وَنَادَوْا يَا مَالِكُ لِيَقْضِ عَلَيْنَا رَبُّكَ ۖ قَالَ إِنَّكُمْ مَاكِثُونَ
Dan mereka menyeru, “Wahai Malik, hendaklah Tuhanmu mengakhiri kami.” Ia menjawab, “Sesungguhnya kalian akan tetap tinggal.”
Terjemahan bertahap (4 jeda)
- وَنَادَوْاwa-naadawdan mereka menyeru
- يَا مَالِكُ لِيَقْضِ عَلَيْنَا رَبُّكَyaa maaliku li-yaqdhi 'alaynaa rabbukawahai Malik, hendaklah Tuhanmu mengakhiri kami
- قَالَqaalaia menjawab
- إِنَّكُمْ مَاكِثُونَinnakum maakitsuunasesungguhnya kalian akan tetap tinggal
Terjemahan per kata (9 kata)
- وَنَادَوْاwa-naadawdan mereka menyeru
- يَاyaawahai
- مَالِكُmaalikupemilik
- لِيَقْضِli-yaqdhiagar memutuskan
- عَلَيْنَا'alaynaaatas kami
- رَبُّكَrabbukaTuhanmu
- قَالَqaalaberkata
- إِنَّكُمْinnakumsesungguhnya kalian
- مَاكِثُونَmaakitsuunaorang-orang yang kekal
Inti bacaan
Bunyi (إِنَّكُمْ مَاكِثُونَ, innakum maakitsuuna) muncul 1 kali di Al-Qur'an, yaitu di 43:77, sedangkan (مَاكِثِينَ, maakitsiina) di 18:3 bersambung dengan kata ukuran waktu yang tidak ada di 43:77.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (وَنَادَوْا, wa-naadaw) yang berarti "dan mereka menyeru". Kata ini tersusun dari wa yang berarti "dan" dan kata kerja naadaw dari akar ن-د-و, dengan akhiran yang berarti "mereka". Bunyi persis wa-naadaw muncul 2 kali, yaitu di 7:46 dan 43:77. Di 7:46 kata itu dipakai untuk orang-orang di tempat yang tinggi yang menyeru para penghuni taman dengan ucapan salam sejahtera atas kalian. Di 43:77 seruan datang dari para pendosa dan ditujukan kepada Malik.
Seruan (يَا مَالِكُ, yaa maaliku) berarti "wahai Malik". Kata (يَا, yaa) adalah kata seru yang berarti "wahai", dan (مَالِكُ, maaliku) adalah nama yang diseru. Bunyi persis yaa maaliku muncul 1 kali, yaitu di 43:77. Data morfologi menandai maaliku di ayat ini sebagai nama diri. Kata (مَالِكِ, maaliki) di 1:4, yang tersusun dari konsonan yang sama, ditandai sebagai kata pelaku dan diterjemahkan "Pemilik". Karena itu terjemahan 43:77 memakai nama Malik dan tidak memakai "pemilik".
Kata (لِيَقْضِ عَلَيْنَا, li-yaqdhi 'alaynaa) berarti "hendaklah mengakhiri kami". Huruf li di depan kata kerja berarti "hendaklah", yaqdhi berarti "memutuskan" dari akar ق-ض-ي, dan 'alaynaa berarti "atas kami". Akar ق-ض-ي bersambung dengan 'alaa di 5 ayat, yaitu 28:15, 34:14, 35:36, 39:42, dan 43:77. Di empat ayat selain 43:77 kata kerjanya berkaitan dengan kematian. Di 28:15 bunyinya (فَقَضَىٰ عَلَيْهِ, fa-qadhaa 'alayhi) yang berarti "lalu membunuhnya", di 34:14 (فَلَمَّا قَضَيْنَا عَلَيْهِ الْمَوْتَ, fa-lammaa qadhaynaa 'alayhi l-mawta) yang berarti "maka, ketika telah Kami tetapkan kematian atasnya", di 39:42 (قَضَىٰ عَلَيْهَا الْمَوْتَ, qadhaa 'alayhaa l-mawta) yang berarti "menetapkan kematian atasnya", dan di 35:36 (لَا يُقْضَىٰ عَلَيْهِمْ فَيَمُوتُوا, laa yuqdhaa 'alayhim fa-yamuutuu) yang berarti "tidak diputuskan atas mereka sehingga mereka mati". Karena itu terjemahan 43:77 memakai "mengakhiri", dan tidak menambahkan "nyawa" atau "hidup" karena tidak ada kata Arab yang melahirkannya.
