وَلَا يَصُدَّنَّكُمُ الشَّيْطَانُ ۖ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Dan janganlah sekali-kali setan menghalangi kalian; sesungguhnya ia musuh yang nyata bagi kalian.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَلَا يَصُدَّنَّكُمُ الشَّيْطَانُwa-laa yashuddannakumu sy-syaythaanudan janganlah sekali-kali setan menghalangi kalian
  2. إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌinnahu lakum 'aduwwun mubiinunsesungguhnya ia musuh yang nyata bagi kalian

Terjemahan per kata (7 kata)

  1. وَلَاwa-laadan tidak pula
  2. يَصُدَّنَّكُمُyashuddannakumumenghalangi kalian
  3. الشَّيْطَانُsy-syaythaanusetan
  4. إِنَّهُinnahusesungguhnya ia
  5. لَكُمْlakumbagi kalian
  6. عَدُوٌّ'aduwwunmusuh
  7. مُبِينٌmubiinunyang nyata

Inti bacaan

Bentuk (يَصُدَّنَّكُمُ, yashuddannakumu) muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 43:62.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (وَلَا يَصُدَّنَّكُمُ, wa-laa yashuddannakumu) yang berarti "dan janganlah sekali-kali menghalangi kalian". Wa berarti "dan", laa menandai larangan, kata kerja yashudda berakar ص-د-د dan berarti "menghalangi", huruf nun di ujungnya menegaskan larangan sehingga terjemahan memakai "sekali-kali", dan akhiran -kum berarti "kalian" sebagai penerima. Larangan yang tersusun dari laa, kata kerja ini, huruf nun penegas, dan akhiran penerima ada di tiga ayat, yaitu (فَلَا يَصُدَّنَّكَ, fa-laa yashuddannaka) di 20:16, (وَلَا يَصُدُّنَّكَ, wa-laa yashuddunnaka) di 28:87, dan 43:62. Dua ayat pertama diikuti keterangan tentang dari apa penerimanya dihalangi, yaitu (عَنْهَا, 'anhaa) di 20:16 dan (عَنْ آيَاتِ اللَّهِ, 'an aayaati llaahi) di 28:87. Ayat 43:62 tidak memuat keterangan semacam itu, sehingga terjemahan berhenti pada "menghalangi kalian" tanpa menambahkan "dari jalan".

Keterangan yang menyertai kata kerja yang sama di ayat lain memperlihatkan seberapa lebar sasarannya. Di 5:91, (وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ, wa-yashuddakum 'an dzikri llaahi) yang berarti "dan menghalangi kalian dari mengingat Allah" memakai setan sebagai pelaku, dan penghalangan itu disambung dengan "dan dari salat". Di 43:37, (لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَّبِيلِ, la-yashudduunahum 'ani s-sabiili) yang berarti "benar-benar menghalangi mereka dari jalan" muncul sesudah 43:36 menyebut setan yang ditetapkan bagi orang yang berpaling dari peringatan Ar-Rahman. Pada 43:62 sasaran penghalangan itu dibiarkan terbuka.

Kata (الشَّيْطَانُ, sy-syaythaanu) yang berarti "setan" berdiri sesudah kata kerjanya, sehingga setan menjadi pelaku dan pendengar menjadi penerima. Terjemahan mempertahankan susunan itu, "janganlah sekali-kali setan menghalangi kalian", dan tidak menggantinya dengan "janganlah kalian dihalangi setan", yang menaruh pendengar sebagai pokok kalimat.

Kalimat (إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ, innahu lakum 'aduwwun mubiinun) yang berarti "sesungguhnya ia musuh yang nyata bagi kalian" muncul lima kali di empat surah, yaitu di 2:168, 2:208, 6:142, 36:60, dan 43:62. Di tiga ayat pertama kalimat itu menyusul (وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ, wa-laa tattabi'uu khuthuwaati sy-syaythaani) yang berarti "dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan". Di 36:60 kalimat itu menyusul (أَنْ لَا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ, an laa ta'budu sy-syaythaana) yang berarti "agar kalian tidak menyembah setan". Di 43:62 kalimat itu menyusul larangan menghalangi. Alasan yang sama dipasang pada tiga larangan yang berbeda: mengikuti, menyembah, dan menghalangi. Kata 'aduwwun berarti "musuh" dan berakar ع-د-و, lakum berarti "bagi kalian", dan mubiinun berarti "yang nyata" dan berakar ب-ي-ن.

Tafsiran

Ayat ini menaruh satu larangan dan satu alasan di antara dua pernyataan yang sama bunyinya, "ini jalan yang lurus" di 43:61 dan di 43:64. Larangan itu tidak menyebut dari apa pendengarnya dihalangi. Jalan adalah sasaran yang paling dekat dalam teks, tetapi ayat ini sendiri tidak mengatakannya.

