رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya Dialah Yang Mendengar lagi Sang Berilmu,

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَrahmatan min rabbikasebagai rahmat dari Tuhanmu
  2. إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُinnahu huwa s-samii'u l-'aliimusesungguhnya Dialah Yang Mendengar lagi Sang Berilmu

Terjemahan per kata (7 kata)

  1. رَحْمَةًrahmatanrahmat
  2. مِنْmindari
  3. رَبِّكَrabbikaTuhanmu
  4. إِنَّهُinnahusesungguhnya
  5. هُوَhuwaDialah
  6. السَّمِيعُs-samii'uYang Mendengar
  7. الْعَلِيمُl-'aliimuSang Berilmu

Inti bacaan

Pasangan (السَّمِيعُ الْعَلِيمُ, s-samii'u l-'aliimu) muncul lima belas kali di Al-Qur'an (2:127, 2:137, 3:35, 5:76, 6:13, 6:115, 8:61, 10:65, 12:34, 21:4, 26:220, 29:5, 29:60, 41:36, 44:6).

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (رَحْمَةً, rahmatan) yang berarti "rahmat", dari akar ر-ح-م. Kata itu tidak memakai kata sandang dan berakhiran -an. Terjemahan menaruh "sebagai" di depannya karena rahmatan berdiri tanpa kata kerja dan tanpa kata pengantar, dan padanan itu sama dengan dua ayat lain yang berbentuk serupa, yaitu 18:82 dan 28:46. Ayat 44:5 menyebut dua hal sebelum kata ini, yaitu (أَمْرًا مِنْ عِنْدِنَا, amran min 'indinaa) yang berarti "suatu urusan dari sisi Kami" dan (إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ, innaa kunnaa mursiliina) yang berarti "sesungguhnya Kamilah pengutus". Ayat 44:6 tidak menyatakan rahmat itu menempel pada yang mana dari keduanya.

Susunan (رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ, rahmatan min rabbika) muncul lima kali di empat surah, yaitu 17:87, 18:82, 28:46, 28:86, dan 44:6, dengan surah 28 memuatnya dua kali. Di 18:82 dan 28:46, seperti di ayat ini, kata (إِلَّا, illaa) yang berarti "kecuali" tidak mendahuluinya, dan ketiganya diterjemahkan "sebagai rahmat dari Tuhanmu". Di 17:87 dan 28:86 susunan itu didahului illaa, yaitu (إِلَّا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ, illaa rahmatan min rabbika), dan terjemahannya mengikuti kata pengecualian itu. Isi ketiga ayat pertama berbeda. Di 18:82 rahmat itu menyertai kehendak Tuhanmu dalam (فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا, fa-araada rabbuka an yablughaa asyuddahumaa) yang berarti "maka Tuhanmu menghendaki agar keduanya mencapai usia dewasa", yaitu dua anak yatim pemilik harta simpanan di bawah dinding. Di 28:46 rahmat itu bersambung dengan (لِتُنْذِرَ, li-tundzira) yang berarti "agar engkau memberi peringatan". Di 44:6 rahmat itu menyusul 44:5 yang memuat urusan dan pengutusan.

Rahmat dan pengutusan bertemu juga di 21:107, (وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ, wa-maa arsalnaaka illaa rahmatan li-l-'aalamiina) yang berarti "Dan Kami tidak mengutusmu kecuali sebagai rahmat bagi seisi alam". Kata kerja (أَرْسَلْنَاكَ, arsalnaaka) berakar ر-س-ل, akar yang sama dengan (مُرْسِلِينَ, mursiliina) di 44:5. Di 21:107 penerima rahmat disebut, yaitu seisi alam, sedangkan di 44:6 yang disebut adalah asalnya, yaitu Tuhanmu. Terjemahan 44:6 tidak menambahkan penerima, karena ayat ini tidak memuatnya.

Kata (رَبِّكَ, rabbika) yang berarti "Tuhanmu" berakar ر-ب-ب, dan akhiran -ka menunjuk satu lawan bicara. Akhiran itu baru muncul di ayat ini. Ayat 44:1 sampai 44:5 tidak memuat kata ganti untuk lawan bicara, dan pembicara di 44:3 memakai "Kami" dalam (أَنْزَلْنَاهُ, anzalnaahu) yang berarti "Kami menurunkannya", lalu di 44:5 dalam (مِنْ عِنْدِنَا, min 'indinaa). Frasa (مِنْ رَبِّكَ, min rabbika) sejajar dengan frasa terakhir itu, karena keduanya memakai min untuk menyebut asal, tetapi asalnya kini disebut "Tuhanmu" dan tidak lagi "sisi Kami".

