وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَٰهٌ وَفِي الْأَرْضِ إِلَٰهٌ ۚ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ
Dialah Tuhan di langit dan Tuhan di bumi. Dialah Sang Penuh Hikmah lagi Sang Berilmu.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَٰهٌ وَفِي الْأَرْضِ إِلَٰهٌwa-huwa lladzii fii s-samaa'i ilaahun wa-fii l-ardhi ilaahunDialah Tuhan di langit dan Tuhan di bumi
- وَهُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُwa-huwa l-hakiimu l-'aliimuDialah Sang Penuh Hikmah lagi Sang Berilmu
Terjemahan per kata (11 kata)
- وَهُوَwa-huwadan Dia
- الَّذِيlladziiyang
- فِيfiidi
- السَّمَاءِs-samaa'ilangit
- إِلَٰهٌilaahunTuhan
- وَفِيwa-fiidan pada
- الْأَرْضِl-ardhibumi
- إِلَٰهٌilaahunTuhan
- وَهُوَwa-huwadan Dia
- الْحَكِيمُl-hakiimuSang Penuh Hikmah
- الْعَلِيمُl-'aliimuSang Berilmu
Inti bacaan
Susunan (الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ, l-hakiimu l-'aliimu) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 43:84 dan 51:30.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (وَهُوَ, wa-huwa) yang berarti "dan Dia", disusul (الَّذِي, lladzii) yang berarti "yang" dan (فِي السَّمَاءِ, fii s-samaa'i) yang berarti "di langit". Susunan (وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَٰهٌ, wa-huwa lladzii fii s-samaa'i ilaahun) hanya ada di 43:84 di seluruh Al-Qur'an. Kata langit di sini berbentuk tunggal, sedangkan 43:82 sebelumnya dan 43:85 sesudahnya memakai bentuk jamak, (السَّمَاوَاتِ, s-samaawaati). Bentuk tunggal bersama (مَنْ, man) yang berarti "siapa yang" juga ada di (مَنْ فِي السَّمَاءِ, man fii s-samaa'i) yang berarti "yang di langit", yaitu di 67:16 dan 67:17.
Kata (إِلَٰهٌ, ilaahun) yang berarti "Tuhan" berakar أ-ل-ه dan ada di dua puluh dua ayat dalam bentuk persis ini, dengan harakat yang sama, dan 43:84 memuatnya dua kali. Dua puluh satu ayat lainnya terikat pada kata penyerta. Pada sebelas ayat kata itu disusul (وَاحِدٌ, waahidun) yang berarti "satu", yaitu di 2:163, 4:171, 5:73, 6:19, 14:52, 16:22, 16:51, 18:110, 21:108, 22:34, dan 41:6. Pada lima ayat kata itu berada dalam pertanyaan (أَإِلَٰهٌ مَعَ اللَّهِ, a-ilaahun ma'a llaahi) yang berarti "apakah ada tuhan bersama Allah", yaitu di 27:60, 27:61, 27:62, 27:63, dan 27:64. Pada empat ayat kata itu disusul (غَيْرُ اللَّهِ, ghayru llaahi) yang berarti "selain Allah", yaitu di 6:46, 28:71, 28:72, dan 52:43. Pada satu ayat kata itu disusul (مِنْ دُونِهِ, min duunihi) yang berarti "selain Dia", yaitu di 21:29. Ayat 43:84 adalah ayat kedua puluh dua, dan tidak disertai satu pun dari keempat penyerta itu. Di ayat ini kata ilaahun dipakai dua kali, masing-masing dengan tempatnya, (وَفِي الْأَرْضِ إِلَٰهٌ, wa-fii l-ardhi ilaahun) yang berarti "dan di bumi Tuhan".
Terjemahan menulis "Tuhan" dengan huruf awal besar di kedua tempat karena subjeknya adalah Dia, (هُوَ, huwa). Pilihan itu sejalan dengan 2:163 dan 16:22 yang menerjemahkan ilaahun waahidun sebagai "Tuhan Yang Esa". Di 52:43 dan 21:29, ilaahun disebut sebagai tuhan selain Allah, dan terjemahannya memakai huruf kecil. Hubungan antara Dia dan langit atau bumi dinyatakan oleh satu huruf, yaitu (فِي, fii) yang berarti "di", tanpa kata kerja yang menjelaskan cara kehadiran-Nya. Terjemahan juga tidak menambahkan "bersemayam", "berkuasa", atau "disembah".
