أَمْرًا مِنْ عِنْدِنَا ۚ إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ
suatu urusan dari sisi Kami; sesungguhnya Kamilah pengutus,
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- أَمْرًا مِنْ عِنْدِنَاamran min 'indinaasuatu urusan dari sisi Kami
- إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَinnaa kunnaa mursiliinasesungguhnya Kamilah pengutus
Terjemahan per kata (6 kata)
- أَمْرًاamranurusan
- مِنْmindari
- عِنْدِنَا'indinaadi sisi Kami
- إِنَّاinnaasesungguhnya Kami
- كُنَّاkunnaaKami adalah
- مُرْسِلِينَmursiliinapengutus
Inti bacaan
Frasa (مِنْ عِنْدِنَا, min 'indinaa) muncul tujuh kali di Al-Qur'an (10:76, 18:65, 21:84, 28:48, 40:25, 44:5, 54:35), dan hanya 44:5 yang menyertakan (أَمْرًا, amran) di depannya.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (أَمْرًا, amran) yang berarti "suatu urusan". Kata ini berakar أ-م-ر, akar yang sama dengan (أَمْرٍ, amrin) di 44:4, tetapi akhirannya berbeda: amrin di 44:4 berakhiran -in, sedangkan amran di ayat ini berakhiran -an, dan data morfologi memberi kedua kata penanda kedudukan yang berbeda. Bentuk amran yang sama muncul di 17 ayat, yaitu 2:117, 3:47, 8:42, 8:44, 12:18, 12:83, 18:69, 19:21, 19:35, 27:32, 33:36, 40:68, 43:79, 44:5, 51:4, 65:1, dan 79:5. Terjemahan memakai "urusan" di semua ayat itu kecuali 2:117, yang memakai "perkara". Di 16 ayat selain 44:5, amran didahului kata kerja atau kata pelaku dalam ayat yang sama, misalnya (فَالْمُقَسِّمَاتِ أَمْرًا, fa-l-muqassimaati amran) yang berarti "lalu yang membagi-bagi urusan" di 51:4. Di 44:5 kata itu membuka ayat tanpa kata kerja di depannya, dan hubungannya dengan 44:4 tidak dinyatakan oleh teks. Terjemahan karena itu menuliskan "suatu urusan" apa adanya, tanpa menambahkan "yaitu" atau "sebagai" di depannya.
Frasa (مِنْ عِنْدِنَا, min 'indinaa) yang berarti "dari sisi Kami" muncul tujuh kali di Al-Qur'an, yaitu di 10:76, 18:65, 21:84, 28:48, 40:25, 44:5, dan 54:35. Kata yang mendahuluinya berbeda-beda. Di 10:76, 28:48, dan 40:25 frasa itu mengikuti kata kebenaran, misalnya (جَاءَهُمْ بِالْحَقِّ مِنْ عِنْدِنَا, jaa'ahum bi-l-haqqi min 'indinaa) yang berarti "ia datang kepada mereka dengan kebenaran dari sisi Kami" di 40:25. Di 18:65 dan 21:84 frasa itu mengikuti kata rahmat, yaitu (رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا, rahmatan min 'indinaa) yang berarti "rahmat dari sisi Kami", dan di 54:35 mengikuti kata nikmat, yaitu (نِعْمَةً مِنْ عِنْدِنَا, ni'matan min 'indinaa). Di 44:5 frasa itu mengikuti kata urusan. Tidak ada ayat lain di antara ketujuhnya yang mengikat kata urusan pada frasa ini.