Bentuk (إِنَّهُ هُوَ, innahu huwa) tersusun dari (إِنَّهُ, innahu) yang berarti "sesungguhnya Dia" dan (هُوَ, huwa) yang berarti "Dia" yang berdiri sendiri. Bentuk ini muncul sembilan belas kali di empat belas surah, yaitu 2:37, 2:54, 8:61, 12:34, 12:83, 12:98, 12:100, 17:1, 26:220, 28:16, 29:26, 39:53, 40:56, 41:36, 44:6, 44:42, 51:30, 52:28, dan 85:13. Karena -hu pada innahu sudah memuat "Dia", huwa menambah satu penunjukan lagi, dan terjemahan membawa tambahan itu dengan "Dialah", seperti di 2:37, 26:220, dan 44:42 yang berada dalam surah yang sama dengan ayat ini.

Dua nama sesudahnya, (السَّمِيعُ, s-samii'u) yang berarti "Yang Mendengar" dari akar س-م-ع dan (الْعَلِيمُ, l-'aliimu) yang berarti "Sang Berilmu" dari akar ع-ل-م, sama-sama berkata sandang al- dan berdampingan tanpa kata penghubung. Terjemahan menyambungnya dengan "lagi", seperti pasangan bersandang al- di 2:37, "Sang Penyambut Tobat lagi Sang Pengasih". Pasangan (السَّمِيعُ الْعَلِيمُ, s-samii'u l-'aliimu) muncul lima belas kali di dua belas surah, yaitu 2:127, 2:137, 3:35, 5:76, 6:13, 6:115, 8:61, 10:65, 12:34, 21:4, 26:220, 29:5, 29:60, 41:36, dan 44:6. Urutan terbalik dengan al-'aliimu di depan tidak ditemukan di mushaf. Di 12:34, 8:61, dan 41:36 pasangan itu menyusul tindakan manusia atau perintah kepadanya: doa Yusuf di 12:33, lalu (وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ, wa-tawakkal 'alaa llaahi) yang berarti "dan bertawakallah kepada Allah" di 8:61, dan (فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ, fa-sta'idz bi-llaahi) yang berarti "maka berlindunglah kepada Allah" di 41:36. Di 44:6 pasangan itu menyusul rahmat, dan ayat ini tidak mengutip ucapan atau perbuatan siapa pun yang didengar atau diketahui.

Kata rahmat dan ilmu berdampingan sebagai dua kata benda di 40:7, (رَحْمَةً وَعِلْمًا, rahmatan wa-'ilman), dan bentuk berpasangan itu muncul sekali saja. Di 44:6 keduanya tidak berdampingan, tetapi rahmat disebut di awal ayat dan sifat berilmu di akhirnya, dalam satu kalimat. Tanda koma di ujung terjemahan menandai kalimat yang berlanjut ke 44:7.

Tafsiran

Ayat 44:6 dapat dibaca memberi satu nama dan dua sifat kepada rangkaian yang dibuka di 44:3. Ayat 44:3 dan 44:5 memuat empat pernyataan dengan suara "Kami": menurunkan, memberi peringatan, urusan dari sisi Kami, dan mengutus. Dalam pembacaan itu rahmat menjadi nama rangkaian tersebut, lalu mendengar dan berilmu menjadi sifat pemiliknya, tanpa menambah pekerjaan baru.

Rangkaian itu juga berpindah dari suara "Kami" ke sebutan "Tuhanmu", sehingga lawan bicara muncul untuk pertama kali di titik ini. Sebutan Tuhanmu tidak dibiarkan menggantung. Ayat 44:7 menjawab Tuhan yang mana dengan "Tuhan langit dan bumi serta apa yang di antara keduanya", dan 44:8 meneruskannya dengan "tidak ada tuhan kecuali Dia". Kata Dia di 44:8 dapat dibaca menunjuk kembali kepada huwa di 44:6, sehingga tiga ayat itu tersambung oleh satu pelaku yang sama.

