وَمَا ظَلَمْنَاهُمْ وَلَٰكِنْ كَانُوا هُمُ الظَّالِمِينَ
Dan Kami tidak menzalimi mereka, tetapi merekalah orang-orang yang zalim.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَمَا ظَلَمْنَاهُمْwa-maa zhalamnaahumdan Kami tidak menzalimi mereka
- وَلَٰكِنْ كَانُوا هُمُ الظَّالِمِينَwa-laakin kaanuu humu zh-zhaalimiinatetapi merekalah orang-orang yang zalim
Terjemahan per kata (6 kata)
- وَمَاwa-maadan tidaklah
- ظَلَمْنَاهُمْzhalamnaahumKami menzalimi mereka
- وَلَٰكِنْwa-laakintetapi
- كَانُواkaanuumereka adalah
- هُمُhumumerekalah
- الظَّالِمِينَzh-zhaalimiinayang zalim
Inti bacaan
Bunyi (وَمَا ظَلَمْنَاهُمْ, wa-maa zhalamnaahum) muncul 3 kali di Al-Qur'an (11:101, 16:118, 43:76), dan 43:76 menyambungnya dengan sebutan pelaku, sedangkan 11:101 dan 16:118 menyambungnya dengan kata anfusahum.
Penjelasan pilihan kata
Bagian pertama, (وَمَا ظَلَمْنَاهُمْ, wa-maa zhalamnaahum), berarti "dan Kami tidak menzalimi mereka". Kata ini tersusun dari wa yang berarti "dan", maa yang berarti "tidak", kata kerja zhalamnaa yang berarti "Kami menzalimi" dari akar ظ-ل-م, dan -hum yang berarti "mereka". Bunyi persis wa-maa zhalamnaahum muncul 3 kali, yaitu di 11:101, 16:118, dan 43:76. Di 11:101 lanjutannya (وَمَا ظَلَمْنَاهُمْ وَلَٰكِنْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ, wa-maa zhalamnaahum wa-laakin zhalamuu anfusahum) yang berarti "dan Kami tidak menzalimi mereka, tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri", dan di 16:118 lanjutannya (وَمَا ظَلَمْنَاهُمْ وَلَٰكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ, wa-maa zhalamnaahum wa-laakin kaanuu anfusahum yazhlimuuna) yang juga berarti "dan Kami tidak menzalimi mereka, tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri". Di kedua ayat itu yang dizalimi disebut dengan (أَنْفُسَهُمْ, anfusahum) yang berarti "diri mereka", sedangkan 43:76 tidak memuat kata anfus dan menyebut mereka langsung sebagai orang-orang zalim. Terjemahan 43:76 karena itu tidak menambahkan "diri mereka sendiri".
Perbuatan zalim juga dinafikan dari pihak lain yang disebut namanya. Di 10:44 bunyinya (إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ النَّاسَ شَيْئًا, inna llaaha laa yazhlimu n-naasa syay'an) yang berarti "sesungguhnya Allah tidak menzalimi manusia sedikit pun", dan di 3:117 bunyinya (وَمَا ظَلَمَهُمُ اللَّهُ, wa-maa zhalamahumu llaahu) yang berarti "dan Allah tidak menzalimi mereka". Di 43:76 pembicaranya memakai kata ganti Kami, dan namanya tidak ditulis di ayat ini. Terjemahan mempertahankan kata ganti itu.
Bagian kedua, (وَلَٰكِنْ كَانُوا هُمُ الظَّالِمِينَ, wa-laakin kaanuu humu zh-zhaalimiina), berarti "tetapi merekalah orang-orang yang zalim". Kata (وَلَٰكِنْ, wa-laakin) berarti "tetapi", (كَانُوا, kaanuu) berarti "mereka adalah", dan (الظَّالِمِينَ, zh-zhaalimiina) berarti "orang-orang yang zalim", yaitu pelaku dari akar yang sama dengan zhalamnaa. Di antaranya berdiri (هُمُ, humu) yang berarti "mereka" sebagai kata tersendiri. Rangkaian kaanuu diikuti hum atau humu muncul 6 kali, yaitu di 7:92, 26:40, 37:116, 40:21, 43:76, dan 53:52. Terjemahan memakai "merekalah" untuk kata tersendiri itu di 7:92, 26:40, 43:76, dan 53:52, misalnya (كَانُوا هُمُ الْخَاسِرِينَ, kaanuu humu l-khaasiriina) yang berarti "merekalah orang-orang yang rugi".
Akar ظ-ل-م dipakai dua kali di ayat ini, sekali dalam kata kerja yang dinafikan dari Kami dan sekali dalam sebutan yang dikenakan pada mereka. Dalam surah 43 akar ini ada di 43:39, 43:65, dan 43:76. Di 43:39 bunyinya (إِذْ ظَلَمْتُمْ, idz zhalamtum) yang berarti "karena kalian telah berbuat zalim". Di 43:76 teks tidak menulis perbuatan yang membuat mereka disebut zalim, dan terjemahan tidak menambahkan perbuatan semacam itu.
Tafsiran
Di rangkaian 43:73 sampai 43:77 ayat ini menjadi tempat sebab disebut. Ayat 43:73 memuat buah, 43:74 memuat keadaan, 43:75 memuat dua kondisi, dan 43:77 memuat seruan, sedangkan 43:76 menjawab mengapa keadaan itu demikian. Jawabannya terdiri dari dua pernyataan, yaitu Kami tidak menzalimi mereka dan merekalah yang zalim.
