قُلْ إِنْ كَانَ لِلرَّحْمَٰنِ وَلَدٌ فَأَنَا أَوَّلُ الْعَابِدِينَ
Katakanlah, “Jika Ar-Rahman mempunyai anak, akulah orang pertama yang mengabdi.
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- قُلْqulkatakanlah
- إِنْ كَانَ لِلرَّحْمَٰنِ وَلَدٌin kaana li-r-rahmaani waladunjika Ar-Rahman mempunyai anak
- فَأَنَا أَوَّلُ الْعَابِدِينَfa-anaa awwalu l-'aabidiinaakulah orang pertama yang mengabdi
Terjemahan per kata (8 kata)
- قُلْqulkatakanlah
- إِنْinjika
- كَانَkaanaadalah
- لِلرَّحْمَٰنِli-r-rahmaanibagi Ar-Rahman
- وَلَدٌwaladunanak
- فَأَنَاfa-anaamaka aku
- أَوَّلُawwalupertama
- الْعَابِدِينَl-'aabidiinaorang-orang yang mengabdi
Inti bacaan
Susunan (أَنَا أَوَّلُ, anaa awwalu) muncul tiga kali di Al-Qur'an, yaitu di 6:163, 7:143, dan 43:81.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (قُلْ, qul) yang berarti "katakanlah", perintah kepada satu orang untuk mengucapkan kalimat yang dimulai di sini dan berlanjut sampai 43:82. Karena itu terjemahan membuka tanda kutip di 43:81 dan baru menutupnya di 43:82. Susunan (قُلْ إِنْ كَانَ, qul in kaana) yang berarti "katakanlah, jika" muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 9:24 dan 43:81. Di 2:94 kata kerjanya berbentuk betina, (قُلْ إِنْ كَانَتْ, qul in kaanat). Di 2:94 pengandaian itu disusul (فَتَمَنَّوُا الْمَوْتَ, fa-tamannawu l-mawta) yang berarti "maka mintalah kematian", dan di 9:24 disusul (فَتَرَبَّصُوا, fa-tarabbashuu) yang berarti "maka tunggulah", yaitu perintah kepada pendengar. Di 43:81 pengandaian itu disusul pernyataan pembicara tentang dirinya sendiri.
Kata (إِنْ, in) yang berarti "jika" membuka pengandaian, dan (إِنْ كَانَ لِلرَّحْمَٰنِ وَلَدٌ, in kaana li-r-rahmaani waladun) yang berarti "jika Ar-Rahman mempunyai anak" menyusun isinya. Terjemahan memakai "jika" tanpa tambahan "benar", karena Arabnya tidak memuat kata untuk itu, sama dengan 2:94 dan 9:24. Bentuk (وَلَدٌ, waladun) yang berarti "seorang anak" ada di tujuh ayat, yaitu 3:47, 4:11, 4:12, 4:171, 4:176, 6:101, dan 43:81. Dari ketujuhnya, tiga menjadikan Allah atau Ar-Rahman pemilik anak itu. Di 4:171, (سُبْحَانَهُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ, subhaanahu an yakuuna lahu waladun) yang berarti "Mahasuci Dia dari mempunyai anak", dan di 6:101, (أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُ وَلَدٌ, annaa yakuunu lahu waladun) yang berarti "bagaimana mungkin Dia mempunyai anak", kalimatnya menolak. Di 43:81 kalimat yang sama dipakai sebagai pengandaian.
Kata (لِلرَّحْمَٰنِ, li-r-rahmaani) memuat nama Ar-Rahman, yang di 17:110 disandingkan dengan Allah, (ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَٰنَ, d'uu llaaha awi d'uu r-rahmaana) yang berarti "serulah Allah atau serulah Ar-Rahman". Dengan huruf li- nama ini muncul sembilan kali, yaitu di 19:26, 19:44, 19:91, 19:92, 20:108, 25:26, 25:60, 43:17, dan 43:81. Di 19:91, (أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَٰنِ وَلَدًا, an da'aw li-r-rahmaani waladan) yang berarti "bahwa mereka menganggap Ar-Rahman mempunyai anak", dan di 19:92, (وَمَا يَنْبَغِي لِلرَّحْمَٰنِ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا, wa-maa yanbaghii li-r-rahmaani an yattakhidza waladan) yang berarti "dan tidak sepantasnya Ar-Rahman mengangkat anak", nama itu berada dalam satu kalimat dengan kata anak. Di surah 43 nama Ar-Rahman muncul di tujuh ayat, yaitu 43:17, 43:19, 43:20, 43:33, 43:36, 43:45, dan 43:81.
