لَقَدْ جِئْنَاكُمْ بِالْحَقِّ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَكُمْ لِلْحَقِّ كَارِهُونَ
Sungguh, Kami telah datang kepada kalian dengan kebenaran, tetapi kebanyakan kalian membenci kebenaran.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- لَقَدْ جِئْنَاكُمْ بِالْحَقِّla-qad ji'naakum bi-l-haqqisungguh, Kami telah datang kepada kalian dengan kebenaran
- وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَكُمْ لِلْحَقِّ كَارِهُونَwa-laakinna aktsarakum li-l-haqqi kaarihuunatetapi kebanyakan kalian membenci kebenaran
Terjemahan per kata (7 kata)
- لَقَدْla-qadsungguh
- جِئْنَاكُمْji'naakumKami mendatangkan kepada kalian
- بِالْحَقِّbi-l-haqqidengan kebenaran
- وَلَٰكِنَّwa-laakinnatetapi
- أَكْثَرَكُمْaktsarakumkebanyakan kalian
- لِلْحَقِّli-l-haqqipada kebenaran
- كَارِهُونَkaarihuunaorang-orang yang benci
Inti bacaan
Frasa (لِلْحَقِّ كَارِهُونَ, li-l-haqqi kaarihuuna) yang berarti "membenci kebenaran" hanya muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 23:70 dan 43:78.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (لَقَدْ جِئْنَاكُمْ بِالْحَقِّ, la-qad ji'naakum bi-l-haqqi) yang berarti "sungguh, Kami telah datang kepada kalian dengan kebenaran". Kata (جِئْنَاكُمْ, ji'naakum) tersusun dari kata kerja jaa'a yang berakar ج-ي-ء dan berarti "datang", akhiran -naa yang berarti "Kami", dan akhiran -kum yang berarti "kalian". Bentuk dengan -kum ini hanya ada di 43:78. Dengan akhiran -ka bagi satu orang yang disapa, kata yang sama ada di 15:63, 20:47, dan 25:33. Di 15:63 kata itu disusul (بِمَا كَانُوا فِيهِ يَمْتَرُونَ, bi-maa kaanuu fiihi yamtaruuna) yang berarti "dengan apa yang selama ini mereka ragukan", dan di 20:47 disusul (بِآيَةٍ مِنْ رَبِّكَ, bi-aayatin min rabbika) yang berarti "dengan sebuah tanda dari Tuhanmu". Di 25:33 kata itu disusul (إِلَّا جِئْنَاكَ بِالْحَقِّ, illaa ji'naaka bi-l-haqqi) yang berarti "kecuali Kami datang kepadamu dengan kebenaran", sehingga rangkaian ji'naa- dengan bi-l-haqqi ada di dua ayat, yaitu 25:33 dan 43:78.
Huruf (بِ, bi-) pada (بِالْحَقِّ, bi-l-haqqi) membuat kebenaran menyertai pihak yang datang. Susunan ini berbeda dari 43:30 di surah yang sama, (وَلَمَّا جَاءَهُمُ الْحَقُّ, wa-lammaa jaa'ahumu l-haqqu) yang berarti "dan ketika kebenaran datang kepada mereka". Di 43:30 kebenaran sendiri yang datang, sedangkan di 43:78 ada pihak yang datang, yaitu Kami, dan kebenaran ada bersamanya. Susunan 43:78 sebentuk dengan 23:70, (بَلْ جَاءَهُمْ بِالْحَقِّ, bal jaa'ahum bi-l-haqqi) yang berarti "bahkan ia datang kepada mereka dengan kebenaran", dan dengan 4:170 yang menambahkan asalnya, (بِالْحَقِّ مِنْ رَبِّكُمْ, bi-l-haqqi min rabbikum) yang berarti "dengan kebenaran dari Tuhan kalian". Di 43:78 asal kebenaran itu tidak disebut. Terjemahan tidak menambahkan kata "itu" sesudah "kebenaran", karena Arabnya hanya memuat kata sandang al- dan tidak memuat kata penunjuk.