Kata rahmat di ayat ini memiliki pasangan yang jauh letaknya. Akar ر-ح-م hanya ada di dua ayat dalam surah ini, yaitu 44:6 dan 44:42, (إِلَّا مَنْ رَحِمَ اللَّهُ, illaa man rahima llaahu) yang berarti "kecuali orang yang diberi rahmat oleh Allah". Ayat 44:42 ditutup dengan (إِنَّهُ هُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ, innahu huwa l-'aziizu r-rahiimu), yang memakai innahu huwa seperti 44:6; bentuk itu ada di dua ayat saja dalam surah ini. Di antara keduanya terdapat azab yang pedih di 44:11 dan hari keputusan di 44:40. Rahmat di 44:6 terbaca sebagai awal, sedangkan rahmat di 44:42 terbaca sebagai pengecualian di hari yang dibicarakan 44:40 sampai 44:41, ketika seorang pelindung tidak mencukupkan pelindung lainnya. Surah ini dengan demikian menyebut rahmat sebelum menyebut azab, dan menyebutnya lagi sesudah azab itu.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat 44:3 menyebut diri sebagai pemberi peringatan, dan 44:6 menyebut rahmat dari Tuhanmu sesudah rangkaian itu. Di 28:46 kedua kata itu juga bertemu dalam satu kalimat, karena rahmat dari Tuhanmu disebut bersama tujuan agar peringatan sampai kepada kaum yang belum didatangi pemberi peringatan. Peringatan dapat diterima sebagai gangguan, sedangkan teks ini menaruh kata rahmat di dekatnya. Peringatan terakhir yang pembaca dengar dari orang lain, dalam bentuk apa pun, sempat ditimbang sebagai pemberian dari Tuhan, atau langsung dianggap gangguan?
  • Sampai 44:5 suara yang terdengar berkata "Kami", dan baru di 44:6 ada "engkau" yang disapa lewat akhiran pada kata Tuhanmu. Sebutan itu ditujukan kepada satu lawan bicara, bukan kepada kerumunan, dan pembaca yang membacanya ikut menempati posisi itu selama membaca. Ayat 44:7 lalu menyebut Tuhan langit dan bumi, dan dapat dibaca sebagai penjelasan atas Tuhanmu di 44:6, sehingga Tuhan yang paling luas dalam surah ini disapa dengan kata yang paling dekat. Pembaca dapat bertanya kapan terakhir sebutan Tuhanmu terasa ditujukan kepadanya, dan kapan terasa ditujukan kepada orang lain?
  • Di 44:6 rahmat datang dari Tuhanmu dan ayat yang sama menyebut Dia sebagai Sang Berilmu. Di 40:7 rahmat dan ilmu disebut berdampingan oleh mereka yang memikul 'Arasy, dalam doa yang menyebut keduanya meliputi segala sesuatu. Pemberian yang datang dari pihak yang berilmu terasa berbeda dari pemberian yang datang tanpa tahu keadaan penerimanya, dan ayat ini menaruh kedua hal itu dalam satu kalimat. Bantuan yang tepat ukuran dan tepat waktu memperlihatkan bahwa pemberinya mengenal keadaan penerimanya. Apakah pembaca pernah memperhatikan ketepatan semacam itu dalam sesuatu yang diterimanya, dan menghubungkannya dengan Tuhan yang disebut ayat ini berilmu?
  • Di 12:34 pasangan sifat mendengar dan berilmu menyusul doa Yusuf di 12:33, sehingga ada isi yang dapat ditunjuk. Di 44:6 pasangan itu menyusul rahmat, dan ayat ini tidak mengutip permintaan siapa pun sebelumnya. Satu ayat memperlihatkan sifat itu dalam hubungan dengan seseorang yang meminta, dan ayat lain menyebutnya tanpa permintaan. Pembaca dapat menimbang apakah selama ini Tuhan dibayangkan sebatas pihak yang menjawab ketika diminta, atau juga sebagai pihak yang dinamai pemberi rahmat tanpa ada permintaan yang dicatat. Apa yang berubah pada doanya bila gambaran kedua ikut dipegang?
  • Rahmat disebut di 44:6 sesudah pengutusan, lalu disebut lagi di 44:42 sebagai pengecualian pada hari ketika seorang pelindung tidak mencukupkan pelindung lainnya. Di antara dua titik itu ada azab yang pedih dan hari keputusan. Pembaca yang menyusuri surah ini dari awal dapat mengenali kata rahmat di 44:42 pada bagian kecuali orang yang diberi rahmat oleh Allah. Pengenalan itu lahir dari urutan ayat, sebab rahmat disebut sebelum azab dijelaskan. Apakah pembaca yang tiba di 44:42 mengingat bahwa kata itu sudah dijumpai di ayat keenam?
  • Di 21:107 rahmat itu punya penerima yang disebut, yaitu seisi alam. Di 44:6 penerimanya tidak disebut, dan yang tertulis hanya asalnya, yaitu Tuhanmu. Pembaca yang mencari namanya sendiri di ayat ini tidak menemukannya, dan batas yang mengecualikan siapa pun juga tidak ada. Ruang kosong itu dapat diisi dengan pertanyaan tentang diri sendiri: kepada siapa rahmat dari Tuhanmu dibayangkan sampai, dan apakah gambaran itu membuat pembaca menyebut nama tertentu lalu mengecualikan nama lain? Ayat ini tidak menjawabnya, sehingga pertanyaan itu tetap terbuka.