بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Dengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih.

حم

Haa Miim.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. حمhaa miimHa Mim

Terjemahan per kata (1 kata)

  1. حمhaa miimHaa Miim

Inti bacaan

Satu ejaan di halaman ini, Haa, menggantikan dua huruf Arab yang berbeda bentuknya, yakni (ح, haa) yang muncul tujuh kali di Al-Qur'an sebagai pembuka surah dan (ه, haa) yang muncul dua kali sebagai pembuka, tepatnya di 19:1 dan 20:1.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini hanya berisi satu rangkaian huruf, (حم, haa miim), yang tersusun dari dua huruf, yaitu (ح, haa) dan (م, miim). Terjemahan menuliskan nama kedua huruf itu apa adanya, Haa Miim, dengan huruf awal besar dan vokal panjang digandakan seperti alih aksara di seluruh terjemahan ini. Penulisan itu sejalan dengan 2:1, yang menuliskan (الم, alif laam miim) sebagai Alif Laam Miim. Titik di ujung terjemahan ada karena 44:2 membuka kalimat baru, sedangkan koma di ujung terjemahan 44:2 menandai bahwa kalimat sumpah itu bersambung ke 44:3. Tulisan Arab ayat ini tidak memuat tanda baris, sehingga yang tertera adalah kerangka kedua huruf itu saja.

Data morfologi korpus memperlakukan (حم, haa miim) lain dari kata biasa. Kata di ayat sebelahnya diberi akar dan bentuk dasar, misalnya (الْكِتَابِ, l-kitaabi) di 44:2 berakar ك-ت-ب dan (الْمُبِينِ, l-mubiini) di ayat yang sama berakar ب-ي-ن. Rangkaian di ayat ini hanya diberi satu tanda, yaitu tanda huruf pembuka surah, tanpa akar dan tanpa bentuk dasar. Karena akarnya tidak ada, padanan Indonesia tidak dapat dipilih dengan membandingkan pemakaian akar yang sama di ayat lain, cara yang dipakai untuk kata-kata di 44:2 sampai 44:5. Bahan pembanding yang tersedia datang dari ayat-ayat lain yang memuat huruf pembuka.

Ejaan untuk huruf pertama ayat ini sama dengan ejaan untuk huruf lain. Terjemahan menulis (ح, haa) sebagai Haa, dan menulis (ه, haa) sebagai Haa juga, yaitu di 20:1 pada "Taa Haa" dan di 19:1 pada "Kaaf Haa Yaa Ain Saad". Kedua huruf itu berbeda dalam tulisan Arab. Huruf ح muncul sebagai huruf pembuka hanya di ayat-ayat Haa Miim, sedangkan ه muncul sebagai huruf pembuka di 19:1 dan 20:1. Pembaca yang hanya melihat ejaan Haa tidak dapat membedakan keduanya, sehingga tulisan Arab menjadi pegangan untuk memastikan huruf yang dimaksud.

Rangkaian (حم, haa miim) berdiri sendiri sebagai satu ayat utuh sebanyak tujuh kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 40:1, 41:1, 42:1, 43:1, 44:1, 45:1, dan 46:1, dan ketujuh surah itu berurutan dalam mushaf. Ayat 44:1 berada di urutan kelima. Tiga ayat lain juga berisi tepat dua huruf, yaitu 20:1 "Taa Haa", 27:1 "Taa Siin", dan 36:1 "Yaa Siin", masing-masing hanya sekali, sehingga dari seluruh ayat bertuliskan dua huruf, tujuh adalah Haa Miim.

Ada sepuluh ayat huruf pembuka yang tidak berdiri sendiri karena hurufnya disusul kalimat dalam ayat yang sama, yaitu 10:1, 11:1, 12:1, 13:1, 14:1, 15:1, 27:1, 38:1, 50:1, dan 68:1. Tidak ada ayat Haa Miim di antara sepuluh itu. Rangkaian (الم, alif laam miim) di 2:1, 3:1, 29:1, 30:1, 31:1, dan 32:1 juga berdiri sendiri, sedangkan (الر, alif laam raa) di 10:1, 11:1, 12:1, 14:1, dan 15:1 selalu disusul kalimat dalam ayat yang sama. Di setiap kemunculannya Haa Miim menempati ayatnya sendirian, dan terjemahan ketujuh ayat itu sama.