Kata (أَكْثَرَكُمْ, aktsarakum) yang berarti "kebanyakan kalian" berakar ك-ث-ر, akar yang berarti "banyak", dan menunjuk bagian yang lebih banyak dari sebuah kelompok. Terjemahan memakai "kebanyakan" dan tidak memakai "semua", karena tidak ada kata Arab di ayat ini yang melahirkan "semua". Bentuk aktsarakum ada di dua ayat, yaitu 5:59, (وَأَنَّ أَكْثَرَكُمْ فَاسِقُونَ, wa-anna aktsarakum faasiquuna) yang berarti "dan karena kebanyakan kalian fasik", dan 43:78. Dengan kata ganti "mereka", (وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ, wa-laakinna aktsarahum) yang berarti "tetapi kebanyakan mereka" muncul dua belas kali di sembilan surah, yaitu 6:37, 6:111, 7:131, 8:34, 10:55, 10:60, 27:73, 28:13, 28:57, 39:49, 44:39, dan 52:47. Sembilan dari dua belas ayat itu ditutup (لَا يَعْلَمُونَ, laa ya'lamuuna) yang berarti "tidak mengetahui", yaitu 6:37, 7:131, 8:34, 10:55, 28:13, 28:57, 39:49, 44:39, dan 52:47. Dua ditutup (لَا يَشْكُرُونَ, laa yasykuruuna) yang berarti "tidak bersyukur", yaitu 10:60 dan 27:73. Satu ditutup (يَجْهَلُونَ, yajhaluuna) dari akar ج-ه-ل, yaitu 6:111. Tidak ada satu pun dari dua belas penutup itu yang menyebut perasaan.
Kata (كَارِهُونَ, kaarihuuna) yang berarti "orang-orang yang membenci" berakar ك-ر-ه dan berbentuk pelaku jamak, yaitu "para pembenci". Bentuk kaarihuuna ada di enam ayat, yaitu 8:5, 9:48, 9:54, 11:28, 23:70, dan 43:78. Objek yang dibenci ditandai huruf (لِ, li-), seperti di 23:70, (وَأَكْثَرُهُمْ لِلْحَقِّ كَارِهُونَ, wa-aktsaruhum li-l-haqqi kaarihuuna) yang berarti "dan kebanyakan mereka membenci kebenaran". Frasa (لِلْحَقِّ كَارِهُونَ, li-l-haqqi kaarihuuna) hanya ada di dua ayat, yaitu 23:70 dan 43:78. Terjemahan memakai "membenci" karena di 2:216 akar ini berpasangan dengan lawannya, yaitu (وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا, wa-'asaa an takrahuu syay'an) yang berarti "dan boleh jadi kalian membenci sesuatu" dan (وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا, wa-'asaa an tuhibbuu syay'an) yang berarti "dan boleh jadi kalian mencintai sesuatu".
Kata al-haqq muncul dua kali dalam ayat ini, pertama dalam (بِالْحَقِّ, bi-l-haqqi) dan kedua dalam (لِلْحَقِّ, li-l-haqqi), tanpa kata yang melunakkannya di antara keduanya, dan terjemahan mengulang "kebenaran" dua kali. Kata al-haqq di surah 43 ada di empat ayat, yaitu 43:29, 43:30, 43:78, dan 43:86. Di 43:29 dan 43:30 kebenaran datang kepada pihak lain, dan di 43:86 kebenaran menjadi isi kesaksian, (إِلَّا مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ, illaa man syahida bi-l-haqqi) yang berarti "kecuali orang yang bersaksi dengan kebenaran". Akar ك-ر-ه hanya muncul sekali di seluruh surah 43, yaitu di ayat ini.