Setan sudah muncul di surah yang sama pada 43:36 sampai 43:39. Orang yang berpaling dari peringatan Ar-Rahman mendapat setan sebagai teman, setan itu menghalangi mereka dari jalan menurut 43:37, dan pada 43:38 orang yang akhirnya datang berkata, "Aduhai, sekiranya antara aku dan engkau ada jarak sejauh timur dan barat." Dapat dibaca bahwa 43:62 menyampaikan sebagai larangan di awal apa yang 43:38 tunjukkan sebagai penyesalan di akhir. Kedua bagian itu tidak saling menunjuk secara eksplisit.

Susunan tiga unsur di sekitar 43:62 mirip dengan 36:60 dan 36:61: setan disebut musuh yang nyata, lalu ada perintah mengabdi, lalu kalimat "ini jalan yang lurus". Di 43:62 sampai 43:64 urutannya sama, dengan ucapan Isa di 43:63 menyela di antara larangan dan perintah mengabdi. Setelah itu 43:65 mencatat golongan-golongan yang berselisih.

Kata musuh kembali di 43:67 untuk teman-teman akrab yang pada hari itu saling bermusuhan, kecuali orang-orang yang bertakwa. Dua ayat itu menaruh kata yang sama pada pihak yang berbeda dan terpisah lima ayat: setan di 43:62, sesama teman di 43:67.

Renungan dan Hikmah

  • Larangan di 43:62 menaruh setan sebagai pelaku dan pendengar sebagai penerima, "jangan sampai setan menghalangi kalian". Di 2:168 bentuknya lain: "janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan" menaruh pendengar sebagai pelaku. Dua larangan itu dirumuskan dengan pelaku yang berbeda: pada yang pertama setan menjadi pelaku kata kerjanya, sedangkan pada yang kedua pendengar yang menjadi pelakunya. Bagian mana dalam hidup pembaca yang tampak seperti keputusannya sendiri, padahal ada yang menghalanginya dari arah lain?
  • Surah 43 menyebut setan dengan dua sebutan. Di 43:36 setan menjadi teman bagi orang yang berpaling dari peringatan, dan di 43:62 setan musuh yang nyata bagi pendengar. Pada 43:38 ayat menutup dengan penilaian bahwa teman itu seburuk-buruk teman. Ayat-ayat itu tidak merinci bagaimana pihak yang sama dapat disebut dengan kedua kata itu. Pembaca dapat bertanya, siapa atau apa yang kini diperlakukannya sebagai teman, dan bagaimana kata itu terdengar bila diucapkan dengan nada 43:38, sesudah semuanya selesai?
  • Di 43:38 seorang yang datang berkata, "Aduhai, sekiranya antara aku dan engkau ada jarak sejauh timur dan barat", dan ayat itu menutup dengan penilaian bahwa teman itu seburuk-buruk teman. Ucapan itu datang sesudah kejadian, sedangkan 43:62 datang sebelum kejadian. Dalam urutan hidup pembaca menerima peringatan lebih dulu, dan itu memberinya sesuatu yang tidak tampak pada orang di 43:38, yaitu waktu untuk mengubah jarak yang dibayangkan. Bila pembaca menaruh dirinya di antara dua ayat itu, di titik mana pembaca berdiri, dan apa yang masih bisa diubah dari sana?
  • Peringatan tentang setan ditaruh di tengah. Ayat 43:61 menyatakan "ini jalan yang lurus", 43:62 menyebut penghalangnya, 43:63 memuat ucapan Isa, dan 43:64 mengulang kalimat jalan itu dengan Allah sebagai Tuhan pembicara dan pendengarnya. Penghalang disebut di antara dua penyebutan jalan. Pembaca yang sedang menempuh jalan itu bertemu peringatan sebelum tiba di ujung. Apa yang dilakukannya dengan peringatan yang datang ketika pembaca merasa sudah berada di jalan yang benar?
  • Di 5:91 setan bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian lewat khamar dan judi, serta menghalangi kalian dari mengingat Allah dan dari salat dengan kata kerja yang sama. Di 43:62 ayat tidak menyebut dari apa kalian dihalangi, sehingga pembaca mengisi sasaran itu dari tempat lain dalam teks. Ayat 5:91 memberi satu isian dan 43:37 memberi isian lain, yaitu jalan. Dua isian itu tidak harus bertentangan karena ayat 43:62 tidak membatasi sasaran. Apa yang menghalanginya dari mengingat Allah pada hari ini, dan siapa atau apa yang mengarahkannya ke sana?
  • Ayat 43:67 memakai kata musuh untuk teman-teman akrab pada hari itu, kecuali orang-orang yang bertakwa, dan 43:63 memuat perintah bertakwa kepada Allah. Kata musuh di 43:62 menunjuk pihak yang sudah jelas, yaitu setan, sedangkan di 43:67 menunjuk orang-orang yang sebelumnya disebut teman. Dua ayat itu menunjukkan dua arah datangnya permusuhan: dari pihak yang sejak awal dikenal sebagai musuh, dan dari pihak yang semula disebut teman. Takwa disebut sebagai pengecualian. Dalam hubungan dekat yang dimilikinya sekarang, bagian mana yang sudah dijaga oleh takwa, dan bagian mana yang belum?