Dua nama di ujung ayat, (الْحَكِيمُ, l-hakiimu) yang berarti "Sang Penuh Hikmah" dan (الْعَلِيمُ, l-'aliimu) yang berarti "Sang Berilmu", sama-sama memakai kata sandang al-. Terjemahan mengikuti kata sandang itu dengan "Sang", dan tidak memakai "Maha". Kedua nama ini berdampingan tanpa huruf penyambung, dan kata "lagi" dalam terjemahan menandai kedampingan itu, seperti di 51:30. Susunan (الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ, l-hakiimu l-'aliimu) dengan urutan ini muncul dua kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 43:84 dan 51:30. Urutan sebaliknya, (الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ, l-'aliimu l-hakiimu), muncul empat kali, yaitu di 2:32, 12:83, 12:100, dan 66:2. Nama (الْحَكِيمُ, l-hakiimu) juga bersanding dengan (الْخَبِيرُ, l-khabiiru) yang berarti "Sang Waskita" di tiga ayat, yaitu 6:18, 6:73, dan 34:1, dan di ketiganya didahului (وَهُوَ, wa-huwa) seperti di 43:84. Kata wa-huwa l-hakiimu ada di empat ayat, yaitu 6:18, 6:73, 34:1, dan 43:84. Di 43:84 pasangan l-hakiimu adalah l-'aliimu, dan di ketiga ayat lain l-khabiiru.
Tafsiran
Ayat ini menyusul penyucian di 43:82 dengan pernyataan tentang siapa Dia, dan hubungannya dengan langit dan bumi ditulis di tiga ayat, yaitu 43:82, 43:84, dan 43:85, masing-masing dengan kata yang berbeda. Ayat 43:82 memakai (رَبِّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ, rabbi s-samaawaati wa-l-ardhi) yang berarti "Tuhan langit dan bumi", yang juga ada di 44:7 dan 78:37. Ayat 43:84 memakai ilaahun di langit dan di bumi. Ayat 43:85 memakai (لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ, lahu mulku s-samaawaati wa-l-ardhi) yang berarti "milik-Nya kerajaan langit dan bumi". Tiga sebutan itu, yaitu Tuhan, ilaah, dan pemilik kerajaan, ditaruh pada langit dan bumi yang sama dan tidak diuraikan perbedaannya.
Ayat ini juga menempati titik antara dua hal yang dibicarakan di sekitarnya. Di 43:81 dikemukakan pengandaian tentang seorang anak bagi Ar-Rahman, dan di 43:86 dibicarakan pihak-pihak yang diseru selain Dia. Dalam surah yang sama kata jamaknya sudah muncul di 43:45, (آلِهَةً يُعْبَدُونَ, aalihatan yu'baduuna) yang berarti "tuhan-tuhan yang disembah". Dengan latar itu 43:84 menyatakan satu pihak, Dia, sebagai ilaah di dua tempat, dan ayat itu tidak menyebut pihak lain sama sekali. Ayat 43:86 baru menyebut pihak lain, dan di sana pihak itu dikatakan tidak memiliki syafaat.
Ayat 6:3 memuat (وَهُوَ اللَّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ, wa-huwa llaahu fii s-samaawaati wa-fii l-ardhi) yang berarti "dan Dialah Allah di langit dan di bumi", dengan huruf fii diulang di depan langit dan di depan bumi seperti di 43:84. Susunan persis itu hanya ada di 6:3 di seluruh Al-Qur'an. Ayat 6:3 diikuti (يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ, ya'lamu sirrakum wa-jahrakum) yang berarti "Dia mengetahui yang kalian rahasiakan dan yang kalian tampakkan", dan 43:84 diikuti dua nama, hikmah dan ilmu. Pada kedua ayat itu kehadiran di langit dan bumi disambung dengan pengetahuan. Ayat 43:80 sebelumnya menyebut (سِرَّهُمْ وَنَجْوَاهُمْ, sirrahum wa-najwaahum) yang berarti "rahasia mereka dan bisikan mereka", sehingga dapat dibaca bahwa nama Sang Berilmu di ujung 43:84 menjawab sangkaan di 43:80. Pembacaan ini tidak dinyatakan oleh ayat, dan keduanya tidak dihubungkan dengan kata penghubung.
Di antara perintah di 43:83 dan perintah di 43:89, ayat 43:84 sampai 43:86 tidak memuat satu pun perintah.