Ayat ini sendiri tidak menerangkan apa yang dimaksud kedua huruf itu, dan tak satu pun ayat yang disebut di atas menerangkannya. Terjemahan karena itu tidak menambahkan keterangan di dalam maupun di samping nama huruf, misalnya kata "huruf" atau "tanda". Ayat berikutnya, 44:2, langsung beralih ke sumpah.

Tafsiran

Ayat ini mengulang pembuka 43:1 huruf demi huruf, dan 44:2 mengulang 43:2 kata demi kata. Kedua surah dibuka dengan (حم, haa miim), lalu sumpah (وَالْكِتَابِ الْمُبِينِ, wa-l-kitaabi l-mubiini) yang berarti "demi Kitab yang jelas". Pembaca yang baru selesai membaca 43:89 dan melanjutkan ke surah berikutnya mendengar dua ayat yang sama dengan pembuka surah sebelumnya. Perbedaannya baru terdengar di ayat ketiga. Ayat 43:3 berbunyi (إِنَّا جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا, innaa ja'alnaahu qur'aanan 'arabiyyan) yang berarti "sesungguhnya Kami menjadikannya bacaan berbahasa Arab", sedangkan 44:3 berbunyi (إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ, innaa anzalnaahu fii laylatin mubaarakatin) yang berarti "sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi". Dalam pasangan ini, ayat 44:1 menandai awal surah tetapi tidak membedakan surah itu dari pendahulunya.

Pasangan serupa ada di surah 45 dan 46, yang dua ayat pembukanya sama persis lalu berpisah di ayat ketiga. Surah 40, 41, dan 42 tidak membentuk pasangan seperti itu, sebab ayat sesudah hurufnya berlainan satu sama lain: 40:2 berbunyi (تَنْزِيلُ الْكِتَابِ, tanziilu l-kitaabi) yang berarti "diturunkannya Kitab", 41:2 berupa penurunan dari Ar-Rahman, dan 42:2 berisi huruf lagi, sehingga pernyataan pertamanya baru tiba di 42:3. Kedua pasangan itu memakai pola berbeda: pasangan 43 dan 44 berbagi sumpah, pasangan 45 dan 46 berbagi pernyataan tentang penurunan Kitab.

Di batas surah, 43:89 berakhir dengan (فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ, fa-sawfa ya'lamuuna) yang berarti "kelak mereka akan mengetahui", lalu 44:1 dibuka dengan dua huruf yang artinya tidak diberikan. Ayat sependek ini tidak memuat pernyataan, sehingga perannya terbaca dari letaknya: ayat ini berada di antara akhir surah 43 dan sumpah di 44:2, dan sumpah itu dapat dibaca menunggu jawabannya di 44:3. Surah 44 memuat 59 ayat, lebih pendek daripada surah 43 yang memuat 89 ayat.

