إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ ۚ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ
Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi; sesungguhnya Kamilah pemberi peringatan.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍinnaa anzalnaahu fii laylatin mubaarakatinsesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi
- إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَinnaa kunnaa mundziriinasesungguhnya Kamilah pemberi peringatan
Terjemahan per kata (8 kata)
- إِنَّاinnaasesungguhnya Kami
- أَنْزَلْنَاهُanzalnaahuKami menurunkannya
- فِيfiidi
- لَيْلَةٍlaylatinmalam
- مُبَارَكَةٍmubaarakatinyang diberkahi
- إِنَّاinnaasesungguhnya Kami
- كُنَّاkunnaaKami adalah
- مُنْذِرِينَmundziriinapara pemberi peringatan
Inti bacaan
Bentuk perempuan (مُبَارَكَةٍ, mubaarakatin) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 24:35 untuk pohon dan di 44:3 untuk malam.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ, innaa anzalnaahu) yang berarti "sesungguhnya Kami menurunkannya". Bentuk (أَنْزَلْنَاهُ, anzalnaahu) tersusun dari kata kerja (أَنْزَلَ, anzala) yang berarti "menurunkan" dan berakar ن-ز-ل, akhiran (نَا, -naa) yang berarti "Kami", dan akhiran (هُ, -hu) yang berarti "-nya". Bentuk persis anzalnaahu muncul empat belas kali di tiga belas surah, yaitu di 6:92, 6:155, 10:24, 12:2, 13:37, 14:1, 17:105, 18:45, 20:113, 21:50, 22:16, 38:29, 44:3, dan 97:1. Jumlah surahnya lebih kecil karena surah 6 memuatnya dua kali. Di sebagian ayat itu akhiran -hu menunjuk benda yang disebut di sekitarnya: Kitab di 6:92, 6:155, 14:1, dan 38:29, peringatan di 21:50, dan air yang Kami turunkan dari langit di 10:24 dan 18:45. Di 44:3 benda terdekat yang dapat ditunjuk -hu adalah Kitab di 44:2, sedangkan di 97:1 tidak ada benda yang disebut sebelumnya. Susunan (إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ, innaa anzalnaahu) tepat seperti di ayat ini hanya muncul tiga kali, yaitu di 12:2, 44:3, dan 97:1, dan terjemahan 12:2 serta 44:3 memakai "Kami menurunkannya", sedangkan 97:1 memakai "Kami telah menurunkannya".
Kata (لَيْلَةٍ, laylatin) yang berarti "malam" tidak memakai kata sandang dan berakhiran -in, sehingga terjemahan memakai "suatu malam" yang belum diberi nama. Di 97:1, (إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ, innaa anzalnaahu fii laylati l-qadri) yang berarti "sesungguhnya Kami telah menurunkannya pada Malam Ketetapan" memakai kerangka yang sama dengan nama malamnya, sedangkan 44:3 memakai sifat. Kedua ayat tidak menyatakan bahwa malam yang disebut itu sama, dan tidak menyatakan bahwa keduanya berbeda. Kata malam dengan bentuk dasar yang sama muncul di tujuh ayat, yaitu 2:51, 2:187, 7:142, 44:3, 97:1, 97:2, dan 97:3, dan hanya di 97:1 sampai 97:3 sebuah malam disebut dengan namanya sendiri, yaitu Malam Ketetapan. Terjemahan 44:3 karena itu tidak menambahkan nama malam apa pun.
Kata (مُبَارَكَةٍ, mubaarakatin) yang berarti "yang diberkahi" berakar ب-ر-ك dan berbentuk perempuan agar sesuai dengan laylatin. Bentuk perempuan ini muncul pada empat ayat, yaitu 24:35 untuk pohon, 24:61 untuk penghormatan, 28:30 untuk tanah, dan 44:3 untuk malam, dan terjemahan memakai "yang diberkahi" di keempatnya. Bentuk laki-laki dari kata yang sama muncul pada delapan ayat, yaitu 3:96, 6:92, 6:155, 19:31, 21:50, 23:29, 38:29, dan 50:9. Empat dari delapan ayat itu menyifati Kitab atau peringatan yang diturunkan: 6:92, 6:155, dan 38:29 untuk Kitab, serta 21:50 untuk peringatan. Dalam 44:3 sifat itu jatuh pada waktu penurunan, tidak pada benda yang diturunkan.
