فَارْتَقِبْ يَوْمَ تَأْتِي السَّمَاءُ بِدُخَانٍ مُبِينٍ

Maka, nantikanlah hari langit mendatangkan kabut asap yang nyata,

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. فَارْتَقِبْfa-rtaqibmaka, nantikanlah
  2. يَوْمَ تَأْتِي السَّمَاءُ بِدُخَانٍ مُبِينٍyawma ta'tii s-samaa'u bi-dukhaanin mubiininhari langit mendatangkan kabut asap yang nyata

Terjemahan per kata (6 kata)

  1. فَارْتَقِبْfa-rtaqibmaka tunggulah
  2. يَوْمَyawmahari
  3. تَأْتِيta'tiidatang
  4. السَّمَاءُs-samaa'ulangit
  5. بِدُخَانٍbi-dukhaanindengan asap
  6. مُبِينٍmubiininyang nyata

Inti bacaan

Kata (دُخَانٍ, dukhaanin) hanya muncul dua kali di Al-Qur'an (41:11, 44:10).

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (فَارْتَقِبْ, fa-rtaqib) yang berarti "maka nantikanlah". Awalan fa berarti "maka", dan irtaqib adalah perintah untuk satu orang dari akar ر-ق-ب. Bentuk perintah dari akar ini muncul empat kali, yaitu 11:93, 44:10, 44:59, dan 54:27. Bentuk (فَارْتَقِبْ, fa-rtaqib) yang berdiri sendiri hanya ada di 44:10 dan 44:59. Di 54:27 bunyinya (فَارْتَقِبْهُمْ, fa-rtaqibhum) dengan akhiran -hum yang berarti "mereka", dan di 11:93 bunyinya (وَارْتَقِبُوا, wa-rtaqibuu) dengan akhiran untuk banyak orang. Terjemahan memakai "nantikanlah" di 44:10 karena yang dinanti berupa sebuah hari yang disebut sesudahnya, memakai "tunggulah" di 44:59 yang tidak memuat benda yang dinanti, dan memakai "tunggulah mereka" di 54:27 yang menjadikan orang sebagai sasaran.

Kata (يَوْمَ, yawma) yang berarti "hari" menjadi sasaran perintah itu. Frasa (يَوْمَ تَأْتِي, yawma ta'tii) muncul dua kali, yaitu 16:111 dan 44:10. Di 16:111 bunyinya (يَوْمَ تَأْتِي كُلُّ نَفْسٍ, yawma ta'tii kullu nafsin) yang berarti "pada hari setiap jiwa datang", dan di 44:10 pelakunya langit. Susunan (تَأْتِي السَّمَاءُ, ta'tii s-samaa'u) muncul sekali ini saja. Kata (تَأْتِي, ta'tii) berakar أ-ت-ي, dan bentuknya cocok dengan (السَّمَاءُ, s-samaa'u) yang berarti "langit" sebagai pelakunya. Dalam surah ini langit menjadi pelaku sebuah kata kerja dua kali, yaitu di 44:10 dan di 44:29, (فَمَا بَكَتْ عَلَيْهِمُ السَّمَاءُ وَالْأَرْضُ, fa-maa bakat 'alayhimu s-samaa'u wa-l-ardhu) yang berarti "maka langit dan bumi tidak menangisi mereka". Sesudah ta'tii datang huruf (بِ, bi-) yang berarti "dengan", dan terjemahan "mendatangkan" mengikuti padanan susunan serupa di 28:71, (يَأْتِيكُمْ بِضِيَاءٍ, ya'tiikum bi-dhiyaa'in) yang berarti "akan mendatangkan sinar terang kepada kalian".