Tafsiran
Ayat ini menggeser sapaan dari "mereka" ke "kalian". Dari 43:74 sampai 43:76 para pendosa dibicarakan sebagai "mereka", dan 43:77 memuat ucapan mereka sendiri, (وَنَادَوْا, wa-naadaw) yang berarti "dan mereka menyeru", beserta jawaban sesudahnya, (إِنَّكُمْ مَاكِثُونَ, innakum maakitsuuna) yang berarti "sesungguhnya kalian akan tetap tinggal". Ayat 43:78 memakai "kalian" pada ji'naakum dan aktsarakum, dan tidak diawali (قَالَ, qaala) yang berarti "berkata". Teks karena itu tidak memberi tanda pergantian pembicara dan tidak menyebut siapa yang mengucapkan "Kami". Penghubung antara dua ayat itu hanya kata ganti: "kalian" di 43:77 dan 43:78 terbaca menunjuk pihak yang sama.
Susunan ayat ini sejajar dengan 43:76. Ayat 43:76 menyatakan lebih dulu apa yang tidak Kami lakukan, (وَمَا ظَلَمْنَاهُمْ, wa-maa zhalamnaahum) yang berarti "dan Kami tidak menzalimi mereka", lalu menyebut keadaan mereka sendiri, (وَلَٰكِنْ كَانُوا هُمُ الظَّالِمِينَ, wa-laakin kaanuu humu zh-zhaalimiina) yang berarti "tetapi merekalah orang-orang yang zalim". Ayat 43:78 menyatakan lebih dulu apa yang Kami lakukan, yaitu datang dengan kebenaran, lalu menyebut keadaan mereka, yaitu membenci kebenaran. Tidak ada kata sebab di antara 43:76, 43:77, dan 43:78, sehingga hubungan kebencian di 43:78 dengan tempat tinggal di 43:77 dibiarkan sebagai urutan dan tidak dinyatakan sebagai akibat.
Pilihan penutup di bagian kedua mengubah pokok ayat. Dua belas ayat pembanding menutup dengan ketidaktahuan atau ketidaksyukuran, sedangkan 43:78 menutup dengan kebencian. Ayat 21:24 memperlihatkan bahwa Al-Qur'an menyebut kedua keadaan itu terhadap kebenaran yang sama: (بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ الْحَقَّ, bal aktsaruhum laa ya'lamuuna l-haqqa) yang berarti "bahkan kebanyakan mereka tidak mengetahui kebenaran" menyebut ketidaktahuan, sedangkan 23:70 dan 43:78 menyebut kebencian. Ayat 43:78 tidak menyebut sebab kebencian itu.
Ayat 10:82 memuat (وَيُحِقُّ اللَّهُ الْحَقَّ, wa-yuhiqqu llaahu l-haqqa) yang berarti "dan Allah menegakkan kebenaran", disusul (وَلَوْ كَرِهَ الْمُجْرِمُونَ, wa-law kariha l-mujrimuuna) yang berarti "walaupun para pendosa tidak menyukainya", dan 8:8 memuat penutup yang sama. Kata mujrim juga ada di 43:74, (الْمُجْرِمِينَ, l-mujrimiina) yang berarti "para pendosa", tempat mereka tinggal kekal dalam azab Jahanam. Di 8:8 dan 10:82 rasa tidak suka para pendosa tercatat sebagai keadaan yang menyertai tegaknya kebenaran dan tidak disebut sebagai penentunya. Ayat 43:78 menyebut keadaan yang sama dari arah sebaliknya: kebenaran sudah datang, dan rasa tidak suka ada pada kebanyakan pihak yang disapa.
Dua ayat berikutnya masing-masing dibuka (أَمْ, am) yang berarti "ataukah". Ayat 43:79 menanyakan apa yang telah mereka putuskan, dan 43:80 menanyakan apa yang mereka kira. Kedua pertanyaan itu mengikuti ayat yang menyebut sikap batin, dan dapat dibaca sebagai pertanyaan tentang apa yang menyertai sikap itu, tetapi tidak satu pun dari keduanya menyebut kebenaran di 43:78 sebagai pokok urusannya.
