فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ
Padanya dipisahkan setiap urusan yang penuh hikmah,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍfiihaa yufraqu kullu amrin hakiiminpadanya dipisahkan setiap urusan yang penuh hikmah
Terjemahan per kata (5 kata)
- فِيهَاfiihaapadanya
- يُفْرَقُyufraqudipisahkan
- كُلُّkullusetiap
- أَمْرٍamrinurusan
- حَكِيمٍhakiiminyang penuh hikmah
Inti bacaan
Frasa (كُلُّ أَمْرٍ, kullu amrin) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 44:4 dan 54:3, dan hanya di 44:4 urusan itu diberi sifat (حَكِيمٍ, hakiimin).
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (فِيهَا, fiihaa) yang berarti "padanya". Kata itu tersusun dari (فِي, fii) yang berarti "pada" dan akhiran (هَا, -haa) yang berarti "-nya" untuk satu benda perempuan. Dua kata perempuan di ayat sebelumnya adalah (لَيْلَةٍ, laylatin) yang berarti "malam" dan sifatnya (مُبَارَكَةٍ, mubaarakatin) yang berarti "yang diberkahi", sehingga -haa terbaca menunjuk malam itu. Terjemahan mempertahankan kata ganti "padanya" tanpa mengulang "malam", sebab ayat ini sendiri tidak mengulang kata itu.
Kata kerja (يُفْرَقُ, yufraqu) berakar ف-ر-ق, dan bentuk persisnya hanya muncul di 44:4. Data morfologi menandainya sebagai kata kerja yang sedang berlangsung dalam bentuk pasif, sehingga pelakunya tidak ditulis. Bentuk kata kerja dasar akar ini muncul di lima ayat, yaitu 2:50, 5:25, 9:56, 17:106, dan 44:4. Di 2:50, (فَرَقْنَا بِكُمُ الْبَحْرَ, faraqnaa bikumu l-bahra) berarti "Kami membelah laut untuk kalian". Di 5:25, (فَافْرُقْ بَيْنَنَا, fa-fruq baynanaa) berarti "maka pisahkanlah antara kami". Di 17:106, (وَقُرْآنًا فَرَقْنَاهُ, wa-qur'aanan faraqnaahu) berarti "dan bacaan itu Kami pisahkan". Di 77:4, bentuk turunannya, (فَالْفَارِقَاتِ فَرْقًا, fa-l-faariqaati farqan), berarti "demi yang memisahkan dengan sejelas-jelasnya", dan di sana kejelasan menjadi keterangan cara pemisahan itu. Terjemahan 44:4 memakai "dipisahkan", sejalan dengan arti membelah atau memisahkan di keempat ayat itu.
Ayat 9:56 memuat (يَفْرَقُونَ, yafraquuna) yang berarti "mereka takut", sebuah arti lain dari akar yang sama, dipakai untuk kaum yang bersumpah bahwa mereka dari golongan yang diajak bicara padahal bukan. Arti "takut" tidak dipakai di 44:4 karena kata kerja ini mengenai (كُلُّ أَمْرٍ, kullu amrin) yang berarti "setiap urusan", dan urusan tidak merasakan takut. Padanan "dijelaskan" juga tidak dipakai, sebab tidak ada ayat lain yang menerjemahkan kata kerja dasar akar ini dengan menjelaskan. Ayat ini tidak menyebut dari apa urusan itu dipisahkan, sama seperti 17:106 yang tidak menyebut dari apa bacaan itu dipisahkan, dan terjemahan tidak menambahkan keterangan itu.
Frasa (كُلُّ أَمْرٍ, kullu amrin) hanya muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 44:4 dan di 54:3, (وَكُلُّ أَمْرٍ مُسْتَقِرٌّ, wa-kullu amrin mustaqirrun) yang berarti "dan setiap urusan telah tetap". Terjemahan memakai "setiap" di kedua ayat. Kata (أَمْرٍ, amrin) berakar أ-م-ر dan diterjemahkan "urusan", juga ketika menjadi objek kata kerja yang mengatur atau membagi, misalnya (فَالْمُقَسِّمَاتِ أَمْرًا, fa-l-muqassimaati amran) yang berarti "lalu yang membagi-bagi urusan" di 51:4 dan (يُدَبِّرُ الْأَمْرَ, yudabbiru l-amra) yang berarti "mengatur segala urusan" di 10:3. Kata kerja lain, (قَضَىٰ, qadhaa) yang berarti "menetapkan", berobjek amran di 2:117, 3:47, 19:35, dan 40:68, dan terjemahan memakai "menetapkan" untuk kata kerja itu di keempat ayat tersebut, sehingga "ditetapkan" tidak dipakai untuk yufraqu.