Kata (مُنْذِرِينَ, mundziriina) yang berarti "pemberi peringatan" berakar ن-ذ-ر dan berbentuk jamak. Kata ini, dalam berbagai bentuk, muncul di lima belas ayat, yaitu 2:213, 4:165, 6:48, 13:7, 18:56, 26:194, 26:208, 27:92, 37:72, 38:4, 38:65, 44:3, 46:29, 50:2, dan 79:45. Di empat belas ayat selain 44:3, pemberi peringatan adalah pihak yang diutus atau seseorang yang disebut dengan kata ganti, seperti para nabi di 2:213, rasul-rasul di 4:165, "aku" di 27:92, "engkau" di 79:45, dan sekelompok jin di 46:29. Di 44:3 kata itu dipasangkan dengan (إِنَّا كُنَّا, innaa kunnaa) yang berarti "sesungguhnya Kami adalah", sehingga Kami sendiri disebut pemberi peringatan, dan tidak ada ayat lain di antara lima belas itu yang berbuat demikian.
Terjemahan menulis "Kamilah pemberi peringatan" untuk (إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ, innaa kunnaa mundziriina), sejalan dengan 28:45, tempat (كُنَّا مُرْسِلِينَ, kunnaa mursiliina) diterjemahkan "Kamilah pengutus". Akhiran -lah menempatkan kata Kami sebagai pokok kalimat dan tidak mengandung arti "hanya". Data morfologi menandai (كُنَّا, kunnaa) sebagai kata kerja lampau, dan terjemahan tidak menambahkan kata waktu seperti "dahulu". Tanda jeda kecil di tengah ayat memisahkan dua pernyataan yang masing-masing dibuka "sesungguhnya Kami", dan terjemahan menandai pemisahan itu dengan titik koma.
Tafsiran
Ayat ini memuat dua pernyataan tentang Kami, yang pertama tentang perbuatan dan yang kedua tentang kedudukan. Pernyataan pertama menyebut penurunan pada suatu malam, dan pernyataan kedua menyebut diri sebagai pemberi peringatan. Berbeda dari 43:3, ayat ini tidak memuat kata ganti untuk pendengar. Ayat 43:3 berbunyi (لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ, la'allakum ta'qiluuna) yang berarti "agar kalian berakal", sedangkan 44:3 tidak memuat kata "kalian" maupun "engkau". Ayat ini juga menambahkan keterangan waktu yang tidak ada di 43:3, dan mengganti kata kerja (جَعَلْنَاهُ, ja'alnaahu) yang berarti "Kami menjadikannya" menjadi (أَنْزَلْنَاهُ, anzalnaahu) yang berarti "Kami menurunkannya". Dengan demikian dua ayat yang dibuka sama berpisah dalam tiga hal: kata kerja, keterangan waktu, dan ada atau tidaknya pendengar.
Pernyataan kedua dibuka dengan (إِنَّا, innaa) yang sama seperti pernyataan pertama, dan susunan itu kembali di 44:5, yang juga memuat dua bagian dan berakhir pada (إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ, innaa kunnaa mursiliina) yang berarti "sesungguhnya Kamilah pengutus". Ayat 44:3 dan 44:5 dengan demikian mengapit 44:4. Susunan itu menempatkan isi malam di tengah, dan menempatkan dua kedudukan Kami di kedua sisinya: pemberi peringatan sebelum isi malam, pengutus sesudahnya. Pemberi peringatan dan pengutus adalah dua kata yang berbeda, dan ayat-ayat ini tidak menyatakan siapa yang diperingatkan atau siapa yang diutus.
Sampai 44:5 kata yang dipakai untuk menyebut diri adalah Kami. Sebutan Tuhan baru tiba di 44:6, dalam (رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ, rahmatan min rabbika) yang berarti "sebagai rahmat dari Tuhanmu". Rangkaian 44:3 sampai 44:6 dengan demikian bergerak dari kata Kami ke kata Tuhanmu, tanpa ayat yang menyatakan bahwa keduanya menunjuk pihak yang sama. Pembacaan bahwa keduanya sama dapat diambil dari urutannya, sebab rahmat di 44:6 bersambung dengan urusan dari sisi Kami di 44:5.