Renungan dan Hikmah
- Ayat ini menyebut Dia sebagai Tuhan di bumi dengan kata ilaahun yang diulang, dan tidak dengan satu kali penyebutan "di langit dan di bumi" sekaligus. Bumi mendapat penyebutannya sendiri. Bumi adalah tempat meja kerja, dapur, jalan raya, dan kamar tidur, dan ayat tidak mengecualikan tempat mana pun dari sebutan itu. Pembaca dapat menelusuri harinya sendiri dan menandai bagian yang dijalaninya seakan di sana tidak ada Tuhan. Tanda itu hanya bahan untuk dilihat, dan ayat tidak menuntut jawaban tertentu. Bagian hidup mana yang paling jarang disebutnya sebagai bumi Tuhan, padahal ayat ini menyebutnya begitu?
- Dalam surah yang sama, 43:45 menyebut tuhan-tuhan yang disembah dalam bentuk jamak, sedangkan 43:84 menyebut Dia dalam bentuk tunggal di langit dan di bumi. Kata ilaahun juga dipakai oleh pihak yang mengaku, seperti di 21:29, dan oleh pihak yang dipertanyakan, seperti di 52:43, sehingga kata itu sendiri belum menentukan siapa yang dimaksud. Siapa yang dimaksud ditentukan oleh subjeknya di ayat itu, dan subjek 43:84 adalah Dia, yang di akhir ayat disebut Sang Penuh Hikmah lagi Sang Berilmu. Seseorang yang diminta menulis daftar hal yang paling diandalkannya dapat melihat apakah daftar itu tunggal atau jamak. Jika berjumlah banyak, apa yang menyatukan semuanya dalam hidupnya?
- Di 43:84 nama Dia, Sang Penuh Hikmah, disebut sebelum Sang Berilmu, sedangkan di 2:32, 12:83, 12:100, dan 66:2 urutannya terbalik. Ayat ini tidak menjelaskan alasan urutan itu. Pembaca dapat memakainya sebagai cermin untuk dua pertanyaan yang dapat diajukan kepada orang yang berkuasa, yaitu apakah orang itu tahu dan apakah tindakannya tepat. Ayat ini menyandingkan kedua sifat pada satu subjek tanpa kata penyambung, sehingga masing-masing tidak menggantikan yang lain. Ketika memegang urusan orang lain, mana yang lebih sering diperiksa lebih dulu oleh pembaca, pengetahuannya atau ketepatan tindakannya, dan mengapa urutannya begitu?
- Ayat 43:83 memerintahkan membiarkan orang-orang yang tenggelam dan bermain, lalu 43:84 langsung menyatakan bahwa Dia ilaah di langit dan di bumi. Antara dua ayat itu tidak ada kalimat tentang keadaan orang yang dibiarkan. Orang yang berhenti mengejar seseorang dapat tergoda membayangkan orang itu keluar dari jangkauan siapa pun. Ayat ini hanya mengatakan bahwa bumi tempat orang itu berdiri adalah tempat Dia disebut ilaah, dan tidak mengatakan apa yang terjadi padanya. Kalau orang yang kini dilepaskan masih berada di bumi yang disebut ayat ini, apa yang berubah pada cara pembaca memikirkannya?
- Ayat 43:84 ditutup dengan nama Sang Berilmu, dan 43:80 sebelumnya memuat sangkaan bahwa rahasia dan bisikan tidak terdengar. Ayat-ayat itu tidak membahas niat tiap orang. Pembaca dapat bertanya tentang tempat yang ia anggap tidak dilihat siapa pun, misalnya ruangan sendirian atau percakapan yang hanya berdua. Di tempat seperti itu, siapa yang ia bayangkan sedang tidak hadir, dan apakah bayangan itu sesuai dengan yang dikatakan ayat ini?
- Ayat 43:84 sampai 43:86 tidak memuat perintah, padahal 43:83 di depannya dan 43:89 di belakangnya sama-sama memuat perintah. Pembaca terbiasa mencari apa yang harus dikerjakan sesudah membaca ayat, dan di sini keterangan tentang Dia lebih banyak daripada tugas. Bagian ayat ini berisi kedudukan sebagai ilaah di dua tempat, lalu hikmah dan ilmu, tanpa satu kalimat pun yang meminta pembaca berbuat sesuatu. Ketika sebuah ayat menyatakan siapa Dia tanpa menyuruh apa pun, apa yang dilakukan pembaca dengan pernyataan itu, dan dari mana diketahuinya bahwa itu sudah cukup atau belum cukup?