Sejak 43:69, yang memuat tanda-tanda Kami, tidak ada ayat yang memuat kata ganti pembicara sampai 43:76. Ayat 43:70 sampai 43:75 bertumpu pada orang ketiga dan kata kalian. Dengan Kami di 43:76, pembicara muncul kembali tepat di titik yang dapat memunculkan pertanyaan tentang keadilan pembicara itu sendiri. Dapat dibaca bahwa ayat ini menjawab sebuah keberatan sebelum ada yang mengucapkannya, dan bahwa jawaban itu diberikan oleh pihak yang menjadi sasaran keberatan. Pembacaan ini bersandar pada letak ayat, sedangkan teks tidak mencatat keberatan siapa pun.
Rumus yang sama di 11:101 dan 16:118 ditempatkan sesudah penyebutan umat-umat terdahulu dan menyebut diri mereka sendiri sebagai korban perbuatan zalim mereka, sedangkan 43:76 ditempatkan sesudah gambaran azab yang tidak dihentikan dan menyebut mereka sebagai pelaku zalim tanpa menyebut siapa korbannya. Ayat 43:77 sesudahnya memuat seruan para pendosa dan tidak memuat bantahan atas 43:76. Dari 43:78, kata Kami kembali dipakai untuk menyebut kedatangan kebenaran, dan sapaan kalian kembali.
Renungan dan Hikmah
- Sesudah enam ayat yang berbicara tentang orang ketiga dan tentang kalian, kata ganti Kami muncul kembali di 43:76 pada kalimat penolakan. Kalimat itu tidak disertai penjelasan panjang, dan berisi dua pernyataan pendek yang berhadapan. Pembaca yang pernah merasa disalahkan oleh sesuatu yang di luar kuasanya dapat memperhatikan bahwa ayat ini mengambil cara yang berlawanan, yaitu menjawab tepat di titik yang paling mungkin memunculkan rasa disalahkan itu. Jawaban macam apa yang paling mudah diterima oleh orang yang sedang menahan tuduhan di dadanya?
- Ayat 43:76 tidak mengikuti sebuah pertanyaan yang tertulis, padahal 43:74 dan 43:75 baru saja menggambarkan azab yang tidak dihentikan. Dapat dibaca bahwa jawaban datang lebih dulu daripada keberatan, tetapi teks tidak mencatat keberatan itu, sehingga pembacaan ini bersandar pada letak ayat. Orang yang membaca gambaran azab dan merasakan pertanyaan tentang keadilannya muncul dalam dirinya akan mendapati bahwa kalimat berikutnya sudah menunggu. Apakah pertanyaan itu terasa berbeda setelah kalimat itu terbaca?
- Ayat 10:44 menyatakan bahwa Allah tidak menzalimi manusia sedikit pun, tetapi manusia itu yang menzalimi diri mereka sendiri, dan 3:117 menyatakan hal serupa tentang suatu kaum dengan menyebut nama Allah. Ayat 43:76 tidak memuat nama itu dan tidak memuat kata diri mereka, sehingga kedua ayat tersebut tidak dipakai untuk menggantikan 43:76. Namun keduanya menunjukkan bahwa sangkalan semacam ini dikenal di beberapa tempat dalam Al-Qur'an. Pembaca dapat memperhatikan kata sedikit pun di 10:44 sebagai batas yang ditutup rapat, dan bertanya bagian mana dari hidupnya yang selama ini dianggap sebagai kezaliman dari luar.
- Di 9:70 dan 30:9 rumus Allah tidak menzalimi mereka didahului penyebutan bahwa rasul-rasul mereka telah datang dengan bukti-bukti yang nyata. Ayat 43:76 tidak memuat penyebutan itu, tetapi 43:78 sesudahnya memuat Kami telah datang kepada kalian dengan kebenaran, sehingga urutannya terbalik, yaitu sangkalan lebih dulu dan kedatangan kebenaran sesudahnya. Kedua pola itu berasal dari ayat yang berbeda dan tidak disamakan. Pembaca dapat memperhatikan bahwa dalam 9:70 dan 30:9 bukti lebih dulu daripada sangkalan, dan bertanya apakah bukti yang sudah datang kepadanya pernah dianggap tidak perlu dibaca.
- Ayat 43:77 mencatat seruan para pendosa kepada Malik agar Tuhanmu mengakhiri mereka. Seruan itu tidak berisi sanggahan atas 43:76, dan teks tidak mencatat bantahan apa pun dari mereka. Dapat dibaca bahwa bagian ini berhenti pada permintaan tanpa pembelaan, tetapi teks tidak menyatakan alasan mereka tidak membantah. Orang yang membaca urutan dari 43:75 sampai 43:77 mendapati bahwa permintaan terakhir para pendosa yang tercatat di rangkaian ini diajukan kepada Malik tentang Tuhannya. Apa yang akan diminta seseorang bila ia akhirnya bersuara?
- Rangkaian kaanuu diikuti hum atau humu menetapkan siapa yang rugi di 7:92, siapa yang menang di 37:116, dan siapa yang zalim di 43:76. Rumusnya tetap, sedangkan kata terakhirnya berganti, sehingga penilaian terletak pada kata yang berganti itu. Pembaca yang membaca ketiganya berdampingan mendapati bahwa rumus yang sama dapat menyertai kabar baik maupun kabar buruk. Kata terakhir mana yang ingin disandang pembaca ketika orang menyebut dirinya dengan rumus itu?