لَا يُفَتَّرُ عَنْهُمْ وَهُمْ فِيهِ مُبْلِسُونَ
tidak dihentikan dari mereka, dan mereka berputus asa di dalamnya.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- لَا يُفَتَّرُ عَنْهُمْlaa yufattaru 'anhumtidak dihentikan dari mereka
- وَهُمْ فِيهِ مُبْلِسُونَwa-hum fiihi mublisuunadan mereka berputus asa di dalamnya
Terjemahan per kata (6 kata)
- لَاlaatidak
- يُفَتَّرُyufattarudihentikan
- عَنْهُمْ'anhumdari mereka
- وَهُمْwa-humdan mereka
- فِيهِfiihidi dalamnya
- مُبْلِسُونَmublisuunaorang-orang yang berputus asa
Inti bacaan
Bentuk (يُفَتَّرُ, yufattaru) muncul 1 kali di Al-Qur'an, yaitu di 43:75, sedangkan akar ف-ت-ر ada juga di 5:19 dan 21:20.
Penjelasan pilihan kata
Kata kerja (يُفَتَّرُ, yufattaru) didahului (لَا, laa) yang berarti "tidak". Akarnya ف-ت-ر, dan akar ini hanya ada di 3 ayat, yaitu 5:19, 21:20, dan 43:75. Di 21:20 bunyinya (لَا يَفْتُرُونَ, laa yafturuuna) yang berarti "tidak henti-hentinya", dipakai untuk mereka yang bertasbih malam dan siang. Di 5:19 bunyinya (عَلَىٰ فَتْرَةٍ مِنَ الرُّسُلِ, 'alaa fatratin mina r-rusuli) yang berarti "setelah beberapa saat terhentinya pengutusan rasul-rasul". Di kedua ayat itu akar ف-ت-ر menunjuk berhenti atau jeda, sehingga terjemahan 43:75 memakai "dihentikan". Bentuk yufattaru menyebut apa yang dikenai tindakan dan tidak menyebut siapa yang bertindak, sehingga terjemahan tidak menyebut pelaku.
Kerangka kalimatnya sama dengan (فَلَا يُخَفَّفُ عَنْهُمْ, fa-laa yukhaffafu 'anhum) yang berarti "maka tidak diringankan dari mereka" di 16:85. Kata kerja di sana berasal dari akar lain, خ-ف-ف, yang berarti "meringankan". Bentuk yukhaffafu muncul 5 kali di 4 surah, yaitu 2:86, 2:162, 3:88, 16:85, dan 35:36, dan terjemahan memakai "diringankan" untuk semuanya. Karena akar ف-ت-ر dan akar خ-ف-ف berbeda, terjemahan 43:75 tidak memakai "diringankan" dan memakai "dihentikan", sejalan dengan 21:20 dan 5:19.
Frasa (يُفَتَّرُ عَنْهُمْ, yufattaru 'anhum) yang berarti "dihentikan dari mereka" tersusun dari kata kerja yufattaru, 'an yang berarti "dari", dan -hum yang berarti "mereka". Kata kerja yufattaru berjenis laki-laki tunggal, sesuai dengan (عَذَابِ, 'adzaabi) yang berarti "azab" di 43:74, yang berjenis laki-laki. Teks tidak menulis apa yang tidak dihentikan, dan terjemahan tidak menambahkan "azab" di dalam kurung.
Kata (مُبْلِسُونَ, mublisuuna) berakar ب-ل-س dan berarti "orang-orang yang berputus asa". Akar ini ada di 5 ayat, yaitu 6:44, 23:77, 30:12, 30:49, dan 43:75. Di 6:44 bunyinya (فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ, fa-idzaa hum mublisuuna) yang berarti "maka seketika mereka putus asa", dan di 23:77 bunyinya (إِذَا هُمْ فِيهِ مُبْلِسُونَ, idzaa hum fiihi mublisuuna) yang berarti "seketika itu mereka putus asa di dalamnya". Keduanya dibuka kata idzaa yang berarti "seketika". Di 43:75 kata itu diganti huruf wa yang berarti "dan", sehingga terjemahan tidak menambahkan "seketika". Frasa (هُمْ فِيهِ مُبْلِسُونَ, hum fiihi mublisuuna) muncul 2 kali, yaitu di 23:77 dan 43:75. Di 30:12 akar yang sama berpasangan dengan kata yang sama dengan 43:74, (يُبْلِسُ الْمُجْرِمُونَ, yublisu l-mujrimuuna) yang berarti "para pendosa berputus asa".