Kata (مُرْسِلِينَ, mursiliina) yang berarti "para pengutus" berakar ر-س-ل dan berbentuk jamak. Bentuk persisnya muncul dua kali, yaitu di 28:45 dan 44:5, dan di keduanya didahului (كُنَّا, kunnaa) tanpa objek. Di 28:45 bunyinya (كُنَّا مُرْسِلِينَ, kunnaa mursiliina) dan terjemahannya "Kamilah pengutus". Terjemahan 44:5 memakai padanan yang sama, "Kamilah pengutus", dan menuliskan kata Kami dengan akhiran -lah seperti di 44:3 untuk pemberi peringatan. Bentuk lain dari akar ini yang berobjek memakai kata kerja berbeda dalam terjemahan: (مُرْسِلَةٌ, mursilatun) di 27:35 diterjemahkan dengan "mengirim" hadiah dan (مُرْسِلُو, mursiluu) di 54:27 dengan "mengirim" unta betina, karena benda yang dikirim disebut di ayat itu. Di 44:5 tidak ada benda atau orang yang disebut sebagai yang diutus, sehingga terjemahan tidak menambahkan "rasul" atau kata lain.
Ayat ini terdiri dari dua bagian yang dipisahkan tanda jeda kecil di tengahnya, dan terjemahan memisahkannya dengan titik koma. Bagian kedua, (إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ, innaa kunnaa mursiliina), dibuka dengan (إِنَّا, innaa) yang berarti "sesungguhnya Kami", sama seperti bagian kedua di 44:3. Koma di ujung terjemahan menandai bahwa kalimat bersambung ke 44:6.
Tafsiran
Ayat ini menyebut asal urusan dan kedudukan Kami, tanpa menyebut isi urusan itu maupun pihak yang diutus. Tiga hal yang sama muncul di 28:44 sampai 28:46, dan urutannya serupa: urusan, pengutus, lalu rahmat dari Tuhan. Ayat 28:44 memuat (إِذْ قَضَيْنَا إِلَىٰ مُوسَى الْأَمْرَ, idz qadhaynaa ilaa muusaa l-amra) yang berarti "ketika Kami memutuskan perkara kepada Musa", ayat 28:45 memuat (كُنَّا مُرْسِلِينَ, kunnaa mursiliina) yang berarti "Kamilah pengutus", dan ayat 28:46 memuat (رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ, rahmatan min rabbika) yang berarti "sebagai rahmat dari Tuhanmu" bersama (لِتُنْذِرَ قَوْمًا, li-tundzira qawman) yang berarti "agar engkau memberi peringatan kepada kaum". Rangkaian di 44:5 dan 44:6 serupa, dengan perbedaan bahwa kedua ayat itu tidak memuat nama Musa, tidak memuat kata "engkau" sebagai pihak yang memberi peringatan, dan tidak menyebut kaum.
Ayat 44:6 melanjutkan dengan (رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ, rahmatan min rabbika), sehingga 44:5 dan 44:6 sama-sama berpola kata benda berakhiran -an lalu min: urusan dari sisi Kami, rahmat dari Tuhanmu. Ayat 19:21 memakai dua kata benda itu dengan urutan terbalik, yaitu rahmat dari Kami lalu (أَمْرًا مَقْضِيًّا, amran maqdhiyyan) yang berarti "suatu urusan yang diputuskan". Dari tiga tempat itu terlihat bahwa kata urusan dan kata rahmat berdekatan di Al-Qur'an, tetapi tidak ada ayat yang menyatakan bahwa keduanya sama.
Letak 44:5 di rangkaian 44:3 sampai 44:6 menjadikannya titik tempat urusan yang dipisahkan di 44:4 diberi asal. Ayat 44:4 memuat urusan tanpa pelaku, dan ayat ini memberinya asal dengan "dari sisi Kami". Pembacaan bahwa kedua urusan itu sama dapat diambil dari urutannya, tetapi kedua kata sama-sama tanpa kata sandang, sehingga ayat tidak menyatakan bahwa 44:5 menunjuk kembali ke urusan di 44:4.
Renungan dan Hikmah
- Tiga ayat yang memuat kebenaran dari sisi Kami disusul ucapan orang yang menerimanya. Di 10:76 mereka berkata bahwa itu sihir yang nyata, di 28:48 mereka bertanya mengapa tidak diberikan seperti yang diberikan kepada Musa, dan di 40:25 mereka berkata untuk membunuh anak-anak lelaki orang beriman. Ayat 44:5 menyebut urusan dari sisi Kami tanpa menyebut siapa yang menerimanya atau bagaimana penerima itu menyambutnya. Pembaca yang membawa tiga ayat tadi ke 44:5 mendapati kekosongan di tempat sambutan itu seharusnya ditulis. Bagaimana pembaca sendiri menyambut sesuatu yang dikatakan datang dari sisi lain, sebelum isinya diketahui?