Kata (دُخَانٍ, dukhaanin) yang berarti "asap" berakar د-خ-ن dan hanya muncul dua kali di seluruh mushaf, yaitu 41:11 dan 44:10. Di 41:11 bunyinya (وَهِيَ دُخَانٌ, wa-hiya dukhaanun) yang berarti "masih berupa asap", dan yang berupa asap itu langit. Di kedua ayat dukhaan hadir bersama kata langit. Di 41:11 langit dan bumi diperintah (ائْتِيَا, i'tiyaa) yang berarti "datanglah kalian berdua" dan menjawab (أَتَيْنَا, ataynaa) yang berarti "kami datang", dengan akar أ-ت-ي yang sama seperti ta'tii di 44:10. Terjemahan 44:10 memakai "kabut asap" dan 41:11 memakai "asap". Kata Arab untuk kabut tidak ada di 44:10. Kata itu dipakai karena 44:11 melanjutkan dengan (يَغْشَى النَّاسَ, yaghsyaa n-naasa) yang berarti "meliputi manusia", dari akar غ-ش-و, sehingga ayat itu menggambarkan asap yang menyebar dan menyelimuti.

Kata (مُبِينٍ, mubiinin) yang berarti "yang nyata" berakar ب-ي-ن dan menyifati (بِدُخَانٍ, bi-dukhaanin) yang berarti "dengan kabut asap". Dalam surah ini mubiin muncul lima kali, yaitu 44:2, 44:10, 44:13, 44:19, dan 44:33. Di 44:2 bunyinya (الْمُبِينِ, l-mubiini) bagi Kitab, di 44:13 (رَسُولٌ مُبِينٌ, rasuulun mubiinun) bagi rasul, di 44:19 (بِسُلْطَانٍ مُبِينٍ, bi-sulthaanin mubiinin) bagi keterangan, dan di 44:33 (بَلَاءٌ مُبِينٌ, balaa'un mubiinun) bagi cobaan. Terjemahan memakai "nyata" di 44:10, 44:19, dan 44:33, "jelas" di 44:2, dan "yang menjelaskan" di 44:13. Koma di ujung terjemahan menandai kalimat yang berlanjut ke 44:11.

Tafsiran

Ayat ini memuat perintah pertama dalam surah. Dari 44:1 sampai 44:9 hanya ada pernyataan, sumpah, dan laporan, dan di 44:10 pembicaraan kembali ke satu orang yang diperintah menanti, seperti 44:6 yang menyapa satu orang lewat -ka setelah suara "Kami". Di antara dua sapaan tunggal itu, 44:7 dan 44:8 berbicara kepada banyak orang, dan 44:9 tentang banyak orang.

Perintah itu meminta menanti dan tidak memberi pekerjaan lain, dengan sasaran sebuah hari yang ditandai peristiwa di langit. Kalimat belum selesai di 44:10. Ayat 44:11 melanjutkan dengan asap yang meliputi manusia dan menyebutnya azab yang pedih, lalu 44:12 memuat permohonan agar azab dilenyapkan dengan menyebut diri beriman. Urutan 44:9 sampai 44:12 dengan demikian bergerak dari orang-orang yang ragu sambil bermain, ke perintah menanti sebuah hari, ke asap yang meliputi manusia, dan ke permohonan dari mereka yang diliputi. Ayat 44:10 berada di titik putar urutan itu.

Perintah yang sama menutup surah. Ayat 44:59 berbunyi (فَارْتَقِبْ إِنَّهُمْ مُرْتَقِبُونَ, fa-rtaqib innahum murtaqibuuna) yang berarti "maka, tunggulah; sesungguhnya mereka pun sedang menunggu", dan kata kerja kedua di sana berakar sama dengan perintahnya. Penantian di 44:10 dengan demikian dibingkai oleh penantian di ayat terakhir, dan 44:59 menambah bahwa mereka juga menunggu. Di 41:11 langit yang berupa asap menjawab patuh kepada panggilan, dan di 44:10 langit datang dengan asap pada sebuah hari. Kedua ayat tidak menyebut hubungan satu sama lain.