Kata (فِيهِ, fiihi) tersusun dari fii yang berarti "di dalam" dan -hi yang berarti "-nya" untuk satu benda laki-laki. Akhiran itu sama jenisnya dengan azab di 43:74. Setelah nama Jahanam, 4:169 memakai akhiran perempuan, (جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا, jahannama khaalidiina fiihaa) yang berarti "Jahanam, mereka kekal di dalamnya", dan akhiran perempuan juga mengikuti Jahanam di 4:93 dan 9:63. Karena itu "di dalamnya" di 43:75 berarti di dalam azab, sebagaimana 43:74 menyebut para pendosa berada "di dalam azab Jahanam".
Tafsiran
Ayat ini melengkapi kekekalan di 43:74 dengan dua keadaan dari sisi yang berlainan. Keadaan pertama dilihat dari sisi azab, yang tidak dihentikan. Keadaan kedua dilihat dari sisi mereka, yang berputus asa. Ayat ini juga tidak memuat kata kerja untuk tindakan para pendosa. Dapat dibaca bahwa kekekalan di 43:74 digambarkan sebagai keadaan yang dijalani tanpa tindakan yang bisa mengubahnya, tetapi ayat tidak menyatakan hal itu.
Ayat 35:36 menolak dua hal bagi penghuni Jahanam, yaitu (لَا يُقْضَىٰ عَلَيْهِمْ فَيَمُوتُوا, laa yuqdhaa 'alayhim fa-yamuutuu) yang berarti "tidak diputuskan atas mereka sehingga mereka mati", dan (وَلَا يُخَفَّفُ عَنْهُمْ مِنْ عَذَابِهَا, wa-laa yukhaffafu 'anhum min 'adzaabihaa) yang berarti "dan tidak diringankan dari mereka azabnya". Dalam rangkaian 43:75 sampai 43:77 kedua penolakan itu muncul terpisah. Ayat 43:75 menolak penghentian azab, dan 43:77 menolak pengakhiran lewat jawaban atas permintaan para pendosa. Ayat 35:36 berada di surah yang berbeda dari 43:75 sampai 43:77, sehingga hanya dipakai untuk membandingkan susunan kalimat.
Keputusasaan di 43:75, (مُبْلِسُونَ, mublisuuna), berbeda waktu dari yang di 6:44 dan 23:77. Di dua ayat itu keputusasaan terjadi seketika sesudah sesuatu terjadi, yaitu penimpaan yang tiba-tiba di 6:44 dan terbukanya pintu azab di 23:77. Di 43:75 keputusasaan menyertai keadaan yang sudah berjalan. Dapat dibaca bahwa keadaan yang di dua ayat lain bermula sebagai kejutan telah menjadi keadaan tetap di sini, tetapi ayat-ayat itu tidak menyatakan keterkaitan antara keduanya. Ayat 43:76 sesudahnya memuat pernyataan penolakan menzalimi, dan 43:77 memuat seruan dari dalam keadaan ini.
Renungan dan Hikmah
- Di 40:49 orang-orang yang berada di dalam api meminta penjaga Jahanam agar memohonkan kepada Tuhan kalian supaya azab diringankan dari mereka sehari saja. Di 40:50 para penjaga menanyakan apakah rasul-rasul mereka datang dengan bukti nyata, lalu menyuruh mereka berdoa sendiri, dan ayat itu ditutup dengan doa orang-orang kafir sebagai kesia-siaan. Ukuran permintaan itu sehari. Ayat 43:75 menyebut azab yang tidak dihentikan tanpa menyebut ukuran waktu apa pun. Kedua ayat berbeda pembicara dan golongan, sehingga tidak disamakan. Pembaca dapat memperhatikan jeda-jeda kecil dalam harinya, misalnya istirahat, pergantian kegiatan, atau malam, dan bertanya jeda mana yang pernah disebutnya sebagai karunia.