Kata terakhir (حَكِيمٍ, hakiimin) yang berarti "yang penuh hikmah" menyifati urusan, dan pemakaian itu muncul sekali, di 44:4. Kata yang sama menyifati Kitab, Al-Qur'an, dan peringatan di lima ayat lain: (الْكِتَابِ الْحَكِيمِ, l-kitaabi l-hakiimi) di 10:1 dan 31:2, (وَالْقُرْآنِ الْحَكِيمِ, wa-l-qur'aani l-hakiimi) di 36:2, (وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ, wa-dz-dzikri l-hakiimi) di 3:58, dan (لَعَلِيٌّ حَكِيمٌ, la-'aliyyun hakiimun) di 43:4 untuk yang berada dalam induk Kitab. Di semua pemakaian itu terjemahan memakai "penuh hikmah". Ayat ini tidak menyatakan isi urusan yang dipisahkan, dan tidak menyatakan siapa yang memisahkannya.
Tafsiran
Ayat ini menaruh urusan sebagai pokok kalimat dan membiarkan pelakunya tidak ditulis. Ayat 44:3 berbicara dengan kata Kami dan ayat 44:5 menyebut asal urusan itu dengan (مِنْ عِنْدِنَا, min 'indinaa) yang berarti "dari sisi Kami", sedangkan 44:4 yang berada di antara keduanya tidak memuat kata ganti untuk pelaku. Isi malam yang disebut di 44:3 baru dituturkan di sini, dan isinya berupa pemisahan urusan satu per satu, tidak berupa daftar urusan.
Ayat 54:3 memakai dua kata yang sama untuk keadaan yang berbeda: urusan di sana telah tetap, sedangkan urusan di sini dipisahkan. Ayat 43:79, di surah sebelum ini, memakai (أَبْرَمُوا أَمْرًا, abramuu amran) yang berarti "mereka memutuskan suatu urusan" dan menjawabnya dengan "sesungguhnya Kami memutuskan". Ayat 44:4 memakai kata urusan dengan kata kerja memisahkan, dan ayat sesudahnya menyebut asal urusan itu dari sisi Kami. Kedua ayat membicarakan urusan yang diputuskan atau dipisahkan, dan kata kerja di antara keduanya berbeda.
Letak ayat ini di tengah rangkaian 44:3 sampai 44:5 menjadikannya bagian yang menjelaskan apa yang terjadi pada malam yang diberkahi. Rangkaian itu bergerak dari penurunan ke pemisahan urusan, lalu ke asal urusan itu dari sisi Kami.
Tiga ayat berturut-turut dari 44:2 sampai 44:4 masing-masing memasang satu sifat pada satu benda: (الْمُبِينِ, l-mubiini) yang berarti "yang jelas" pada Kitab, (مُبَارَكَةٍ, mubaarakatin) yang berarti "yang diberkahi" pada malam, dan (حَكِيمٍ, hakiimin) yang berarti "yang penuh hikmah" pada urusan. Sifat-sifat itu jatuh di ujung tiap bagian, dan tiap benda menerima sifatnya sendiri tanpa ada ayat yang menukarnya. Dengan susunan itu, 44:4 menempati bagian ketiga dari deretan tiga benda yang disifati, dan ayat sesudahnya, 44:5, tidak memasang sifat pada benda mana pun.