Renungan dan Hikmah

  • Di 41:11 Dia berfirman kepada langit yang berupa asap dan kepada bumi agar datang dengan sukarela atau terpaksa, dan keduanya menjawab bahwa mereka datang dengan sukarela. Di 44:10 langit yang datang membawa asap pada sebuah hari. Kedua ayat tidak menyebut hubungan satu sama lain, sehingga tidak ada dasar untuk menyatakannya satu peristiwa. Pembaca dapat memperhatikan bahwa kata datang yang sama dipakai untuk langit yang menjawab panggilan Tuhan dan untuk langit yang mendatangkan sesuatu. Bagaimana pembaca membaca kata datang itu ketika pelakunya sama, tetapi yang dibawanya berbeda?
  • Setelah kalian di 44:7 dan 44:8 serta mereka di 44:9, perintah di 44:10 kembali ke satu orang, seperti sapaan Tuhanmu di 44:6. Rahmat dari Tuhanmu disebut di awal, penantian diminta di ayat kesepuluh, dan penantian diminta lagi di ayat terakhir. Pembaca yang mengikuti surah ini sebagai orang yang disapa menempati posisi orang yang diminta menunggu, tanpa diminta melakukan hal lain. Apa yang dikerjakan orang yang hanya diminta menunggu, padahal sebutan Tuhanmu sudah lebih dulu disebut sebagai asal rahmat?
  • Dalam satu surah kata nyata atau jelas dipakai lima kali: untuk Kitab, asap, rasul, keterangan, dan cobaan. Kelimanya disifati dengan kata yang sama, baik yang dibacakan, yang dikirim, yang dilihat, maupun yang dialami. Pembaca dapat menimbang apakah ada hal dalam hidupnya yang sudah nyata dan jelas, tetapi masih diperlakukan sebagai teka-teki yang menunggu tafsir. Surah ini menaruh asap bersama Kitab dan rasul dalam daftar yang sama, dan daftar itu tidak membedakan mana yang menyenangkan. Hal apa dalam hidup pembaca yang sudah jelas, tetapi sengaja dibiarkan samar?
  • Asap yang disebut nyata di 44:10 disambung 44:11 dengan kata meliputi manusia, tanpa menyebut pengecualian. Kata manusia di sana tidak diberi batas, sehingga pembaca tidak dapat menaruh dirinya di luar kata itu atas dasar ayat ini. Pembaca yang membayangkan hari itu sebagai sesuatu yang menimpa orang lain dapat memperhatikan bahwa ayat ini tidak menyebut siapa yang tertinggal di luarnya. Di mana pembaca menaruh dirinya di antara kata manusia itu?
  • Kata kerja di 44:10 meminta menanti, dan 44:59 mengulanginya, tanpa pekerjaan lain yang diberikan kepada yang diperintah. Ayat sebelumnya menyebut Dia sebagai Tuhan langit dan bumi dan sebagai Dia yang menghidupkan dan mematikan, sehingga penantian itu terjadi di hadapan pihak yang disebut demikian. Orang yang terbiasa menilai dirinya dari apa yang dikerjakannya dapat memperhatikan bahwa perintah ini mengosongkan tangan lebih dulu. Apakah pembaca mampu menanti tanpa mengisi waktu dengan kesibukan yang menutupi penantian itu?
  • Dua ayat yang memuat hari tempat sesuatu datang menyebut hari lewat apa yang datang padanya: setiap jiwa datang membela dirinya di 16:111, dan langit mendatangkan asap di 44:10. Hari itu tidak diberi tanggal dan hanya diberi tanda. Pembaca terbiasa menyebut waktu lewat tanggal, sedangkan ayat ini menyebutnya lewat apa yang terjadi pada hari itu. Perhatian pembaca dapat bergeser dari menanyakan kapan ke menanyakan apa yang datang, dan siapa yang berada di sana. Bila hari dikenal dari apa yang datang padanya, apa yang sedang pembaca perhatikan sekarang?