Kata (رَبُّكَ, rabbuka) berarti "Tuhanmu", tersusun dari rabb yang berarti "Tuhan" dan -ka yang berarti "engkau" untuk satu laki-laki, yaitu yang diseru. Di 35:37 para penghuni api berkata (رَبَّنَا, rabbanaa) yang berarti "Tuhan kami", dan di 23:107 bunyinya (رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْهَا, rabbanaa akhrijnaa minhaa) yang berarti "Tuhan kami, keluarkanlah kami darinya". Di 43:77 dan di 40:49, (ادْعُوا رَبَّكُمْ, ud'uu rabbakum) yang berarti "mohonkanlah kepada Tuhan kalian", Tuhan disebut sebagai Tuhan pihak yang diajak bicara. Teks tidak menulis alasan pemilihan bentuk itu.
Kata (قَالَ, qaala) berarti "berkata" dan menunjuk satu pelaku yang namanya tidak ditulis. Ucapan ini menyusul seruan kepada Malik, dan terjemahan menulis "menjawab" untuk menandai urutan itu. Kata yang sama dipakai di 23:108, (قَالَ اخْسَئُوا فِيهَا, qaala khsa'uu fiihaa) yang berarti "Dia berfirman, 'Enyahlah terhina di dalamnya'", sebagai jawaban atas permintaan di 23:107, dan pelakunya di sana berbicara dengan kata ganti Aku, misalnya hamba-hamba-Ku di 23:109.
Kata (إِنَّكُمْ, innakum) berarti "sesungguhnya kalian", tersusun dari inna yang berarti "sesungguhnya" dan -kum yang berarti "kalian". Kata (مَاكِثُونَ, maakitsuuna) berakar م-ك-ث dan berarti "orang-orang yang tetap tinggal". Akar ini dipakai di 27:22, (فَمَكَثَ غَيْرَ بَعِيدٍ, fa-makatsa ghayra ba'iidin) yang berarti "maka ia tinggal tidak lama", di 20:10, (امْكُثُوا, mkutsuu) yang berarti "tinggallah", dan di 13:17, (فَيَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ, fa-yamkutsu fii l-ardhi) yang berarti "maka menetap di bumi". Ukuran waktunya ditulis dengan kata tersendiri, misalnya ghayra ba'iidin "tidak lama" di 27:22. Di 43:77 tidak ada kata semacam itu, sehingga terjemahan tidak menambahkan "selama-lamanya". Bentuk maakitsuuna juga tidak memuat penanda waktu, sehingga kata "akan" dalam terjemahan tidak berasal dari kata Arab tersendiri.
Teks tidak menyebut siapa Malik, tidak menyebut tempat para penyeru berada, dan tidak menyebut siapa yang menjawab. Terjemahan tidak menambahkan "penjaga" atau "malaikat". Ayat 40:49 menyebut (لِخَزَنَةِ جَهَنَّمَ, li-khazanati jahannama) yang berarti "kepada penjaga-penjaga Jahanam", tetapi 43:77 tidak menghubungkan Malik dengan mereka.
Tafsiran
Di rangkaian 43:73 sampai 43:77, ayat ini memuat percakapan, yaitu satu seruan dan satu jawaban. Ayat 43:74 sampai 43:76 menyampaikan keadaan para pendosa dari luar, dan di 43:77 suara mereka sendiri terdengar. Mereka meminta, dan sanggahan atas 43:76 tidak tercatat.
Permintaan itu menyerupai 40:49. Di sana orang-orang di dalam api berkata kepada penjaga-penjaga Jahanam agar memohonkan kepada Tuhan kalian, dan di 43:77 para pendosa berkata kepada Malik agar Tuhanmu mengakhiri mereka. Keduanya meminta lewat pihak yang diseru, dan keduanya memakai kata ganti kedua untuk Tuhan. Perbedaannya, 40:49 meminta azab diringankan sehari, sedangkan 43:77 meminta pengakhiran. Jawabannya pun berbeda, yaitu 40:50 memuat pertanyaan balik dan perintah untuk berdoa sendiri, sedangkan 43:77 memuat satu pernyataan. Di 23:107 permintaannya langsung kepada Tuhan, dan 23:108 memuat jawaban yang berupa perintah, sehingga jawaban di 43:77 yang berupa pernyataan berbeda bentuk dari kedua ayat itu.
Ayat 35:36 menolak pengakhiran lewat kematian bagi penghuni Jahanam, dan 43:77 memperlihatkan pengakhiran itu diminta lalu dijawab. Ayat 43:74 memakai khaaliduuna untuk menyebut keadaan itu, dan ayat ini memakai maakitsuuna. Dapat dibaca bahwa kedua kata menyebut keadaan yang sama dari dua arah, yang satu dari sisi kekekalan dan yang lain dari sisi tinggal, tetapi ayat tidak menyatakan kesamaan itu. Sesudah ayat ini, 43:78 kembali memakai kata Kami dan menyapa kalian.