Renungan dan Hikmah
- Kata kerja di 44:4 berbentuk pasif, sehingga pembaca mendapati urusan dipisahkan tanpa nama pemisahnya. Ayat 10:3 memberi gambaran lain tentang urusan yang diatur, karena pelakunya ditulis: "Sesungguhnya Tuhan kalian adalah Allah ... mengatur segala urusan". Perbedaan antara ayat yang menyebut pelaku dan ayat yang tidak menyebutnya terlihat dalam cara pembaca menyelesaikan kalimat. Pembaca yang sudah mengenal 10:3 mengisi kekosongan di 44:4 dengan pengetahuan dari ayat lain, dan isian itu berasal dari pembaca, tidak dari 44:4. Dari mana pembaca mengetahui siapa yang melakukan sesuatu, ketika kalimat yang sedang dibacanya memilih tidak menyebut siapa pun?
- Di 17:106 bacaan dipisahkan dengan tujuan yang tertulis, yaitu agar dapat dibacakan "secara perlahan", sedangkan di 44:4 urusan dipisahkan tanpa tujuan yang tertulis. Kedua ayat memakai akar kata kerja yang sama, dan keduanya memperlihatkan sesuatu yang diperlakukan bagian demi bagian. Pembaca yang sedang menanggung banyak urusan dapat memperhatikan bagaimana urusan-urusannya tersusun, sebagai tumpukan atau sebagai bagian yang sudah dipisahkan satu per satu. Ayat ini tidak menyatakan bahwa pemisahan itu meringankan siapa pun. Berapa banyak urusan yang terasa mustahil sekaligus tetapi terbayang sanggup ketika dipisahkan satu per satu?
- Kata (كُلُّ, kullu) di ayat ini diikuti satu kata benda tunggal, "urusan", sehingga ayat menyebut tiap urusan satu per satu. Ayat tidak mengecualikan urusan yang besar maupun kecil, dan tidak menyebut ukuran apa pun. Pembaca yang biasa membagi urusan menjadi yang penting dan yang remeh mendapati bahwa kalimat ini tidak memuat pembagian itu. Pembagian yang tertulis berupa pemisahan urusan satu per satu. Urusan apa dalam hidup pembaca yang selama ini diletakkan di luar kata "setiap" tanpa pernah diperiksa mengapa diletakkan di sana?
- Kata yang menyifati urusan di 44:4 sama dengan kata yang menyifati Kitab di 10:1, 31:2, dan 43:4, Al-Qur'an di 36:2, serta pasangan sifat Allah di 45:2, "Diturunkannya Kitab dari Allah Sang Digdaya lagi Sang Penuh Hikmah". Satu kata dipakai untuk bacaan, untuk urusan, dan untuk salah satu sifat Allah. Pembaca yang menerima bahwa Kitab penuh hikmah dapat bertanya apakah urusan sehari-harinya pantas dibaca dengan kata yang sama, atau hanya urusan yang disebut di ayat ini. Ayat tidak menjawab, dan tidak menyatakan bahwa semua urusan manusia diliputi sifat itu. Urusan mana yang sulit dibaca sebagai penuh hikmah, dan apa yang membuatnya sulit?
- Ayat 44:4 menaruh pemisahan urusan pada satu malam, sedangkan 32:5 menaruh pengaturan urusan dalam rentang yang lain: "Dia mengatur segala urusan dari langit ke bumi, kemudian ia naik kepada-Nya pada suatu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut hitungan kalian". Dua ayat itu membicarakan urusan dengan satuan waktu yang berbeda, malam di ayat yang satu dan hari seribu tahun di ayat yang lain, dan tidak menyatakan keduanya sama. Pembaca dapat melihat bahwa satu kata, urusan, tidak membawa satu ukuran waktu. Pada ukuran waktu apa pembaca biasa menilai bahwa sebuah urusan sudah selesai, semalam atau seribu tahun?
- Ayat 54:3 menyatakan bahwa setiap urusan telah tetap, dan 44:4 menyatakan bahwa setiap urusan dipisahkan pada malam itu. Ayat 8:42 menambahkan bahwa Allah melaksanakan suatu urusan yang harus terjadi. Tiga ayat itu menaruh urusan dalam tiga keadaan: tetap, dipisahkan, dan dilaksanakan. Tidak ada ayat yang mengatur urutan ketiga keadaan itu, dan tidak ada yang menyatakan bahwa semuanya terjadi pada urusan yang sama. Apakah urusan yang telah tetap masih dapat dipisahkan, atau kedua keadaan itu dimiliki urusan yang berbeda?