سُبْحَانَ رَبِّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ

Mahasuci Tuhan langit dan bumi, Tuhan Arasy, dari apa yang mereka sifatkan.”

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. سُبْحَانَ رَبِّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبِّ الْعَرْشِsubhaana rabbi s-samaawaati wa-l-ardhi rabbi l-'arsyiMahasuci Tuhan langit dan bumi, Tuhan Arasy
  2. عَمَّا يَصِفُونَ'ammaa yashifuunadari apa yang mereka sifatkan

Terjemahan per kata (8 kata)

  1. سُبْحَانَsubhaanaMahasuci
  2. رَبِّrabbiTuhan
  3. السَّمَاوَاتِs-samaawaatilangit
  4. وَالْأَرْضِwa-l-ardhidan bumi
  5. رَبِّrabbiTuhan
  6. الْعَرْشِl-'arsyiArasy
  7. عَمَّا'ammaadari apa yang
  8. يَصِفُونَyashifuunamereka sifatkan

Inti bacaan

Susunan (رَبِّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ, rabbi s-samaawaati wa-l-ardhi) muncul tiga kali di Al-Qur'an, yaitu di 43:82, 44:7, dan 78:37.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (سُبْحَانَ رَبِّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ, subhaana rabbi s-samaawaati wa-l-ardhi) yang berarti "Mahasuci Tuhan langit dan bumi". Kata (سُبْحَانَ, subhaana) berakar س-ب-ح. Frasa (عَمَّا يَصِفُونَ, 'ammaa yashifuuna) yang berarti "dari apa yang mereka sifatkan" muncul enam kali di lima surah, yaitu di 6:100, 21:22, 23:91, 37:159, 37:180, dan 43:82, dan di keenamnya frasa itu didahului bentuk dari akar س-ب-ح. Bentuk itu ialah (سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يَصِفُونَ, subhaanahu wa-ta'aalaa 'ammaa yashifuuna) yang berarti "Mahasuci Dia dan Mahatinggi dari apa yang mereka sifatkan" di 6:100, (فَسُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ, fa-subhaana llaahi rabbi l-'arsyi 'ammaa yashifuuna) yang berarti "maka Mahasuci Allah, Tuhan Arasy, dari apa yang mereka sifatkan" di 21:22, (سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يَصِفُونَ, subhaana llaahi 'ammaa yashifuuna) yang berarti "Mahasuci Allah dari apa yang mereka sifatkan" di 23:91 dan 37:159, dan (سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ, subhaana rabbika rabbi l-'izzati 'ammaa yashifuuna) yang berarti "Mahasuci Tuhanmu, Tuhan kedigdayaan, dari apa yang mereka sifatkan" di 37:180.

Kata (رَبِّ, rabbi) berakar ر-ب-ب dan diulang dua kali di ayat ini, yaitu pada (رَبِّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ, rabbi s-samaawaati wa-l-ardhi) yang berarti "Tuhan langit dan bumi" dan pada (رَبِّ الْعَرْشِ, rabbi l-'arsyi) yang berarti "Tuhan Arasy". Terjemahan mengulang "Tuhan" dua kali karena Arabnya mengulang rabbi. Susunan rabbi s-samaawaati wa-l-ardhi muncul tiga kali, yaitu di 43:82, 44:7, dan 78:37. Di 78:37 susunan itu disusul nama Ar-Rahman, (رَبِّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا الرَّحْمَٰنِ, rabbi s-samaawaati wa-l-ardhi wa-maa baynahumaa r-rahmaani) yang berarti "Tuhan langit, bumi, dan apa yang ada di antara keduanya, Ar-Rahman", sehingga Tuhan langit dan bumi di sana adalah Ar-Rahman, nama yang disebut di 43:81. Di 13:16, (قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ قُلِ اللَّهُ, qul man rabbu s-samaawaati wa-l-ardhi quli llaahu) yang berarti "katakanlah, siapa Tuhan langit dan bumi, katakanlah, Allah", jawaban atas pertanyaan itu adalah Allah.