Kata (الْعَابِدِينَ, l-'aabidiina) berakar ع-ب-د dan berbentuk pelaku jamak. Terjemahan memakai "mengabdi", sama dengan terjemahan akar ini di 1:5, (إِيَّاكَ نَعْبُدُ, iyyaaka na'budu) yang berarti "hanya kepada-Mu kami mengabdi". Akar yang sama memberi kata "hamba", misalnya di 19:93, (إِلَّا آتِي الرَّحْمَٰنِ عَبْدًا, illaa aatii r-rahmaani 'abdan) yang berarti "kecuali akan datang kepada Ar-Rahman sebagai seorang hamba". Bentuk pelaku jamak ini muncul sepuluh kali di enam surah, yaitu di 2:138, 9:112, 21:53, 21:73, 21:84, 21:106, 23:47, 43:81, 109:3, dan 109:5. Di 2:138, 21:53, 21:73, dan 23:47 objeknya ditandai huruf li-, misalnya (وَنَحْنُ لَهُ عَابِدُونَ, wa-nahnu lahu 'aabiduuna) yang berarti "dan hanya kepada-Nya kami mengabdi" di 2:138. Di 43:81 objeknya tidak ditandai, sama dengan 9:112, 21:84, dan 21:106, sehingga ayat ini tidak menyebut kepada siapa pengabdian itu ditujukan.
Kata (أَوَّلُ, awwalu) yang berarti "pertama" dalam (فَأَنَا أَوَّلُ الْعَابِدِينَ, fa-anaa awwalu l-'aabidiina) yang berarti "maka akulah orang pertama yang mengabdi" didahului kata ganti (أَنَا, anaa) yang berarti "aku", dan terjemahan memakai "akulah" karena kata ganti itu tertulis. Susunan (أَنَا أَوَّلُ, anaa awwalu) muncul tiga kali, yaitu di 6:163, 7:143, dan 43:81. Di 6:163, (وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ, wa-anaa awwalu l-muslimiina) yang berarti "dan akulah orang pertama yang berserah diri", dan di 7:143, (وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ, wa-anaa awwalu l-mu'miniina) yang berarti "dan akulah orang pertama yang beriman", pernyataan itu berdiri sendiri, sedangkan di 43:81 pernyataan itu tergantung pada pengandaian di bagian pertama ayat.
Tafsiran
Pernyataan di ayat ini diucapkan dalam bentuk pengandaian yang sama dengan 2:94 dan 9:24, tetapi bagian keduanya berbeda arah. Dua ayat itu menyuruh pendengar melakukan sesuatu sesudah pengandaian, yaitu meminta kematian dan menunggu, sedangkan 43:81 tidak menyuruh siapa pun. Bagian kedua memuat pernyataan pembicara tentang dirinya sendiri, (فَأَنَا أَوَّلُ الْعَابِدِينَ, fa-anaa awwalu l-'aabidiina), tanpa tuntutan kepada orang lain.
Pokok yang dibuka di 43:15 sampai 43:19 kembali di sini. Ayat 43:15 menyebut (مِنْ عِبَادِهِ, min 'ibaadihi) yang berarti "dari hamba-hamba-Nya" sebagai pihak yang dijadikan bagian bagi-Nya, 43:16 menanyakan anak-anak perempuan, dan 43:19 menyebut (عِبَادُ الرَّحْمَٰنِ, 'ibaadu r-rahmaani) yang berarti "hamba-hamba Ar-Rahman". Akar ع-ب-د yang sama dipakai untuk "hamba" di 43:15 dan 43:19 dan untuk "pengabdi" di 43:81, dan nama Ar-Rahman bertemu dengan akar itu juga di 43:20 dan 43:45. Ayat 43:81 karena itu berbicara tentang anak dengan kata-kata yang sudah dipakai surah ini sejak ayat 15.
Ayat 43:82 menutup ucapan itu dengan tasbih, (سُبْحَانَ رَبِّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ, subhaana rabbi s-samaawaati wa-l-ardhi) yang berarti "Mahasuci Tuhan langit dan bumi". Pengandaian di 43:81 tidak dinyatakan benar dan tidak dibantah dengan argumen di ayatnya sendiri. Jawabannya datang di ayat berikutnya berupa tasbih, seperti 4:171 yang memuat (سُبْحَانَهُ, subhaanahu) yang berarti "Mahasuci Dia" langsung sesudah menyebut anak.