Renungan dan Hikmah

  • Dua ayat pertama surah 44 sama dengan dua ayat pertama surah 43, dan baru di ayat ketiga keduanya berpisah: 43:3 menyebut bacaan berbahasa Arab yang dibuat agar pembacanya berakal, sedangkan 44:3 menyebut malam yang diberkahi. Pembaca yang hanya menyimak awal sebuah bacaan, lalu menyimpulkan bacaan mana yang sedang dibuka, akan keliru memilih di sini, sebab awalnya memang tidak membedakan. Tempat berpisahnya baru terdengar bagi yang terus menyimak sampai ayat ketiga. Seberapa sering kesimpulan tentang sebuah bacaan, atau sebuah percakapan, ditarik dari kalimat pembukanya, dan apa yang terlewat oleh pembaca yang berhenti menyimak begitu merasa sudah mengenal?
  • Dalam empat dari tujuh surah Haa Miim, ayat kedua langsung menyebut asal Kitab dengan nama: 40:2, 45:2, dan 46:2 berbunyi "Diturunkannya Kitab dari Allah", dan 41:2 menyebut "Ar-Rahman". Surah 44 tidak melakukannya. Ayat 44:2 berupa sumpah, 44:3 sampai 44:5 memakai kata Kami, dan kata Tuhan baru tiba di 44:6, dalam frasa "rahmat dari Tuhanmu". Pembaca surah ini mendengar kata Kami di tiga ayat berturut-turut sebelum sebutan pemilik disebut. Selama jeda itu pembaca dapat memperhatikan dirinya sendiri: apakah nama yang belum disebut diisinya sendiri, dan apakah nama itu sama dengan yang akhirnya tertulis di 44:6?
  • Dua ayat terakhir surah 43 mendahului 44:1. Ayat 43:88 memuat ucapan yang ditujukan kepada Tuhan, "Tuhanku, sesungguhnya mereka ini kaum yang tidak beriman", lalu 43:89 memerintahkan berpaling dan mengucapkan "Salam", dan setelah itu 44:1 hanya berisi dua huruf. Ketegangan yang dibawa dua ayat itu tidak dijawab oleh ayat berikutnya dengan penjelasan apa pun. Pembaca yang membawa kekesalan dari ayat-ayat sebelumnya mendapat satu ayat yang tidak memberinya apa-apa untuk dipertahankan atau dibantah. Apa yang dilakukan seseorang dengan kekesalan yang belum selesai, ketika bacaan berikutnya dibuka dengan ayat yang tidak meminta apa pun darinya selain mendengarkan?
  • Pembaca yang menempuh surah 40 sampai 44 sudah bertemu empat kali dengan pembuka ini, dan pada pertemuan kelima pembaca itu sudah tahu apa yang biasanya menyusul: ayat kedua yang menyebut Kitab, penurunan, atau pewahyuan. Ayat 44:2 memenuhi dugaan itu dengan menyebut Kitab. Dugaan yang terpenuhi memberi rasa aman, dan rasa aman itu dapat menumpulkan perhatian pada hal yang berbeda, yaitu bahwa 44:2 berupa sumpah seperti 43:2 dan bukan pernyataan seperti 40:2, serta bahwa pelaku penurunan atau pewahyuan disebut Allah di 40:2 dan 42:3, tetapi belum di 44:2. Apakah keakraban dengan pola membuat pembaca lebih teliti atau lebih lengah terhadap ayat yang menyimpang sedikit darinya?
  • Sesudah 44:1 yang tidak menyatakan arti apa pun, 44:2 menyebut Kitab dengan sifat "jelas". Dua ayat berurutan itu menaruh pembaca di antara bagian bacaan yang artinya tidak diberikan dan bagian yang menyebut dirinya jelas, tanpa ayat yang menjembatani keduanya. Teks tidak mendamaikan keduanya, dan pembaca diminta menerima keduanya berdampingan. Orang yang terbiasa menuntut agar setiap bagian sebuah bacaan sama jelasnya mendapati bahwa bacaan ini tidak mengikuti tuntutan itu. Apakah kejelasan sebuah Kitab diukur dari setiap bagiannya, atau dari apa yang dikatakannya tentang dirinya sendiri di ayat yang berdekatan?
  • Setelah 44:1 masih ada dua ayat Haa Miim, yaitu 45:1 dan 46:1, dan sesudah 46:1 deret itu berhenti: 47:1 langsung menyebut "orang-orang yang kufur dan menghalangi dari jalan Allah". Pembaca di 44:1 belum tahu bahwa deret itu akan putus dua surah lagi. Orang yang berada di tengah rangkaian dapat menganggap rangkaian itu akan berlanjut selama dirinya sendiri masih berjalan, padahal ujungnya baru terlihat dari belakang. Ayat 44:1 sendiri tidak memberi tahu berapa banyak yang tersisa. Apa yang berubah pada cara seseorang membaca sebuah rangkaian bila diketahuinya bahwa kali ini bukan pertemuan terakhir, dan bahwa yang terakhir tidak diumumkan?