Frasa rabbi l-'arsyi muncul dua kali, yaitu di 21:22 dan 43:82. Kata (الْعَرْشِ, l-'arsyi) yang berarti "Arasy" berakar ع-ر-ش dan dipakai juga untuk tempat duduk manusia di 12:100 dan 27:23, dan terjemahan memakai "singgasana" di sana. Di 43:82 pemiliknya Tuhan langit dan bumi, sehingga terjemahan memakai "Arasy" dan tidak memakai "singgasana".

Kata (يَصِفُونَ, yashifuuna) yang berarti "mereka sifatkan" berakar و-ص-ف dan muncul tujuh kali di lima surah, yaitu di 6:100, 21:22, 23:91, 23:96, 37:159, 37:180, dan 43:82. Pada empat dari enam ayat yang memuat 'ammaa yashifuuna, ayat itu sendiri atau ayat tepat sebelumnya menyebut anak atau hubungan kekerabatan. Di 6:100 ada (وَخَرَقُوا لَهُ بَنِينَ وَبَنَاتٍ, wa-kharaquu lahu baniina wa-banaatin) yang berarti "dan mereka mengada-adakan anak laki-laki dan anak perempuan bagi-Nya", di 23:91 ada (مَا اتَّخَذَ اللَّهُ مِنْ وَلَدٍ, maa ttakhadza llaahu min waladin) yang berarti "Allah tidak mengambil seorang anak", dan di 37:158, ayat tepat sebelum 37:159, ada (وَجَعَلُوا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجِنَّةِ نَسَبًا, wa-ja'aluu baynahu wa-bayna l-jinnati nasaban) yang berarti "dan mereka menjadikan nasab antara Dia dan jin". Di 43:81, ayat tepat sebelum 43:82, anak disebut dalam pengandaian. Pada dua ayat lainnya, 21:22 dan 37:180, tidak ada anak yang disebut di ayat itu atau ayat sebelumnya. Ayat 43:82 tidak menyebut siapa yang menyifatkan, dan terjemahan memakai "mereka" tanpa keterangan tambahan.

Tafsiran

Ayat ini menutup ucapan yang dibuka di 43:81 dan tidak menjawab pengandaian itu dengan bukti. Jawabannya berupa seruan Mahasuci yang menyebut tiga hal tentang Tuhan: Dia Tuhan langit dan bumi, Dia Tuhan Arasy, dan Dia jauh dari apa yang disifatkan. Urutan dari "jika Ar-Rahman mempunyai anak" ke "Mahasuci Tuhan langit dan bumi" menaruh nama Ar-Rahman dan sebutan Tuhan langit dan bumi pada pihak yang sama, seperti 78:37 yang menyusunnya berdampingan.

Langit dan bumi disebut lagi dua ayat sesudahnya dengan hubungan yang berbeda. Ayat 43:84 memuat (فِي السَّمَاءِ إِلَٰهٌ, fii s-samaa'i ilaahun) yang berarti "Tuhan di langit", dan 43:85 memuat (لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ, lahu mulku s-samaawaati wa-l-ardhi) yang berarti "milik-Nyalah kerajaan langit dan bumi". Dengan begitu tiga ayat dalam satu rangkaian menyebut langit dan bumi lewat tiga kata yang berbeda: rabbi di 43:82, ilaahun di 43:84, dan mulku di 43:85. Di antaranya 43:83 memuat perintah kepada pembicara, (فَذَرْهُمْ, fa-dzarhum) yang berarti "maka biarkanlah mereka". Pertalian ini adalah bacaan atas susunan teks dan tidak dinyatakan oleh ayatnya.

Ayat 43:78 sampai 43:80 memakai "Kami", dan 43:81 memakai "aku" bagi orang yang diperintah berkata. Ayat 43:82 tidak memakai kata ganti pertama sama sekali: pembicara yang tadi menyatakan sikapnya sendiri berpindah ke pihak yang disucikan, dan ucapannya berakhir pada sifat dan kepemilikan Tuhan. Kata "mereka" di penutup ayat tidak disebut siapa, berbeda dari 6:100 yang menyebut sekutu-sekutu dari jin sebelum tasbihnya.