Tiga ayat sebelumnya memakai "Kami" (43:78 sampai 43:80), dan 43:81 beralih ke (قُلْ, qul), perintah kepada satu orang, serta ke kata ganti "aku". Pembicara berganti dari Kami ke orang yang diperintah berkata, dan nama orang itu tidak disebut. Ar-Rahman disebut dalam orang ketiga di ayat ini, sehingga pembicara dan yang dibicarakan sama-sama hadir dalam satu kalimat.
Renungan dan Hikmah
- Dua ayat yang berbentuk serupa, 2:94 dan 9:24, memakai pengandaian untuk menuntut sesuatu dari pendengar, yaitu meminta kematian dan menunggu keputusan Allah. Ayat 43:81 memakai pengandaian dengan bentuk yang sama untuk menyatakan sikap pembicaranya sendiri, dan tidak menuntut apa pun. Orang yang sedang menghadapi klaim yang tidak diterimanya dapat memperhatikan perbedaan itu: sebuah bantahan dapat berupa tuntutan kepada lawan bicara, atau berupa pernyataan tentang sikap sendiri. Dari kedua cara itu, mana yang lebih sering dipakai ketika sebuah klaim tentang Allah ditolak?
- Pembicara di ayat ini tidak menyatakan bahwa anak itu ada. Teksnya memuat sebuah syarat dan sebuah urutan, yaitu jika ada, maka akulah yang paling awal. Pengabdian diletakkan sebagai kemungkinan yang bergantung pada syarat itu, dan di 6:163 serta 7:143 kedudukan paling awal dalam berserah diri dan beriman dinyatakan tanpa syarat. Pembaca dapat memperhatikan bahwa kesiapan untuk berada di barisan pertama bisa dinyatakan lebih dulu, sebelum ada yang memintanya. Kesiapan semacam apa yang sudah dinyatakan pembaca kepada Allah sebelum ada yang meminta?
- Di 19:93 semua yang ada di langit dan di bumi disebut akan datang kepada Ar-Rahman sebagai hamba, dan 17:110 menyandingkan Ar-Rahman dengan Allah sebagai nama yang dapat diseru. Bila keduanya dibaca bersama ayat ini, pengandaian tentang anak diucapkan dalam keadaan ketika kedudukan semua pihak sebagai hamba sudah disebut di ayat lain. Pembaca yang menimbang kedudukannya di hadapan Allah dapat memperhatikan bahwa kalimat 19:93 tidak menyisakan pengecualian. Dengan kedudukan apa pembaca akan datang, dan apakah kedudukan itu pernah disebutnya sendiri?
- Pengandaian di ayat ini dijawab di 43:82 dengan Mahasuci Tuhan langit dan bumi, dan di 4:171 kata Mahasuci Dia muncul langsung sesudah anak disebut. Pada kedua ayat jawabannya berupa penjauhan dan tidak berupa rangkaian bukti. Orang yang pernah mendengar klaim tentang Allah yang terasa salah dapat memperhatikan bahwa ayat-ayat ini memilih mengucapkan Mahasuci lebih dulu. Apa yang berubah pada sebuah perdebatan ketika kalimat pertamanya adalah penjauhan dan bukan bantahan?
- Kata mengabdi di ayat ini tidak diikuti objek, berbeda dari 2:138 yang menyebut hanya kepada-Nya kami mengabdi. Pembicara mengabdi, dan kepada siapa pengabdian itu tertuju tidak ditulis. Objek yang dikosongkan membuat kata itu terbaca lebih dulu sebagai keadaan pelakunya. Bila kalimat aku mengabdi diucapkan tanpa menyebut kepada siapa, nama siapa yang akan diisikan oleh orang yang melihat hari-hari si pengucap, dan apakah nama itu sama dengan yang diucapkannya?
- Di 25:60 orang yang diminta bersujud kepada Ar-Rahman bertanya apakah Ar-Rahman itu, sedangkan 17:110 menyatakan bahwa Allah dan Ar-Rahman sama-sama dapat diseru dengan nama-nama yang terindah. Ayat 43:81 menyebut nama itu begitu saja dalam sebuah pengandaian. Orang yang pernah menolak sesuatu karena belum mengenal namanya dapat memperhatikan bahwa 25:60 mencatat penolakan semacam itu, dan 17:110 menyandingkan dua nama. Nama mana yang paling lama dipakai tanpa pernah ditanyakan artinya?