- Di 43:68 Dia yang menyapa hamba-hamba-Ku menyatakan tidak ada ketakutan atas mereka pada hari ini, dan tidak pula mereka bersedih. Di 43:75 ayat menyebut keputusasaan, dan ketakutan tidak disebut lagi. Dapat dibaca bahwa putus asa berarti harapan sudah putus, sedangkan takut masih mengandaikan ada hal yang belum terjadi. Pembacaan ini bersandar pada arti kata putus asa dalam bahasa Indonesia, dan teks tidak membandingkan kedua keadaan itu. Kedua ayat menyebut keadaan batin dua kelompok tanpa sesuatu yang menghubungkannya. Pembaca dapat bertanya apakah keadaan batinnya sekarang lebih dekat kepada takut, yang masih menunggu, atau kepada hilangnya hal yang ditunggu.
- Ayat 23:76 menyebut bahwa mereka telah ditimpa azab, tetapi tidak tunduk kepada Tuhan mereka dan tidak merendahkan diri, dan 23:77 menyusulkan terbukanya pintu azab yang keras sehingga seketika itu mereka putus asa di dalamnya. Ayat 43:75 memuat frasa yang sama untuk keputusasaan itu. Urutan di 23:76 dan 23:77 menempatkan ketiadaan tunduk lebih dulu, lalu keputusasaan. Kedua ayat itu berasal dari surah yang berbeda, dan 43:75 tidak menyebut tunduk atau tidak tunduk. Pembaca dapat bertanya kapan terakhir kali merendahkan diri di hadapan Tuhannya, dan apa yang membuat saat itu mudah atau sulit.
- Ayat 43:66 menyebut hari kiamat datang secara tiba-tiba kepada pihak yang tidak menyadari, dan teks tidak menyatakan apakah pihak itu sama dengan para pendosa di 43:74. Di 6:44 kata tiba-tiba yang sama bersambung langsung dengan keputusasaan, yaitu Kami timpa mereka tiba-tiba, maka seketika mereka putus asa. Di 43:75 kata seketika tidak ada, dan keputusasaan sudah menjadi keadaan tetap. Dua ayat dalam surah yang sama, 43:66 dan 43:75, menyebut dua titik. Apa yang dikerjakan seseorang pada hari-hari sebelum sesuatu yang tiba-tiba datang, dan apakah hari-hari itu terasa sebagai kesempatan?
- Ayat 43:75 tidak menyebut siapa yang tidak menghentikan azab itu. Ayat 43:77 menyebut dua pihak dalam permintaan para pendosa, yaitu Malik yang diseru dan Tuhan yang disebut mereka dengan kata Tuhanmu, lalu satu pihak menjawab tanpa disebut namanya. Permintaan itu meminta Tuhan Malik mengakhiri mereka, sehingga permintaan itu menunjuk Tuhan Malik sebagai pihak yang dapat melakukannya. Dapat dibaca bahwa penunjukan itu diucapkan di dalam azab dan tidak disebut sebelum azab, tetapi teks tidak menyatakan hal itu. Seberapa jauh ucapan semacam itu berbeda ketika diucapkan di tempat yang lain?
- Akar yang sama dipakai di 21:20 untuk mereka yang bertasbih malam dan siang tanpa henti. Ayat 21:19 mendahuluinya dengan menyebut bahwa milik-Nya siapa yang di langit dan di bumi, dan bahwa makhluk yang di sisi-Nya tidak menyombongkan diri untuk menyembah-Nya dan tidak merasa letih. Satu akar kata dipakai untuk dua hal yang tidak berhenti, yaitu tasbih tanpa letih di 21:20 dan azab yang tidak dihentikan di 43:75. Kedua ayat berbeda subjek dan tidak dihubungkan satu sama lain oleh teks. Pembaca dapat mendaftar apa yang berjalan terus tanpa jeda dalam hidupnya, lalu bertanya apakah satu pun dari daftar itu dipilihnya sendiri.