٌ, dzikrun) yang berarti "peringatan", dan di 53:4 (وَحْيٌ, wahyun) yang berarti "wahyu", sedangkan di 7:184 dan 34:46 kata itu (نَذِيرٌ, nadziirun) yang berarti "pemberi peringatan". Di 23:25 dan 23:38 susunan yang sama dipakai oleh para penentang untuk menyebut seorang lelaki, (رَجُلٌ, rajulun), dengan maksud mengecilkannya. Di 43:59 penyebutnya ayat sendiri, dan kata yang dipilih (عَبْدٌ, 'abdun) yang berarti "hamba".

Kata 'abdun berakar ع-ب-د, dan terjemahan "hamba" mengikuti keputusan akar ini di seluruh Al-Qur'an. Almasih disebut hamba juga di 4:172, (عَبْدًا لِلَّهِ, 'abdan li-llaahi) yang berarti "hamba bagi Allah", dan di 19:30 tokoh yang menurut 19:34 adalah Isa putra Maryam berkata (إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ, innii 'abdu llaahi) yang berarti "sesungguhnya aku hamba Allah". Di 43:59 kata itu tidak disusul li-llaahi atau Allah, jadi terjemahan "seorang hamba" tidak menambahkan nama itu.

Kata (أَنْعَمْنَا عَلَيْهِ, an'amnaa 'alayhi) yang berarti "Kami beri nikmat kepadanya" berakar ن-ع-م, dan bentuk persis an'amnaa ada tiga kali di tiga surah, yaitu 17:83, 41:51, dan 43:59. Dalam 17:83 dan 41:51 bunyinya (وَإِذَا أَنْعَمْنَا عَلَى الْإِنْسَانِ, wa-idzaa an'amnaa 'alaa l-insaani) yang berarti "dan apabila Kami memberi nikmat kepada manusia", lalu manusia itu (أَعْرَضَ, a'radha) yang berarti "berpaling". Susunan an'amnaa 'alayhi dengan kata ganti orang ketiga tunggal ada satu kali saja, di 43:59. Ayat ini tidak menyebut bentuk nikmat yang diberikan, dan terjemahan tidak menambahkan "kenabian" atau "kekuatan" karena tidak ada kata Arab yang melahirkannya.

Kata (وَجَعَلْنَاهُ مَثَلًا, wa-ja'alnaahu matsalan) yang berarti "dan Kami jadikan ia perumpamaan" ada satu kali di Al-Qur'an, yaitu di sini. Kata kerja ja'alnaa yang menghasilkan perumpamaan ada juga di 43:56, (فَجَعَلْنَاهُمْ سَلَفًا وَمَثَلًا, fa-ja'alnaahum salafan wa-matsalan). Kata -hu yang berarti "-nya" di sini menunjuk tokoh yang sama dengan (هُوَ, huwa) di awal ayat.

Frasa (لِبَنِي إِسْرَائِيلَ, li-banii israa'iila) yang berarti "bagi Bani Israil" ada di lima ayat, yaitu 3:93, 17:2, 17:104, 32:23, dan 43:59. Di 17:2 dan 32:23 bunyinya (وَجَعَلْنَاهُ هُدًى لِبَنِي إِسْرَائِيلَ, wa-ja'alnaahu hudan li-banii israa'iila) yang berarti "dan Kami jadikan ia petunjuk bagi Bani Israil". Kata kerja ja'alnaahu dengan Bani Israil sebagai penerima ada di tiga ayat itu, tetapi hasilnya berlainan: petunjuk di 17:2 dan 32:23, dan perumpamaan di 43:59. Terjemahan memakai "bagi Bani Israil" tanpa menambahkan "kaumnya sendiri" atau kata lain yang tidak berpadanan dalam teks Arab.

Tafsiran

Ayat ini menjawab pertanyaan 43:58 dengan mengganti ukurannya. Pertanyaan di ayat sebelumnya meminta peringkat, tuhan-tuhan atau dia, sedangkan 43:59 menyebut kedudukan: seorang hamba yang diberi nikmat dan dijadikan perumpamaan. Kata ganti dia tetap tidak diberi nama, tetapi kedudukan yang disebut cukup untuk menunjukkan bahwa dua pilihan dalam pertanyaan itu tidak berada pada tingkat yang sama.

Dua kata kerja dalam ayat ini dipegang oleh pelaku yang sama, yaitu Kami. Di 43:56 kata kerja ja'ala menjadikan kaum yang ditenggelamkan perumpamaan, dan di 43:59 menjadikan seorang hamba yang diberi nikmat perumpamaan, jadi sasarannya berbeda sedangkan kata kerja dan peran perumpamaannya sama. Ayat 43:57 dan 43:58 memperlihatkan jenis lain pembuat perumpamaan, yaitu kaum yang membuatnya untuk membantah. Dalam rangkaian 43:56 sampai 43:59 perumpamaan karena itu muncul dari dua tangan: tangan yang menjadikan dan tangan yang membandingkan.