Renungan dan Hikmah
- Objek kebencian di ayat ini adalah kebenaran, sedangkan pihak yang datang disebut dengan kata ganti Kami dan tidak menjadi objek kata benci. Orang yang pernah menolak sebuah kabar dapat memisahkan dua hal yang sering menyatu, yaitu rasa tidak suka kepada pembawanya dan rasa tidak suka kepada isinya. Ayat 4:170 menyebut kebenaran yang datang itu berasal dari Tuhan kalian, sehingga pertanyaan tentang siapa pembawanya tidak menghapus pertanyaan tentang dari mana isinya berasal. Apakah penolakan yang pernah terjadi bertumpu pada isi kabar, atau pada orang yang membawanya dan cara kabar itu datang?
- Kata yang dipilih ayat ini adalah kebanyakan, dan kata semua tidak ada. Ayat 10:60 memakai kata kebanyakan untuk keadaan lain, yaitu Allah mempunyai karunia atas manusia, tetapi kebanyakan mereka tidak bersyukur. Pada kedua ayat kelompok yang dibicarakan tidak dibulatkan menjadi seluruhnya, sehingga selalu ada bagian yang tidak tercakup oleh pernyataan itu. Pembaca ayat ini tidak dapat mengandaikan lebih dulu bahwa pembaca sendiri termasuk bagian yang kebanyakan, dan tidak dapat mengandaikan sebaliknya. Di bagian mana pembaca berdiri ketika kebenaran datang kepadanya, dan dengan ukuran apa jawaban diberikan?
- Di 43:30 apa yang diucapkan ketika kebenaran datang ialah (قَالُوا هَٰذَا سِحْرٌ, qaaluu haadzaa sihrun) yang berarti "mereka berkata, ini sihir", sedangkan 43:78 menyebut apa yang ada di dalam, yaitu kebencian. Dua ayat itu berada di surah yang sama dan memuat dua lapisan: kata yang keluar dan keadaan yang tidak diucapkan. Di 9:78 Allah disebut mengetahui rahasia dan bisikan mereka, dua bentuk keadaan yang tidak dinyatakan kepada khalayak. Orang yang menolak sesuatu dengan alasan yang pantas diucapkan dapat bertanya apakah alasan itu sama dengan keadaan yang sebenarnya dirasakan.
- Ayat 10:82 menyebut Allah menegakkan kebenaran dengan kalimat-kalimat-Nya walaupun para pendosa tidak menyukainya, dan 8:8 memuat penutup yang sama. Pada dua ayat itu rasa tidak suka tercatat, tetapi tegaknya kebenaran tidak digantungkan pada hilangnya rasa itu. Orang yang tidak menyukai sesuatu yang benar dapat memperhatikan bahwa rasa tidak sukanya tidak mengubah apakah sesuatu itu benar. Apa yang tersisa dari sebuah penolakan jika rasa tidak suka dikeluarkan darinya?
- Dari 43:74 sampai 43:76 pembicaraan memakai "mereka", dan pembaca berada di luar adegan yang digambarkan. Di 43:77 para penghuni Jahanam menyebut Tuhan dalam seruan kepada Malik, (رَبُّكَ, rabbuka) yang berarti "Tuhanmu", dan di 43:78 kata ganti berubah menjadi "kalian" tanpa kata yang menandai pergantian pembicara. Pembaca dapat membaca sapaan itu sebagai sapaan kepada pembaca sendiri, meskipun susunan teksnya mengarahkannya kepada pihak di 43:77. Apa yang berubah pada cara membaca ketika kata "mereka" digantikan "kalian" di tengah gambaran yang sama?
- Kebenaran disebut dua kali dalam satu ayat dengan kata yang sama, pertama sebagai apa yang dibawa dan kedua sebagai apa yang dibenci. Tidak ada kata ketiga yang melunakkannya, seperti sebagian kebenaran atau cara penyampaiannya. Di 43:30 nama yang diberikan kepada kebenaran yang datang berganti menjadi sihir, sedangkan di 43:78 namanya tetap kebenaran sampai ke kata terakhir. Orang yang tidak menyukai sesuatu dapat memperhatikan nama apa yang diberikan kepadanya, dan apakah nama itu pernah berganti ketika rasa tidak suka muncul.