Renungan dan Hikmah

  • Kata Tuhan diulang dua kali dalam satu ayat, pertama untuk langit dan bumi dan kedua untuk Arasy. Di 13:16 pertanyaan siapa Tuhan langit dan bumi dijawab dengan satu kata, Allah, dan 43:82 tidak memuat pertanyaan semacam itu. Pembaca yang hanya pernah menyebut Tuhan sekali dalam sebuah kalimat dapat memperhatikan bahwa ayat ini mengulanginya. Apa yang bertambah pada sebuah kalimat tentang Tuhan ketika sebutan itu diulang dan tidak diganti dengan kata ganti?
  • Yang dijauhkan dari Tuhan di ayat ini ialah apa yang disifatkan oleh pihak lain. Di 6:100 sifat semacam itu dikaitkan dengan anak laki-laki dan perempuan yang diada-adakan tanpa pengetahuan. Pembaca dapat memeriksa gambaran tentang Tuhan yang dimilikinya dan menanyakan asalnya: dari ayat, dari kebiasaan, atau dari perkataan orang lain yang tidak pernah diperiksa. Dari tiga asal itu, gambaran mana yang paling sering dipakainya tanpa pernah ditanyakan?
  • Di 43:81 pembicara berkata aku, yaitu akulah orang pertama yang mengabdi, dan di 43:82 kata ganti pertama itu hilang sehingga yang tersisa hanya Tuhan langit dan bumi dan Tuhan Arasy. Ucapan yang dimulai dari sikap pribadi berakhir pada Dia yang disucikan. Pembaca yang menyimak urutan itu mendapati bahwa kalimat tentang diri sendiri tidak dibiarkan menjadi kalimat terakhir. Apa yang tinggal dalam sebuah ucapan ketika bagian terakhirnya sudah tidak lagi menyebut diri pengucapnya?
  • Langit dan bumi disebut lewat sebutan Tuhan di 43:82, lewat sebutan tuhan yang ada di langit dan di bumi di 43:84, dan lewat kerajaan di 43:85, dan ketiganya tidak memakai kata yang sama. Pembaca dapat menimbang sebutan mana yang paling sering dipakainya ketika berbicara tentang Allah, apakah Tuhan, tuhan yang diseru, atau pemilik kerajaan. Sebutan mana yang paling jarang terucap, dan apa yang hilang dari gambarannya tentang Allah karena itu?
  • Sebutan Tuhan Arasy ada di bagian akhir ucapan di 43:82, dan di 9:129 sebutan yang berdekatan menutup ucapan lain: tidak ada tuhan selain Dia, hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Tuhan pemilik Arasy yang agung. Kedua ayat itu berbeda perkataan dan tidak disamakan, tetapi keduanya menaruh sebutan itu di bagian akhir, sesudah pernyataan tentang sikap pembicara. Pembaca yang hendak mengakhiri sebuah ucapan tentang diri sendiri dapat memperhatikan bahwa dua ayat itu menaruh sebutan Tuhan di dekat akhir ucapan. Dengan apa pembaca mengakhiri ucapannya tentang dirinya sendiri?
  • Ayat 43:81 menyebut nama Ar-Rahman dan 43:82 menyebut Tuhan langit dan bumi, tanpa tanda pergantian di antaranya. Di 78:37 dua sebutan itu bertemu dalam satu kalimat, dan di 17:110 nama Ar-Rahman disandingkan dengan Allah sebagai nama yang dapat diseru. Pembaca yang melewati dua ayat itu berurutan berpindah dari satu nama ke sebutan lain tanpa diberi tahu bahwa pihaknya sama. Apakah perpindahan seperti itu diikuti dengan pemahaman, atau dengan berhenti bertanya siapa yang dimaksud?