Penerima perumpamaan di ayat ini disebut dengan jelas, yaitu Bani Israil. Ayat tidak memperluasnya ke kelompok lain, dan ayat tidak menjelaskan apa yang menjadi isi perumpamaan itu. Ayat memuat dua hal tentang tokohnya: kedudukannya sebagai hamba, dan keadaannya sebagai penerima nikmat. Ayat-ayat sesudahnya, 43:63 dan 43:64, memuat ucapan Isa sendiri yang memakai (إِنَّ اللَّهَ هُوَ رَبِّي وَرَبُّكُمْ, inna llaaha huwa rabbii wa-rabbukum) yang berarti "sesungguhnya Allah, Dialah Tuhanku dan Tuhan kalian", dan kata hamba di 43:59 sejalan dengan ucapan itu.

Kata hamba dipakai juga untuk malaikat. Ayat 43:19 menyebut para malaikat sebagai (عِبَادُ الرَّحْمَٰنِ, 'ibaadu r-rahmaani) yang berarti "hamba-hamba Ar-Rahman", dan 43:60 sesudah ini membicarakan malaikat di bumi. Kata hamba dengan demikian menaruh putra Maryam dan para malaikat pada kedudukan yang sama, sebagaimana 4:172 menyebut Almasih dan para malaikat yang paling dekat bersama-sama.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat 43:59 menyebut tokohnya sebagai hamba yang diberi nikmat, jadi kedudukannya dinyatakan lewat pemberian, dan jerih payahnya tidak disebut. Pemberi nikmat itu Kami, yaitu Allah, dan bentuk nikmatnya tidak dirinci. Pembaca dapat memeriksa kedudukan yang dipegangnya dalam pekerjaan, keluarga, atau ilmu, dan menimbang berapa bagian darinya yang datang sebagai pemberian dan tidak dihasilkan sendiri. Bila bagian itu ditandai satu per satu, apa yang tersisa untuk dibanggakan?
  • Dalam kalimat 43:59 pemberian nikmat dan penjadian perumpamaan datang berurutan dari pelaku yang sama, tanpa jeda dan tanpa kata penyela. Orang yang diberi nikmat di ayat ini ikut dijadikan bahan pelajaran bagi orang lain, dan keduanya disebut sebagai perbuatan Allah atasnya. Pembaca yang menerima kelebihan dari Tuhannya, entah berupa ilmu, harta, atau kesempatan, dapat bertanya apakah kelebihan itu juga membawa peran sebagai contoh bagi orang di sekitarnya, dan apakah peran itu sudah disadari?
  • Susunan Kami jadikan perumpamaan dipakai di 43:56 untuk kaum yang ditenggelamkan dan di 43:59 untuk seorang hamba yang diberi nikmat. Susunan yang sama menunjuk dua keadaan yang jauh berbeda, sehingga status sebagai perumpamaan tidak memberi tahu nasib orangnya. Pembaca yang mendengar namanya disebut sebagai contoh dalam percakapan orang lain tidak dapat langsung menyimpulkan posisinya dari kenyataan itu. Dalam arti apa dirinya sedang dijadikan contoh, dan oleh siapa yang menjadikannya, orang-orang di sekitarnya atau Allah?
  • Perumpamaan di 43:59 disebut jelas penerimanya, yaitu Bani Israil, dan ayat tidak memperluasnya. Sebuah contoh dalam hidup seseorang punya lingkaran penerima tertentu, dan lingkaran itu dapat sempit. Pembaca dapat menimbang kepada siapa hidupnya sedang menjadi contoh, entah anak, rekan kerja, atau tetangga, dan apakah perilakunya sama di depan mereka dan di tempat yang tidak dilihat siapa pun. Apa yang berubah bila penerima contoh itu ternyata bukan yang dibayangkan?
  • Di 17:83 dan 41:51 kata kerja memberi nikmat dipakai atas manusia pada umumnya, lalu manusia itu berpaling dan menjauhkan diri. Di 43:59 kata kerja yang sama dipakai atas seorang hamba, dan ayat menaruh kata hamba tepat di depannya. Tiga ayat itu berbeda konteks dan tidak disamakan, tetapi bersama-sama menunjukkan dua cara menerima nikmat dari Allah. Pembaca dapat melihat bagaimana sikapnya setelah menerima kemudahan, apakah berpaling seperti dua ayat pertama atau tetap menempatkan diri sebagai penerima seperti ayat ini.
  • Ayat 43:19 sudah menyebut malaikat sebagai hamba, dan 43:59 menaruh putra Maryam pada kata yang sama, sehingga kata hamba dipakai juga untuk makhluk yang di mata manusia paling mulia sekalipun. Pembaca yang membawa sebutan, jabatan, atau gelar dapat bertanya apakah sebutan itu berani dipakai di hadapan kata yang dipakai Allah untuk makhluk-makhluk itu, dan apa yang terjadi pada gelarnya bila kata itu lebih dulu disebut?