- Di 2:213 pengutusan disebut lengkap dengan pihaknya, "Allah mengutus para nabi, pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan". Ayat 44:5 menyebut kedudukan sebagai pengutus saja, tanpa nabi, rasul, atau kaum, sehingga pembaca menyambung bagian yang hilang itu sendiri. Penyambungan itu mudah dilakukan karena pembaca membawa pengetahuan dari ayat-ayat lain, dan kemudahan itu membuat pembaca dapat tidak menyadari bahwa bagian itu tidak tertulis di 44:5. Apa saja dalam pemahamannya tentang pengutusan yang berasal dari ayat ini sendiri, dan apa yang berasal dari ayat-ayat lain yang terbawa?
- Ayat 19:21 menyebut rahmat dari Kami lalu urusan yang diputuskan, dalam satu kalimat berisi firman, "Tuhanmu berfirman: hal itu mudah bagi-Ku". Ayat 44:5 dan 44:6 menyebut urusan dari sisi Kami lalu rahmat dari Tuhanmu. Dua kata itu berdekatan di dua tempat dengan urutan yang berbeda, dan tak satu ayat pun menyatakan bahwa urusan itu rahmat atau rahmat itu urusan. Pembaca yang terbiasa menggolongkan urusan sebagai beban dan rahmat sebagai hadiah mendapati dua penggolongan itu ditaruh berdampingan tanpa batas. Apakah sesuatu yang datang dari sisi lain terasa sebagai rahmat atau sebagai urusan, dan apa yang menentukan penggolongan itu?
- Ayat 44:5 menyebut urusan yang berasal dari sisi Kami, dan 8:44 menyebut ke mana urusan itu pergi: "Dan kepada Allah segala urusan dikembalikan". Satu ayat bicara tentang asal, ayat lain tentang tujuan, dan keduanya memakai kata urusan dengan arah yang berlawanan. Ayat-ayat ini tidak menyatakan bahwa urusan di 44:5 sama dengan urusan di 8:44. Pembaca yang memegang kedua ayat sekaligus melihat urusan sebagai sesuatu yang bergerak, dari satu sisi ke sisi lain. Bila urusan berasal dari satu pihak dan kembali kepada satu pihak, apa yang tersisa dari anggapan pembaca bahwa sebagian urusan sepenuhnya miliknya sendiri?
- Terjemahan ayat ini berakhir dengan koma, dan kalimatnya selesai di 44:6 dengan "sebagai rahmat dari Tuhanmu". Pembaca yang berhenti di akhir 44:5 membawa dua pernyataan, urusan dari sisi Kami dan Kamilah pengutus, tanpa tahu bagaimana keduanya bermuara. Jeda sependek satu ayat itu cukup untuk membuat pembaca menebak kata berikutnya. Tebakan itu memperlihatkan apa yang diharapkan pembaca dari kata pengutus: peringatan, hukuman, atau kabar baik. Kata apa yang pertama kali terbayang pada pembaca sebelum membuka 44:6, dan apakah tebakan itu terbukti?
- Ungkapan "dari sisi Kami" menyertai kebenaran, rahmat, nikmat, dan urusan. Tiga yang pertama bernada hadiah. Di 54:35 nikmat itu disusul kalimat "Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur", sedangkan urusan di 44:5 tidak disusul keterangan apa pun tentang sifatnya, kecuali bahwa ayat sebelumnya menyebutnya penuh hikmah. Pembaca yang menggolongkan segala sesuatu dari sisi Kami sebagai pemberian menimbang sendiri tempat urusan dalam daftar itu. Apakah urusan pantas ditaruh di antara kebenaran, rahmat, dan nikmat, atau pembaca memberinya tempat tersendiri?