Renungan dan Hikmah
- Para pendosa di 43:77 meminta agar mereka diakhiri, sedangkan di 35:37 para penghuni api berkata Tuhan kami, keluarkanlah kami, dan di 23:107 permintaan yang sama berbunyi Tuhan kami, keluarkanlah kami darinya. Dapat dibaca bahwa permintaan keluar masih membayangkan sebuah tempat lain, sementara permintaan diakhiri tidak membayangkan tempat mana pun. Ketiga ayat itu berbeda surah dan tidak saling menjelaskan. Pembaca yang pernah berada dalam keadaan yang terasa tidak tertahankan dapat memperhatikan permintaan apa yang paling dahulu muncul dalam dirinya, berpindah atau berhenti. Kepada siapa permintaan itu diucapkan, dan apakah Tuhan termasuk di dalamnya?
- Para pendosa di 43:77 berkata kepada Malik agar Tuhanmu mengakhiri mereka, dan di 40:49 mereka berkata kepada penjaga-penjaga Jahanam agar memohonkan kepada Tuhan kalian. Di 35:37 dan 23:107 permintaan langsung kepada Tuhan memakai kata Tuhan kami. Dua bentuk itu tidak ditandai penjelasan di ayatnya, sehingga alasan pemilihannya tidak diketahui dari teks. Pembaca dapat memperhatikan kata ganti yang dipakainya sendiri ketika menyebut Tuhan dalam doa, dan apakah di antaranya pernah ada seseorang yang diminta menyampaikan permintaan itu.
- Jawaban di 43:77 berbentuk satu pernyataan, sesungguhnya kalian akan tetap tinggal, tanpa perintah dan tanpa uraian. Di 23:108 jawaban atas permintaan keluar berbentuk perintah, yaitu Dia berfirman, enyahlah terhina di dalamnya dan janganlah kalian berbicara dengan-Ku. Dua jawaban itu datang dari ayat yang berbeda dan pelaku jawaban di 43:77 tidak ditulis. Pembaca dapat memperhatikan bahwa ada jawaban yang menyuruh sesuatu dan ada jawaban yang hanya menyatakan keadaan. Jawaban jenis mana yang lebih sulit diterima oleh orang yang telah meminta?
- Di 38:3 banyak generasi sebelum mereka telah dibinasakan, lalu mereka berteriak, padahal bukanlah saat untuk melepaskan diri. Di 43:77 para pendosa menyeru, dan jawabannya menutup jalan permintaan itu. Kedua ayat berbicara tentang pihak yang berbeda, satu tentang generasi yang dibinasakan dan satu tentang para pendosa, sehingga tidak disamakan. Namun keduanya menyebut seruan yang datang pada saat yang tidak lagi memberi jalan. Dari sudut pembaca, seruan apa yang masih terasa mungkin diucapkan, dan seperti apa rasanya ketika seruan tidak lagi memberi jalan?
- Di 20:10 dan 28:29 akar yang sama dipakai dalam tinggallah, yaitu perintah bagi keluarga untuk menetap sementara orang yang berbicara pergi mencari api atau petunjuk, dan di 27:22 ukuran tinggalnya ditulis dengan jelas, tidak lama. Di 43:77 tidak ada yang pergi mencari sesuatu dan tidak ada ukuran waktu yang ditulis. Dapat dibaca bahwa tinggal dalam 20:10 berisi harapan akan kembalinya seseorang, sedangkan tinggal dalam 43:77 tidak memuat harapan semacam itu, tetapi teks tidak menyatakan perbandingan ini. Pembaca dapat bertanya dalam keadaan menunggu apa dirinya sekarang, dan apakah yang ditunggu itu sungguh akan datang.
- Kata ganti kalian membuka rangkaian ini dengan kabar tentang taman, yaitu kalian kekal di 43:71 dan bagi kalian di 43:73, dan menutupnya di 43:77 pada jawaban sesungguhnya kalian tetap tinggal. Kata yang sama menyapa dua keadaan yang berlawanan. Pembaca yang membaca dari awal sampai akhir mendapati kata kalian di kedua ujung, tanpa tanda yang menunjukkan di ujung mana pembaca berdiri. Apa yang membuat seseorang yakin bahwa kata kalian yang dibacanya di 43:71 menyapa dirinya, sedangkan kata kalian di 43:77 menyapa pihak lain?