Renungan dan Hikmah
- Ayat 44:3 menyebut sifat malam itu dan tidak menyebut namanya, sedangkan 97:1 sampai 97:3 menamainya "Malam Ketetapan". Keduanya memakai kerangka yang sama, "Kami menurunkannya pada ...", dan tak satu pun menyatakan bahwa malam yang dimaksud sama. Pembaca yang ingin segera tahu malam yang mana akan menemukan bahwa ayat tidak menjawab, dan jawaban yang diberikannya sendiri bersumber dari tempat lain. Pembaca dapat memperhatikan seberapa cepat keinginannya menamai sesuatu muncul dibandingkan keterangan yang tersedia. Apa yang tersisa dari sifat sebuah malam, yaitu diberkahi, bila nama yang diharapkan tidak datang?
- Di empat belas ayat lain pemberi peringatan adalah pihak selain Kami, dan 4:165 menyebut tujuan pengutusan mereka, "agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah setelah rasul-rasul itu diutus". Di 44:3 kedudukan itu diambil sendiri oleh pembicara dengan kata Kami. Pembaca yang terbiasa mendengar peringatan dari sesama manusia dapat memperhatikan bahwa ayat ini menaruh peringatan pada sumber yang sama dengan penurunan. Peringatan yang datang dari pihak yang menurunkannya dapat terdengar berbeda dari peringatan yang datang dari perantara. Pada peringatan mana pembaca biasanya mulai bertanya siapa yang sebenarnya berbicara?
- Sifat diberkahi dilekatkan pada Kitab di 6:92 dan 6:155, pada peringatan di 21:50, dan pada malam penurunan di 44:3, sehingga berkah menyentuh yang diturunkan dan waktu ketika ia diturunkan. Di 24:61 sifat yang sama dilekatkan pada penghormatan yang datang "dari sisi Allah". Pembaca yang menerima bahwa sebuah bacaan diberkahi dapat bertanya apakah berkah itu berhenti pada halamannya atau juga menyentuh saat halaman itu dibuka. Ayat 44:3 hanya menyebut berkah pada malamnya, tidak pada pembaca. Apakah waktu yang dilewati bersama bacaan itu terasa sebagai bagian dari berkahnya?
- Ayat 44:3 menaruh penurunan dan peringatan dalam satu ayat, dan 25:1 menghubungkannya lebih langsung: "Berkahlah Yang menurunkan al-Furqan kepada hamba-Nya, agar ia menjadi pemberi peringatan bagi seisi alam". Ayat 25:1 berbicara tentang al-Furqan dan menyebut tujuan, sedangkan 44:3 hanya menjajarkan dua pernyataan tanpa kata penghubung tujuan. Hubungan keduanya karena itu dapat dibaca sebagai tujuan, tetapi ayat ini sendiri tidak menyatakannya. Pembaca bisa memperhatikan bagaimana dua hal yang berdampingan dapat disimpulkan berhubungan sebab dan akibat hanya karena letaknya. Hubungan apa yang dimasukkan pembaca di antara kedua pernyataan itu sebelum mengetahui bahwa teks tidak memutuskannya?
- Ayat 43:3 menyebut pendengarnya, "agar kalian berakal", sedangkan 44:3 tidak memuat kata untuk pendengar sama sekali. Ayat ini berisi dua pengumuman dari pembicara yang memakai kata Kami, tanpa menunjuk siapa pun. Pembaca yang membacanya berdiri sebagai orang yang kebetulan mendengar, bukan orang yang dipanggil namanya. Peringatan yang tidak menyebut penerima menaruh tugas menentukan penerima itu pada pendengar sendiri. Siapa yang merasa dituju oleh peringatan yang alamatnya dibiarkan kosong, dan siapa yang merasa aman karena namanya tidak ada?
- Dalam satu ayat pendek, penanda untuk Kami muncul empat kali: pada innaa pertama, pada anzalnaahu, pada innaa kedua, dan pada kunnaa. Tidak ada pihak lain yang disebut, kecuali Kitab lewat akhiran -hu dan malam yang diberkahi. Pembaca menghadapi pembicara yang hadir di setiap bagian kalimat dan tidak menyebut dirinya dengan sebutan lain sampai 44:6. Bacaan yang seperti itu menaruh perhatian pada siapa yang berbicara lebih dulu daripada apa yang dibicarakan. Apakah pembaca yang mendengar kata Kami berulang-ulang sempat bertanya siapa yang berbicara sebelum isi ucapannya habis diserap?